
EPISODE SEBELUMNYA
"HUWAA, TEMAN-TEMAN JANGAN TINGGALKAN AKU!" ia menjulurkan tangannya ke depan.
Krik… krik…
Teman-temannya yang berada jauh di seberang menatap Manda dengan tatapan datar.
"Duh, Manda" Nadia menepuk jidatnya.
"Kalian nemu di mana sih temen model begitu," kata Ibu Albert.
"Pffft, payah" tawa Rainy dari dalam hatinya.
"Manda," Fikram menepuk jidatnya juga.
"Tidak ada jawaban, mereka pasti benar-benar meninggalkanku, huwaa!" batin Manda menangis. "HUHUHU, KALIAN TEGA! KENAPA SELALU AKU YANG DITINGGAL! TEGA, TEGA!"
"Aduh, telingaku. Cepat hentikan teriakannya itu sebelum gendang telinga kita pecah," kata Dina menutup telinga dengan tangannya.
"Setuju," timpal Gamma menutup telinganya juga.
"TEGA!"
"Manda, kami masih di sini!" teriak Nadia dari bawah.
Mendengar teriakan Nadia, Manda membuka matanya. Ia mengusap kasar air mata yang sebenarnya tidak jatuh sama sekali.
"Kalian masih di sini?" terlihat di matanya ia melihat sekelompok manusia sedang berkumpul.
"Ya, kami masih di sini jadi berhentilah berteriak! Berisik, tau!" jawab Dina.
"Oh, syukurlah." lega Manda.
"Manda, ayo turun kemari!" kata Nadia.
"Iya, mau sampai kapan kau di situ sendirian. Ada pencuri yang harus kita tangkap!" kata Gamma.
Manda menggeleng kuat, "Tidak! Aku tidak mau turun, aku takut!" agaknya dia trauma dengan kejadian yang sudah dia alami di bab kemarin, haha.
"Ow, Ayolah turun kemari," kata Dina.
"Tidak, pokoknya aku tidak mau!"
"Manda Ayolah!" kali ini Fikram berusaha membujuk.
"Aku bilang tidak, ya tidak. Kenapa tidak kalian saja yang naik kesini, hah!" ia malah ngegas.
Kelima sahabatnya itu memijat pelipis mereka masing-masing. "Kau pikir kami bisa!" kompak mereka.
"Kalau kami sudah bisa dari tadi, kami tidak perlu repot-repot teriak padamu, Manda!" gemas Nadia.
"Lu pikir kita burung apa, bisa terbang ke situ?" kata Dina.
"Ayolah, Manda turun!" kata Rio.
"TIDAK MAU! AKU TAKUT!" Manda tetap kekeh pada keputusannya itu.
"Haah, merepotkan," keluh Dina.
"Terus gimana dong? Apa kita tinggal saja?" ucap Fikram.
"Janganlah, kasihan. Dia, kan teman kalian," kata Rainny.
"Hemm.…"
Mereka pun kompak berpikir, menopang dagu dengan jari mereka masing-masing.
\~Tiga puluh menit kemudian\~
"Ok, aku menyerah. Otakku tidak menyumbang suara," kata Dina angkat tangan.
"Sama, aku juga jalan buntu," kata Gamma.
"Stok ideku habis," timpal Fikram.
"Fix, aku juga tidak ada ide," kata Nadia dan Rio berbarengan.
Cieee, barengan. Sesaat mereka saling bertukar pandang lalu canggung dan membuang muka mereka ke arah lain.
"Jadi?" tanya Rainny.
Sontak, mereka semua menatap ke arah Ibu Albert.
"Ada apa kalian memandangku seperti itu?" ketus Ibu Albert.
"Kau 'kan selalu punya solusi di setiap masalah kami?" kata Dina.
__ADS_1
"Ya, aku ada. Tapi tidak di depan kalian," batin Ibu Albert. "Tidak, aku tidak punya solasi," jawabnya berbohong.
"Maksudmu, solusi?" kata Dina.
"Ya, itu" balasnya melipat kedua tangan di depan dada.
"Kau tidak punya solasi? Tapi, apakah kau punya lakban? Aku memerlukannya, tolong," kata Fikram malah menyambung perkataan Ibu Albert yang jelas-jelas hanya diplesetkannya saja.
"Tidak ada," jawab Ibu Albert.
"Double tape?"
"Tidak."
"Lakban pipa?"
"Tidak."
"Solasi kabel?"
"Aku bukan toko penjual segala jenis lakban dan solasi!" tegas Ibu Albert.
"Baiklah-baiklah." Fikram mengalah. "Lakban hitam mungkin, aku dengar itu kualitas menempelnya bagus-" sambungnya yang langsung disela oleh Ibu Albert.
Ibu Albert membalas dengan pelototan, "Ku ubah mulutmu jadi rujak mau kau, hah?!" ancamnya.
Seketika Fikram pun menciut dan tidak berani bertanya lagi.
"Kenapa mereka malah berdiskusi tidak jelas," gumam Manda mengamati. "hey, kalian sedang apa! Cepatlah kejar si pencuri agar kita bisa pulang!" rengeknya.
"Ya, kau cepat kemari!" jawab Gamma.
"Tidak, kalian yang menjemputku ke sini," kata Manda tetap kekeh.
Tiba-tiba ….
HIHIHI!
Terdengar suara cekikikan bersamaan dengan pohon-pohon yang bergoyang jauh di depan mereka. Burung-burung pun keluar berterbangan yang menandakan di kawasan itu terdapat sesuatu seperti kegaduhan.
"Apa itu?" kata Rainny heran.
Melihat ada kesempatan Ibu Albert mengangkat suara, "Ah, itu pasti pencurinya. Ayo cepat-cepat tangkap!" desaknya.
"Tunggu sebentar, suara itu…sepertinya aku pernah mendengarnya," kata Nadia.
"Oh tidak, mereka ini," batin Ibu Albert. "Berpikir nanti saja, cepat kejar dia cepat! Sebelum kita kehilangan jejaknya lagi!" Ibu Albert mendorong Nadia dan Dina untuk ketempat itu.
"Tapi …."
"Ayolah!"
Mereka tidak bisa membantah lagi. Nadia pun bergerak menuruti kemauan Ibu Albert tapi dia kemudian berputar kembali.
"Bagaimana dengan Manda, kita tidak mungkin meninggalkannya di sin-"
"Kita pikirkan nanti, pencuri itu lebih penting!" desaknya mendorong-dorong mereka.
"Apa tapi-"
"Tidak, aku tidak bisa meninggalkannya di sini," kata Fikram.
"Oh Ayolah. Percaya padaku dia akan baik-baik saja dan menyusul kita. Ayo cepat!" kata Ibu Albert.
"Baiklah, kalau begitu kau dulu," kata Dina.
"Tidak! Maksud-maksudku aku akan di belakang saja, kalian duluan," jawabnya terlihat aneh.
"Aneh," batin Rainny.
"Baiklah," jawab Nadia, dia pun langsung berlari menuju tempat kegaduhan itu terjadi.
HIHIHI!
"Aku rasa aku juga familiar dengan suaranya," batin Fikram merinding mendengar suara cekikikan itu. Ia berpikir suara tawa khas makhluk tak kasat mata legendaris dan fenomenal di dunianya. Kalian tahu kan? Haha.
Satu persatu dari mereka mengekori Nadia menuju sumber suara.
CKLIK!
Suara jentikan jari dari Ibu Albert tidak di sadari oleh mereka. Namun, tidak dengan Rainny, ia sempat mendengar bahkan melihatnya sendiri Ibu Albert menjentikkan jarinya.
"Untuk apa dia berbuat itu?" ia bertanya-bertanya dalam hati.
\~Manda\~
"Eh-eh, kalian mau kemana! Jangan tinggalin aku di sini sendiri, woy!" teriak Manda yang tidak diindahkan teman-temannya.
__ADS_1
"Kejam!" gerutunya.
KRESEK! KRESEK!
AA' UU!
Mendadak Manda mendengar suara gaduh di belakang, Manda pun menoleh karena penasaran. Pohon-pohon mulai bergoyang, daun-daun berguguran layaknya hujan lebat. Terlihat samar-samar ada yang bergerak menuju ke arahnya. Bergerak berpindah dari dahan satu ke dahan lain, tentu Manda kebingungan.
"Apa itu?" ia menyipitkan matanya.
KRESEK! KRESEK!
AA' UU!
Semakin jelas, semakin jelas, dan semakin-semakin jelas. Manda membulatkan mata ketika melihat wujud makhluk yang bergelantungan di dahan pohon. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mengucur deras membasahi dahinya, ia ketakutan.
Sepintas, terlihat seperti boneka anyaman dari tanaman-tanaman rambat, namun dia hidup dan bergerak. Seluruh tubuhnya berwarna hijau terang dengan terlihat beberapa daun dan bunga-bunga putih kecil yang menempel pada tubuhnya. Wajahnya? Wajah dan anatominya persis seperti primata yang pandai memanjat dan terkenal gemar makan pisang, agak besar dan tidak memiliki ekor sama sekali. Kalian pasti tahu kan?.
Tanpa memikirkan yang tidak-tidak, Manda langsung berlari menghindari makhluk tersebut.
"Huwaa, makhluk aneh!" Manda berlari sekencang mungkin. "Sejak kapan warna kera berubah menjadi hijau?" batinnya, masih dalam posisi berlari.
Dengan kecepatannya berlari saat ini makhluk itu tertinggal jauh, iapun bisa lepas darinya. Namun Manda lupa, tidak jauh dari dirinya berdiri ada jurang di sana. Tepat di sebelah pohon ujung jurang Manda berhenti mendadak.
"Aaa, ini jurang. Bagaimana-bagaimana!?" ia menggigit jarinya panik.
KRESEK! KRESEK!
"Hah, dia semakin mendekat! Gimana-gimana! Aku harus apa! Gimana ini!" paniknya lagi.
KRESEK! KRESEK!
"Oh, tidak. Mati aku, gimana iniii! Huff Oke-oke. Tenang Manda, tenang aku hanya perlu menghadapinya. Ayolah Manda beranikan dirimu," ia memberanikan diri.
KRESEK! KRESEK!
Manda menghela napas menenangkan diri, ia memutar tubuhnya walau masih bisa dilihat ia gemetar. Perlahan membuka mata menatap penuh ketakutan ke arah makhluk itu.
KRESEK! KRESEK!
Dia mendekat!
Manda menelan salivanya dengan susah payah. Ia memejamkan mata, mengepalkan tangan, lalu mengangkatnya, memasang posisi siap. Masih dengan mode gemetaran pastinya.
"K-kemarilah kau, m-makluk aneh!"
AA' UU!
Mendengar suaranya semakin jelas dan keras, Manda yakin makhluk itu sudah cukup dekat dengannya. Iapun memantapkan lagi sikap siaganya itu.
AA' UU!
"Lindungi aku, semesta," batinnya. "HIAA!" dengan penuh keyakinan meninjukan kepalan tangannya ke depan berharap si makhluk akan terpukul keras.
AA' UU! Hap!
"Hah!?"
Sayangnya harapan itu tidak terjadi, makhluk itu malah mencengkram tangan Manda, lalu menariknya ke arah atas.
Set!
Salah satu tangan makhluk itu memegang dahan pohon yang berada di mulut jurang. Dapat Manda rasakan mahkluk itu mengayunnya dengan kencang.
"Huwaaaa, Lepaskan aku! Tolong!" jerit Manda histeris.
Swing!
Makhluk itu mengayunnya lagi, kali ini dua kali lebih kencang dari ayunan sebelumnya.
"Lepaskan!" Manda memaksa.
"Baiklah, Nona" jawab makhluk itu dengan suara berat.
Mendengar makhluk itu menjawab Manda membulatkan mata.
"K-kau bis-"
Swing!
Ini ayunan terakhirnya, makhluk itu melempar Manda sampai di tebing seberang. Apakah ia menjerit? Sangat.
"Bisa bicara!? AAAAA!"
BRUK!
"Aduh!"
__ADS_1
Bersambung ….