
EPISODE SEBELUMNYA
Maple dan Trigou tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putih mereka. Teman-teman Fikram dan Manda hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah dua manusia yang konyol ini.
------------------
CLINGGGG!
"Eh?"
Tiba-tiba kristal hijau yang ada di genggaman Manda bersinar terang. Kristal itu pun terbang dan berhenti di depan pohon maple milik sang putri. Putri Maple turun dari dahan pohon, bersamaan dengan hal itu Nadia dan yang lain menghampiri.
"Ada apa ini? Kenapa kristalnya ...?" bingung mereka.
"Ah, mungkin karena," Putri Maple menggerakkan tangannya.
Seketika batang pohon maple itu terbuka sendiri, muncullah dahan yang bergerak masuk lalu mengambil sebuah buku yang juga bersinar terang.
Buku apa itu? Buku kuno dengan sampul berwarna merah marun, yap, itu buku Resyana.
"Buku Resyana!" kaget mereka.
Kedua benda itu saling terbang mendekat. Menempellah kristal itu di salah satu halaman buku Resnyana.
"Jadi selama ini kalian yang ...."
Putri Maple berjalan, menangkap buku Resyana dengan perlahan, Trigou berdiri di sampingnya.
"Ya, pencuri itu adalah kami," ucap pelan Putri Maple.
"Maafkan kami, semua," Trigou meminta maaf.
"Apa!? Tapi-tapi kenap-" ucapan Nadia terpotong oleh Ibu Albert.
"Tidak apa, Tuan Putri, Tuan Trigou itu bukan masalah besar untuk kami kok," potongnya.
Nadia dan yang lain memutar bola matanya.
"Pembohongan publik," gumam Fikram.
"Hey-hey, sepertinya buku ini akan memberikan petunjuk lagi," kata Rio.
"Aku kok agak trauma ya," ujar Manda, yah mengingat seperti kejadian yang sudah-sudah, ia jadi khawatir buku ini akan eror lagi seperti sebelumnya.
"Kalau buku ini sampai eror lagi, akanku patahkan tulang si penulisnya. Lihat saja," tekad Dina.
(Waduh, penulisnya? Author dong, yak? Waduh).
...THE BOOK...
(Tempat kristal)
...Jangan pernah merehmehkan segala sesuatu...
...Apapun atau siapapun itu...
...Jangan pernah menjelekkan seseorang...
...Hanya karena ia lemah dalam suatu bidang...
...Setiap insan miliki kelemahan...
...Setiap insan miliki kelebihan...
...Tugas terakhir untuk para terpilih...
...Kembalikan cahaya pada wilayah...
...Wilayah yang pernah menjadi sinar...
...Pusat alam semesta bagi rakyatnya...
...Wilayah yang kini hanya jadi gerhana...
...Lubang hitam bagi rakyatnya...
...Kuatkan hati dan persiapkan diri kalian...
__ADS_1
...Dunia akan berubah sebentar lagi...
Note: Kalian akan kedatangan tamu spesial
(Fiuhhh, selamat)
Mereka saling berpandangan, "Tamu spesial?"
Muncullah tanaman-tanaman hijau kecil dari kristal. Tanaman itu terus tumbuh dan menjalar hingga membentuk sebuah garis panjang yang mengarah ke suatu tempat.
"Hanya perasaaku saja, atau tanaman ini memberi petunjuk agar kita pergi ke suatu tempat?" tanya Nadia.
Maple dan Trigou saling berpandangan, raut wajah mereka menampakan saling meminta izin satu-sama lain. Mereka tahu benar tempat yang ditunjukan oleh tanaman-tanaman ini. Mereka saling melempar senyum tipis.
"Tidak, itu bukan perasaanmu saja," mereka berdua melangkah, berjalan mengikuti tanaman itu, Nadia dan yang lain mengekori dari belakang.
Maple dan Trigou berdiri berdampingan memandang ke depan, ke arah tempat yang jelas-jelas hanya pemandangan tanah gersang nan kering.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan?" bisik Dina ke Nadia.
"Mana aku tahu," jawab Nadia.
Trigou mengeluarkan tiga biji gandum lalu meleburnya, iapun meniup gandum yang telah menjadi debu itu.
POOF!
"Uhuk! Uhuk! Woahhhh!"
Seketika padang tandus yang tidak memiliki pemandangan segar ini berubah menjadi tempat yang lebih baik.
"What the ...," mereka menatap datar tempat itu.
Rasa terkesan mereka seketika luntur begitu saja. Kenapa? Ya, memang tempat itu berubah menjadi lebih baik. Lebih banyak tanaman yang mendiaminya yah walaupun tanaman itu sama-sama mati sih, hehe.
Putri Maple pun berkata, "Ini dulunya adalah taman kesayangan adikku, Nadi. Namun kini telah ... haah, aku berusaha memulihkan tempat ini dengan kekuatan yang aku miliki, namun...," Putri Maple memegang salah satu bangkai pohon dengan sorot mata yang sendu.
"Tanah di negeri ini benar-benar sudah mati. Mustahil bisa memulihkan tanah negeri ini tanpa kristal itu," kata Trigou.
Nadia berjalan-jalan melihat hutan mati tersebut. Mendadak matanya melihat ke arah bunga unik yang sudah mati. Bunga itu tertanam di atas lengkungan kecil, tempatnya seperti bekas air mancur taman. Hatinya pun tergerak untuk menyentuh bunga itu, meski ia agak ragu.
CLINGGGG!
Matanya melebar seketika, sinar menyilaukan keluar dari arah bunga itu, tanaman itu mekar.
"Indahnya," Nadia takjub.
Sinar kebiruan terpancar dari bunga molek ini. Momen itu sangat menakjubkan bagi mereka. Jangankan Nadia, teman-temannya yang ada di belakang pun menganga melihat kejadian itu.
Tetapi~
Pada saat puncak-puncaknya mekar, kelopak bunga itu malah rontok, habis semua kelopaknya. Mereka yang menyaksikan pun membatu.
"Whut ...?"
"Eh, bunga kegemaran Nadi, teratai biru yang amat langka di negeri ini," ujar Gamma.
"Ak-ak aku tidak ... aku tidak bermaksud untuk ...," panik Nadia merasa bersalah, padahal ya dia memang tidak tahu kalau endingnya akan jadi seperti ini.
"Hayo Nadia, bunga langka kau rontokkan hayo," Manda dan Fikram malah membuatnya semakin bersalah.
"Hey itu tidak membantu!" pekik Nadia.
Putri Maple tampak menunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Put-Putri Maple ma-maaf ...," Nadia mencoba meminta maaf, Putri Maple tetap bergeming.
"Hayo Nadia, hayo," Fikram, Manda, Dina, Rio, juga Gamma menyoraki Nadia tetapi kali kini dalam volume yang kecil.
"Putri Maple...," Nadia menggigit bibir bawahnya, takut Putri Maple akan marah.
CLINGGG!
"Hey lihat itu," kata Rainny.
Semua menoleh ke belakang, lagi-lagi mata mereka dibuat terbelalak
"Woahhh!"
__ADS_1
Satu persatu bunga-bunga dan tanaman di tanah itu mulai tumbuh dan semakin tumbuh subur. Batang-batang pohon yang tadinya mati, kini kembali menjadi pohon yang rindang dan menyejukkan mata. Lubang lumpur pun berubah menjadi kolam ikan dengan air yang sangat jernih dan bunga-bunga teratai yang menghiasinya. Hewan-hewan dan tanda-tanda kehidupan lainnya mulai muncul kembali, mengubah tempat tandus itu menjadi tempat yang sangat asri dan segar.
"Apa yang ...."
"This is awasome!" kata Fikram bersemangat.
Kupu-kupu unik nan indah bersama serangga eksotik lainnya beterbangan! menghinggapi bunga-bunga dan rumput-rumput segar. Bahkan titik-titik embun pun masih terlihat menempel di dedaunan.
"Hey-hey apa ini?" manik mata Manda melihat sebuah rumput yang menurutnya unik di bawah kakinya.
Ia melihat tumbuhan kecil, tumbuhan itu memiliki empat helai daun berbentuk hati. Ada corak polkadot putih di setiap daunnya.
Ia pun segera berjongkok, melihat tanaman itu lebih dekat. "Woaahhhh, ini semanggi tutul! Berdaun empat pula woahhhhhh, ini sangat kerennnn! Tumbuhan ini hanya ada di sini!" Manda sangat kegirangan.
"Semanggi apa itu?" bingung Putri Maple.
"Di dunia kami tumbuhan ini namanya semanggi," kata Manda.
"Ooh, kalau di sini kami menyebutnya 'si Penolong Rasa Haus'," kata Putri Maple membuat Manda bingung.
"Hah? Kenapa? Setahuku semanggi tidak bisa menghilangkan dahaga."
"Coba kau petik salah satu daunnya."
"Bolehkah?" Putri Maple mengangguk tanda menyetujui.
Manda pun memetik rumput tersebut.
Ajaib!
Daun yang tadi di petik Manda, bergerak dan saling menempel satu sama lain membentuk seperti mangkuk mini. Dengan sendirinya cekungan itu terisi oleh air.
"Apa yang terjadi?" mulut Manda menganga.
"Coba sekarang kau minum airnya bersamaan dengan daunnya," suruh Putri Maple lagi.
Manda menurut, ia memasukan daun itu ke dalam mulutnya. Manda mencoba merasakan, seketika matanya membulat sempurna.
"Hebat! Rasanya Hebat!!" dia sangat gembira. "Rasa manis segar, terasa seperti air madu dingin masuk dan langsung melunturkan hausku. Padahal 'kan hanya setetes air saja," heran Manda namun ia tetap senang.
"Itulah sebabnya ia mendapat julukan itu. Disaat kau sedang haus-hausnya tetapi tidak ada air di botol atau tidak ada sumber mata air. Kau cukup memakan satu tangkai tanaman ini, dan rasa hausmu akan hilang seketika," jelas Putri Maple.
"Woahhhhh, aku mau coba juga dong!" sahut Fikram.
"Bolehkah, Tuan Putri?" tanya Manda.
"Silakan saja," jawab Putri Maple.
Mereka pun saling bersorak, "Yeyyyyy!" keduanya langsung berjongkok dan Fikram mencoba tumbuhan itu.
"Woaaahh, ini enak sekaliiii!"
"Ya kan, lidahku mah tidak bisa berbohong soal rasa. Ah aku mau mencobanya lagi," kata Manda hendak memetik lagi.
"Hey tidak, kau tidak boleh memakannya lagi. Sekarang yang boleh hanya aku."
"Kenapa begitu?"
"Karena kau sudah mencicipinya," balas Fikram dengan entengnya.
"Kau juga sudah tadi!"
"Ya pokoknya tidak boleh," Fikram memetik tumbuhan itu lagi dan hendak memasukkannya ke dalam mulut.
Namun tentu saja Manda tidak terima. Ia pun merebut tanaman itu dari Fikram.
"Hey itu milikku!"
"Tidak, ini milikku!" Fikram mencoba mendapatkannya kembali.
"Kembalikan!"
"Tidak mau!"
"Aih, udah dah kumat lagi mereka," kata para sahabatnya menatap datar Fikram dan Manda.
Bersambung ....
__ADS_1