
EPISODE SEBELUMNYA
Nadia semakin mendekati Raja Basilia tanpa hambatan. Ia bersiap mengeluarkan belatinya untuk berjaga-jaga.
"Sedikit lagi! Sedikit lagi!"
Sejengkal saja lagi, Nadia akan berhasil meraih kristal wajik berwarna kuning keemasan tersebut. Apa ia akan berhasil?
SETT!
"Takkan ku biarkan kau menghancurkan rencana kami!" rupanya Rainny menggagalkan rencana Nadia.
"Kau! Bukankah kau telah terikat!" bingung Nadia.
"Haha, kau pikir semudah itu melumpuhkan Rainny!" ia mencabut jarum dari lehernya, memang masih terlihat tubuhnya membiru akibat racun namun staminannya justru terlihat baik-baik saja. Ia mengapungkan guntingnya "Dasar Bod-"
DUAKKK!
Rainny terlempar sampai ke dinding dan tertangkap tak berdaya oleh daha pohon yang besar.
"Lagi-lagi musuh banyak cincong, udah kritis masih aja...," itu adalah pohon mangga milik Ibu Albert, ia kini berada di atas pohonnya sambil memakan mangga. Terlihat dua musuh sudah ia amankan. Wow Keren.
BUAHAHAHA!
Suara tawa penuh kemenangan lagi-lagi terdengar. Netra Nadia berfokus pada Raja Basilia yang kini ditemani para pasukan barunya. Ia tertawa gagah berdiri di atas punggung Naga bermata merah, berkepala yang lebih dari satu.
"He? Bukankah itu si naga jelek?" kata Dina mengenali naga itu.
"Naga jelek?" Rio menaikkan salah satu alisnya.
"Mereka memanggil dari segala penjuru. Makhkuk-makhluk yang kita taklukan juga telah terpengaruh," simpul Fikram.
"Kak Gympie juga, huhu," Manda sedih wanita gympie itu juga terpengaruh.
Si Raja Basilia dan naganya mulai terbang menjauh. Para nyamuk dan serigala itu juga tidak menyerang mereka lagi dan mulai mengikuti Raja Basilia. Medusa juga bangkit dan mengikuti mereka.
Nadia seketika tak ingin kehilangan Raja itu, ia tak akan diam saja dan membiarkannya menghancurkan dunia-dunia yang ada. Seketika ia mendapat ide brilian.
"Vampir, kau bisa mengantarku ke atas naga itu tidak?" tanya Nadia menunjuk ke naga yang dinaiki Raja Basilia.
HEHEHE tersenyum, "Hehehe, tentu saja bisa."
Ia pun menyuruh kawanan nyamuknya menutupi Nadia dan seketika ia menghilang.
POOF!
Dalam sekejap Nadia muncul di belakang Raja Basilia yang dikelilingi lima kristal bersinar. Ia menggenggam erat belatinya.
KLING!
Ternyata Raja licik sudah tau ada seseorang yang akan menyerangnya di belakang. Ia pun bisa menangkis serangan Nadia tanpa harus repot-repot menggunakan tangannya. Mereka saling menatap sengit di balik senjata mereka.
"Apa yang kau pikirkan hah! Kau pikir bisa menghentikanku secepat itu!" sengit Raja Basilia.
"Kau ....! Dengar, apa salah negara ini padamu! Apa salah dunia lain sehingga kau mau menaklukannya untukmu, hah!" Nadia mencoba menyadarkannya.
KLINGG!
Pedangnya kini bergerak menghempaskan belati Nadia sehingga ia sedikit terhuyung ke belakang. "Tidak ada, hanya saja... dengan menaklukan Dunia ini semua akan tunduk padaku! BUAHAHAHA!"
"Dasar tamak," gumam Nadia menggertakan giginya.
__ADS_1
"Putri Nadimu itu terlalu bodoh, oh tidak, kau bod*h!"
"HIAAA!" Nadia menyerang kembali, ia berlari cepat di atas punggung naga besar itu.
"Kekuatan hitam dan kristal cahaya, ku perintahkan kau membimbing pedangku mengalahkan serangga tak berguna ini!"
Raja Basilia memberikan pedang panjangnya kekuatan, sehingga terpancarlah aura hitam di sekitarnya. Nadia yang melihat hal itu tak gentar.
CLINGG!
Ia berusaha melawan pedang itu, berusaha menangkis, berusaha mempertahankan hidupnya.
"Agh!"
Beberapa sayatan juga tercipta di tubuh mulusnya, sayatan cukup dalam mengakibatkan darah mengalir deras. Nadia mengatur napas. Pedang itu telah kembali pada genggaman pemiliknya.
"Ouh, tubuhmu semakin parah saja Tuan Putri. Menyerah dan beristiratlah, pffft," ia tersenyum sinis.
Nadia memegangi lukanya. "Aku tidak akan menyerah," katanya bergetar. Tiba-tiba ia terbatuk, "Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Keras kepala ya kau, seperti dahulu saja," katanya.
Nadia melihat telapak tangannya karena merasa ada cairan kental yang berada ditangannya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat cairan merah di sana.
"Apa tangamu berdarah? Uuuu, sepertinya kau sakit ya, emm karena apa ya? Ah itu pasti karena luka-lukamu, lalu di perparah penyakit mematikan dari para nyamukku. Waah, pasti sangat menyakitkan ya," ejek Raja Basilia. "Mau tidak ku bantu menyembuh- eh!" tiba-tiba ada kawanan nyamuk yang mengelilinginya.
"Hemmh, berhasil," Nadia tersenyum tipis.
FLASHBACK
"Vampir, kau bisa mengantarku ke atas naga itu tidak?" tanya Nadia menunjuk ke naga yang dinaiki Raja Basilia.
"Hehehe, tentu saja bisa."
"Hehehe, bisa diatur, Putri" HEHEHE mengacungkan jempolnya. "Tapi aku perlu si besar itu teralihkan, kalau dia melihat pasukanku bisa-bisa kawanku mati semua."
"Tak masalah, aku akan mengalihkan perhatiannya. Aku juga akan menyerangnya supaya ia tidak ada kesempatan memerintah pasukannya lagi," jelasnya.
FLASHBACK END
"Hei, Raja Licik!" panggil Nadia.
Raja Basilia menoleh dan matanya melebar ketika melihat Nadia sudah di depannya.
HIAAA! JLEBB!
Darah segar mengucur, menciprati wajah dan tubuh mereka berdua. Bilah tajam itu menusuk tepat di jantung, organ paling vital dan paling menentukan nyawa seseorang.
Tubuh Nadia terhuyung, badannya lemas, napasnya sudah tak beraturan dan melemah.
Jatuh!
Raganya jatuh dari badan naga tersebut.
"Berhasil...," lirihnya.
Nadia POV
Gelap, seluruhnya hanya ada kegelapan tanpa cahaya.
"Nadia! Nadia!"
__ADS_1
Ada suara yang memanggil-manggil namaku? Siapa? Siapa itu?
"Hey, bangunlah. Sebentar lagi kita menang."
Kubuka mata ini lebar-lebar. Menilik siapa yang berbicara padaku. Terang, indah, tempat yang terang dan indah.
"Bangunlah," aku bangkit, kepala ini menoleh ke arah yang ku yakini sebagai sumber suara. Ku lihat ada seseorang yang sangat mirip sepertiku, rasanya seperti bercermin.
"Siapa kau! Kenapa kau sangat mirip denganku!" aku mundurkan langkah.
Sosok bergaun sederhana namun elegan berwarna biru itu... tersenyum. Ia memakai mahkota berlian berhias permata biru yang sangat memanjakan mata. Rambutnya yang kecoklatan ia biarkan terkuncir kuda. Ia sama seperti ku hanya saja aku memakai gaun dan makhota. Sangat cantik dan menawan hati.
"Namaku saja tak jauh dari namamu. Namaku Nadi," ucapnya.
Aku kaget, "Pu-pu-putri Nadi!"
"Hihi, ya. Jangan memanggilku 'Putri'. Panggil saja 'Nadi'." ia mengulurkan tangannya ke arahku. "Bangun, dan bangkitlah, kita lawan si Raja tak punya hati itu," aku tau betul siapa yang ia maksud.
Aku menunduk. "Tidak usah. Tidak ada gunanya, aku sudah kalah, lihat kondisiku, sudah sekarat," aku melihat diriku yang penuh luka.
"Kau menyerah?" ia tersenyum menaikkan alisnya. "Haa, apa aku salah pilih orang ya, dia mudah sekali menyerah."
"Bu-bu-bukan begitu, Putri. Hanya saja aku ..."
"Teman-temanmu juga menyerah seperti ini. Kaulah yang menyemangati mereka, bukan?" aku mendongak menatapnya. "Tidaklah etis, kau yang menyemangati mereka sekarang malah menyerah. Aih, apa kata dunia. Ayolah, Nadia bangkitlah, teman-temanmu membutuhkanmu. Sebentar lagi kita menang." Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya dan berkedip, "Aku akan membantumu, tenang saja."
Aku terpesona, perlahan aku pun menjabat dan menerima uluran tangannya.
Nadia POV end
"Raja Basilia!" Si naga telah menjadi semula berkepala satu, ia kaget ketakutan ketika Raja Basilia ada di punggungnya.
"Kau tidak perlu begitu, aku sudah tak memerlukanmu!" seketika ia terbang meninggalkan naga ini.
GREP!
"Apa yang...?!" Raja Basilia kebingungan ketika melihat ekor naga ini melilit badannya.
"Tapi aku masih memerlukanmu," kata naga ini menatap tajam.
Bersamaan dengan hilangnya kekuasaan ia atas lima elemen kristal menghilang pula pengaruh dan pasukannya atas daerah penjuru negeri ini.
Pasukan nyamuk HEHEHE kembali dengan selamat membawa kristal itu.
"Horeee! Raja Basilia telah kalah! Semua normal kita pulang!" Senang Manda dan Fikram berpelukan.
"Apakah Nadia tadi jatuh? Kenapa? Kenapa ia jatuh dari naga itu?" khawatir Rio dalam hati.
"Yes bagus! Akhirnya aku berpisah dengan penyihir ini!" Gamma sudah senang duluan.
Dina berdecih, "Cih! Eh teman-teman..." ia gemetar ketika kembali melihat langit dari teras Istana.
Naga itu kembali sambil menangkap Raja Basilia kemudian melemparnya ke lantai.
"Hai, Naga Jelek," sapa Dina.
"Hiiii!" geramnya.
Bersambung ....
__ADS_1