
EPISODE SEBELUMNYA
"Hah? Apakah kau yang membeli ini, Di/ Rio?" ucap mereka berbarengan.
"Eh? ah itu aku...," mereka masih melakukannya berbarengan meski tidak terdengar satu sama lain. "Anu... gelang ini sebenarnya!" lagi-lagi berbarengan. Nadia bangkit, namun wajahnya tertunduk menyembunyikan pipinya yang merona, begitu pula dengan Rio.
"Kau duluan. Ah tidak kau saja yang duluan. Tidak, kau duluan saja," berturut-turut kata mereka ucapkan secara kompak. "Aih."
Hening~
Wajah mereka sekarang bebar-benar merah padam. Ingin memulai pembicaraan namun mereka takut akan berbarengan lagi. Jantung mereka tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Rio, gelang ini...," Nadia mencoba memberanikan berbicara.
Rio mendengarkan, "A-a-apa?"
"Gelang ini... kau...," Nadia perlahan membungkuk, mengambil gelang berbandul bulan sabit biru tersebut. "Sebenarnya kau sudah mengakui bahwa bulan lebih baik dari matahari kan. Kau sudah berpaling ke bulanku ya haha, mengaku saja deh!"
Rio kaget, ia tidak menduga Nadia akan melakukan ini. Ia pun tak terima, ia membungkuk mengambil gelang yang jatuh di depan Nadia, berbandul matahari.
"Nah kau juga, kau sudah mengakui kekuatan matahariku lebih kuat dari bulanmu kan. Kau juga sudah berpaling kepada matahari kan, haaa? Ayolah mengaku saja, Di," balas Rio melipat tangannya di depan dada.
"Tentu saja tidak. Buat apa aku berpaling pada mataharimu yang panas itu?!"
"Aku juga, kenapa juga aku harus berpaling ke bulanmu yang lemah itu,"
"Apa kau bilang!" Nadia tidak terima.
"Bulanmu itu lemah~" ejek Rio.
"Hii, mataharimu itu yang overpower! Bulanku tetap nomor satu!"
"Tidak, bulanmu yang lemah! Matahariku nomor satu!"
"Bulan!"
"Matahari!"
"Bulan!"
"Matahari!"
"Kau!" Mereka saling menatap sengit, mendekatkan wajah satu sama lain.
Tawa mereka tak tertahankan lagi, "P-p-pffffftt."
"Hahaha, kita mengulanginya lagi," kata Nadia mengusap air matanya yang sedikit keluar karena tertawa.
"Rasanya sudah lama sejak hari itu ya, hahaha," ucap Rio yang mengusap sedikit air matanya.
"Haha... tapi... kenapa kau membeli gelang ini?" tanya Nadia menjinjing gelang itu.
"Emm itu... Ah, kau sendiri, kenapa kau membeli ini?" Rio bertanya balik.
Nadia membulatkan mata. "Emmm itu... sebenarnya," ia ragu mengatakannya.
Rio jadi tidak enak, ia pun mengusap tenguknya.
"Sebenarnya gelang ini aku beli untukmu, hah apa? Untukku?" lagi-lagi mereka mengatakannya berbarengan, mereka saling membuang wajah.
"Rio membelinya untukku?"
"Nadia membelinya untukku?"
"Ke-ke-kenapa?" bahkan sampai suara hati mereka bersamaan.
Rio pun berinisatif berbicara dulu, memecah kecanggunan.
"Di, maukah kau menerima pemberian gelangku ini?"
Nadia menoleh, ia terkejut ketika melihat Rio berlutut sambil memejamkan matanya, menyerahkan gelang itu. Pipi Nadia memerah, kemudian ia tersenyum.
"Ten-tentu."
Mendengar jawaban yang ia harapankan, Rio pun mendongak. Pipinya juga merona ketika melihat wajah Nadia yang tersenyum malu padanya.
"Tapi aku juga punya pertanyaan untukmu," Nadia bergerak menurun, menyamakan tinggi. "maukah kau menerima gelang dariku, Rio?" Nadia ikut berlutut.
Mata Rio melebar. "Ya, kenapa tidak," Rio tersenyum lebar dan di balas oleh Nadia dengan senyuman yang sama.
Mereka pun saling mengaitkan gelang itu di tangan mereka secara bergilir di depan sunset yang menjadi saksi bisu. Senyuman pun terus mereka tunjukan pada lawan bicara mereka. Andai si sunset punya ekspresi mungkin dia juga akan tersenyum melihat ini.
Nadia memandang gelang pemberian Rio, "Hihi, kau membelinya di mana? Aku tidak melihatmu membeli ini di toko yang kita kunjungi bersama Kakek San waktu itu," tanyanya.
"Oh, aku membelinya secara diam-diam di toko itu," Rio bercengir kuda.
Nadia hanya ber-oh-ria.
"Ha, penjual itu sangat pelit," mereka mengucapkannya bersamaan lagi. "Aku harus menukarnya dengan salah satu belati/ pisau tombakku, tunggu... kau juga? Haha," mereka tampak antusias.
__ADS_1
"Jadi kau menukarnya dengan satu belatimu, Di?" tanya Rio.
"Yah gitu deh, sebentar kalau pisau di tongkatmu ditukarkan berarti...."
"Ya tongkatku, hanya tongkat biasa. Lah belatimu berarti tinggal satu dong."
"Iyalah, waduh kita harus rahasiakan ini rapat-rapat dari Kakek San dan Ibu Albert," kata Nadia.
"Eh tenang, kalau Kakek San mungkin ia akan sabar. Dan Ibu Albert tidak akan mengetahuinya sekarang dia 'kan sudah jadi jiwa wkwk," gurau Rio.
"Asek, selamat kita," Nadia mengajak Rio melakukan tos.
TOS!
"Yo!"
Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Nadia pun memandang sunset di depan mereka lagi. Rio juga ikut memandang sunset itu, namun sejurus kemudian ia melihat wajah cantik Nadia.
*"Ri, aku dan Manda sudah. Kau dan Nadia kapan nih."*
Seketika terlintas di pikirannya tentang pertanyaan Fikram hari itu.
"Apa aku harus menyatakan perasaanku sekarang?" batin Rio. "Ya, kalau tidak sekarang kapan lagi, aku akan menyatakannya sekarang," yakin Rio. "Nadia," panggilnya sebagai pembukaan.
Nadia menoleh.
Deg! Deg!
Setelah melihat wajah cantik Nadia, jantung Rio malah berdetak tak menentu. Ia memegangi dadanya, berusaha menenangkan jantungnya.
"Na-Na-Nadia... ak-ak-aku... se-se...," Nadia kebingungan, Rio memejamkan matanya, berusaha mendapatkan keberanian lagi. "Kenapa sangat sulit!" pikirnya.
"WAAAAA! TUAN PUTRI NADI MENGHILANG, TOLONG!" terdengar jeritan seseorang yang sedang panik.
Hal itu membuat atensi Nadia dan Rio teralihkan.
"Gawat, pelayan itu kembali ke kamarku, aku harus kembali ke sana," gumam Nadia yang masih bisa di dengar telinga Rio.
Rio pun menoleh ke arah Nadia, gadis itu terlihat gugup dan terlihat jelas ingin buru-buru ke sana. Nadia pun menyadari Rio menatapnya.
"Eh tadi kau mau bilang apa, Ri?" tanyanya.
"Hemm? Ah, aku jadi lupa. Hey, mungkin kau harus ke sana?" kata Rio.
"Ya, benar sekali. Aku pergi dulu ya, daah," Nadia buru-buru kembali ke sumber teriakan itu berasal.
Rio hanya bisa memandang punggung Nadia yang semakin menjauh, ia gagal menyatakan perasaannya. Ia menghela napas panjang.
"Sabar ya, Sob," tangan kekar menempuk bahunya, Rio pun menoleh.
"Lu?" ia menaikkan salah satu alisnya.
"Apa? Yah gue tahu apa yang lagi lu pikirin tentang gue. Tapi percaya deh, setelah banyak kejadian yang kita lalui gw sadar Nadi di kehidupan kali ini bukan Nadi gue," ucap Gamma berkharisma, Rio tercengang. "Semangat, usaha terus ya, nyatain tuh perasaan lu," tambahnya menepuk bahu Rio lalu pergi.
Rio mematung, "Abis kesambet apa dia barusan?"
----------------
Kesokan harinya~
Hari ini adalah hari bahagia, semua orang bersuka cita. Bersuka karena matinya orang yang membuat mereka menderita, kembalinya Putri Nadia dan para pelindung, serta Putri Maple akan meresmikan hubungannya dengan Trigo.
"Hemm, makanan ini enak, si Alga mana sih ngga keliatan dari tadi," Manda memakan kudapan yang ada, ia berbalik dengan niat hati mencari belahan hatinya itu.
"Mimo~"
Manda kaget, kue yang ada di kedua tangannya sampai jatuh ketika melihat sosok pria yang ada di hadapannya.
Pria memakai seragam ala pqangeran berwarna biru yang elegan dengan sentuhan warna kuning keemasan. Yang di padu padankan dengan celana formal putih. Dengan rambut hitamnya yang ia biarkan sedikit berantakan menambah pesona ketampanannya.
"Apa anda menikmati pesta ini, Nona cantik," Fikram membungkuk lalu mengedipkan salah satu matanya.
Manda tersepona, badannya seketika bergetar. "Oh, Alga pangeranku!" gadis berkuncir dua bergaun hijau ini pun pingsan seketika.
"Eh!? Manda!"
Sementara itu~
Omong-omong soal tersepona, di sini juga ada yang sedang terpesona terhadap lawan jenis mereka.
Gamma, ia sedang menatap gadis bertopi yang memakai gaun coklat di padukan dengan warna merah. Ia sebenarnya gadis tomboy namun dengan gaun ini iajadi terlihat lebih fenimin.
Dina, matanya berbinar saat melihat pemuda memakai bandana merah kesayangannya, mengenakan setelan ala pangeran berwarna hijau tua, tidak seperti biasanya yang terlihat sebagai 'bocah tarzan' ia lebih mirip pangeran dari istana ternama sekarang.
Canggung, lama mereka menatap satu sama lain. Tak lama, tangan Gamma bergerak mendekati Dina. Gadis berambut ikal ini membeku.
SRAK! SET-SET!
Doengg!
__ADS_1
Gamma mengambil paksa topi Dina dan ia langsung mrngacak-acak rambut gadis ini.
"Nah, ini lebih baik. Kalau begini kan kau cantik, cantik seperti gembel buahaha!" ejeknya tertawa.
Dina tak mau kalah, ia merampas bandana Gamma lalu mengacak-acak rambutnya seberantakan mungkin.
"Nah sekarang kau juga ganteng, ganteng kek anak ilang, hia-hia buahaha!" tawanya pecah, Gamma kesal. "Oh ya, kalau dilihat-lihat, baju ini tidak cocok untukmu. Terlalu bagus dipakai oleh orang dengan wajah anak ilang sepertimu, pffft," ejeknya lagi.
"Apa kau bilang! hei, sepertinya kau tidak bercermin ya, gaunmu itu juga tidak cocok untukmu. Aku yakin kalau dia bisa bicara, dia pasti akan menangis karena telah dipakai olehmu. Kejelekanmu sampai mengalahkan kecantikannya, ckck kasihan, kecantikan gaun ini jadi luntur, wkwkwk," katanya.
"Haaa! Dasar anak ilang!"
"Dasar gembel!"
Mereka saling mendekatkan wajah menatap sengit. "Penyihir/Lamban!" Mereka pun saling berbalik acuh. "Huh!"
Dina membatin tersenyum kecil melihat bandana Gamma. "Hemmh, ya kau ganteng kek anak ilang, anak ilang dari keluarga bangsawan yang kemudian tersesat di hatiku, ihiy," ia tersenyum sendiri.
"Gaunmu itu pasti menangis karena wajah jelekmu itu, wajah jelek yang terlihat seperti bidadari dari kahyangan ah tidak seperti dewi kecantikan, ya itu. Wajahmu itulah yang akan melunturkan kecantikan gaunmu dan melelehkan hatiku, ihihi," Gamma juga cekikikan sendiri.
Mereka berjalan menjauh, namun secara bersamaan mereka melirik satu sama lain dari sudut mata, ya pasti di antara mereka berdua tidak ada yang tahu.
-------------------
Tok! Tok!
Ada mengetuk pintu kayu di kamar Nadia. Ia sedang bersiap-siap.
"Masuk," jawab Nadia.
Pelayan pun masuk membawa tiara yang ia pangku di sebuah bantal merah berenda kuning.
"Permisi, Nona. Saya di perintah untuk membawa mahkota ini untuk anda, harap anda memakainya sesuai perintah Calon Ratu Maple. Dan anda diminta untuk mengiringinya menuju pelaminan," katanya sopan.
"Untukku? Mengiringi? Aku?" pikirnya. Nadia segera menjawab, "Hemm, baiklah terimakasih ya."
Pelayan itu menaruh bantal tersebut, lalu undur diri.
Nadia berjalan mengambil lalu membawa mahkota perak bertabur berlian biru itu ke depan cermin. Ia melihat pantulan diri, memakaikan makhota itu di rambut berharganya.
Cahaya emas mendadak mengelilinya, sungguh sangat berkilau. Kristal cahaya miliknya pun terbang melayang mengeluarkan debu emas yang kemudian menuju ke arah mahkotanya.
Nadia takjub, "Waaahh."
Tap... tap....
"Mari kita sambut mempelai wanita kita yang sangat menawan hati," kata Kakek San.
Tap... tap....
Semua mata menuju pada mempelai wanita, kecuali. Ya, dia yang di minta mendampingi mempelai pria malah terkesima akan pesona dari pendamping mempelai wanita mereka.
Gaun kuning keemasan dengan tiara sebagai pemanis makin menambah aura pemiliknya yang memang sudah menawan.
Tap... tap... tap....
Kini mempelai mendekat saling berhadapan. Sebentar lagi mereka akan meresmikan hubungan mereka di hadapan seluruh rakyat.
Mata Nadia melebar ketika melihat pesona dari seorang Rio yang memakai seragam kerajaan berwarna ungu legam. Mereka saling mematung terkesima.
"Tuan Putri Maple, maukah kau manjadi teman hidup seperjuanganku, dalam suka maupun duka?"
Mereka saling menatap.
Putri Maple pun mengangguk kecil lalu menjawab, "Dalam suka maupun duka, Rajaku," ucapnya tersenyum.
Rio dan Nadia pun terlena akan tatapan itu dan bergerak mendekat.
"Nadia, maukah kau menjadi pendamping hidupku? Maukah kau menemaniku dalam suka maupun dukaku?" tanya Rio menatap lekat manik mata Nadia.
"Tentu saja, Pangeranku," Mereka saling melempar senyum. "Ku akan senantiasa menemanimu dalam suka maupun duka."
Setelahnya mereka memiringkinkan wajah saling mendekat.
"HOREEE!"
Lamunan Rio buyar seketika, ia pun tersadar dan melihat semua orang sudah bersorak-sorai bahagia.
"SELAMAT YA! WUUUU! RATU MAPLE DAN RAJA TRIGO SELAMAT!" pekik Manda.
Konveti dan bunga-bunga bertaburan meriah menghujani pelataran. Nadia pun ikut tersenyum bahagia pengantin itu akhirnya resmi jadi sepasang kekasih. Melihat gadis itu tersenyum sangat manis Rio membulatkan mata. Tanpa sadar darah benar-benar mengalir dari hidungnya.
"Eh, Nak hidungmu kenapa?" tanya Kakek San melihat cairan merah keluar dari hidung Rio.
"Hah!?" Rio kebingungan, ia pun memegang hidungnya. "Darah! Aku mimisan! Tunggu, apa ini gara-gara ...." Ia melihat ke arah Nadia yang masih tersenyum, gadis itupun berbalik melihat ke arahnya, Rio terkesiap dan buru-buru menutupi mimisannya.
"Permisi sebentar!" ia langsung berlari menghindarkan diri.
Kakek San bingung, "Hah?"
__ADS_1
Bersambung ....