
EPISODE SEBELUMNYA
"Mau apa kau, lemah" kata Siera.
Seraya memegangi dadanya yang tertusuk, Fikram menjawab, "Aku ingin mengakhiri kelicikanmu!" katanya.
"Hahaha, kau? Kau tidak akan bis- AGH!"
Dengan cepat Fikram mengambil kristal itu, menembus tepat ulu hati Siera.
TRING… TRING….
Trisula yang Siera genggam jatuh membentur lantai. Fikram langsung mendorong tubuh lemas Siera. Fikram maju beberapa langkah seraya masih memegangi dadanya.
"Kau tahu, Ibu, Siera. Aku mempercayai kalian, aku menyanyangi kalian. Aku tidak percaya omongan para sahabat yang bahkan dekat denganku hanya demi kalian, orang asing yang mengaku-ngaku sebagai keluarga!" dengan tatapan amarah Fikram menatap Siera. "Tapi kalian... kalian malah ... kenapa! Kenapa!"
Di saat seperti ini Siera masih bisa tersenyum miring. "Hemmh, Karena kristal, kristal itu. Karena aku menginginkannya!" serunya. "Bunuh mereka!" ucap Siera mendadak.
Rendi mengerti, ia menarik Nadia begitu saja lalu memasukkannya ke dalam kawanan duyung bersama temannya yang lain serta memerintah para duyung untuk segera mengoyak mereka.
"Hentikan!" pekik Fikram.
Para duyung itu mulai mengeroyok mereka hingga akhirnya mereka tidak terlihat lagi, tertutupi oleh para duyung yang ganas itu.
"TIDAK!" Fikram menjerit kuat, ia sangat menghawatirkan keadaan teman-temannya.
Ia tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat ini, masih bernyawa atau tinggal tulang-belulang.
"Ucapkan selamat tinggal untuk teman-temanmu, Kak. BUAHAHAHA!" ucap Siera penuh kemenangan.
"Kau ...!" Fikram menunduk, tangannya mengepal kuat menahan amarah.
"Apa perlu aku siapkan upacara oh tidak, pesta kematian?" ejek Siera.
Fikram tidak tahan mendengarnya lagi. Iapun mendongak, menatap Siera dengan penuh kemarahan.
Senyum penuh kemenangan itu seketika memudar, berganti dengan ekspresi yang kaget nan gemetar, "Hah! D... dia ...."
Riasan berwarna putih yang menghiasi tepi wajah Fikram, lambang ombak di keningnya, dan iris mata yang berwarna biru kehijauan. Tak lupa, tergambar beberapa sisik berwarna biru kehijauan di sudut keningnya. Fikram, ya itu adalah Fikram.
"TIDAK BISA DIMAAFKAN!"
Muncullah air yang dengan cepat membentuk tabung pembatas antara teman-temannya dan para duyung itu. Mereka pun bisa bernapas lebih lega.
Dengan sekali gerakan tangan, ombak besar langsung menyapu bersih para duyung dan Rendi yang sekarang berwujud perempuan.
WUSH!
Bersih!
Sudah tidak ada lagi, segerombol duyung yang menganggu teman-temannya.
"Apa yang ...." Siera yang melihatnya ketakutan.
Tap... tap....
"Kau tahu aku sebenarnya tidak mau melakukan ini, tapi kau ... kau SUDAH KETERLALUAN!"
Fikram mengangkat tinggi tangan kanannya. Di tangan itulah ia menggenggam kristal biru yang langsung membuat air danau membelah menjadi dua. Menyisakan ombak tinggi yang menjulang ke atas.
"Ini...." Mata kelima temannya berkaca-kaca, kagum dengan apa yang mereka saksikan.
Siera kesulitan bernapas karena di sekelilingnya tidak ada air. Fikram maju selangkah untuk mendekat.
"Dia … tidak bisa dibiarkan, aku harus mngambil kristal itu kembali," batin Siera. "Mau apa kau sekarang?" dengan berani ia mengatakan hal tersebut.
"Aku ingin membungkam mulutmu untuk selamannya," ia mengepalkan tangannya kuat.
"Silakan, silakan saja" tantangnya. "Apa kau mampu membunuh ibu sekaligus adikmu sendiri, Hah?"
Mata Fikram melebar, ia meragu "Apa!Ak... aku...."
"Lemah," batin Siera tersenyum smirk. "Apa kau tega melakukan itu, Finn?" perlahan ia mengesot menuju ke arah Fikram.
Fikram bergeming, pikirannya mendadak kalut.
Siera berhasil mendekati Fikram, ia tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik ke arah kristal di genggaman Fikram.
DUNG! DUNG!
"Fikram! Dia hanya memengaruhimu lagi, sadarlah!" Manda menggedor-gedor tabung itu agar Fikram tersadar.
"Dasar, manusia penganggu!" gumam Siera sebal.
"Hah, apa yang- kau!" dia kaget saat Siera sudah mendekatinya.
__ADS_1
Dengan cepat Siera meraih tangan kanan Fikram, "Ada apa? Kau mau membunuhku? Bunuh! Ayo bunuh aku!" ia menarik-narik tangan Fikram ke arah dirinya.
Melihat tatapan Siera yang sendu, Fikram seakan terhipnotis dan kembali meragu. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku tahu kau tidak akan tega," lirihnya. "Maaf atas apa yang aku perbuat, Finn. Ibu telah membuat kesalahan. Kau mau memaafkan Ibu kan?" rayunya mengelus-elus tangan Fikram.
Fikram tetap bungkam.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Finn. Tidak perlu seperti ini. Kembalilah, kembalilah, Finn" Ia beringsut mulai membuka genggaman Fikram lalu mengambil kristalnya.
"Ibu menyanyangimu, Nak. Maafkanlah, Ibu" sedikit lagi Siera akan berhasil mendapatkan apa yang ia incar.
"Tunggu. Nak?" Fikram tersadar setelah mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Siera.
Dengan cepat ia menarik tangannya. Ia berjongkok menyamakan pandangannya dengan pandangan Siera. Mencengkram kuat rahangnya dan berkata, "Kau tidak pantas MEMANGGILKU NAK!"
Fikram mendorong Siera, sehingga ia jatuh ke belakang. Fikram bangkit, mendekatinya, serta menatap dengan tajam.
"Aku menyayangimu, Bu." Fikram Menggenggam erat kristal yang kini membesar, hingga mengalir darah segar membanjiri kristal itu.
"Itu adalah kalimat yang selalu aku ucapkan padamu bukan? Tapi tidak untuk kali ini, aku .... MEMBECI KALIAN!"
Dengan air mata berlinang, ia mengangkat tinggi ujung kristal itu dan melesatkannya ke arah Siera.
"TIDAK!"
JLEB!
----------------
KRAUK!
"Emm, enak nih. Malem-malem makan ikan bakar," kata Manda melahap makanan yang ia pegang.
"Iya, lebih lagi ikannya ditangkepin orang, enak sekale pasti." Sindir Gamma, karena memang ia yang menangkap semua ikan itu untuk makan malam mereka.
"Jelas," dengan mulut penuh, Manda mengacungkan jempolnya.
Gamma membalas dengan wajah datar.
"Kau ini hanya terluka sedikit tapi makan segitu banyak," kata Gamma.
Terlihat dua tulang ikan berserakan di samping Manda.
"Heh, setidaknya sisakan untuk yang lain, mereka juga perlu makan."
"Tidak perlu. Mereka sedang diet, jadi tidak makan di malam hari seperti ini, nanti ikannya malah basi sayang, kan? haha," terkekeh kecil.
"Dasar."
"Eh iya, sebenarnya apa yang terjadi selama aku pingsan?"
"Selama kau pingsan .... Hemm, banyak yang terjadi, panjang untuk di ceritakan."
"Persingkat."
"Ih, ya-ya baiklah."
Gamma pun menceritakan rentetan kejadian yang tidak menyenangkan itu. Manda tercengang, ia berhenti melahap makanannya. Raut wajah cerianya terganti dengan wajah muram.
"Ah, ternyata...." Manda menunduk.
"Ya begitulah. Eh, kau kenap-" belum selesai bertanya, kalimatnya sudah terpotong.
"Hiks-hiks, aku begitu lemah! Hanya karena tamparan sedikit saja aku pingsan dan jadi beban untuk kalian! hiks-hiks!"
"Eh!" Gamma kaget mendengarnya. "B... b... bukan seperti itu ...."
"Hiks-hiks! Aku hanya jadi beban untuk kalian! Maafkan aku! Aku memang tidak berguna!" Ia bangkit dan berteriak di depan Gamma.
Tubuh Gamma sedikit terhuyung ke belakang karena tersentak.
"Aku memang tidak berguna, iya kan?!"
"Tidak. Sudahlah jangan menang-" Gamma mencoba menenangkannya.
"AKU HANYA MENJADI BEBAN UNTUK KALIAN! AKU TIDAK BERGUNA! AKU TIDAK BERGUNA!!"
"Sudahlah, kumohon. Siapa saja tolong!" Gamma menutup telinganya.
"Gamma!"
Merasa ada bayangan besar menyelimutinya Gamma menoleh ke arah samping.
GLEK!
__ADS_1
"Apa yang sudah kau lakukan kepadanya!"
Tampak Ibu Albert sedang berkacak pinggang dengan tatapan mengintimidasi.
GLEK!
"Ibu," Gamma gemetar.
Mendengar ada kegaduhan, Nadia dan Rio keluar dari gubuknya masing-masing.
"Eh, ada apa ini?" tanya Rio.
Tak selang beberapa detik, dengan terpincang-pincang Dina pun keluar.
"Kenapa di luar sangat berisik! Saya mencoba untuk tidur di sini!" omelnya memegangi kaki.
Ibu Albert dan Gamma menoleh ke arah mereka.
"Eh, kalian bangun? Kalian berdua 'kan harus istirahat, luka kalian cukup parah. Dan kau, kau juga lelah setelah kejadian itu kan?" kata Ibu Albert.
"Huff, mereka menyelamatkanku," gumam Gamma yang masih bisa di dengar oleh Ibu Albert.
"Menyelamatkanmu apanya!" tegur Ibu Albert menjewer Gamma.
"Aduh! Aduh, Bu aku tidak melakukan apapun, bener deh."
"Halah, lalu kenapa dia menangis begitu!"
"Ibu lepaskan ini dulu, sakit!"
Nadia melihat Manda yang menunduk menangis, iapun menghampirinya
"Manda, kau menangis?" tanya Nadia.
"Hiks... hiks... maafkan aku Di, aku tidak berguna, aku hanya menjadi beban,"
"Husst, apa yang kau bicarakan?"
"Waktu kejadian itu aku sama sekali tidak membantu kalian dan malah pingsan hanya gara-gara luka kecil hiks... hiks...."
"Hah! Emm, bagaimana kau mengetahuinya?"
"Dari Gamma," jawab Manda membuat Gamma mendapat tatapan tajam dari Rio, Dina, dan Ibu Albert.
"Heh-Heh dia yang bertanya," gemetar Gamma saat di tatap.
"Kenapa kau merasa seperti itu? Kau membantu kok, malah sangat," kata Nadia.
Manda mendongak dan menatap Nadia, tidak percaya dengan perkataannya barusan.
"Iya, kau sangat membantu. Kalau tidak ada kau, kami tidak akan tau si licik Marine itu hanya memanfaatkan Fikram saja. Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak ya?" kata Nadia tersenyum.
"B... b... benarkah itu?" mata Manda berkaca-kaca.
"Ya tentu saja," sahut Dina.
"Iya," kata Rio yakin.
Hati Manda pun sedikit tenang. Ia memeluk Nadia dengan hangat. Nadia juga membalasnya. Dina menghampiri dengan perlahan.
"Aaa, berpelukan. Biasanya aku malas kalau harus berteletabis seperti ini tapi setelah kejadian hari ini it's oke lah," katanya.
Mereka bertiga pun berpelukan hangat. Gamma, Ibu Albert, dan Rio hanya tersenyum melihatnya. Namun, satu hal yang masih mengganjal di pikiran Rio.
"Nadia yang ini ... seperti asli. Ah, tapi ini pasti hanya akal-akalannya lagi!" pikirnya.
"Heh-heh sudah berpelukannya. Kalian harus tidur untuk memulihkan tenaga, kejadian itu benar-benar sangat melelahkan." Ucap Ibu Albert berlalu pergi.
"Tunggu, Ibu Albert," cegah Nadia.
Merasa terpanggil ia menghentikan langkahnya. Nadia melepas pelukannya lalu berdiri.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Nadia.
"Hemm, bertanya? Ah, dia pasti mau bertanya tentang hari ini," pikir Ibu Albert.
"Ini mengenai kejadian yang menimpa Fikram," kata Nadia.
Bingo!
Tebakannya tepat sasaran. Ibu Albert pun berbalik menatap wajah penasaran mereka.
"Apa yang terjadi pada Fikram sebenarnya? Bisa kau jelaskan?"
Bersambung ....
__ADS_1