Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Mendapatkan Kristal


__ADS_3

EPISODE SEBELUNYA


"Dapat!"


SREK!


Fikram langsung mundur beberapa langkah sembari memegangi bagian lehernya. Ia melihat di telapak tangannya terdapat cairan merah segar, yang menandakan lehernya terluka.


"Beraninya kau! Akh! Sangat perih!" pekiknya. "Bagaimana bisa senjata lemahnya membuatku seperti ini?" batin Fikram yang tiba-tiba tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri layaknya seperti tadi.


Nadia pun kebingungan, ia mengalihkan pandangannya melihat belati yang ia ambil dari sarung belati di kaki bagian bawah.


Di belati itu terdapat noda cairan merah yang perlahan turun dan menghilang. Kini di tepi belati menyalalah sebuah garis lurus yang mengitarinya. Garis itu berwarna emas terang dan gemerlap. Setelah garis itu mengikuti lekuk mata pisau, garis itu menghilang dan seluruh permukaan pisau itu menjadi emas yang berkilau. Nadia takjub sekaligus heran.


"Inikah satu senjata khusus yang Ibu Albert maksud?" pikir Nadia bertanya-tanya.


"Ooh, jadi ini senjata yang ia maksudkan," batin Marine memerhatikan.


"Hemmh, setidaknya kau ada peningkatan," Fikram kembali melesat dengan maksud mengibaskan pedangnya tepat di wajah Nadia.


Nadia kaget, ini kesalahannya karena terlalu fokus pada belati miliknya. Ia tidak bisa berpikir, ia terlalu panik. Matanya membulat sempurna saat pedang Fikram mulai mendekatinya dengan cepat.


TRINK! SREK!


BRUK!


Nadia jatuh ke tanah, wajahnya ia tutupi oleh tangannya sendiri. Ia memegang wajahnya ada rasa perih yang ia rasakan. Dengan gemetar ia melihat telapak tangannya.


"Hah!" Ia terperanjat melihat cairan merah di telapak tangannya. Dengan gemetar ia meraba wajahnya.


"Apa kegigihanmu sudah hancur sekarang?" tanya Fikram mendekati Nadia.


Nadia bergeming tidak berani menunjukan wajahnya menatap Fikram.


"Bagus, TEMUILAH KEMATIANMU!" Fikram mengangkat tinggi pedangnya, bersiap mencabut nyawa gadis di depannya.


Rio masih memerhatikan, ia sebenarnya enggan melihat kejadian ini. Namun, saat ia melirik, ia mendapati Fikram sedang mencoba sesuatu yang sangat membahayakan nyawa si gadis. Melihat hal itu ia pun langsung berlari melepas cekalannya dari mengangkat Manda.


Ia melakukan hal ini bukan untuk membantu gadis yang ia anggap penipu tapi semata-mata hanya demi Fikram. Ia tidak ingin sahabatnya jadi seorang pembunuh.


"Eh, mau kemana? Tunggu woy!" Gamma ikut melepas Manda.


Alhasil, GUBRAK!


Ya tentu saja, tubuh Manda langsung menyentuh lantai dengan keras.


"Mmmm! Mmm Mmmmm!" (Hadoh!Dasar temen ga ada akhlak! Main jatuhin aja! Ngga bisa pelan-pelan apa!" ujar Manda menggeliat kesakitan.


HIAA! TRINK!


Serangan Fikram kembali di tahan. Bukan oleh Nadia tentunya. Siapa dia? Jeng jeng jeng!.


"Cukup, Fikram! Kau melewati batas!" kata Rio menahan pedang Fikram dengan tongkatnya.


"Kalian!" geram Fikram.


"Kau tidak papa, Di?" tanya Gamma membantu Nadia berdiri.


Gamma memegang dagu Nadia untuk melihat wajahnya.


"Hah!" Gamma tercengang.


Benar, satu goresan panjang terdapat di wajah Nadia, melintang seperti membelah kepala Nadia dengan garis diagonal.


"K... k... kau tidak apa-apa? Wajahmu...." Gamma terlihat cemas.


"Ya, aku baik-baik saja," Nadia memalingkan wajahnya.


"Kita harus pergi dari sini, aku tidak tahan melihatmu seperti ini kita harus mengobati lukamu," kata Gamma mendorong Nadia untuk keluar.


"Heeh, gerombolan manusia ini! Selalu saja menggangguku!" kata Fikram.


SYUT!


Ia mengayunkan pedangnya untuk menyerang Rio.


SET!


Rio menahan pedang Fikram lalu mendorongnya ke belakang.


"Fikram!" pekik Rio.


"Dasar!" Fikram menyabetkan perangnya berkali-kali ke arah kepala Rio, ia hanya menghindar.


BET! BET!


"Woy, selow napa? Cape tau!" kata Rio kewalahan menghindar.


BET! BET!


Fikram tidak menghiraukan Rio. Ia tetap fokus menyabetkan pedangnya nya ke arah Rio Sontak melihat hal itu langkah Nadia terhenti.


"Eh, eh!" Nadia menghentikan langkahnya. "Aku harus bantu Rio," Nadia ingin membantu Rio namun ditahan Gamma.


"Aih, no-no-no," cegatnya.


"Tapi Rio dia bisa mati aku harus mem-"


"Ssst, kau masih terluka. Tunggu disini aku akan membantunya," potong Gamma tersenyum meyakinkan, iapun langsung menghampiri dua insan yang sedang bergelut sesuai ucapannya tadi.


"Eh," Nadia ingin mencegat Gamma namun ia sudah pergi menghampiri mereka.


Alhasil Nadia memerhatikan, ada satu hal yang ia baru sadari selama memerhatikan.


"Tunggu, kenapa Rio menggunakan tangan kiri? Ada apa dengan tangan kanannya? Apakah terluka? Apakah parah?!" Nadia bertanya-tanya melihat Rio lebih aktif menggunakan tangan kirinya di pertarungan tersebut.


BET! BET!


Masih dalam keadaan yang sama. Melihat pergerakan yang tidak membuahkan hasil, Fikram memutar otak. CLING! seperti ada bohlam yang menyala di atas kepalanya ia mendapatkan ide. Ia mengubah kecepatan sabetannya menjadi lebih intens.


BET! BET!


Fikram menyabetkan ke arah kepala, Rio menunduk dengan cepat. Ia menyabetkan pedangnya ke bagian tubuh Rio yang lain. Rio membalas dengan menangkis, ia tampak kewalahan, keringat mengalir deras di wajahnya.


SYUT!


"Aduh!" Satu biji karet menghantam keras pelipis Fikram. "Woy! Siapa yang main lempar aja!" geram Fikram.


"Aye, kenape mau lawan?" tantang Gamma.


"Ooo, elu beraninye Ye! Nantangin lagi!" kata Fikram. "Main ritual pake kuali."


"Cakep!" sahut Gamma.


"Elu jual gue beli!"


"Halah!" balas Gamma. "Minjem baju ke rumah Mpok Ani,"


"Cakef!"


"Sini maju kalo berani!" tantang Gamma.

__ADS_1


"Wah dasar, Buah kedondong beli di supermarket,"


"Cakep,"


"Woy-woy! Ini mau ngapain sih malah bales pantun begitu, lu kata *Upacara Palang Pintu apa," sela Rio.


*Upacara Palang Pintu: bagian dari upacara pernikahan suku Betawi yang menggabungkan seni bela diri dan seni sastra pantun.


"Ya, ampun" gumam Nadia menepuk dahinya.


HIAA!


Fikram kembali mengibaskan pedangnya ke arah Gamma dan Rio. Pedangnya kembali bisa ditahan tongkat Rio sementara Gamma membidik


SYUT! SET!


Lemparan biji karet dari ketapel Gamma berhasil ia layangkan dengan sasaran Fikram. Namun naas, Fikram berhasil menghindarnya dengan mudah.


"Cih! Anda terlalu membantu," kata Rio datar.


"Setidaknya ngalihin perhatiannya, Krucil bin Bocil" balas Gamma tidak terima.


"Ngalihin perhatian palelu," gumam lirih Rio.


SYUT! SREK!


Pedang Fikram menggores tangan kiri Rio. Rio meringis kesakitan.


"Ooh, kau terluka," Fikram pura-pura terkejut. "sekalian saja ... MATILAH KAU!" Fikram mengangkat pedangnya.


Rio tersingkap, dia bersikap siaga menerima serangan itu walau tangannya terluka.


"Maafkan aku Fikram," batin Nadia.


SRET! HIAA!


Dengan cepat Nadia Menyusur tanah dan melesat ke arah Fikram.


JLEB!


Belati kecilnya ia tancapkan menusuk kaki Fikram tepat di atas mata kakinya. Percikan darah pun terdapat di beberapa titik wajahnya. Fikram meringis kesakitan, ia memegangi kakinya.


"Ugh, kau lagi!" geram Fikram.


Nadia hanya bergeming. Melihat kesempatan, Rio memberi isyarat pada Gamma untuk menyerang bersamaan. Gamma mengangguk.


"Dasar!" Fikram ingin mengangkat pedangnya dan menyerang Nadia.


HUP!


Namun Rio dengan cepat menghentikannya dengan cara memegang kedua tangan Fikram ke belakang, mengambil dan membuang pedangnya. Sementara, tangannya yang satu mengunci pergerakan dengan melekatkan tongkatnya di depan leher Fikram.


"Lepas!" berontak Fikram. Kakinya mulai menunjukan hal yang mencurigakan


Melihat hal itu Nadia segera membantu. Ia menghampirinya dan memegangi kaki Fikram agar tidak bisa melakukan sesuatu yang membuatnya lepas. Rio pun menjatuhkan Fikram untuk meniarapkannya.


"Lepas!" Fikram terus memberontak.


"Gamma!" panggil Nadia.


Gamma pun datang. Ia membawakan tali yang diminta Rio sebelumnya.


"Ini," ujarnya menyodorkan.


"Darimana kau mendapatkannya?" tanya Rio.


"Tadi ada ibu-ibu lagi tarik tambang gue pinjem deh ini tali," jawab Gamma.


Krik ... Krik ....


"Kenapa kalian susah-susah mencarinya, bukankah Fikram punya, senjatanya 'kan tali," ujar Nadia.


"Benar juga," kata Gamma.


"Coba periksa," titah Rio pada Gamma.


Gamma pun meraba set pakaian khas Eropa Fikram, mulai dari baju hingga celana yang ia pakai. Namun, nihil, tidak ada apa-apa disana.


"Tidak ada apapun," kata Gamma.


"Hah! Mustahil seharusnya ada atau... ooh! Kau mengganti bajumu dan tali itu masih di bajumu, Fikram apa yang kau ... egh!" kesal Nadia.


"Sudahlah itu tidak penting. Nanti kita cari, Beo cepat ikat dia" titah Rio.


"Hmm...." Gamma menurut.


"Lepas!"


Selama prosesi pengikatan, Fikram terus memberontak. Hal itu membuat Gamma agak kesulitan.


"Diamlah!" kata Gamma mencoba mengikat kuat kaki dan tangannya.


~Kemudian~


Kaki dan tangan Fikram selesai Gamma ikat. Rio dan Nadia melepas cekalannya.


"Lepaskan!" berontak Fikram.


"Apa ada tali lagi? Tolong bungkam mulutnya itu atau celaka kita jika ada yang mendengarnya," kata Rio.


"Sudah tidak ada lagi," kata Gamma mencari-cari sisa tali.


Netra Nadia tanpa sengaja melihat ikat kepala Gamma, "Pakai saja ikat kepala mu," katanya memberi usul.


"Hemm, iya itu" timpal Rio.


"Ini? Oh, no-no! Big NO!" tolak keras Gamma seraya menyilangkan kedua tangannya.


"Ya ampun, sudahlah daripada kita celaka, kau mau tanggung jawab?" kata Rio.


"Huuh! Ya iya baiklah," dengan berat hati Gamma menurut, Iapun melepas ikat kepala yang melingkar di dahinya itu.


"Lepas!" Fikram memberontak. "Lepaskan ak- mmmm!"


"Plis deh, berisik bet lu!" Gamma mengikatkan ikat kepalanya pada mulut Fikram.


"Mmmm!"


"Kekuatan kristal itu melemah. Tidak! Tidak akan aku biarkan!" tekad Marine.


"Finn!" Marine berhambur berlari ke arah Fikram.


Sontak, semua menoleh.


"Mmm!" ujar Fikram.


"Haah, dia lagi dia lagi. Dia akan menghancurkan segalanya," kata Gamma. "Biar aku bungkam mulut-"


"Tidak, biar aku saja," cegah Nadia.


"Finn," Marine ingin ke arah Fikram dan melepaskannya.

__ADS_1


Melihat hal itu Nadia mencegah, "Kali ini kau tidak boleh mendekatinya," ucapnya dengan tangan menghalangi Marine.


Marine melirik, "Dasar b*doh!" batinnya.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian melukai putraku!" ucapnya tegas dan ingin menerobos.


"Tidak!" Nadia tetap melarang ia menariknya tangan Marine untuk menjauh.


"Finn!" Marine memberontak.


Melihat hal itu Fikram tidak terima.


"Tenanglah, Nona. Aku tidak akan melukaimu meski aku tidak terima apa yang telah kau lakukan pada sahabatku!" kata Nadia terus menarik Marine.


"Baiklah kita harus bawa dia dan Manda keluar dari sini," kata Rio.


"Lalu mereka?" Gamma menunjuk pada Dina dan Ibu Albert.


"Kita coba melepaskan mereka."


Gamma mengangguk, mereka pun melangkah mendekati Ibu Albert dan Dina, namun terhenti karena Ibu Albert.


"Tidak! Kalian pergi saja. Ini tali yang sama untuk mengikat Manda, hanya Fikram yang bisa melepasnya tapi sebelum itu Fikram masih belum stabil, sebaiknya bawa dia keluar dari sini!" perintah Ibu Albert.


"Tapi, Bu...." Gamma ragu.


"Cepat!"


"B... b... Baiklah," Rio dan Gamma berbalik.


Namun tiba-tiba ....


"Eeh!"


Rio dan Gamma menggeliat karena tiba-tiba ada tali air yang mengikat mereka.


"Hah! Rio, Gamma!" kaget Nadia.


"A ... Finn! Tolong!" teriak Marine.


Telihat Fikram dengan penuh kebencian di belakang Rio dan Gamma sedang mengendalikan tali tersebut. Ia membalikkan tubuh Rio dan Gamma untuk menghadapnya.


"Dia bisa lepas? Astaga," kata Gamma kaget.


"Puih!" Fikram membuang ikat kepala Gamma yang berada di mulutnya. "Ngasih kain ngga kira-kira kalian! Mana asem banget lagi itu kain."


"Enak dong, wkwkwk" timpal Gamma.


"Dasar," Rio memutar bola matanya malas.


"Egh! Jorok," batin Manda dari kejauhan.


"Fikram... aku harus bawa perempuan ini keluar!" tekad Nadia.


Ia kembali menarik Marine menjauh.


"Finn!" pekik Marine.


Fikram geram melihat hal itu, "KETERLALUAN!"


Dug!


Air menjalar cepat ke arah Nadia. Air itu lalu naik dan memerangkap Nadia.


"Fikram!" pekik Nadia memberontak.


Fikram mengangkat satu tangannya, mengayunkannya. Sontak Nadia, Rio dan Gamma, Dina, serta Ibu Albert ikut terangkat.


"Eh?" bingung Manda.


Air yang semula mengikat Manda kini lepas dan terbang ke arah Fikram. Nadia, Dina, Ibu Albert, Gamma, dan Rio melayang-layang di udara.


"Cukup! Sudah cukup aku bermain-main dengan kalian!"


Mereka, Fikram lemparkan hingga kini melayang di atas perairan yang luas.


"Apa yang kau lakukan?"


"Hanya air?" ucap Dina dengan nada remeh.


"Itu bukan hanya air, lihatlah lebih teliti," kata Fikram.


KRAUK!


Terlihat sebuah sirip segitiga dan bola mata yang besar samar-samar terlihat dari balik air dengan warna biru kehijauan.


"Tunggu itu ..." Nadia melihat lebih.


Mata mereka membulat ketika menyadari.


"HIU!" kompak mereka.


KRAUK!


"Haha, ya. Mata kalian jeli juga," kata Fikram.


"Fikram, Fikram lepaskan kami!" pinta Dina.


"Tidak akan." Fikram membuat plester di mulut mereka untuk membungkam.


"Mmmm!" Mereka menggeliat tanda memberontak untuk bisa lepas dari tali itu, namun hal itu sia-sia saja.


"Selamat bersenang-senang." Fikram melepas dan mereka jatuh ke bawah.


"MMMMM!"


Tap ... tap ....


"BUAHAHA!" Fikram tertawa puas.


Tiba-tiba dari arah belakang ada tangan yang menutupi pandangannya.


"Eh, siapa ini? Ibu?" Fikram kebingungan.


"Sssst, keluarlah dan jatuh kegegangamanku," ucapnya. "Keluarlah."


"Apa yang- Agh!" Mendadak Fikram merasakan sakit di area kepalanya tepatnya di tengah-tengah keningnya.


"AGH!"


"Keluarlah kristal berhargaku," ucapnya lagi.


"AGH!" teriakan Fikram semakin menjadi-jadi karena rasa sakit di keningnya memuncak.


Kemudian, cahaya terang menyelimuti.


BRUK!


Mendadak, tubuh Fikram terkulai lemas dan akhirnya jatuh ke lantai, tinggalah kini seorang wanita cantik memegang kristal biru ditangannya yang lentik.


"AHAHA! Akhirnya aku mendapatkannya!" ujarnya tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


"AKU MENDAPATKANNYA!" teriakan lantangnya menggelegar di seluruh penjuru istana tersebut.


Bersambung ....


__ADS_2