Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Debat Teroos


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


Sebuah peluru bius mendarat di punggung Dina. Ya, tentu saja Dina pingsan.


"Dina..Dina" Gamma panik.


...⏳⏳⏳⏳⏳...


Dia adalah Profesor..." kata pria itu tergantung.


\~HENING\~


"Kenapa kau berhenti" kata Manda memecah keheningan.


"Iya, lagi fokus-fokusnya malah berhenti di tengah-tengah" kesal Fikram karena cerita pria di depannya berhenti.


Pria yang sedang bersandar di meja lab tertawa kecil.


"Kalian ini, sudah terlalu banyak kuberitahu" kata pria itu.


"Oh, ayolah..kumohon, kumohon" rengek Manda.


"Ah, tidak tidak tidak" tolak pria itu.


"Ooo..ayolah" rengek Manda lagi.


"Tidak!" tolak pria itu lagi.


"Haaah...kumoh-"


"Berarti kau adalah doktor yang menunjukan tempat ini pada Putri Nadi?" kata Nadia.


"Iyap" pria itu mengiyakan.


"Pantas saja aku familiar" kata Nadia lirih.


"Tapi untuk apa Putri Nadi kesini?" tanya Fikram.


"Mungkin penelitian." Manda berasumsi.


Lagi-lagi pria berjas lab itu tertawa kecil.


"Hmm..Dr.Rutapala datang kemari untuk membantu menyelesaikan sebuah penelitian waktu itu" kata pria itu.


"Lalu di bawah bimbingan Dr.Wikan atau aku, menjelaskan ruangan ini dan membawanya menemui Prof.Giana untuk menyerahkan bahan yang diminta profesor" jelas Dr.Wikan.


"Lalu apa hubungannya dengan monster tadi?" tanya Manda.


"Monster tadi?" Dr.Wikan bertanya balik.


"Maksudnya monster cacing mengerikan bertubuh silver dan para zombie perak yang menyerang Dunia Kebalikan tadi." kata Fikram.


"Iya, kenapa hanya bangunan ini yang tidak terpengaruh oleh hisapan makhluk tadi?" kata Rio.


"Bangunan ini memang dirancang khusus oleh Prof.Giana untuk kebal terhadap serangan apapun, agar saat melakukan penelitian Prof.Giana tidak terganggu..." jelas Dr.Wikan.


"Dan untuk monster cacing itu..kami biasa menyebutnya Monster Silver Death Worm" kata Dr.Wikan.


"Monster Silver Death Worm?" (Manda)


"Iya, Monster Silver Death Worm adalah monster penghisap yang mengerikan..dia akan menyerang setiap kali ada orang baru di Dunia Kebalikan..lalu ia akan menghisapnya hidup-hidup" jelasnya.


"Belum ada yang tau dimana ia hidup dan bagaimana cara mengatasinya" kata Dr.Wikan.


"Hmmm..andai saja waktu itu tidak ada kesalahan lab maka mungkin monster itu tidak akan pernah ada" sesal Dr.Wikan.


"Kesalahan lab? apa maksudnya" tanya Rio penasaran.


"Hemm..waktu itu.." Dr.Wikan menghela nafas panjang.


\~DI SISI LAIN\~


Di ruangan berdinding baja bak ruangan masa depan.


Tilulit...tilulit..


Suara komputer digital terdengar dimana-mana. Terlihat sebuah komputer besar dan dua prajurit berpakaian bergaya orang kuno membawa tombak, tengah berbincang dan berdiri di depan komputer besar. Tiba-tiba Dina tersadar dari pinsannya.


"Emmhhh..aduh" Dina memegang kepalanya.


"Dina!!!" teriak Gamma dari balik penjara hologramnya.


"Aduh!!! siapa sih teriak-teriak?" kata Dina menutup telinganya dengan tangan.


"Gua kenapa?" kata Gamma.


"Ah, elu lagi elu lagi...eh, kok gue di kurung kek gini..wey!!! lepasin gua" teriak Dina sambil memukul-mukul dinding hologram penjaranya.


"Percuma lu kek gitu..mereka ngga akan denger" kata Gamma.


"Sok tau lu" kata Dina.


"Ye, di bilangin juga" Gamma membalas.


"Woyy!!!" Dina semakin memukul keras perangkapnya.


Para penjaga yang hanya memakai rok rumbai dan bandana di kepalanya itu tetap tidak bergeming.


"Haah, makhluk ini" kata Dina lirih.


DRAP..DRAP..CLINGG


Dua ujung tombak yang runcing tiba-tiba menghadap ke arah Dina.

__ADS_1


"Hah!" Dina mengangkat tangannya.


Tiada ada angin tiada hujan, penjara hologram yang di tempati Dina terangkat dan kini melayang. Dua prajurit tadi berdiri tegap, berbalik, kemudian berjalan dengan langkah berbaris.


DRAPP..DRAPP..


"Wey!! saya mau dibawa kemana ini" teriak Dina yang mulai melayang maju bersama penjaranya mengikuti langkah berbaris prajurit itu.


"Haah anak itu" kata Gamma lirih.


CLING..CLINGG..


"Eh? apa salah saya" Gamma mengambangkan kedua tangannya.


"oh, iya Dunia Kebalikan" pikirnya.


DRAP..DRAP..DRAP..


\~Di Sebuah Laboraturium\~


BRUKK!!


Penjara Dina di banting begitu saja.


"Aduh!!" Dina merasa terguncang.


Penjaga itu berhenti dan berdiri tegap di depan Dina.


BRUKK..


"Lu juga kesini" kata Dina.


"Hemm" jawab Gamma memalingkan wajahnya.


"Sombong amat" kesal Dina.


"Dih, suka-suka gua lah" kata Gamma.


"Elu ya..kalau bukan karena lu kita ngga kesini!" kata Dina.


"Kenapa jadi gua?"


"Iya lah, kenapa coba lu nglepasin pegangan waktu itu..kan kita jadi kesini"


"Heh! Gue ngga nglepasin, tapi itu patah sendiri..bukannya makasih malah nyalahin orang" kesal Gamma.


"Kenapa gue harus makasih?"


"Eh! kalau bukan karena gue lu udah kesini sendirian..huh! harusnya gue ngga nolongin lu waktu itu..mending gue nylematin diri gua sendiri waktu" kesal Gamma panjang lebar dengan menyilangkan tangannya.


"Iii..elu"kata Dina ingin memukul Gamma.


"Apa-apa mau mukul!" ejeknya lagi.


"DIAMM!!"


"Berani-beraninya kalian mesra-mesraan di depan ku" kata seseorang.


"Mesra mesraan? sama dia? ih ogah" kata Gamma dan Dina bersamaan.


"KALIAN!!"


"Sebenarnya kau itu siapa?" kata Dina pada seseorang tersebut.


"Ahahaha...bagus kau bertanya..akulah yang terpintar..aku yang terkuat..aku yang tak terkalahkan" kata seseorang berkepala besar 5 kali lipat oh, tidak 10 kali lipat dari ukuran kepala manusia biasa.


"Aku Profoser Dexter!!" katanya bangga.


"Oh" kata Gamma dan Dina.


"Kenapa reaksi kalian hanya seperti itu?" kesal Prof.Dexter.


"Ya, terus kami harus bilang wow gitu" jawab Dina lagi.


"Haah kalian..membuatku sangat sabar" kata Prof.Dexter.


"Oh, ya bagus lah" kata Dina.


"Itukan artinya lain" kata Gamma.


"Keluarkan mereka" suruh Prof.Dexter pada para penjaga.


Para penjaga memberi hormat.


Klik..klik..pip..


Dinding penjara hologram milik Dina dan Gamma terbuka, mereka pun ditarik paksa keluar dari penjaranya itu.


"Wah, ternyata kalian pakaian kuno pintar juga ya" kata Dina.


Para penjaga tak menghiraukan.Lalu para penjaga kuno itu membawa mereka ke sebuah kursi dengan sebuah alat penyedot diatasnya.


ZINGG...


Sebuah tali laser yang kuat dan kencang mengikat seluruh tubuh Dina dan Gamma di kursi itu.


"Eh? gue mau di apain nih..kok diiket segala, pake laser lagi" kata Dina.


"AHAHAHA..aku senang kau bertanya..biar kutunjukan..W20, bawa dia kemari" titah Prof.Dexter pada penjaga.


Lagi-lagi penjaga itu memberi hormat dan pergi melaksanakan perintah tuannya itu.


DRAPP..DRAPP..

__ADS_1


"Mmmm" seorang pria paruh baya berusaha memberontak di sebuah kursi dalam kondisi yang sama seperti Dina dan Gamma hanya saja mulut pria itu di bungkam dengan sehelai kain yang diikatkan di mulutnya.


"AHAHAHAHA..bawa dia kemari!!" titah profesor itu lagi.


DRAP..DRAP..


Penjaga itu membawanya dan memakaikannya alat penyedot kaca itu ke kepala pria tersebut. Profesor Dexter lalu duduk di kursi yang lain dengan memakai alat yang sama di kepalanya yang besar.


"Mulailah" katanya Prof.Dexter tersenyum jahat.


KLIKK..KLIK..


penjaga itu menyentuh layar hologram dan mengetik sesuatu.


"AHAHAHA" tawa profesor itu dengan senangnya.


ZLUPPP..ZLUPP..


Saluran alat penyedot itu menggelembung seakan menyalurkan sesuatu antara Prof.Dexter dan pria itu dari kepala mereka.


"AHAHAHAH" tawa jahatnya kembali.


Kemudian profesor itu melepas alat dari kepalanya dan berdiri.


"AAHAHAH AKU SEMAKIN PINTAR..AHAHAHA" kata Prof.Dexter.


Sedangkan pria tadi pingsan lemas tak berdaya.


"Apa yang kau lakukan padanya?" kata Gamma bertanya pada Prof.Dexter.


"Oh, tidak ada..aku hanya..MENGAMBIL SEMUA INGATAN DAN PENGETAHUAN YANG DIA MILIKI..AHAHAHAHAH" tawa jahatnya menggelegar dimana-mana.


Dina dan Gamma saling menatap bingung.


"Dan sekarang giliran kalian..AHAHAHA"


"W21, bawa dia kemari" kata Prof.Dexter menunjuk ke arah Gamma.


Penjaga itu memberi hormat.


"Eh? lepasin woy!!" kata Gamma panik kursinya di tarik oleh penjaga menuju alat penyedot tadi.


"AHAHAHA" (tawa jahat)


"Ayo terus Prof..tarik sis!" semangat Dina melihat Gamma di tarik seperti tadi.


"Semongko!" sahut Prof.Dexter.


"Heh! bukannya bantuin, malah nyemangatin..gimana sih!" gerutu Gamma pada Dina.


Penjaga mulai memasangkan alat itu ke kepala Gamma.


"Males gua bantuin orang kek lu!" kata Dina memalingkan wajahnya.


"Ga tau terimakasih!..gua kan udah nylematin lu waktu itu!" teriak Gamma.


"Iya, tapi akhirnya kesini-sini juga" kata Dina masih memalingkan wajahnya.


"Dasar orang ngga tau terimakasih!" kata Gamma.


"Terserah" Dina masih memalingkan wajahnya.


"Cepat mulai..AHAHAHA!!"


"Din..bantuin gua Din, please" pinta Gamma dengan wajah memohon.


"Ngga!" singkat Dina.


"Din"


"Ngga"


"Dinaaaaaa!!"


"Ngga"


"Dina..Dina..Dina..Dina...Dina"


"Ngga..ngga...ngga..ngga..ngga"


"Sssstttt...DIAM!..W19, CEPET MULAI!!!" Prof.Dexter sudah kehabisan kesabaran.


Klik..klik...


Penjaga itu mulai mengerjakan tugasnya. Sementara Gamma semakin panik.


"Ayolah, Din" Gamma kembali memohon.


"Lu kenapa sih! tinggal terima aja juga" kata Dina.


"Ngga! mana ada orang yang mau kenangan dan ingatannya diambil..hah! ngga ada kan?..jadi tolong gua sekarang, please," kata Gamma kembali memohon.


"Masalahnya kalaupun gua mau..gua ngga bisa..kan kita sama sama diiket di kursi" jelas Dina.


"Haah percuma gue minta tolong sama lu" kata Gamma.


"😜" (tidak merasa bersalah)


"Siap tuan, sudah menyala" kata penjaga itu memberi hormat.


"BAGUS!!!..AHAHAHA" kata Profesor.


"Lepasin!!" Gamma menggeliat memberontak.

__ADS_1


"AHAHAHA" tertawa jahat.


Bersambung...


__ADS_2