Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Kristal di Diri Fikram


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


BUGH!


"Apa yang kau lakukan pada Nadiku!"


Satu tinju berhasil Gamma layangkan tepat di pipi Rio. Tubuh Riopun terhuyung dan jatuh ke arah lain, alhcekalannya pada Nadia terlepas secara otomatis. Nadia terperanjat melihat Rio dipukul.


Rio bangkit. "Dia bukan Putri Nadi, Burung Beo!" pekiknya pada Gamma.


Gamma berdiri di depan Nadia


"Apa kau sedang mengingau? Jelas-jelas dia Nadi, buka matamu!"


"Kau yang buka mata! Dia bukan Nadia, apa kau tidak bisa melihat perubahan sikapnya!" geram Rio.


Namun kemudian Rio tersenyum miring. "Haha, ooh ... kau itu terlalu senang ya? Ya, ya sekarang aku mengerti. Kau terlalu senang karena dia, penipu ini terus mendekatimu? Iya kan!"


Gamma tertohok, "Jaga bicaramu!"


"Haha! Aku sudah menduganya, aku tahu kau ini memang suka di dekati Nadia iya 'kan?" Rio tertawa sinis. "Heh! Buka matamu! Dia bukan Nadia! Dia penipu!" imbuhnya menunjuk-nunjuk ke arah Nadia.


BUGH!


"Sadarlah, Krucil!"


Satu tinju kembali mengenai wajah tampan Rio. Rio kembalu terhuyung ke belakang, ia memegangi bagian wajahnya yang sedikit lebam.


Nadia hanya bisa menonton, mencerna peristiwa yang telah terjadi dihadapannya. Setelah merasa Rio akan diam, Gamma membalik tubuhnya ke arah Nadia dan menariknya untuk pergi dari situ.


Rio kembali bangkit, ia mengusap kasar darah yang mengalir dari sudut mulutnya akibat tinjuan Gamma.


"Hey, Burung Beo! Kali ini aku tidak melawanmu karena aku tahu kau tidak bersalah dalam hal ini, tapi tolong percayalah dia bukan Nadia!" Rio tetap kekeh dengan keyakinannya.


Gamma tidak merespon ucapan Rio. Ia hanya fokus membantu Nadia keluar dari situ.


"Penipu Cerdik, kali ini kau selamat. Tapi nanti, kau harus mengungkap kebenarannya di depan semua," tekad Rio.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~


"Kenapa dengan Rio ya?" lirih Nadia yang masih didengar oleh Gamma.


"Entahlah, dia tadi sangat aneh," sahutnya.


"Hah! Kau!" Nadia kaget Gamma bisa mendengar gumamnya.


"Aku masih bisa mendengarnya, telingaku itu 'kan telinga kucing," ucap Gamma membanggakan diri.


"Halah," Nadia memutar bola matanya malas.


Drap! Drap!


SRING!


Tiba-tiba ada seseorang melesat mendekati mereka.


"Eeh!" beruntunglah, Nadia sempat menyingkir untuk memberi sosok misterius itu jalan.


Memakai jubah serba hitam, tudung yang menutupi bentuk wajahnya. sosok misterius itu berlari sangat cepat seperti sedang terburu-buru.


"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Gamma cemas.


"Ya, aku baik-baik saja," jawab Nadia. "Tapi siapa dia?" bingungnya menatap sosok tadi yang menjauh.


\~\~\~\~\~\~\~


"Aku tidak bisa terus-terusan di sini!" tekad Manda memukul besi penjara.

__ADS_1


"Aku harus keluar! Tapi bagaimana?" bingungnya.


Mendadak ia teringat akan peluit kayu yang diberikan Ibu Albert.


"Hah! Ya, kenapa aku tidak terpikir," Manda merogoh saku depan celana pendeknya.


Dipandanglah peluit itu.


"Haha, ada untungnya juga punya kau, peluit" senang Manda.


\~Di sisi lain\~


"Kau sudah dapat?" tanya seseorang membelakangi.


Di belakangnya, sosok berjubah dan bertudung serba hitam menjawab. "Ya," jawabnya singkat.


Wanita itu berbalik, "Mana?"


Sosok itu merogoh jubahnya. Kemudian ia mengeluarkan tangannya, tampak sebotol kecil dengan bubuk emas gemerlap didalamnya.


"Bagus."


Marine tersenyum dan ingin meraih botol itu, Namun tiba-tiba ....


PRITT!


Suara peluit yang amat memekik, membuat sosok dan wanita tersebut menutupi kedua telinga mereka dengan tangannya. Alhasil, botol kecil ditangan sosok itu jatuh ke lantai dan pecah berserakan.


PRANK!


"Agh, suara apa ini!" sosok itu menutup telinganya.


Manda berhenti meniup peluitnya.


"Wah, wah! Sudah menjalankan rencana licikmu ya?" seseorang muncul dari bayangan ruangan kegelapan.


"Kau!" wanita yang tidak lain tidak bukan adalah Marine itu terkejut.


"Sebenarnya siapa ini?" Manda langsung saja membuka tudung si sosok misterius tersebut.


JENG!


"Fikram!" Manda terkejut.


"Manda!" ucap Fikram lirih.


"Fikram kau! Ini bubuk milik Ibu Albert 'kan? Iya?" tanya Manda menunjuk ke arah debu emas yang berserakan. "Apa kau mencurinya?" Ia mendekatkan wajah ke Fikram.


Fikram hanya membisu, sebenarnya ada rasa tidak enak dan ganjal pada hatinya saat ini.


"Jawab, Fikram! Jawab!" desak Manda.


Lagi-lagi Fikram tidak merespon, dan malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ohh, ini pasti gara-gara Perempuan Licik ini, iya 'kan?" Manda menunjuk ke arah Marine.


Tidak mau mendengar hal buruk tentang ibunya lagi, Fikram angkat suara.


"Cukup! Sudah cukup aku mendengarkan ocehanmu kemarin! Entah bagaimana kau bisa keluar, aku tidak perduli!" tegas Fikram berdiri di depan ibunya.


"Sekarang aku ada urusan penting dengan ibuku, jadi kau ku peringatkan untuk terakhir kalinya. JANGAN PERNAH IKUT CAMPUR URUSANKU LAGI!" ucap Fikram penuh penekanan.


Setelah selesai Fikram membalik badan, lalu mengajak ibunya melanjutkan urusan mereka.


"Fikram sadarlah! Kau sudah terkena tipu daya Perempuan licik itu!" ucap Manda keras.


Fikram tidak menghiraukan ucapan Manda.

__ADS_1


"Tidak, Fikram! Aku tidak akan biarkan perempuan itu berhasil!" batin Manda.


PRITT!


Manda kembali meniup peluitnya, namun kali ini ia tunjukkan hanya pada Marine.


PRITTT!


Marine mengerang kesakitan seraya munutupi kedua telinganya, "Hentikan!" pekiknya.


"Katakan yang sebenarnya, hahp" di sela-sela meniup peluit, ia berbicara dan mengambil napas.


"Hentikan!"


"Ibu, Ibu kenapa?" cemas Fikram melihat ibunya kesakitan. "Manda hentikan!"


"Tidak! Dia harus mengakuinya sebelum aku melakukan hal yang lebih!" Manda tetap kekeh.


PRITT!


Manda tidak kunjung berhenti dan malah meniup peluit itu lebih kencang lagi. Alhasil, Marine semakin mengerang kesakitan. Melihat hal itu Fikram tidak tahan lagi.


"MANDA HENTIKAN!"


"Tidak!"


Kali ini kesabaran Fikram sudah diambang batas kesabaran.


"Aku bilang hentikan!" Fikram mendongak, terlihat dengan jelas netra matanya membiru kehijauan.


Tangannya kini mengeluarkan air dan lagi-lagi membentuk sebuah tali. Tali itu ia ayunkan ke arah Manda dan mengikatnya. Manda yang sedang meniup peluit merasakan sesak. Fikram menarik Manda hingga terbanting di dinding.


BRUK!


Tap ... tap ....


Langkah kaki memakai sepatu sneakers hitam putih mendekati Manda yang terikat tidak berdaya di lantai. Dengan sisa dayanya, Manda mencoba meraih peluit yang tidak jauh darinya. Namun, hal itu sia-sia saja.


Bagaimana tidak? Fikram sudah berada tepat di depan Manda dan peluitnya. Tali air dari tangannya ia ayunkan, sehingga Manda menempel keras di dinding.


BRUK!


Erangan keras keluar dari bibir Manda.


"Kau mau mengambil ini?" Fikram mendekati peluit itu. "Ini ambillah!"


KRAK!


Fikram menginjak peluit kayu itu, tentu saja peluit itu retak dan hancur berkeping-keping.


"Hah!" Manda terperanjat melihat apa yang Fikram lakukan. "Fikram! Apa yang kau lakukan! Ini bukan dirimu!" ucap Manda.


"Berhenti kau bicara! AKU MUAK MENDENGARKANMU!" Fikram mengayunkan tali airnya lagi, tali itu dia peruntukan untuk membungkam mulut Manda seperti sebuah plester.


"Mmmmm!" Manda memberontak mencoba berbicara.


"Hemm, aku jadi ingin tau. Bagaimana kau keluar dari penjara? Ah, apakah kau tersesat? Tidak sengaja dikeluarkan?" tanya Fikram. "Kau pasti sangat rindu berada di sana, kan? Kalau begitu ...."


Ia menyeringai, "Mari, aku antar" Fikram mendekatkan wajahnya ke wajah Manda, mengikis jarak di sana.


Di mata Manda saat ini, wajah Fikram terlihat sangat menyeramkan. Riasan putih yang meliuk-liuk di tepi wajahnya, sebuah seringaian, ditambah dengan mata biru kejihauannya. Fikram terlihat sangat berbeda dengan Fikram yang Manda kenal selama ini. Namun, hal yang membuat Manda semakin bingung adalah terlihatnya kristal berwarna biru di mata Fikram.


"Hah! Itu!" kaget Manda. "Apakah itu ... batu kristal elemen ke tiga!"


Tanpa basa-basi lagi, Fikram menurunkan Manda dan menyeretnya keluar ruangan.


"Mmmmm!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2