Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Profesor?


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


PLUKKK!!


Sebuah mangga jatuh tepat di wajah Gamma, Gamma pun pingsan.


Beberapa saat kemudian..


Puk..puk..puk


"Gamma bangun..bangun.." Dina menepuk pipi Gamma mencoba membangunkannya.


"Ah?..Nadi kau kah itu?" kata Gamma setengah tersadar.


"Nadi" pikir Dina. "Siapa Nadi..eh?! tunggu, Nadi..ooo mungkin maksudnya Putri Nadi" pikirnya berdiri.


"Hemm..tapi.." pikir Dina lagi.


"Jangan tinggalkan aku lagi, Di" kata Gamma menarik tangan Dina.


"Eh!?" (tertarik ke arah Gamma)


"Tolong jangan tinggalkan aku lagi" dalam keadaan setengah tersadar Gamma mengelus tangan Dina.


Dina yang melihat perlakuan Gamma mulai risih dan kebingungan.


DI SISI LAIN..


Nadia dan yang lain menelusuri lorong gelap tadi. Karena merasa dari tadi tidak menemukan ujung ataupun cahaya akhirnya mereka berhenti.


"Haduh..sebenarnya kita dimana sih..kok kaya ngga ada ujungnya?" kata Manda dalam kegelapan.


"Kenapa tadi kita langsung masuk..bukannya nyari apa kek yang bisa nerangin jalan gitu?" kata Fikram.


"Ya kan, tadi keburu diserang zombie" kata Rio.


"Iya juga ya," kata Fikram.


"Kenapa ngga pake senter handphone aja?" usul Manda.


"Handphone kita kan lobet karena ngga di cas berhari-hari." kata Rio.


"Iya, chargernyakan di tas yang ketinggalan di kamar Hotel Kakek San." kata Fikram.


"Iya yah." kata Manda pasrah.


"Haah, kenapa kita harus terjebak dalam keadaan begini sih" kata Fikram.


"Iya, ngga ada petunjuk dari ponsel..ngga bisa main sosmed..😭" kata Manda merindukan bermain sosmed.


"Ngga bisa main game😭" kata Fikram.


"Dan ngga bisa mabar😭..hiks..hiks" tangis Manda dan Fikram makin menjadi-jadi.


"Hah dua orang ini 😒" pikir Rio.


Tangis Manda dan Fikram membuat Nadia merasa bersalah.


"Emm..temen-temen maaf ya.." sesal Nadia.


"Hah?" Manda dan Fikram berhenti menangis mendengar perkataan Nadia.


"Gara-gara aku kalian..harus terjebak dalam masalah ini..harusnya aku ngga baca mantra itu" kata Nadia merasa bersalah.


"Engga kok Nadia..ini semua sudah suratan takdir..lagi pula kami jadi punya pengalaman seru di hidup kami yang membosankan.." kata Rio menenangkan.


"Itu sih kamu, Ri" kata Fikram.


"Sssttt..diem!" kata Rio sedikit membentak.


"Eh?! iya..iya.." kata Fikram menciut.


"Sudah..sudah..jangan melow terus.." kata Ibu Albert.


"Jadi sekarang gimana, lanjut atau.." lanjut Ibu Albert.


"Hemm" semua berpikir sejenak.


Lagi-lagi sesuatu terlintas di pikiran Nadia.


Zringg..


Mata Nadia dipojokkan di sudut mata miliknya dan melirik ke arah tembok di kegelapan. Tanpa menunggu lagi, ia kemudian melangkah tanpa ragu dan berhenti di depan dinding.


Tap..tap...tap..


"Hey! aku seperti mendengar derap kaki" kata Fikram.


"Apa ada yang berjalan di antara kita?" kata Manda.


"Aku tida, mungkin itu Ibu Albert atau Nadia," kata Rio.


"Aku tidak." kata Ibu Albert.


"Kau Di?" kata Manda bertanya pada Nadia.


Tidak ada jawaban.


"Di?.."


"Nadia?" panggil Manda lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.

__ADS_1


Nadia masih berdiri di depan sebuah dinding. Ia lalu memegang dinding itu, menutup matanya dan berkata, "Menyala" katanya.


"Ah, Nadia😒" kesal Manda Karena Nadia tak menjawabnya.


Tiba-tiba sinyal sirkuit bergaris perlahan menyala dan merambat memenuhi ruangan itu.


"Hah?!"


Sontak semua kaget dan bingung dengan apa yang terjadi.


Sinyal sirkuit bergaris itu menyebar di seluruh dinding, lantai, dan langit-langit ruangan itu. Dengan bantuan sinyal tersebut ruangan itu menyala terang dan tampaklah wujud asli dari ruangan tersebut.


"Hah?! wah, keren.." kata Fikram.


"Jadi, ini laboratorium" kata Manda.


"Ini sih keren banget..kaya di film-film masa depan gitu..sungguh canggih" kagum Fikram mulai melihat-lihat gelas ukur di laborat itu.


"Huh..kalau handphone kita masih menyala aku pasti bisa main game disini..di sini pasti banyak sinyal kan?.." kata Fikram terlalu semangat.


"Aduh, bisakah kau hentikan itu" kata Manda datar melihat Fikram yang terlalu bersemangat.


PROKK..PROKK...


Suara tepuk tangan dari seseorang misterius yang bersembunyi di balik bayangan pojok ruangan itu.


"Hah?!" semua menatap ke arah datangnya suara.


"Hebat..hebat..Dr.Rutapala" suara seseorang.


"Dr.Rutapala?" bingung semua.


...⏳⏳⏳⏳⏳...


"Iii.." Dina mencoba melepaskan cengkraman Gamma yang melingkar di lengannya.


"oh, bagaimana ini?..dia tidak mau melepaskanku" kata Dina dalam hati.


"Emm..jangan tinggalkan aku lagi, kumohon," rengek Gamma yang setengah tersadar semakin menarik tangan Dina.


"Duh, aku sudah tidak kuat..andai disini ada air aku akan segera membuatnya sadar" pikir Dina lagi yang tidak sengaja melihat mangga yang sudah matang berwarna kuning keemasan di sampingnya.


"oooo..tunggu sebentar 😏" pikirnya.


"Oh, tetaplah di sini" kata Gamma mengigau.


TES..TES...TES..


"Emmhh..emmhh" Gamma merasa terusik.


TES..TES..TES..


"Emmhh"


CROTTTT...


"Hah?!" tersadar.


"Uhh..air apa ini?" (Gamma)


Cup..cup..


"Oh, mangga...hah?! mangga!!" kagetnya karena kepalanya di banjiri air mangga.


"Hemm..akhirnya kau bangun juga, pemalas" kata Dina.


"ini pasti ulahnya" pikir Gamma.


"Duh sekarang aku jadi berlumuran mangga..dan itu semua gara-gara kau" kesalnya pada Dina.


"Salah kau sendiri, tidak mau bangun!" kata Dina.


"Haah..sekarang aku harus membersihkan diri" kata Gamma beranjak bangun.


"Hey! kau mau kemana?!" kata Dina.


"Bukan urusanmu." jawab Gamma ketus.


Tak sengaja Dina melihat tanda-tanda adanya perangkap. Entah sejak kapan ia bisa mengenali tanda-tanda adanya perangkap.


"Gamma! hati-hati sini ada peran-"


JLEBB..


"Hey!! apa-apaan ini..lepaskan aku!!" kata Gamma terkurung di kurungan berdinding hologram transparan yang keras.


"Hah, anak ini😑" (Dina)


Dina pun menghampiri Gamma.


"Aku harus kesana..tapi aku juga harus berhati-hati" pikir Dina.


"tapi bagaimana?..perangkap disini pasti tidak hanya satu" pikirnya lagi.


"Disini juga tidak ada batu..yang ada hanya mangga berjatuhan...oh, mangga!" pikirnya menemukan ide cemerlang.


Dina pun mengumpulkan mangga yang jatuh dan melemparnya kesegala arah.


JLEBBB...JLEBB..


Ada beberapa mangga yang mengenai perangkap itu, sehingga Dina bisa tau dimana letak perangkap-perangkap tersebut.

__ADS_1


"Bagus" pikir Dina tersenyum senang.


Dina melewati perankap tadi dengan mudahnya dan menghampiri Gamma untuk membantunya.


DUNG..DUNG..DUNG...


"Cepat lepaskan aku!" kata Gamma di balik dinding perangkap hologram keras yang melingkar disisinya.


"Iya sabar" kata Dina mencari-cari letak kelemahan perangkap itu untuk dibuka.


"Duh, perangkap macam apa ini?" kata Dina tak kunjung menemukannya.


"Di sini pasti ada sesuatu" kata Dina meraba-raba dinding hologram itu.


"Aha!..ketemu" girang Dina.


Tik..tik.tik...


Dina memencet memencet sesuatu di dinding hologram itu.


"Hah?! ini ada kodenya!" kata Dina.


"Apa kau tau kodenya?" tanya Dina.


"Tentu saja aku tidak tau.." kata Gamma.


"Haah, dasar" reaksi Dina mendengar jawaban Gamma itu.


"Biar aku coba," (Dina)


Tik..tik..tik..


"Dua, enam, tujuh.." Dina mencoba memecahkan kode perangkap tersebut.


Entah darimana ia bisa mengetahui angka-angka itu.


"Emm..satu angka lagi" kata Dina.


"Dan.."


BRUKKK..


Sebuah peluru bius mendarat di punggung Dina, ya..tentu saja Dina pingsan.


"Dina..Dina" Gamma panik.


...⏳⏳⏳⏳⏳...


"Mari Doktor" kata seorang pria memakai jubah putih bak ilmuwan memasuki sebuah ruangan.


Tap...tap..tap


"Wah, ini sangat indah dan canggih" kata seorang ilmuwan berjenis kelamin perempuan.


"Eit, tahan kagum mu itu untuk yang satu ini" kata seorang ilmuwan lain.


"Sekarang, hentakan kakimu di sini" kata ilmuwan itu mengajak perempuan itu ke tengah ruangan.


BRAKK..


Sinyal sirkuit melingkar membuka sebuah lorong.


"Mari"


Tap...tap..tap..


Masuklah mereka ke sebuah ruangan yang gelap.


"Aku tidak bisa melihat apa pun" kata perempuan itu meraba-raba di udara karena kegelapan di ruangan tersebut.


"Tenanglah" kata pria itu menenangkan.


"Menyala" kata pria itu.


Seketika sinyal sirkuit menyala kembali memenuhi ruangan yang ternyata adalah laboratorium.


"Wah, jadi ini yang akan kau tunjukkan padaku" kata perempuan itu kagum.


"Ya, mari aku akan memberitahumu cara kerja ruangan ini" kata pria itu menunjukan jalan.


Mereka pun berkeliling bersama memahami cara kerja ruangan itu. Setelah menjelaskan secara rinci mereka bertemu seseorang.


"Ada apa gerangan..sehingga putri kita ke sini" kata seseorang yang juga seorang ilmuwan.


"Hah?!" berbincangan mereka terpotong oleh seseorang di depan mereka.


"Ah, kau bisa saja Profesor" kata pria itu.


Seorang perempuan di hadapannya hanya tertawa kecil.


"Maaf aku hanya bercanda," kata wanita berkacamata lab di hadapannya


"Siapa dia, doktor?" kata perempuan di samping ilmuwan laki laki tadi.


"Kau tidak tau.."


Gadis itu menggeleng.


"Ckckckck..dia adalah ilmuwan hebat yang dipercaya membangun kota ini, dia juga yang telah membuat ruangan yang secanggih ini" kata pria itu.


"Dia adalah Profesor..." kata pria itu tergantung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2