Petualangan 5 Sahabat

Petualangan 5 Sahabat
Jiwa Pembimbing


__ADS_3

EPISODE SEBELUMNYA


"Buahaha! Sekarang aku lebih kuat! BUAHAHAHA! HIAAAA!"


Nadia bersikap waspada. Mampukah ia melawan Raksasa ini?


Raksasa ini pun melayangkan kaki besarnya pada Nadia hendak menginjaknya. Dengan cepat Nadia berlari menghindari. Si raksasa mengambil reruntuhan besar lagi, ia ingin sekali memenyetkan Nadia yang ukurannya tidaj seberapa darinya. Namun, tak semudah itu untuk bisa mengalahkan Nadia. Gadis inipun berlari menggunakan bongkahan tersebut sebagai jembatan dan ia berpijak. Ia melompat, melaraskan bilah pisaunya yang mengkilap layaknya cermin ke pandangan si raksasa. Seketika pandangan si raksasa kabur, terhalang sinar terang menyilaukan yang muncul.


"HIAAA!"


Pandangannya membaik tapi Nadia sudah bersiap membuat luka di badan si raksasa itu lagi. Namun sepertinya raksasa ini tak mau ada luka di badannya lagi ia mencabut pohon besar dan menggunakannya untuk menangkis badan Nadia. Nadia pun terpental dan jatuh di tanah.


BUKKK!


"Uhuk! Uhuk!" ia terbatuk, baju dan badannya kini kotor akan darah dan debu tanah.


Ia bangkit lagi, walau sedikit nyeri di badannya. Ia menatap serius si raksasa memikirkan cara selanjutnya. Tampak ia sedikit kewalahan.


"Hey, teman kau terlihat butuh bantuan."


"Siapa?" Rio merasa ada yang berbicara dibelakangnya, matanya melebar saat melihat sosok pria tampan dengan ekspresi datarnya.


Pria ini memakai baju zirah lengkap, tak lupa pelindung kepala yang akan melindungi kepala hingga tulang pipinya. Ia juga mengenakan jubah kebesarannya.


"Ya, apa kalian akan tetap di sini saja, hah?" Ada yang sahutan ketus dari balik Dina, Dina menoleh dan melihat gadis cantik berkacamata memakai pakaian putih khas ilmuan. Ia juga memakai kacamata lab, di plat namanya tertulis 'PROF. G'.


"Ayah, Ibu! Siera juga!" Fikram juga kaget di belakangnya terdapat jiwa yang berbicara. Bukan hanya satu tetapi tiga anggota keluarganya dari kerajaan Siren. Kini Ibu dan adik tersayangnya nampak cantik jelita dengan mahkota yang berkilau.


"Hihi, maafkan Ibu ya, Nak," kata Marine tersenyum.


"Sierra juga kak," kata Siera riang.


"Kami akan membantumu, yah lebih tepatnya ibu dan adikmu akan membantumu, karena Ayah tidak mengerti apa-apa hihi," Raja Finan menampakkan cengiran kudanya seraya mengelus tenguk.


Mata Fikram berkaca-kaca, ia pun berhambur memeluk mereka erat.


"Kok aku ngga punya jiwa pahlawan yang bicara di belakangku," cemberut Manda iri.


Ibu Albert memutar bola matanya. "Aih, ya jelaslah," seketika ia menghilang lalu muncul di belakang Manda, bukan sebagai makluk bernapas lagi melainkan menjadi jiwa seperti keinginan Manda. "Karena aku dihidupkan lagi oleh penyihir tua itu. Ha, apa kau senang sekarang?"


Manda kaget, "Ke-k-kenapa jadi Ibu Albert!"


"Apa-apaan ekspresi kau itu! Kau tidak terima! Memangnya kenapa hah!" sebal Ibu Albert.


"Eh iya-iya ngga papa," Manda menciut. "Aku-aku hanya terlalu senang kau yang akan membimbingku kok Ibu Albert," bohong Manda terpaksa.


"Ooo, begitu baguslah. kau memang harus senang aku yang akan membimbingmu," ia tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


Dalam hati Manda be like: Ku menangis~


"Baiklah, semua mari kita bantu Nadia!" tekad Rio semangat.


"Semangat semua, aku Trigo dan Ketua Penyihir akan membantu mengevakuasi warga," ujar Putri Maple.


Trigo dan Kakek San mengangguk, mereka bertiga pun segera melakukan tugasnya.


Tak lama seekor naga biru menghampiri Rio.


"Saya akan ikut membantu, Kaisar," tunduknya.


"Hai, Naga Jelek," sapa Dina lagi.


"Kenapa aku selalu bertemu dengan mu sih!" kesal naga ini melihat Dina.


"Halo, mungkin kalian membutuhkan ini," ada seseorang mendekat, ia memakai pakaian putih panjang bak ilmuan, plat namanya 'PROF. Wikan'


"Profesor Wikan!" kompak mereka semua kaget.


Di tangannya terdapat sebuah benda berkilau. Lima kristal elemen berhasil Profesor Wikan temukan. Iapun tersenyum manis.


-----------------


Nadia mengatur napasnya, terlihat di badan raksasa terdapat banyak sayatan yang cukup parah. Namun tetap saja raksasa ini belum juga tumbang. Nadia mengusap peluhnya.


"HIAAAA!"


Raksasa melesatkan bogemannya ke arah Nadia. Nadia bersiap akan hal itu.


BUGHH! Tap... Tap!

__ADS_1


Ia bergerak berlari menggunakan tangan si raksasa sebagai jembatan. Ia mengangkat belatinya tinggi-tinggi.


"Coba kau rasakan ini!" Ia menyilangkan belatinya berniat membuat sayatan lain di badan raksasa.


GREP!


Nadia gagal membuat sayatan karena raksasa ini langsung saja menangkap dan mengunci dalam genggamannya yang besar dan kuat. Nadia menggeliat berusaha melepaskan diri.


"Kau memang kuat, namun kau tidak bisa mengalahkan kekuatanku! BUAHAHAHA!"


ZAAATS!


Tapat!


Tepat Sekali Dina melemparkan jarum-jarumnya di mata besar milik Basilia, ia kini berada di atas kepala raksasa tersebut berkat bantuan helikopter teleport Dr. Wikan. Sontak Raksasa ini kesakitan dan melepas cengkraman pada Nadia.


Nadia terjatuh ke bawah akibat gravitasi, matanya membulat karena tiba-tiba saja jatuh.


"Haaaa?!"


HAP!


Rio tepat menangkap Nadia sebelum ia membentur tanah. Di atas naga setianya ia menangkap dengan gendongan Nadia ala bridal style.


"Rio?" wajah Nadia memerah.


"Izinkan kami membantumu, wahai Yang Terpilih, hihi," kelakar Rio.


Nadia pun tersenyum tipis ia kemudian turun dan duduk manis bersama Rio di punggung naga itu.


Rio mengulurkan tangannya, "Ini, milikmu," ia memberikan kristal berwarna kuning.


"Aku ..."


"Ambilah," Rio tersenyum manis.


Nadia terkesima selama sepersekian detik, perlahan iapun mengambil kristal itu.


"Baiklah, ayo selesaikan ini," tekad Nadia.


----------------


"Woy, Raksasa mandi dulu biar seger!" Fikram yang kini memakai jubah putih berbordir biru toska dengan sedikit sisik di wajah dan hiasan putih dengan gambar ombak di dahinya. Ia menggerakkan tangannya seketika ombak besar setinggi raksasa mengguyurnya.


"Hahaha, bagaimana enak?"


Raksasa mengusap wajahnya yang penuh basah.


"Kau! Kemari kau!" raksasa Basilia ini berusaha mengejar Fikram.


Fikram berseringai, lalu memanggil ombak airnya, menaikinya bak sedang berseluncur.


DUNG! DUNG!


"Aggh!"


Tiba-tiba si raksasa berjingkrak-jingkrak kesakitan memegangi kakinya.


"Hihi, kalau jalan liat-liat ya, Raksasa," gurau Manda, ialah yang menumbuhkan duri-duri putri malu di bawah kaki raksasa.


Sama halnya dengan teman-temannya yang lain, ia juga memakai jubah putih berpadu warna hijau, dengan beberapa ornamen batang putri malu yang berduri berhias di badan, tangan dan kepalanya.


"KALIAN KURANG AJAR!" Si raksasa nampaknya sangat kesal, ia mengamuk, ia lalu menghantam tak karuan ke arah sembarang.


Melihat hal itu, khawatir kekasihnya terpenyet, Fikram menarik Manda ikut bersamanya berseluncur di ombak.


"Dr. Wikan! Dekatkan helikopter ini ke raksasa itu!" titah Dina.


"Baik!" jawab Dr. Wikan.


Ia pun mendekatkan helikopternya sesuai perintah Dina. Dina mempersiapkan jarumnya.


"Mari kita coba kekuatan lainnya. BERSIAP BERKURANG BEBAN DR. WIKAN!" Dina melompat.


"Apa!?" Dr. Wikan terkejut ketika gadis bertopi dengan berjubah putih coklat itu tidak ada.


Dina melompat dan melemparkan jarum-jarumnya ke udara tepat di atas kepala Raksasa Basilia.


POOF!

__ADS_1


Seketika jarum-jarum itu berubah menjadi debu tanah yang langsung membuat kelilipan.


"Aduh,aduh apa ini!" aduk raksasa ini membersihkan wajahnya.


Dina melemparkan jarumnya lagi, seketika tanah menjulang tinggi menjadi tempat ia mendarat. "Keren juga aku, hahaha," bangganya pada diri sendiri.


"Graaa! Siapa yang berani-berani berbuat ini padaku!"


"Kami!" Rio menyerang, ia menebaskan pedangnya ke hidung si besar ini. Hal itu membuat hidungnya tergores cukup dalam.


"Haa, serangan kecil seperti itu kau kira bisa melukaiku."


"Ya kami tahu itu," seketika Nadia tiba-tiba muncul di hadapannya, kedua belati tajam berubah menjadi pedang panjang yang siap ia sabetkan.


CLING! SRET!


"AAAA!"


Nadia menghilang secepat cahaya. Ia pun muncul di atas naga yang sudah ada Rio di sana.


Raksasa itu terlihat kesakitan memegangi hidungnya. Darah mengalir deras. Hidungnya terpotong akibat serangan kombo Rio dan Nadia.


"Wuhu! Nice kombo!" ucap Fikram, Manda bertepuk tangan girang di atas ombak kekasihnya itu.


Sementara Dina hanya tersenyum tipis sambil melipat tangan di depan dada.


"HAAAAAA! KALIAN!" si raksasa rupanya sangat sulit di kalahkan.


Ia murka, Seketika roh-roh jahat mulai memasukinya lagi. Ia mulai membesar dan menambah kekuatan fisiknya lagi. Nadia tentu tidak akan membiarkan hal tersebut.


"Cepat kalahkan dia sebelum ia jadi semakin ganas!" titah Nadia langsung menghilang.


Mereka pun segera berpencar. Fikram dan Manda menyerang di bagian kaki. Mereka membuat tali yang mengikat kaki Basilia dari air dan tanaman putri malu. Di saat sudah terikat keduanya, mereka bermaksud menariknya agar Basilia terjatuh. Namun, dengan kekuatan dan ukurannya saat ini, sangat sulit membuat raksasa terjatuh.


"Aihhh! Sulitnya!!" pekik mereka berusaha keras.


Basilia pun semakin besar saja, tali yang Manda dan Fikram buat pun putus.


Dina menyerang, ia melemparkan jarumnya ke arah Basilia lagi dengan tujuan ia ingin membuat bongkahan tanah besar sehingga akan mengenai kepalanya dan raksasa pun akan tumbang. Namun semua niatnya sia-sia jarum-jarum miliknya berhasil di tepis oleh Basilia.


Dina berdecih, "Cih,"


Kini giliran Rio dan naga setianya. Ia mencoba mencoba menyerang bagian tangan yang bersebrangan dengan daerah Dina.


SRING!


Rio melompat menggerakan pedangnya lalu mendarat kembali ke naga dengan harap tangan itu terluka. Namun, bukannya kulis si raksasa yang terlika justru pedang Rio yang sedikit patah dan tergores.


Nadia mecoba menyerang raksasa yang semakin besar ini, di daerah kepala. Ia pun muncul bersiap menusuk area kepalanya dengan pedang namun ....


"GROAAAAAA!"


Raksasa ini mengamuk dan sedikit menghindar, sehingga serangan Nadia gagal. Ia pun tergelincir dan hanya menggores tipis telinga raksasa ini.


"GROAAAAA!"


Kini Raja Basilia jauh lebih besar dan menyeramkan. Terdapat taring besar yang mencuat keluar dari mulutnya. Ia pun bergerak dan membuat seluruh pulau bergetar. Satu persatu ia menghempaskan musuh yang dari tadi mencoba menumbangkannya. Siapa lagi, kelima pahlawan terpilih ini terlempar jauh ke tanah.


BRUKK!


Lagi-lagi badan mereka bertemu dengan lantai.


"Uhuk! uhuk!"


"Dia semakin kuat saja!" kata Dina.


"Kita tidak bisa melawannya seperti, kita perlu cara yang lebih kuat," kata Dina.


"Sumber energinya adalah jiwa hitam yang berasal dari penduduk dan gerhana itu. Seluruh penduduk sudah di evakuasi. Tinggal gerhana itu yang harus kita jauhkan darinya," kata Rio.


"Ya, gerhana nakal ini tidak selesai-selesai dari tadi. Kalau di dunia kita sudah dari tadi," kesal Manda.


"Maklum Mimo, gerhana langka yang terjadi seratus tahun sekali," balas Fikram.


"Bagaimana kita menyingkirkan gerhana dan mengalahkan si raksasa coba? Kekuatan individu kita saja kurang kuat," kata Dina.


Muncullah jiwa Putri Nadi di samping Nadia.


"Mengapa kalian tak bergabung," katanya.

__ADS_1


"Bergabung?" Nadia kebingungan.


Bersambung ....


__ADS_2