
EPISODE SEBELUMNYA
HIA! PLAK!
"Aduh! Tanganku! Kalian nepuknya kenceng banget sih!" kata Rio meringis kesakitan.
"Diamlah dan liat nyamuk itu, Krucil" kata Gamma.
Mereka membuka tangan mereka berharap si nyamuk, mati.
WHAT!
"Kemana dia?" bingung Dina tidak ada mayat tergeletak di telapak tangan Rio.
"Duh sia-sia saja pengorbananku,(T\~T)" kata Rio dengan ekspresi kesakitan.
"Hemm, tanganku jadi kotor karena darahmu, Krucil," kesal Gamma tangannya ada noda darah.
"Itu tidak seberapa dengan sakitku gara-gara kalian!" balas Rio.
"Hihihi, Duh! Abang gantengku sakit ya? Heh! Ini gara-gara kamu, Anak Malas!" sahut suara HIHIHI marah.
"Siapa yang kau panggil 'Anak Malas' aku?" bingung Rio menunjuk dirinya.
"Eh, bukan kok, Abang. Tapi dia tuh, siapa namanya? Nggak kenal aku."
"Aku? Anak malas? Ih! Dasar," kesal Gamma cemberut.
"Tante Kun, boleh ngga kalau kita ngga dapetin itu peta?" tanya Dina.
"Ya, boleh. Silahkan kalau kalian mau di situ aja selamanya juga ngga papa."
"Apa! SELAMANYA!" kaget Dina.
"Kan, kalian bisa lihat di depan jalan buntu, setelah kalian mendapat petanya jalan itu akan terbuka dan kalian tinggal berjalan sesuai arahan peta, hihihi." Jelas HIHIHI.
Nging! Nging!
"Nyamuk itu masih berkeliaran," kata Dina mengamati.
"Dia disana!" Tunjuk Rio pada salah sudut satu dinding batas antara atap dan dinding.
"Tapi tinggi, bagaimana caranya?" bingung Dina.
"MINGGIR!"
"Hah!" Dina terperanjat saat ada benda bulat melesat menuju ke arahnya.
Sontak ia langsung menghindar.
Sett!
Untung saja benda itu tidak mengenainya. Benda itu lalu melesat menuju ke arah sang nyamuk.
Tang!
Benda keras berbentuk bola itu memang tepat mengenai posisi sang nyamuk. Namun, naas! Nyamuk itu masih bisa menghindar.
Nging! Nging!
"Cis! Hampir saja," kata Gamma kesal.
"Haha, makanya kalau nglempar pake mata, udah ngga kena hampir ngenain gue lagi!" kesal Dina pada Gamma.
"Diem lu! dah ambil cepet itu peta, lu mau kita disini bae, kaga 'kan?" Kata Gamma mengambil biji karet yang ia gunakan untuk melempari nyamuk itu dengan ketapelnya.
"Bener tuh, nyamuk ini lebih cerdas dari nyamuk lainnya," kata Rio mengeluarkan sebuah tongkat pendek dari sakunya.
"Nyamuk ber-IQ tinggi, lulusan S3 kayaknya tuh, apa udah profesor?" Dina mengeluarkan panah kecilnya.
KLEK!
Mereka bersiap memburu nyamuk dengan cara yang sudah sedikit di upgrade yaitu dengan menggunakan alat mereka.
"Kenapa ngga dari tadi sih," kata Ibu Albert menonton.
__ADS_1
"Come on! SERANG!" komando Dina menunjuk ke arah nyamuk yang hinggap di jendela, maksudnya di dinding labirin.
"HIA!" kompak mereka.
"Eh, bentar-bentar," sela Rio.
GUBRAK!
"Kenapa?" tanya Dina.
"Ini gimana cara manjangin ya? Aku ngga bisa ini, ini tongkat bisa panjang 'kan?" tanyanya terlihat konyol.
"Astaga, sini coba gue liat," kata Dina sok mengerti.
Dia pun mengamati. "Oh ini mah, kecil" katanya.
"Bisa?" tanya Rio.
"Kaga."
Krik ... krik ....
"Makanya kalau ngga tahu ngga usah maju," kata Gamma menghampiri.
"Emang lu tahu, pake maju segala kesini," tanya Dina.
"Ngga."
Dina menatap datar Gamma.
"Haduh gitu doang ngga tahu, sini Ibu tunjukin!" kata Ibu Albert dan langsung mengambil tongkat Rio dari genggaman Dina.
KLEK! KLEK!
Ibu Albert memutar sambungan tongkat bagian atas lalu menariknya memanjang.
TARA!
Tongkat itupun memanjang maksimal.
"Makasih, Bu" senang Rio.
Ibu Albert hanya berdehem dan pergi melanjutkan menonton bersama Nadia.
\~Kembali ke nyamuk\~
Nging! Nging!
Nyamuk itu sedang terbang perlahan.
Gamma mencoba membidik, begitu pula dengan Dina.
Nging! Nging!
Nyamuk itu memperlambat laju terbangnya dan seakan berhenti di udara namun tidak mendarat. Melihat ada kesempatan, Gamma dan Dina bersiap melemparkan senjata mereka.
SYUT! TAK!
Bukannya mengenai si nyamuk, senjata mereka malah mengenai satu sama lain dan akhirnya jatuh ke lantai.
"Haah!" gusar Dina. "Dasar! Lemparanmu payah!" kesalnya pada Gamma.
"Lemparanku? Lemparanmu itu yang Payah!" balas Gamma.
"Lemparanku! Jelas-jelas punyamu yang PAYAH!"
"Lemparanmu lebih PAYAH!"
"Tentu saja punyamu!"
"Punyamu!"
"Punyamu!"
"Punyamu!"
__ADS_1
"PUNYAMU!" kekesalan Dina memuncak.
"Eh! Sudah-sudah," lerai Rio. "Cepat bantu aku! Bisa-bisa tongkatku keropos gara-gara dia!" kesal Rio sedang mencoba memukul nyamuk itu dengan tongkatnya.
Jangan ditebak bagaimana hasilnya ya, susah tentu G.A.G.A.L.
Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka langsung membantu Rio dengan melempari panah kecil, dan membidik dengan ketapel untuk mendapatkan segulung kertas di kaki sang nyamuk yang ukurannya tak seberapa.
"Senjata segede gajah, target segede kutu begini," Dina memegang perutnya, kelelahan.
Di lantai biji karet dan panah-panah kecil berserakan tak tentu arah.
"Panahku menipis," kata Dina merasa stok panahnya berkurang.
"Bijiku juga," timpal Gamma.
"Gawat, dia sangat susah di tangkap," kata Rio mengatur napas.
"Makanya, semua butuh rencana. Bagaimanapun keadaannya, kalian harus mempunyai rencana terlebih dahulu," saran Ibu Albert.
Mereka diam seribu bahasa tidak merespon saran Ibu Albert.
"Aha! Aku ada tahu! Kita perlu sebuah rencana, aku pernah denger bagaimanapun keadaannya, kita harus memiliki rencana terlebih dahulu," kata Gamma yang jelas-jelas mengulang kalimat Ibu Albert.
"Itu dialog Ibu, Anakku! Heegh!" geram Ibu Albert melempar sendok nasi yang mungkin telah dipersiapkan oleh Ibu Albert di tasnya.
PLETAK!
"Aduh ...." Gamma mengelus kepalanya yang tergetok sendok nasi sang Ibu.
"Saran yang bagus. Jadi apa rencananya? Lu punya?" tanya Rio pada Gamma.
"Hemm ...." Gamma tampak beripikir.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Ia terperanjat ketika melihat sosok di depannya, tubuhnya kembali menggigil dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Hah!"
"T ... t .. tidak, tidak lagi,"
"Kenapa, Mandaku? Apa kau tidak ingin mengobati rindumu lagi,"
SRING!
Pria itu mendongak, tercetak senyuman mengerikan di bibirnya. Akhirnya menampakkan wujud aslinya. Pucat, bermata merah menyala, dan memiliki TARING.
Manda ketakutan. Ia merasakan sesuatu cairan di jarinya, alhasil ia melepaskan tangannya dari leher dan melihat ada apakah di jarinya itu.
"Hah!"
Ia terkejut bukan main, terdapat noda titik cairan merah besar di jarinya.
"Apa ini?!" pikirnya.
Perlahan di seluruh tubuhnya, baik wajah, tangan, leher, sampai kakipun mengalir darah merah segar yang keluar dengan sendirinya.
"Apa! Apa yang telah terjadi!" paniknya.
Mulai banyak pertanyaan dalam diri Manda ia melihat tangannya mengalirkan banyak sekali darah. Tubuhnya seakan mati rasa. Kakinya mulai lemas, napasnya tidak beraturan, kesadarannya mulai berkurang.
BUGH!
Tak terhindarkan tubuh Manda jatuh ke lantai. Samar-samar ia mendengar dan melihat seseorang.
"Heh! Kau mau membunuhnya!" tegur seorang wanita yang berambut panjang, walau tidak terlihat jelas wajahnya oleh Manda.
"Tenang saja, dia tidak akan terbunuh hanya dengan gigitan dosis kecilku tadi. Walaupun hemmm ... darahnya akan terasa sangat segar di tenggorokanku, hehehe" balas sesosok pria bertaring.
"S ... s ... siapa mereka?" batin Manda.
Perlahan-lahan kesadaran Manda mulai habis. Dengan lemas iapun menutup mata, hingga kalimat terakhir terdengar di telinganya.
"Haah! Kebiasaan deh! Ingat, dia tidak boleh mati, atau habislah kita, hihihi!"
Bersambung ....
__ADS_1