
"Ayahku?! Ayahku terlibat dalam hal ini? Apa maksud anda, Direktur?” tanyaku syok. Bukannya ikut kaget atau apa, Marc hanya menatapku dengan ekspresinya yang setenang langit. “Dia menghilang, usai menyelesaikan sebuah misi penting di hotel ini. Karena itu, kami memintamu untuk menggantikannya” jelasnya kemudian.
“Misi? Dari hotel ini? Sejak kapan, hotel berubah menjadi kantor polisi? Ada misi segala...” tanyaku heran. Lagi-lagi, para iblis ini membuatku bingung tujuh keliling. “Seperti yang sudah ku katakan di awal. Hotel ini memiliki tujuan untuk memusnahkan para iblis yang berniat mencelakai manusia. Kami tidak ingin, terus menerus disalahkan atas perbuatan buruk dari klan lain. Sudah seratus orang dari klan kami, dibunuh sejak perang Vosre. Kami terus kehilangan orang-orang berharga kami, dengan cara yang tidak adil” kisah Marc. Tampak, kesedihan yang dalam, menghiasi wajahnya yang biasa tanpa ekspresi.
Perang Vosre, ya? Perpecahan yang amat sangat kacau, terjadi di wilayah ini. Perang antara manusia dengan para iblis. Kurang lebih, 20 tahun yang lalu. Ketika aku masih berumur 5 tahun, tiba-tiba kedamaian menjadi terusik.
Awal dari peperangan Vosre, terjadi akibat serangan dari seorang iblis penghisap darah terkeji, Jean-Pierre Arceneaux. Dia menghisap darah dari tiga puluh manusia sekaligus, hingga menyebabkan kematian. Insiden tersebut membuat para manusia ketakutan.
Ketakutan itu, juga dirasakan di berbagai kota. Salah satunya, terjadi di kota tempatku tinggal. Ibuku, satu-satunya penyihir manusia. Dia mengerahkan segala kekuatannya. Membuat sebuah perisai pembuta, agar para iblis tak bisa mencium kota kami. Aku ingat, ketika insiden itu terjadi, mayat manusia banyak tergeletak di sepanjang jalan.
Mereka semua, dibunuh oleh iblis yang telah merajalela dari kota satu ke kota lain. Ayahku, seorang pemburu iblis. Dia diwarisi sebuah pedang, untuk membunuh seluruh iblis yang keji selama dalam perang Vorse.
Perang Vorse adalah masa tersulit. Aku tidak tahu, jika iblis yang menjadi Direkturku ini, juga banyak kehilangan dari perang itu. Dan kemudian, ayahku juga menghilang setelah menerima misi darinya? Artinya, dia membutuhkan bantuanku untuk menjadi penerus ayah?
Aih, kenapa? Kenapa aku harus membantu mereka? Ayahku saja masih hilang, malah aku yang disuruh menggantikan tugasnya. Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab, atas hilangnya ayahku?
“Ah, ya, kemarin aku meminta Lady Dia untuk membawakan pakaianmu. Setibanya dia di rumahmu, semua terlihat kacau. Katanya, kamu belum membayar sewa rumah...” kata Marc mendadak membahas rumahku. Tunggu, apa? Rumahku? Belum bayar sewa? Enggak, ah! Sekarang, tanggal berapa sih?
Buru-buru ku cari kalender, usai Marc mengingatkan tentang hal itu. Tak lama kemudian, akhirnya kutemukan sebuah kalender duduk, yang berada di atas meja kerja Marc. Aku melotot ke arah kalender. Kalau kalender itu manusia, dia pasti sudah berjingkat ketakutan akibat mataku yang melotot terlalu lebar.
Tanggal 13. Jatuh tempo uang sewa rumah yang harusnya, dibayar tanggal 10. Telat tiga hari. Oh, ya, kemarin kan aku enggak sadarkan diri selama tiga hari. Mana bisa, aku membayar uang sewa. Kan, aku masih sakit. Hmm, ya, ya...
Ibu pemilik rumah, sangat disiplin dan agak menyebalkan kalau masalah uang. Jadi, kuputar otak bagaimana caranya, wanita itu bisa luluh dengan ucapanku. Apa ya? Apa ya? Apa...
“Omong-omong, barangmu sudah ditendang keluar, lho... Miss Dallaire” celetuk Marc. “Sudah, ya...?” tanggapku, sambil terus memikirkan alasan yang tepat. Eh? Apa yang tadi dia bilang?
“Barang-barangku... Kenapa?” ulangku masih tak sadar. “Ya. Barang-barangmu ditendang keluar” jawab Marc memperjelas. Aku baru sadar. “Apa?!!!” seruku sembari menarik rambutku dengan dua tangan. Tapi, aku kan cuma telat tiga hari!!
“Tiga hari, lho...” keluhku lesu. Aku tahu, Marc terlihat menertawakanku. Meski pelan, aku dengar lho! Dasar...
__ADS_1
Setelah kutatap tajam wajahnya, akhirnya dia berhenti tertawa. “Butuh bantuan?” tawarnya tiba-tiba. “Pasti ada harga, yang harus kubayar” balasku menebak.
Marc terlihat mengelus dagunya. “Kalau yang itu, tidak. Kukira, aku tetap harus bertanggung jawab atas insiden buruk yang terjadi padamu. Mau kamu atau Max yang berada dalam pengaruh iblis terkutuk...” ujarnya. Apa? Kurang ajar! Enak saja nih, iblis.
“Kau masih menuduhku?!”
“Seumur hidup, aku tidak pernah menuduh orang. Selain, memang orangnya yang salah”
“Kubilang, aku tidak dirasuki oleh siapapun! Ku kira, anda lebih cerdas, Direktur Deval...”
“Hmmm... Bagaimana, ya?”
“Jangan bercanda. Saya sudah malas menanggapi anda. Jika anda berkenan untuk bertanggung jawab atas insiden itu, anda harus membantu saya mendapatkan rumah sewa itu kembali”
Sekali lagi, dia mengulurkan tangannya. “Bergabunglah bersamaku, Reine...” pintanya agak memohon. Kali ini, suaranya terdengar melemah. Dia ini... tegas dan sedikit...
Berbahaya.
“Saya sudah bilang sebelumnya. Saya adalah karyawan di hotel ini, Direktur...” ucapku dengan jawaban yang sama. “Kamu, pegawai Golden Luxury Hotel. Hanya pegawai. Aku memintamu, bukan sebagai Direktur” jelasnya membingungkan. Para iblis ini... sangatlah membuatku kesal!
Dengan agak enggan, aku menatap ke arahnya. Tak lama, aku berkata,
“Jadi, apa yang anda inginkan?”
“Kamu hanya perlu bergabung dan menyelesaikan tugas ayahmu yang telah lama dia tinggalkan”
“Bekerja, berarti ada imbalan”
“Dua kali lipat dari gajimu. Selama, kamu bekerja dengan baik. Seperti yang telah kamu lakukan di Golden Luxury”
__ADS_1
“Nyawaku?”
“Terlindungi 99,9 persen”
“Risiko yang kudapat?”
“Kujamin, hanya 0,2 persen. Selama, kamu bekerja sesuai protokol” kata Marc sembari mengacungkan telunjuknya, dari mulai mengatakan kata, ‘selama’ hingga akhir kalimatnya. “Hmmm...” tanggapku setengah berpikir. “Tidak perlu tinggal di rumah sewa yang kumuh. Aku akan memberimu tempat di salah satu hotel ini. Hm, sebuah mansion” kata Marc kembali memberi penawaran tinggi.
“Kutolak...” ucapku singkat. Gaji dua kali lipat, dijamin bakal keluar dari risiko berat dan tinggal di mansion mewah. Biasanya, kalau dikasih keistimewaan yang terlalu besar gitu, artinya kau juga harus siap dengan apapun risikonya. Matipun, harus. Iblis memang luar biasa liciknya.
“Kamu benar-benar sulit, Reine...” keluh Marc hampir terdengar menyerah. “Aku? Kebalik, lah. Anda yang membuat saya kesulitan. Tiga hari dirawat, pingsan berkali-kali dan sekarang malah, ditendang dari rumah yang kusewa” curhatku menjabarkan. Marc bak kembali diguncang angin dan ombak, di saat bersamaan.
Dia menunduk. Kalau kayak gitu, aku jadinya yang merasa bersalah kan... Please lah, klanmu kan, yang menyebabkan semua ini bisa terjadi? Sekarang, aku bak sedang didesak untuk menerima tawarannya.
“Ayahku? Bagaimana?” tanyaku memecah keheningan. “Hm? Kami masih terus mencarinya...” jawabnya agak kaget. Aku sih, tiba-tiba nyeletuk gitu. Wkkkk! Lucu tapi... mukanya. Jarang-jarang, kubuat seorang Direktur jadi bingung gitu.
“Baiklah” kataku pada akhirnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung, karena masih agak kaget. “Ya, aku bersedia untuk bergabung” jelasku santai.
Tuh, tuh... Matanya langsung memancarkan aura kebahagiaan seketika. Dasar, iblis banyak maunya! Hhh, mau gimana lagi? Menghindar dari takdir ini pun, aku tidak akan mungkin bisa melakukannya.
Jadi, satu-satunya cara, hanyalah menerima. Yah... Derita seorang keturunan penyihir memang, sulit.
Belum sempat kujabat tangan Marc yang tadinya, sempat turun ke meja, mendadak sebuah suara terdengar menggema dengan keras.
Bruak!!
Seperti, sebuah suara kayu yang jatuh. Dengan wajah kaget, aku menatap ke arah Marc. Dia, terlihat sudah berdiri dari kursinya.
“Tetaplah di belakangku, Rei...” pintanya tegas, namun bernada lembut. Ku jawab dengan sekali anggukan. Di tangannya, sudah terdapat sebuah pistol berhias sesuatu yang menyilaukan mata. Warnanya emas. Itukah yang dinamakan...
__ADS_1
Abu Kematian?