
Gray memegang kedua bahu Carine, tepat di saat wanita tersebut hampir saja terjatuh. Akibat dari bebatuan kecil yang menghalangi langkah kakinya, tubuh Carine mendadak terhuyung ke depan. Ketika dirinya menyadari akan bantuan yang diberikan oleh Gray padanya, Carine langsung menatap ke arah pria itu.
Wajah Gray, rupanya amat sangat dekat dengan wajah Carine. Saat menoleh, mereka malah terlihat seperti sedang... ya...
Hampir berciuman? Tidak, jangan berharap yang seperti itu!!!
Batin Carine yang bercampur aduk. “A, apa yang sedang... anda lakukan?” tanya Carine mendadak formal. Tentu, karena situasi yang membuatnya kaget dan agak syok. “Hah? Apa, kau bilang? Kau hampir saja jatuh, karena kecerobohanmu!” amuk Gray sebagai balasan.
Carine hendak marah, usai mendengar perkataan enggak enak dari mulut Gray. Dia sudah bersiap protes dan mengerutkan kening. Akan tetapi, dia menyadari sesuatu.
Tidak, Carine. Kau akan jatuh, kalau dia tidak sigap memegangi bahumu. Kali ini, kau memang ceroboh. Jadi, biarkan saja dia, batin Carine penuh pertimbangan. Tak sadar, Carine telah membuat Gray berdiri dan menunggu lama. Tentu, masih dengan kedua tangan memegangi bahu Carine.
“Kau mau tanganku patah, karena terus seperti ini ya?” bisik Gray mengejutkan. Carine berjingkat dan refleks, melepaskan diri dari kedua tangan Gray. “Maaf...” sesalnya kemudian. “Dasar, kok malah bengong” gerutu Gray kesal. Dia tampak buru-buru melangkah ke arah ruang pemulihan.
Ditinggalkan Gray, Carine masih berada di tempatnya. Maunya, dia diam. Tapi, yang mulia satu itu, tampaknya malah menikmati momen memarahi Carine. Mumpung, ada kesempatan yang mendukung. Biasanya, Gray memang selalu tidak bisa mendapatkan kemenangan, sih.
“Kau mau sampai tua berada di situ?” canda Gray dengan muka serius. Rupanya, Gray masih menunggu Carine, agar mengikuti langkahnya. “Kenapa? Kau merasa terganggu? Sampai tua, katamu? Aku memang sudah tua, ngapain menunggu lagi?!” dengus Carine sembari melewati Gray begitu saja.
Gray tersenyum puas, usai berhasil menggoda Carine. Tanpa perasaan bersalah, Gray mengikuti langkah wanita itu dari belakang. Diikuti, bibirnya yang terlihat tersenyum sana-sini.
“Oh, anda sudah tiba. Silakan masuk” sambut Raven, ketika muncul dari balik pintu. Dia membukakan pintu ruang pemulihan untuk Gray dan juga Carine. “Bagaimana keadaan mereka?” tanya Gray benar-benar serius.
__ADS_1
Raven menghela nafas panjang. “Sejauh ini, mereka berangsur-angsur pulih. Serangan yang mereka terima, sangat amat berat. Hingga membuat, seluruh tubuh mereka terkena luka dalam. Dan jika itu terjadi pada seorang iblis biasa, mungkin... mereka tidak akan bisa berada di sini” jelasnya. Gray tampak mengangguk paham. Dia tampak bersedekap sembari mengamati keadaan Marc, Robin dan juga Luc. Mereka masih berada di ranjang pemulihan.
“Tentu, ini juga berkat permata itu. Jika kau tidak menanamkannya, mereka mungkin benar-benar akan tewas” singgung Gray. Dia melirik ke arah Carine yang ada di sampingnya. “Aku tahu, ini pasti akan terjadi” tanggap Carine pelan. “Keputusan yang bagus” puji Gray sambil mengelus kepala Carine.
Gray melangkah mendekat ke arah ranjang yang ditempati Marc. Dia sedang mengamati luka yang ditimbulkan oleh serangan dari Penyihir hitam. Tampaknya, Gray juga sedang memeriksa seberapa besar kekuatan tersebut. Mempelajarinya, untuk memperkuat pasukan.
Sekali lagi, tindakan yang dibuat Gray selalu membekas di hati Carine. Mungkin, karena dia sudah lama sekali tidak berada di dekat pria itu. Bisa jadi juga mungkin, dia telah jatuh untuk kedua kali.
Mengagumi pria yang sama di setiap tahunnya, memang tidaklah mudah. Kadang meski dekat, Carine dan Gray lebih sering bekerja sendiri-sendiri. Carine bersama dengan Raven. Sementara Gray, bekerja sendirian. Menjemput para iblis, serta siluman yang telah mendekati ajal. Juga, melindungi penduduk dari serangan kejahatan yang besar.
Sebab itu, Carine agak jarang bertemu dengan Gray. Dan setiap kali bertemu, waktu berharga tersebut pasti dihabiskan untuk beradu mulut. Berkelahi tak jelas. Kadang pula, dipergunakan untuk fokus membuat sebuah rencana, apalagi kalau ada sebuah kejadian besar yang terjadi.
Ya, mereka hanya saling tegur sapa. Walaupun, mereka tinggal satu atap. Makanya, bagi Carine setiap tindakan Gray yang diluar dugaan seperti tadi, hal itu sudah cukup membuat Carine tersipu. Tak hanya tersipu saja. Carine rupanya, telah jatuh ke dalam perasaan yang terlalu dalam.
Jatuh cinta.
Berkali-kali bertemu dengan Gray, Carine selalu menjadi yang pertama. Orang yang paling mencintai Gray. Orang yang paling memperhatikan keadaan Gray.
Sayangnya, Gray tak begitu. Pria tersebut, lebih banyak diam. Dan tentu, sangat dingin. Kadang, Carine merasa seperti hanya dirinya saja yang mencintai Gray.
Akan tetapi, waktu yang panjang membuatnya menyadari. Tinggal di sisi Gray hingga kini, membuatnya mengerti. Gray memang pria yang tak bisa dia harapkan. Seperti, memberi tindakan yang romantis. Tapi, Gray akan menjadi orang pertama yang datang ketika Carine kesulitan.
__ADS_1
Dalam keadaan apapun. Dengan kesulitan apapun. Serta, sebesar apapun bahaya yang akan menelannya. Gray hanya peduli akan keselamatan Carine. Walau demikian, dia tak pernah ikut campur atau sok melindungi Carine, saat Gray tahu, Carine pasti bisa menghadapi kesulitan itu.
Singkatnya, Gray tak pernah memandang rendah kekuatan Carine. Meski kekuatan yang diperoleh Carine, asalnya dari separuh kekuatan miliknya. Gray selalu percaya, Carine adalah seseorang yang kuat. Dan bahkan, melebihi dirinya.
Sebab itu, Carine mencintai pria itu. Walau Gray, pernah membuatnya kecewa. Mungkin, reinkarnasi di era ini adalah jawaban dari penyesalan Gray, karena pernah membuat Carine membencinya.
Carine tampak memegang kepalanya, usai Gray sempat mengelusnya tadi. Sembari menunduk, dia mendadak mengingat kejadian kelam itu lagi. Hatinya, terasa sakit.
Apa kau sedang berusaha untuk meminta pengampunanku, yang mulia?
Pertanyaan tersebut muncul di benak Carine. “Nona, anda... baik-baik saja?” tanya Raven mulai khawatir. Ternyata, Raven sudah menyadari kegelisahan hati Carine sejak tadi. Tentu, dengan secepat kilat Carine buru-buru menggeleng diikuti senyumnya yang khas.
“Tetap terus pantau kondisinya. Jangan lupa, panggil beberapa tabib” perintah Gray, usai selesai mengamati luka Marc dan yang lain. “Baik, yang mulia” ucap Raven sembari menunduk memberi hormat. Ketika sampai di pintu, langkah Gray terhenti. Dia menoleh ke arah Carine yang masih mematung di tempat.
“Kenapa kau masih berdiri di situ?” tanya Gray tak mengerti. “Hah? Apa? Aku? Oh, ya...” jawab Carine kelabakan. Dia segera mengikuti langkah Gray. Raven tampak menunduk memberi hormat kembali, namun ke arah Carine. Raven menatap kepergian mereka, sambil berharap sesuatu yang baik akan terjadi pada keduanya.
“Ke mana kita akan pergi?” tanya Carine di sepanjang perjalanan. “Kenapa bertanya seperti, orang yang tak tahu apa-apa? Kau kerasukan Reine, ya?” tanggap Gray yang lagi-lagi berubah ketus. Dan Carine, sangat membenci hal ini.
“Bisakah kau, sekali... saja menganggapku ada?” ucap Carine agak menekan. “Hm? Apa maksudmu? Kalau aku tidak menganggapmu ada, tidak mungkin aku mengajakmu bicara. Memangnya, aku sedang bicara dengan hantu apa?” balas Gray tak habis pikir. Langkah Carine mendadak terhenti.
“Tidak bisakah kau, menatap mataku?! Meski cuma sekali saja?!"
__ADS_1