produk gagal

produk gagal
Kekacauan Mendadak


__ADS_3

Aku berada di belakang Marc tepat. Saat dia membuka pintu dengan perlahan, dia terlihat mengintip terlebih dahulu. Memastikan keadaan ada baiknya, sebelum melakukan penyerangan jika diperlukan.


Marc kembali menutup pintu, usai mengintip. Aku yang penasaran, segera menatapnya dengan ekspresi penuh pertanyaan. Sayangnya, apa yang ku harapkan dari orang ini? Sejak pertama bertemu, mimik wajahnya adalah satu hal yang membuatku kesal.


Seperti biasa, dia selalu pamer ekspresi datar dan tenang. Sudah ah, aku enggak bakal tanya ada apa. Lihat wajahnya saja, pasti dia bakal bilang,


“Di luar, ada sedikit kekacauan. Tunggu di sini. Aku akan menyelesaikannya. Jangan buka pintunya, sampai aku kembali”


Benar, kan? Sudah kuduga. Kubilang juga apa? Jawabannya sama persis seperti, yang ku perkirakan. Kalau sudah gitu, apa lagi yang bakal ku katakan? Mengangguk saja. Tidak perlu buang energi.


Setelah memastikanku, akhirnya dia beneran keluar dari ruangannya. Dan aku? Tentu, ditinggal sendirian. Terus, buat apa coba? Dia bersikeras membuatku bergabung, tapi malah membatasi gerakanku. Jadi, bagaimana aku bisa membantu?


Tersadar dari pikiranku yang sibuk sendiri, tak sengaja ku dengar suara keras itu lagi. Suara yang sama, seperti sebuah bongkahan kayu di jatuhkan dari atas. Tidak mau mati penasaran, ku buka sedikit pintu ruangan Marc.


Betapa terkejutnya aku, saat mendapati kekacauan di luar. Di depan ruangan Marc, para iblis penghisap darah dari klan lain, telah tersebar di mana-mana. Kaget, ya? Kenapa aku bisa tahu, itu dari klan lain?


Karena kemampuanku, aku bisa melihat warna darah mereka. Walau hanya dengan mata biasa gini. Kalau satu klan, warna darah mereka akan sama. Apalagi, kalau sedang berkumpul begitu.


Tapi hal yang membuatku lebih kaget lagi, baik itu Marc, Robin dan juga Luc, tampak berusaha menaklukkan mereka. Cukup kewalahan juga, ya? Dengan iblis sebanyak itu...


Duh, apa yang harus kulakukan ya? Tanganku jadi gatal. Kalau diingat-ingat, pengalamanku mengusir iblis penghisap darah memang ada, sih...


Tapi, waktu itu Lady Dia kan yang bertarung melawannya. Jadi, aku... Sama sekali tidak berpengalaman. Bodohnya... Gitu mau gabung dengan mereka. Apa yang ku bisa?


“Kenapa kau keluar dari ruangan, sayangku?” bisik seorang pria. Dari suaranya, terdengar tak asing walau hanya berbisik. Buru-buru ku tolehkan kepalaku ke arah pria yang berdiri di belakangku itu.


Sudah pasti, dia orangnya.


Maximilien berada tepat, di belakangku. Menyapaku dengan wajahnya yang menggoda. Persis seperti, apa yang dia lakukan malam itu.


Dia sudah berkeliaran. Bukankah katanya, dia masih harus dihukum lagi? Apa yang sedang dia lakukan? Jangan-jangan... dia adalah dalang dari kekacauan ini?


“Sedang apa kau?” tanyaku agak ketus. Mengingat tindakan yang dia lakukan waktu itu, masih membekas. Tak hanya terluka di leher. Luka yang ada di dalam hatiku ini, juga masih terasa sakit.


“Tentu saja, melindungi hotel ini dan isinya. Bagaimana denganmu? Bukankah kau direkrut untuk membantu menyelesaikan masalah ini?” balasnya balik bertanya. “Harusnya begitu. Tapi, Direktur menyuruhku untuk diam di dalam” tanggapku. “Auh... kasihan sekali. Seperti, seekor singa betina dalam sangkar” ucapnya mengejek.


Menyebalkan sekali. Dari pada ngurusin aku, mending membantu yang lain kan? Duh!

__ADS_1


“Tetaplah di sini. Aku akan menyelesaikannya. Lagi pula, kau memang tidak perlu membantu. Jadi, aku akan mencoba untuk membayarnya. Sebab, aku masih berhutang budi padamu. Dan juga...” ujarnya terhenti. Padahal, tadi sudah berbalik meninggalkanku lho! Kenapa malah ke sini lagi?


“Berhutang... maaf?” lanjutnya diikuti mengerlipkan sebelah matanya. Sialan, dia menggodaku lagi?! Dasar, iblis sok ganteng! Tentu saja, kau harus membayarnya! Meski marah, aku malas menanggapi. Tipe pria semacam dia itu, kalau makin ditanggapi malah makin melunjak.


Sepertinya, iblis terkutuk sudah menghilang dari tubuhnya. Aku tidak melihat ataupun merasakan adanya aura lain dalam tubuhnya. Dia kembali normal. Dan apakah karena itu, dia telah di bebaskan dari dalam sel? Berarti, hotel ini juga memiliki alat khusus untuk mendeteksinya.


Oh, ya, protokol.


Ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan? Karena pertarungan itu, ruangan ini jadi berantakan. Wah, mereka benar-benar harus memperbaiki semuanya tuh...


Saking asyiknya melamun, aku melupakan sesuatu. Salah satu dari iblis klan lain, sedang menatap ke arahku. Rupanya, keberadaanku di sini telah diketahui.


Langsung saja. Iblis tersebut dengan riangnya, terbang mengarah ke tempatku berdiri. Dan sepertinya, iblis itu memang sengaja mengincar orang lain. Sempat kulihat, dia bahkan mengabaikan sekelilingnya yang sedang bertarung mati-matian.


Mungkinkah, dia mengincarku? Karena itu, Marc menyuruhku berdiam di ruangannya. Dia sudah tahu, tentang iblis yang sedang mengarah ke arahku ini. Dan mereka berempat, tidak akan mungkin bisa melindungiku.


“Akhirnya, aku menemukanmu permata perak! Sumber kekuatan!” teriak iblis itu. Aduh, girang sekali sih? Wajahnya... membuatku makin kesal saja! Kemarilah, akan ku tarik wajahmu nih!


Berada di hotel ini, membuatku tak pernah takut menghadapi apapun. Aku tahu, iblis yang sering menggangguku, tidak sekuat iblis yang kulihat sekarang. Tapi, selama permata perak ini berada dalam darahku... aku akan menghancurkan semuanya.


Iblis itu, semakin mendekat. Tangannya tampak mengacungkan senjata. Dia menggunakan senjata semacam, trisula.


“Lucunya, dia bahkan tidak punya rasa takut. Berikan padaku permata itu, manusia rendahan!” seru iblis tersebut. “Ambil sendiri, kalau kau bisa!” jawabku menantang. Mendengarku dengan jawaban begitu, dia terlihat mempercepat terbangnya.


Iblis tersebut, melemparkan trisula ke arahku. Aku memang tidak bisa membuat perisai, seperti yang ibu lakukan. Aku juga hanya keturunan penyihir yang lemah. Tapi aku yakin, pisau ayah akan memberiku kekuatan. Aku tidak boleh menjadi lemah.


“Rei!” teriak Marc, ketika menyadari dia telah kecolongan. Namun, trisula tersebut telah terbang ke arahku. Belum sempat kulemparkan pisauku, tubuh seseorang telah menghalangi trisulanya.


Darah yang terasa hangat, tampak muncrat ke mana-mana. Aku pun, turut merasakannya. Saat kubuka mataku, Robin telah mengorbankan punggungnya untuk melindungiku.


“Kamu baik-baik saja, Rei?” tanyanya dengan nada lembut, seperti biasa. “Robin!” pekikku syok. “Tidak apa-apa. Jangan panik. Sekarang, kamu hanya perlu masuk ke dalam ruangan Marc kembali. Tolong, jangan keluar hingga semuanya selesai” pintanya agak memohon.


Tetap saja, walau dia bilang ‘tidak apa-apa’ dan ‘jangan panik’. Tentu, aku masih tidak bisa membiarkannya dengan darah mengalir begitu. “Cepatlah...” perintahnya lagi.


Dia ini...


“Rei, lihat kemari!” seru Max. Dia membuatku terkejut, di saat-saat yang panik begini. Dasar, tidak punya perasaan! Tahu gitu, tadi enggak ku selamatkan dia dari iblis terkutuk.

__ADS_1


Terpaksa, aku melihat ke arahnya. Jaraknya tidak jauh kok. Dia hanya beberapa langkah dari tempat si iblis dengan trisula itu berdiri.


Oh, ya, sehabis membuat Robin terluka, si iblis itu malah tertawa dengan kerasnya. Makin kesal dong, pas mendengarnya. Sialan!


“Apa?!” tanyaku agak ngegas. Wajar saja, perasaanku campur aduk. Panik, takut, kesal, marah dan cemas, bercampur menjadi satu. Rasanya, emosiku sudah meluap dan ingin memakan seseorang. Sayang, aku lemah.


“Lemparkan itu!” seru Max lagi. “Apa?” balasku tak paham. “Kau, bukan wanita lemah kan? Kalau bukan, jangan diam saja dong! Lempar itu!” perintahnya terdengar menyebalkan.


Ya, apa? Apa yang harus ku lemparkan?!


“Bodoh... Itu di tanganmu!!” jawabnya memberi clue. Di tangan? Tanganku bawa apa?


Oh! Ya! Bodoh!


Saat tersadar, seketika ku lemparkan pisau pemberian ayah ke arah iblis bersenjata trisula tersebut. Dengan perhitungan yang pas, pisauku terkena jantung si iblis. Syukurlah, si iblis itu sedang lengah, karena terlalu sibuk berbangga diri. Ya, setelah berhasil membuat Robin tertusuk tadi.


Seperti yang diharapkan. Iblis tersebut sedikit demi sedikit, mulai menjadi abu. Dengan berakhirnya sang pimpinan, artinya, kawanan mereka juga turut berakhir. Para iblis yang tadi, melakukan penyerangan pada Marc dan Luc, pun juga telah berubah menjadi abu.


Si iblis dengan trisula adalah pimpinannya. Sebab itu, Max langsung menyuruhku menembakkan pisau ke arah jantung si iblis. Rupanya, dia sudah tahu sejak awal, kalau iblis tersebut bisa membuat semuanya berakhir.


“Kerja bagus, Rei...” puji Robin diikuti senyum khasnya. Perlahan, tubuhnya mulai tumbang. Oh, ya. Aku melupakan dia.


Buru-buru, ku tangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai. “Tolong, panggilkan dokter...” pinta Marc, usai mengetahui Robin terjatuh di pelukanku. Luc segera berlari, entah ke mana.


“Hhh... Dasar, ceroboh sekali sih” celetuk Max. Dia benar-benar... di saat begini, masih saja bertingkah begitu. Padahal, Robin sedang kesakitan.


Oh, ya, benar. Bukan salah Max juga. Robin begini, karena salahku. Aku yang terlalu lemah hingga tidak bisa melindungi diriku sendiri. Orang lain, yang malah menjadi korban.


Ketika aku tak sengaja melamun, kurasa, Marc diam-diam menatapku. “Lukanya tak seberapa dalam. Tapi darahnya, harus dihentikan lebih dulu” ucap Marc ke arahku. Mendengarnya berkata begitu, aku mendadak kelabakan.


Mungkinkah dia... berusaha membuatku tenang? Namun, aku hanya bisa mengangguk pelan. “Dia akan baik-baik saja, Sayangku. Kau tidak perlu cemas begitu. Kami tidak seperti manusia, saat sedang terluka. Tubuh kami, akan sembuh dengan sendirinya” timpal Max.


“Dokter sudah tiba, Tuan Deval!” lapor Luc sembari berlari terengah-engah. Marc tampak mengangguk. “Tolong, bawa dia ke ruang kesehatan” pintanya. Luc dan Max tampak membantu Robin berdiri. Dia dipindahkan ke ruang kesehatan oleh mereka.


Sementara aku...


Aku masih berada di dekat Marc. “Masuklah ke ruangan. Aku ingin bicara” katanya dengan nada yang sama sekali tidak enak di dengar. Jelas sekali. Dia, marah padaku.

__ADS_1


Mengingat, tadi aku tidak patuh pada perintahnya. Dari sini, entah apa yang akan dilakukannya. Bisa jadi, aku bakal diusir. Yang terburuknya lagi.


Mungkin, aku akan dipecat.


__ADS_2