produk gagal

produk gagal
Sosok Lain


__ADS_3

Siapa orang ini? Kenapa dia terus mengikutiku? Apa dia, orang yang dikatakan Max kemarin? Kalau benar, aku harus berlari ke arah lift tengah. Aku harus menekan bel peringatan, batin Reine sembari mempercepat langkahnya. Lift tengah, berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Lift itu, memang satu-satunya akses terdekat yang memungkinkan seseorang dari Ballroom menuju ruangan Max.


Sosok tersebut makin mendekat saja. Bahkan Reine merasa, sosok itu lebih cepat dari yang Reine perkirakan sebelumnya. Meski begitu, dia meyakinkan dirinya sendiri agar tetap tenang.


Reine dua kali mempercepat langkahnya. Lift tengah, sudah terlihat di ujung mata. Kalau Reine berhasil sampai di sana, menekan bel, dia pasti akan selamat.


Kemudian, sepintas Reine mengingat alasan mengapa Marc menyuruhnya untuk tetap berada di dekatnya. Tapi, tidak ada waktu untuk menyesalinya. Karena Reine, harus lebih dulu terbebas dari kejaran sosok ini.


Reine akhirnya sampai di tujuan. Dia berhasil mencapai lift. Akan tetapi, ketika berusaha menekan tombol darurat, sosok itu makin melaju dengan cepat, bak hantu yang sedang terbang.


Kala sosok tersebut makin mendekat, Reine merasa tubuhnya tercekat. Aliran darahnya mendadak panas. Reine semakin merasa kesulitan, saat sosok tersebut hampir mendapatkan bahunya.


Namun, Reine hanya bisa menutup kedua matanya rapat-rapat. Tangannya, dengan cepat meraba tombol darurat dan menekannya. Dalam hati, Reine mengucap berbagai kata untuk memohonkan keselamatannya.


“Apa yang kau lakukan di sini, Arthur?” tanya sebuah suara lain. Ketika Reine membuka mata, Luc sudah berdiri di hadapannya. Dan sosok yang tadi mengikuti Reine, tampak tersenyum dengan angkuh. Sekilas, ekspresinya terasa mencurigakan.


~~


“Pelajaran pertama, Reine. Sebelum kau mengikuti Blood Party, aku harus memberimu sedikit arahan. Dengar baik-baik, ya?” ujar Max, bak seorang guru. “Arahan? Kau bilang, akan memberitahuku soal Lady Dia? Dasar, sudah kuduga, kau pasti berbohong!” protes Reine. Kala itu, Reine kembali ke perpustakaan hotel, atas ajakan Max.


Reine kira, Max akan memberitahunya tentang rahasia Lady Dia. Namun ternyata, semua tak berjalan sesuai dengan bayangan Reine. Meski agak kecewa, dia tetap berusaha mendengar Max.


“Kau ini... Tidak sabaran, sih? Aku baru saja mulai! Saat ini, kau lebih membutuhkan arahan tentang Blood Party. Masalah Lady Dia, aku akan memberitahumu di akhir”

__ADS_1


“Baiklah, baik! Katakan, apa yang lebih penting!”


“Di Blood Party nanti, semua jenis iblis pengisap darah akan berkumpul menjadi satu. Dan sebab itu, Marc khawatir akan keselamatanmu”


Reine mengerutkan keningnya. “Memangnya, apa yang membuat kalian berbeda jenis? Ku kira, semua iblis pengisap darah itu tidak ada bedanya. Sama-sama menyebalkan dan hobi mengisap darah sesukanya. Apalagi, pada manusia yang baru di temuinya. Seperti contohnya, di lorong hotel?” tanggapnya sembari mengingatkan tentang kejadian yang telah Max lakukan, kala itu. Max berubah kesal. “Sudah ku bilang, serangan itu berdasar! Aku tidak sembarangan menyerangmu. Nanti, aku akan memberitahukannya. Jadi tolong, jangan membuatku sebal dengan cerita itu” ucapnya agak dongkol.


Mendengar Max ngamuk, Reine malah tertawa pelan. “Kau memang enggak bisa dibercandain” ujar Reine. “Tentu saja! Siapa yang bakal bercanda, ketika sedang serius?” kata Max. Reine mengangguk paham. “Baiklah, baik. Apa tadi? Jenis iblis ada banyak?” tanya Reine mulai serius.


Max melangkah ke arah salah satu rak buku. Di sana, dia mengacungkan tangan sambil mendongak ke arah rak buku yang berada di atas kepalanya. Seketika, buku yang Max inginkan tampak perlahan terlepas dari rak buku. Dan buku itu, terbang ke arah Max.


Sembari membawa buku ke arah Reine, Max berjalan dengan satu tangan di dalam saku celananya. “Setelah perang Vosre usai, kami terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Seperti yang di jelaskan dalam buku ini. Ada banyak sekali jenis dari iblis pengisap darah. Dan hal itu, mempengaruhi seberapa besar, para manusia dapat bertahan jika bertemu mereka” jelasnya, bak profesor di sebuah Universitas. Reine menerima buku yang dibawakan Max.


Dengan sangat berhati-hati, Reine membuka buku yang telah usang tersebut. “Jadi, ini adalah semacam... Buku yang dirancang khusus untuk para manusia?” tanya Reine masih tak percaya, penjelasan di dalam buku begitu detail. Bahkan, lebih detail dari perkataan Max.


Reine membacanya dengan seksama. “Contohnya dari iblis ini... Marc?” tebaknya. Max berpikir sejenak. “Bisa jadi. Dia memang dari kalangan bangsawan. Dan darahnya... Mungkin, bisa dikatakan murni” jawab Max. Reine kembali mengerutkan keningnya. Kali ini, dia terlihat agak kesal. “Kenapa kau ragu-ragu? Enggak jelas” ucap Reine berakhir protes.


Max hanya menghela nafas panjang. Dia malas, harus berdebat dengan Reine untuk masalah ini. “Selanjutnya, kau bisa pelajari sendiri. Dan bahkan, kau bisa mengklasifikasikan para iblis pengisap darah yang ada di sini, sebagai contohnya” lanjut Max.


Reine mendadak nurut. Dia hanya mengangguk dan kembali membaca. “Tapi... Ada satu jenis iblis pengisap darah yang sangat tidak kami sukai. Iblis jenis ini, berpikiran untuk merusak lingkungan iblis lainnya. Termasuk, dunia manusia” kata Max. Keningnya terlihat mengerut. Tanda bahwa, dia sangat serius saat ini.


“Apakah iblis jenis ini, akan datang ke Blood Party?”


“Kemungkinan besar. Mereka rakus dan suka mengisap darah siapa saja. Termasuk, darah yang memiliki kekuatan sepertimu. Meski tidak akan menjadi kuat, usai meminum darah dari orang yang memiliki kekuatan... Sugesti dari pikiran mereka, memproduksi sebuah kekuatan tambahan yang membahayakan. Karena itu, ketika diserang oleh mereka, kebanyakan dari korbannya... Tewas”

__ADS_1


“Kenapa para iblis lain tidak menghentikannya? Bagaimana dengan para Pemburu Kematian? Bukankah, ini adalah tugas dari mereka?”


“Karena mereka bisa masuk ke segala tempat, para iblis lain tak mampu mendeteksinya. Mereka jago menyamar. Dan hal yang mereka takuti hanya satu. Tentu saja ini tugas kami, Reine untuk melindungi semuanya. Sayangnya, kami hanya bisa melindungimu, namun tak bisa memusnahkan mereka. Tapi ada solusi, ketika kau berhadapan dengan mereka saat sendirian. Tubuhmu, akan diberi sebuah tanda. Darahmu akan terasa mendidih, seakan ada bayangan hitam yang terus memperhatikanmu lekat-lekat. Dan ketika hal tersebut terjadi, carilah lift”


Reine heran. Dia tak habis pikir, mengapa saran Max begitu menggelikan. “Tugas kami? Tidak bisa memusnahkan mereka? Hanya itu? Pemburu macam apa, yang malah menambah masalah?! Jika kau adalah salah satu dari para Pemburu, satu kata saja. Kau sudah gila?!” serunya spontan. “Reine, fokus. Kau tidak perlu takut. Kawanan mereka, lemah terhadap besi. Jika kau berada di dekat pintu lift, dia tidak akan pernah mendekat ke arahmu. Setelah itu, tekan tombol darurat” kata Max mencoba menenangkan.


“Dan kau, akan datang menyelamatkanku?” tanya Reine serius. Max malah tersenyum khas ke arahnya. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Reine. Entah mengapa, dari tadi Max hanya berdiri di samping kursi Reine yang sedang duduk. Apakah dia sengaja, agar bisa menggoda Reine dengan posisi seperti itu?


“Kau harus menyelamatkan dirimu sendiri, Nona Manja...”


Bisikan Max membuat bulu kuduk Reine berdiri seketika. Usai membisikkan itu, Max telah bersiap. Dia melangkah mundur, menjauh dari Reine.


Dan seperti yang sudah diperhitungkan oleh Max, kesadaran Reine mendadak hilang sepenuhnya. Jiwanya telah tertidur dan tergantikan oleh sosok yang lain.


“Kita bertemu lagi, Carine. Apa kabar?” sapa Max tampak santai, meski berada di jarak yang cukup jauh dengan tempat Reine berada. “Suatu kehormatan bagiku, The Great. Sayang sekali, kau harus memanggilku di tempat seperti ini. Kenapa? Apakah dunia ini... Berjalan semakin sulit, hingga kau membutuhkan bantuan dariku?” balas Reine dengan senyum khas dan tatapan mata yang tajam.


Dia jelas, bukan Reine.


Dia, Carine. Sosok itu kembali muncul dalam tubuh Reine. Seorang Ratu yang tangguh, sebelum dunia terbelah menjadi dua bagian. Dan juga, sosok pengantin yang setia, mendampingi pimpinan tertinggi dalam Pemburu Kematian.


Pimpinan tertinggi dari Pemburu Kematian, seorang manusia yang dihukum, usai melakukan perbuatan keji. Dia disebut dengan, The Great of Death Hunter. Jiwa yang bereinkarnasi dalam tubuh Maximilien saat ini, adalah dia.


Gray Nicholas Émeric Bouthillier.

__ADS_1


__ADS_2