produk gagal

produk gagal
Pelatihan Pertama


__ADS_3

Ketika Luc berkata, ‘kau, tidak akan bekerja layaknya, di Golden Luxury Hotel’, aku mengerti. Mendengar kata, Penjara Bawah Tanah, artinya akan ada pertarungan lain di antara kami dan para penghuni penjara. Mungkin...


Eksekusi?


Padahal, Robin sudah berulang kali membahas Penjara. Kenapa aku tak menyadarinya dan langsung mengiyakan tawaran Marc. Aku yang bodoh, tak menanyakan detailnya.


Luc melangkah semakin dalam ke Underwall. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi beberapa kertas. Tak lama kemudian, dia terlihat menoleh ke arahku dan mulai menjelaskan,


“Setiap kali kau tiba di sini, kau akan diberi sebuah dokumen. Dokumen ini, berisi tentang profile iblis yang ada di sini. Mengapa dia dipenjara dan kapan hukumannya akan dijatuhkan”


“Dan maksudmu, aku yang harus menghukum mereka?”


“Daya tangkapmu cukup cepat, Miss Dallaire. Benar. Kau akan membantu kami mengeksekusi mereka”


“Kenapa harus merekrut manusia biasa sepertiku? Kau sendiri? Apa kau tidak mampu mengurusnya sendiri?”


“Kekuatan kami terbatas. Di Underwall, kami memiliki ribuan tahanan. Setiap harinya, kami harus mengeksekusi sepuluh dari mereka semua. Belum lagi menangkap, yang masih berkeliaran di luar sana. Jika hanya terpacu di sini, mereka yang di luar sana akan terus membunuh manusia”


Akhirnya, kami sampai di sebuah sel bernomor 2788. “Namanya, Ludovic Lemaigre. Dari klan penghisap darah kelas 7, kasta rendah dari Timur. Dia menjadi buron kami, setelah membunuh tiga orang wanita muda. Usai menghisap darah mereka, dia melarikan diri selama seminggu. Sudah dua tahun dia dikurung. Update terbaru, hasil dari Pengadilan Tinggi mengatakan, dia harus dieksekusi” jelas Luc. Sesaat kemudian, dia kembali menatap ke arahku setelah tadi, sedang sibuk membaca profile dari si iblis penghuni sel 2788. “Hari ini, adalah hari eksekusinya. Dan yang bertugas mengeksekusinya adalah... Reine Dallaire, anggota baru kami” lanjut Luc, yang berakhir beralih ke arah penghuni sel 2788.


Tentu, seperti dugaanmu. Aku terkejut. Bagaimana tidak? Membunuh para iblis, katamu? Kau bercanda?!


Kutatap wajah iblis itu. Ludovic, nama dari penghuni sel 2788. Pria tersebut, tampak menatapku diikuti tawa kecilnya yang mengerikan. “Anggotamu... Seorang manusia?” ucapnya dengan nada mengejek. Tak lama setelahnya, dia terdengar tertawa keras.


Kau pikir, ini lucu?! Kau pikir, manusia hanyalah makhluk rendah dan lemah? Karena itu, kau meremehkan mereka dan membunuhnya. Salah.


“Kau, salah besar, Narapidana Ludovic. Manusia, tidak seperti yang kau kira. Makhluk tak berdaya, katamu? Setelah mendengarmu begitu, aku jadi bersemangat untuk mengeksekusimu hari ini” balasku kesal. Aku melirik ke arah Luc, dia tampak tersenyum kecil. Aku harap, dia percaya kalau aku tidak sedang beromong kosong.

__ADS_1


Aku di tuntun masuk ke sebuah ruangan besi lainnya. Luasnya, lebih besar daripada luas dalam sel. Di ujung dinding sana, Ludovic tampak muncul dengan tangan dan kaki terikat. Sipir penjara yang juga seorang iblis, terlihat berjaga di sebelah pintu.


Luc memberiku sebuah pistol berlumur Abu Kematian. Tadi sebelum aku masuk ke dalam ruangan besi ini, dia sempat memberiku pengarahan. Meski begitu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.


Pikiranku hanya satu. Dia harus terkena peluru dari pistol yang diberikan padaku ini. Di dalam pistol, hanya ada dua peluru. Luc bilang, aku harus berhasil dalam dua kali tembakan. Jika tidak, aku sendiri yang akan...


Mati.


Aku menyiapkan kuda-kuda. Tanganku, menodongkan pistol ke arahnya. Kelihatan sekali, kalau aku masih amatir. Caraku memegang pistol saja, diikuti tangan yang gemetar hebat.


Ini pertama kalinya, aku menghadapi iblis sendirian dengan berbekal sebuah pistol. Kupikir, lebih nyaman kalau aku menggunakan batu, kayu atau sapu gitu. Kalau pistol, semua jadi terlihat menegangkan dari biasanya.


“Ini Pelatihan pertamamu. Berhasil atau tidaknya, itu tergantung pada dirimu sendiri. Tenang dan tetap kendalikan dirimu. Kau pasti bisa melakukannya. Marc tidak mungkin, merekrutmu jika kau tidak mampu melakukannya” bisik Luc dari balik ventilasi kotak berukuran sedang, tepat di belakangku. Aturannya, kalau eksekusi sedang berjalan, pintu memang harus tertutup. Jadi, aku hanya sendirian bersama Ludovic.


Aku memiliki senjata, sedangkan dia tidak. Keadaan ini, harusnya lebih menguntungkanku. Dia terpojok. Baiklah, fokus dan segera tembak dia. Kemudian, kau bisa keluar dari sini dengan cepat. Bau dari Underwall ini... benar-benar busuk hingga membuat nafasku mulai sempit.


Dengan keyakinan penuh, kutarik pelatuk pistolku. “Bodoh...” ejek Ludovic. Dari sini, firasatku terasa buruk. Tak lama setelah dia mengatakan itu, sipir penjara telah tewas. Sipir tersebut di cekik oleh iblis lain, yang berada di luar ruangan eksekusi.


Fokusku pada Ludovic, akhirnya goyah. Aku menoleh ke belakang, tempat Luc yang tadinya sedang berdiri. “Lakukan eksekusinya, Rei! Aku akan menyelesaikan yang di sini!” perintah Luc. Oke, aku mengerti.


Kini, aku berbalik kembali ke arah Ludovic. Sayang sekali, dia sudah terbang ke arahku dengan kecepatan tinggi. Dia memukulku dengan tangannya yang sekeras batu.


Aku terjatuh. Di lantai besi yang dingin. “Kau bilang, apa? Aku salah? Manusia bukan orang yang lemah?! Kau hanya omong besar. Dasar, manusia tak berguna! Menjijikkan! Sudah benar kalau kau adalah mangsa bagi kami! Manusia rendahan!!!!” seru Ludovic.


Sialan! Dia lagi-lagi meremehkanku. Aku tidak boleh kalah! Bangun, Reine! Kau lihat, Luc sedang membereskan sisanya. Dan kau, hanya harus memusnahkan Ludovic agar semuanya bisa kembali normal.


Aku tak menyerah. Kubangkitkan tubuhku dengan kekuatan yang tersisa. Namun, hal itu terjadi lagi. Kali ini, Ludovic menyerangku dari sebelah kiri. Dia terbang dan memukulku berkali-kali.

__ADS_1


Iblis menyebalkan.


Untuk kesekian kalinya, aku jatuh. Jatuh lagi dan jatuh terus. Dalam keadaan yang seperti itu, aku merasa gagal menunjukkan pada Ludovic, bahwa manusia itu bukanlah makhluk rendah seperti yang dikatakannya.


Putus asa. Perasaan itu, mulai bercampur dalam hati dan otakku. Seakan, perjuanganku mempertahankan diriku sendiri, bak menghilang ditelan bumi. Aku lelah. Dan masih terbaring di lantai besi yang kotor ini.


Suara Luc yang berusaha membangunkanku, rasanya masih terdengar tak sampai. Tubuhku, enggak mau bergerak sedikitpun. Padahal, Luc sedang kewalahan mengalahkan para iblis dari klan Ludovic.


Bantuan? Kau bilang, kau sedang mengharapkan bantuan? Tidak, Rei. Kau bisa melakukan semuanya sendiri. Karena kau, bukanlah manusia yang lemah.


Sejenak, aku melihat wajah Robin yang tersenyum ke arahku. Kalau dia ada di sini, semuanya pasti sudah selesai. Dia pasti, akan melindungiku.


“Reine!!!!” teriak Luc dari luar ruang eksekusi. Lalu, aku melihat, Ludovic sedang menari-nari senang. Dia menunggu, kawanannya selesai mengalahkan Luc. Kemudian, dia akan bebas dari Underwall.


Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Aku tidak akan mengecewakan Marc. Suara Luc, akhirnya sampai ke telingaku. Akhirnya, sampai.


Dengan energi yang tersisa, aku mencoba berdiri kembali. Hanya babak belur, itu hal biasa. Kemudian, aku mengingat kembali perkataan Marc. Soal nyawaku, yang akan dia jamin.


“Apapun dan bagaimanapun keadaanmu, aku tidak akan pernah luput. Aku akan selalu mengetahui, setiap hal yang kamu lakukan. Aku akan melindungimu, selama kamu berada di sini. Di dekatku. Jadi, kamu hanya perlu menunggu dan bertahan”


Aku hanya perlu menunggu dan bertahan, bukan? Jadi, segera kutodongkan kembali pistol yang pelurunya, masih lengkap tersebut. Meski Ludovic masih terlihat menganggapku remeh, aku tidak peduli.


Karena, hal yang harus kulakukan bukanlah untuk menunjukkan, seberapa kuatnya diriku. Hal yang harus kutunjukkan padanya adalah... setiap iblis yang bersalah, maka dialah yang harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Sampai di akhirat sekalipun.


“Narapidana 2788, Ludovic Lemaigre, kau dituntut hukuman mati atas pembunuhan yang telah kau lakukan pada tiga orang manusia. 10 Desember, tepat dua tahun yang lalu. Hari ini, eksekusimu. Semoga langit, menerima Abumu” kataku dengan kesiapan penuh. Dia bersiap kembali menyerang. Dan ketika hitungan ketiga, persis saat dia merentangkan sayapnya untuk terbang ke arahku...


Ku tarik pelatuknya!

__ADS_1


Duar!


Duar!


__ADS_2