
Seperti janjinya, Gray kembali dengan Caroline di tangan kanan dan sebuah buku kuno di tangan kiri. Caroline baik-baik saja, meski terluka sedikit. Tanpa mengatakan apapun, Carine segera merawat luka wanita itu.
Usai merawat luka Caroline, Carine memandang wajah Gray. Dia menatap Gray dengan ekspresi menagih janji, diikuti uluran tangannya. “Tobie?” tanyanya kemudian.
“Ck, nih!” seru Gray agak dongkol. Dia memberikan sebuah kartu berukuran sedang ke arah Carine. Dan dengan ekspresi yang sangat berterima kasih, Carine menerima kartu tersebut. “Yang mulia, anda begitu murah hati...” puji Carine, sebagai gantinya. Padahal saat melakukan hal itu, Gray sempat dongkol tadi. Dia juga sempat merajuk, agar tidak melakukannya.
“Ssh!” seru Gray lagi. Rupanya, hari ini adalah hari wajib mengalah untuk Carine. “Sekarang, kau puas?” tanyanya agak kasar. “Kan, ini memang tugas untuk anda? Harusnya, saya yang bertanya demikian. Anda, puas? Anda benar-benar melakukannya dengan baik” jawab Carine berusaha menggoda.
Namun, Gray tampak tersenyum kali ini. “Oh, astaga apa lagi itu?” ucap Gray mengejutkan, usai tadi terdiam sejenak. Tangannya, tampak menunjuk ke arah lain.
Dan dengan bodohnya, Carine mempercayai perkataan Gray. Tanpa memeriksa, bibir Gray yang terlihat sedikit naik ke atas, akibat tipuannya. Carine menoleh ke arah tangan yang menunjuk sesuatu. Tanpa menunggu lama, Gray memanfaatkan momen itu.
Gray buru-buru menjewer telinga Carine seenak jiwanya. “Yang mulia! Ampuni aku!” teriak Carine kesakitan. “Dasar, bocah tengik kurang ajar! Dari tadi, kau memanggilku “yang mulia, yang mulia”, tapi kau memerintah-memerintahku, seperti seorang pelayan! Kau benar-benar tidak takut, ya? Oh, apakah karena sudah berulang kali tereinkarnasi, kau jadi lebih berani? Kau meremehkanku?!” amuk Gray menumpahkan seluruh kekesalan.
“Yang mulia, bukan begitu maksud saya. Sungguh!”
“Apanya yang tidak bermaksud begitu? Jelas-jelas, perbuatanmu salah! Kau... memanggilku yang mulia, tapi kau selalu menempatkanku, seolah aku adalah salah satu Petugas Underwall!”
“Eh, anda memang... Petugas Underwall...”
“Carine Anne-Marie Vaillancourt!”
__ADS_1
“Ampuni aku, yang mulia...”
Situasi yang ramai itu, bak milik mereka berdua. Meski ada Luc ataupun Caroline di sana, mereka tetap saja bertengkar. Hingga mereka menuju perjalanan ke Underwall pun, usai mengantar Caroline kembali ke klannya, cek-cok tak pernah berhenti.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di depan hotel Underwall, akhirnya situasi berubah serius. Gray tampak menoleh ke arah Carine yang tepat, berada di samping kirinya. Begitu pula sebaliknya. Carine juga melakukan hal yang sama.
Kemudian, Gray terlihat mengangguk pelan. Saking pelannya, Luc yang ada di samping kanannya, tampak tak tahu apa-apa. Carine memahami maksud Gray.
“Luc Marchand, kau melihatku?” panggil Carine. Ketika Luc menoleh ke arah Carine, dia mendadak mendengar suara petikan tangan. Suaranya terus di ulang-ulang hingga Luc kesulitan untuk tetap fokus.
Petikan itu, berasal dari tangan Carine. Entah apa yang sedang dia lakukan, Luc langsung terjatuh dalam tidurnya. Gray buru-buru merangkul bahu Luc dan melangkah masuk ke dalam Lobby Underwall.
“Maximilien! Ke mana saja kau? Akhirnya, kau kembali!” seru Robin cemas. Dia tampak berlari ke arah Max yang tak jauh. Mulai sekarang, mungkin kita akan lebih banyak memanggil nama aslinya, Gray dari pada memanggil nama reinkarnasinya, Max. Ada sesuatu yang terjadi dan harus kita rahasiakan lebih dulu.
Mereka makin terkejut, ketika melihat Luc yang tak sadarkan diri. “Astaga, apa yang terjadi? Kenapa kalian tidak menghubungi kami?” timpal Marc dengan raut wajah paniknya. Robin buru-buru berlari membantu Gray merangkul bahu Luc.
“Reine, tidak sempat menghubungi kalian. Luc yang tidak ingin merepotkan, karena dia bilang, ini adalah tugasnya. Kebetulan, aku sedang berada di sana. Yah, sepertinya, kau terlalu tidak percayaan padaku, Tuan Deval. Jadi, kau lemparkan tugas yang masih ku kerjakan, pada mereka. Aku tersakiti, lho” tanggap Gray bernada merengek. “Aku tidak bermaksud begitu, Max. Ku pikir, kau menghilang, bukan karena mengejar 3799. Maafkan aku” sesal Marc. Gray tampak mengangguk, ekspresinya bak berkata, “tak masalah”. (Ini adalah rahasia kita. Yang tahu Gray atau Maximilien seorang Pemburu Kematian, hanya kau, aku dan Carine. Jika sampai rahasia ini bocor pada yang lain, kita pasti akan habis).
“Rei, kamu terluka?” tanya Marc, ketika baru saja menyadari Reine juga ada di sana. “Kamu baik-baik saja?” sahut Robin juga. Gray agak syok, melihat kedua pria dari klan pengisap darah ini, berlomba-lomba memberi Reine perhatian. Gray sempat melirik ke arah Reine yang tampak tenang.
“Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Luc sudah melakukan yang terbaik untuk tugas ini. Juga, Max. Dia melindungi kami, tepat di saat kami membutuhkannya. Luc, hanya sedikit lelah. Karena itu, dia tertidur di saat perjalanan ke mari” jelas Reine. Ekspresinya membuat Marc dan Robin menjadi tenang. “Dia sangat merepotkan pasti...” ujar Robin sembari menghela nafas.
__ADS_1
“Kami akan membawanya ke klinik. Robin, tolong bantu aku untuk memindahkan Luc ke sana. Max, setelah kita pindahkan Luc, ikuti aku ke ruangan” perintah Marc. “Baiklah...” jawab Gray santai. Dia dan Robin, mengambil alih Luc untuk segera mengirimnya ke tempat pemulihan, klinik hotel.
“Rei, kamu... beristirahatlah” pinta Marc, usai ketiga pria lainnya telah meninggalkan Lobby. Reine mengangguk. “Aku akan berbaring sebentar” jawab Reine. Marc menggeleng pelan. “Kamu harus istirahat lebih lama” pintanya lagi.
Sebelum Reine melangkah ke kamarnya, Marc lebih dulu memeluknya erat. Pria itu, bak lama sekali tak berjumpa dengan Reine. Padahal, Reine hanya bertugas seharian saja.
Reine masuk sejenak ke kamarnya. Tak beberapa lama kemudian, seseorang terdengar mengetuk pintu kamarnya. Ketika Reine membuka pintu, Gray sudah ada di depan.
“Kau enggak sedang kelelahan setelah memberi beberapa pengobatan darurat, bukan?” canda Gray. “Tentu saja, tidak” jawab Carine ketus. Oh, ya, Carine masih belum berganti dengan Reine.
Jadi, sosok yang tadi berada di Lobby hingga kamar saat ini, semua itu adalah Carine. Bukan Reine. Dia hanya berakting, seakan sedang menggantikannya.
Carine dan Gray berada di balkon ruangan pribadi milik Gray. Untuk menuju ke sana, butuh waktu yang sangat lama agar bisa menembus. Sepertinya, Gray menggunakan kekuatan khusus, untuk menyembunyikan ruangan rahasianya dari orang luar.
Kalau digambarkan, ruangan rahasia Gray berada di dalam ruang kerjanya di Underwall. Ruangan rahasia itu, Gray buat di sebuah sudut ruangan kerjanya. Tentu, dengan menggunakan kemampuan membuat ruang hampa. Dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk. Pastinya, harus atas seizin Gray.
Pemandangan dari balkon, menyajikan malam dunia iblis dengan begitu indahnya. Gray menyodorkan segelas anggur pada Carine. Dan wanita tersebut, tampak menerimanya dengan sopan.
“Oke, sekarang mari kita bicarakan hal yang membuat fokusku terbelah” kata Gray membuka obrolan sembari meneguk segelas anggurnya. Ini anggur asli ya, bukan anggur yang seperti di minum oleh Marc. Anggur campuran darah. Yang ini, benar-benar anggur.
“Apa yang mengganggu pikiran anda, yang mulia?” tanggap Carine. Gray lebih dulu menghela nafas panjang. “Apa yang terjadi pada anak itu? Kenapa dia belum kembali juga hingga kini?” tanya Gray pelan. Pikirannya, mulai mengambang ke arah lain.
__ADS_1