produk gagal

produk gagal
Terdesak oleh Waktu


__ADS_3

Bagai angin, Robin tak melewatkan halangan apapun di depannya. Melihat langit-langit Underwall hancur, kekuatannya bak bertambah dua kali lipat. Dia membabi buta, memusnahkan para iblis menggunakan busur berlumur Abu Kematian.


Ada satu siluman berukuran besar di hadapannya. Siluman berbentuk setengah macan tersebut hendak masuk ke dalam portal. Robin terbang ke arahnya, menukik tajam tepat di atas sang siluman. Menghunuskan panah dan melepaskannya, tepat ke arah mata siluman.


Namun, mungkin karena telah mendapatkan kekuatan tambahan dari penyihir hitam, siluman itu masih tak mampu dihancurkan dengan Abu Kematian yang ada di anak panah terakhir milik Robin. Meski berhasil mendarat sempurna, siluman tersebut murka dan menyerang Robin menggunakan cakarnya.


Cakar itu, berhasil membuat Robin menghindar sedikit. Dia tak menyadari, lengannya telah tergores sepanjang 20 senti. Tentu. Meski tahu, dia bakal tak memedulikannya.


Robin berlari menjauhkan siluman dari portal. Siluman itu, terus menyerang dengan cakarnya. Terus menerus secara intens, hingga Robin kehilangan keseimbangan.


Akan tetapi, Robin tak kehilangan akal walaupun kalah besar dan kuat. Dia terbang dan berpindah tempat dengan cepat. Ketika siluman tersebut lengah, Robin menancapkan pisau terakhir yang ada di dalam sakunya.


Siluman itu terlihat kesakitan, akibat bahunya tercabik pisau Robin. Tak menunggu lama, Robin segera menggeser pisau tersebut hingga merobek tubuh siluman menjadi dua bagian. Ketika Abu Kematian bekerja, Robin melompat menghindar, tiarap.


Sayang, meski siluman tadi berhasil di musnahkannya, iblis lain datang dari arah berlawanan. Iblis tersebut menyerang Robin dengan sebuah tombak. Dalam hitungan detik, tombak itu telah tertancap di punggung Robin.


“Argh!”


Darah segar muncrat tak karuan di sekitar sana. Dengan posisi duduk, Robin tak dapat bangkit kembali. Luka yang diterimanya terlalu menusuk dalam. Dia tak mampu lagi.


Ketika iblis bertombak tersebut menukik mendekat, Robin hanya pasrah sembari memejamkan kedua matanya. Tak ada yang dapat dia lakukan. Dia percaya, dia telah melakukan hal yang terbaik sebelum kematiannya tiba.

__ADS_1


Saat terserang oleh beberapa tusukan dalam seperti itu, tak akan ada darah campuran ataupun iblis yang masih dapat bertahan. Kesimpulannya, tak ada kebal yang dapat menyembuhkan tubuh dengan begitu cepat. Semua pasti akan musnah, secara perlahan.


Maafkan aku. Underwall, ku serahkan pada kalian...


Seribu tombak diluncurkan. Bagai hujan deras, tombak mengarah ke Robin. Hanya menunggu beberapa detik saja, seluruh tombak tersebut pasti akan membuat Robin tewas seketika.


Pasrah. Serta, kelapangan hati untuk menerima, membuat Langit iba padanya. Bak petir menyambar, seekor naga berukuran raksasa tampil melindungi Robin dengan kedua sayap besinya.


Mau semiliar tombak pun, sang naga tetap berdiri tegak melindungi Robin. Ketika sang iblis sedikit kelabakan, si naga memanfaatkan kesempatannya. Naga itu, menyemburkan api birunya yang amat sangat panas.


Akhir dari iblis bertombak, berada di tangan si naga. “Ku kira, kau bisa teleport seperti iblis lainnya. Hhh, ternyata tidak bisa ya?” sapa naga yang kini, telah bertransformasi kembali menjadi manusia. Mau tak mau, Robin perlahan membuka matanya.


Bukannya seseorang yang dia kenal ataupun siapa, Robin malah melihat remaja laki-laki yang sedang bersedekap dekil ke arahnya. “Kau bodoh? Bangunlah, kalau kau masih ingin hidup. Tidak ada waktu untuk bengong!” ucap remaja laki-laki tersebut terdengar songong.


Seketika, remaja laki-laki yang tak lain adalah Raven tersebut, tampak berjingkat. Tak terkecuali, Robin. “Baik...” jawab Raven enggan. “Jangan main-main! Waktumu mepet. Kau tahu, kan? Kunci dunia baru yang harus kau lindungi? Jika kau gagal, kau tidak akan bisa keluar dari sana. Kau akan membeku di sana. Kami akan menghancurkan portalnya, agar tak ada iblis yang masuk kemari. Saat ini, dunia manusia juga kacau. Jadi... tolong lindungilah kuncinya” perintah Gray, suara yang terdengar dari portal.


Tentunya, Robin sudah tak asing lagi dengan suara tersebut. Tapi, dia tak dapat percaya. “Maxi... milien?” panggil Robin dengan suara seadanya. “Bawa dia ke tempat yang aman, Raven! Kalau kau gagal, aku tak akan mengampunimu!” ancam Gray.


“Bagaimana bisa anda mengampuniku, jika aku terjebak dan menjadi batu di dunia ini? Dasar...” omel Raven kesal. Dengan kekuatan istimewa yang dikatakannya, Raven dapat bertransformasi menjadi balita, anak kecil, remaja, dewasa hingga tua. Hal itu dapat dilakukannya, saat perasaannya berubah.


Jika sedang senang, dia akan menjadi anak-anak. Ketika sedang bersemangat, dia akan menjadi remaja seperti saat ini. Dan tentu, seiring perubahan perasaannya itu, akan muncul energi yang tak dapat ternilai di setiap transformasinya.

__ADS_1


Perlu diingat, walaupun Raven dapat berubah usia, dia juga masih tetap bisa berubah menjadi beberapa macam binatang buas. Kadang, kalau sudah terlanjur senang berperang, dia bakal lupa targetnya. Bukan tak mungkin, dia akan membunuh temannya sendiri. Oleh sebab itu, Gray selalu menyegelnya usai perang.


“Si, siapa kau? Kenapa kau selalu muncul dan menyelamatkan kami?” tanya Robin waspada. Raven menoleh ke arahnya. “Kau tahu... Aku adalah si legenda” jawab Raven dengan ekspresi tegang. Robin tampak terkejut, saat mendengarnya.


“Tidak mungkin... Jangan-jangan... Kau adalah... Ksatria Langit? Anima yang diperintahkan untuk mengabdi pada pimpinan Pemburu Kematian?!” pekik Robin takjub. Raven malah terlihat menggaruk telinganya yang tak gatal. Mencoba untuk bergaya sok keren.


Namun, bukan itu yang harusnya Raven fokuskan. Ketika terdengar suara beton terjatuh, Raven baru saja sadar. Ada tugas menumpuk yang harus dia selesaikan.


Raven bertransformasi menjadi seekor elang raksasa. Dia menyambar Robin yang masih terlalu lemah, dengan kaki elangnya. Raven terbang ke arah asal suara.


Beton demi beton tampak hancur. Sebentar lagi, lantai di mana portal berada, akan segera runtuh. Dengan kecepatan ekstra, Raven berusaha mengejar waktu untuk itu.


“Marc!” teriak Robin, saat tak sengaja melihat Marc masih berduel. Meski, lantai mau runtuh sekalipun. Raven mendadak bertransformasi menjadi naga lagi. Dia menyemburkan api ke arah para iblis yang mengepung Marc.


Tak lupa, dia juga menyambar Marc dengan ekornya. Kemudian, Raven terlihat membantu mereka untuk naik di punggung naganya. Robin akhirnya, bisa berkumpul kembali dengan Marc.


“Kau baik-baik saja?” tanya Robin memastikan. “Penyelamatan yang bagus, meski harusnya aku memusnahkan mereka dulu. Hampir saja, lantai itu runtuh. Rob, kau terlihat tidak baik. Jangan banyak bergerak. Aku akan mencoba untuk menyumbat lukamu” tanggap Marc. Dia segera menutup punggung Robin  yang terluka akibat tombak. Marc berusaha menutup luka Robin dengan kekuatan penyembuhnya. Kekuatan istimewa yang dia dapatkan sebagai seorang Pemburu Kematian.


“Tidak ada waktu untuk berlagak keren, Prajurit Kematian. Keselamatan kunci lebih penting. Omong-omong, di mana kuncinya berada?” sahut Raven tak sabar. “Reine... ada di perpustakaan” jawab Marc. Tanpa berkata-kata lagi, Raven menukik ke arah perpustakaan. Seakan, dia benar-benar hafal segala ruangan di tempat ini.


“Jangan-jangan... Komandan memberimu perintah untuk melindungi kuncinya?” tanya Marc agak terperangah. “Yang mulia memang menyuruhku untuk melakukan itu. Jadi, tolong bekerja samalah denganku. Sebab, jika kuncinya hancur, kita tidak akan selamat dari sini” terang Raven serius. Marc mengangguk. “Aku mengerti. Aku tidak akan mengecewakan komandan” ucapnya.

__ADS_1


“Tapi, kau sudah tahu kan... siapa komandan yang kau maksud?” tanya Raven agak usil. “Maksudmu?” tanggap Marc bingung. Bukan hanya Marc, Robin pun sedang menimbang-nimbang beberapa perkiraan.


“Temanmu, Maximilien”


__ADS_2