
“Nona!!” seru seorang anak kecil. Dia tampak berlari dengan heboh menuju ke arah Carine. “Rob, jangan berlari! Kamu bisa jatuh. Jalan pelan-pelan!” tanggap Carine cemas.
Bukannya patuh, anak itu malah semakin berlari dengan penuh tawa di setiap langkahnya. Ketika tiba di hadapan Carine, anak laki-laki tersebut langsung memeluk Carine dengan erat. “Nona, aku lapar...” keluhnya kemudian.
Carine tampak berjongkok ke arah anak laki-laki itu. “Karena itu sebabnya, kau berlari dengan cepat menuju kemari?” tanyanya. Anak tersebut mengangguk dengan polosnya. “Aku tahu, kau pasti lapar. Aku baru saja memasak untuk kalian semua. Tapi, tolong jangan berlari. Itu sangat berbahaya. Kau mengerti?” pesan Carine lembut.
“Maafkan aku, Nona” sesal anak itu sembari menunduk. Carine tersenyum ke arahnya. “Lain kali, hati-hati ya? Sekarang, panggil yang lain. Kita akan makan sama-sama” pinta Carine. Anak laki-laki tersebut, tampak berlari kembali ke arah halaman belakang sebuah rumah.
Carine tampak menghela nafas panjang, ketika mendapati anak itu tetap tak mendengarkan ucapannya. Dalam hati dia menyadari, anak-anak memang tidak selalu bisa menuruti kehendak orang dewasa. Mereka lebih bebas, lugu dan polos.
Raven terlihat membantu menata piring di meja makan. Meski dengan tampilan sederhana, di dalam rumah terdapat ruang-ruang yang sangat besar. Rumah milik Gray, yang dengan catatan adalah seorang mantan Raja, tentu tak dapat tertandingi.
Carine menyajikan lauk dan makanan lainnya. Dia membagi makanan menjadi enam bagian. Untuknya, Raven dan anak-anak lainnya.
Tak lama, anak-anak tersebut akhirnya datang. Mereka tiba dengan suara berisik dan langkah yang terburu-buru, khas dari anak kecil. Tampak, empat orang anak laki-laki berlarian ke arah meja makan.
Mereka duduk dengan rapi, sesuai dengan kursi milik masing-masing. Seperti, sudah pernah diatur sebelumnya. Ketika berada di meja makan pun, mereka mendadak diam.
__ADS_1
“Rupanya, yang mulia benar-benar mengajari mereka cara disiplin yang baik” bisik Raven ke arah telinga Carine. “Kapan hari kulihat, pembelajaran itu sangat menakutkan. Aku takut, dia terlalu memforsir mereka. Padahal, mereka masih anak-anak” balas Carine yang juga berbisik. Dari arah meja dapur, Carine membawa empat gelas minuman dengan nampan.
Carine membagi minuman itu, sesuai dengan jumlahnya. “Nona, apakah ayah akan pulang?” tanya anak laki-laki berpakaian biru. “Luc, bukankah sudah kubilang? Jangan panggil Nona. Dia adalah ibu!” protes anak yang lain, Maximilien. Kemudian, mereka terlihat adu mulut satu sama lain. Yang satu, tak mau disalahkan. Dan yang lain, berusaha meluruskan.
“Aku baik-baik saja, anak-anak. Kalian bebas memanggilku dengan sebutan apapun” sela Carine menengahi. “Maafkan aku. Seharusnya, aku tidak menyinggung perasaanmu” sesal Luc, si anak berpakaian biru. “Jangan khawatir. Sekarang, kalian harus segera makan” ucap Carine lembut.
“Baik!” seru keempat anak laki-laki itu. Kalian pasti sudah bisa menebak, bukan? Empat anak laki-laki berumur 8 tahun itu, adalah orang yang kalian kenal. Robin Dimont, Luc Marchand, Maximilien Geiger dan tentu, Marc Deval.
Mereka berempat tinggal bersama dengan Gray, Carine dan Raven. Mereka diasuh sejak balita dan dibesarkan oleh Gray serta Carine. Mereka juga dilatih menjadi pribadi yang berpendidikan dan beretika.
Karena Gray seorang raja, dia mendidik mereka berempat layaknya putra sendiri. Dengan sifat tegas dan kerasnya Gray, Carine berusaha mengimbanginya dengan menjadi seorang figur ‘ibu’ yang selalu mendengar dan menasihati mereka. Sebab itu, mereka berempat lebih sering bercerita dengan bebas, kalau sedang bersama dengan Carine di rumah.
Suasana menjadi menegang tiba-tiba. Mereka terlihat tak lagi nafsu makan. Carine yang melihat perubahan tersebut, tampak semakin penasaran.
“Ibu, apa ayah benar-benar akan pulang hari ini? Bukankah dia bilang, iblis yang sedang dia kalahakan, akan memakan waktu yang lama?” tanya Maximilien memastikan kembali. “Memangnya, ada apa dengan kepulangan ayah kalian?” balas Carine mencoba mencari tahu. Seketika, mereka berempat tampak menunduk.
Bukannya membantu, Raven malah senang melihat mereka murung. Dia puas, kejahilannya telah berhasil dilancarkan. Raven buru-buru mencuci piringnya, sebelum kedoknya terbongkar.
__ADS_1
“Raven bilang, kami tidak perlu menyelesaikan tugas sulit dari ayah. Karena malam ini, ayah tidak pulang” jelas Robin mengadu. “Ya! Bahkan Raven bilang, kami bisa mulai mengerjakannya besok pagi” timpal Luc. Carine refleks menatap ke arah Raven yang hendak berbalik pergi dari dapur.
“Raven?” panggil Carine tegas. “Aku... bisa menjelaskannya, Nona...” jawab Raven pasrah, usai kedoknya terbongkar. “Sebelum aku memarahi Raven, tugas sulit apa itu hingga kalian tidak dapat mengerjakannya? Aku akan membantu” kata Carine.
Sontak, keempat anak itu langsung berteriak dengan heboh. Mereka senang, Carine selalu tiba di saat mereka membutuhkan. Begitu pula sebaliknya. Carine senang, bisa merawat mereka dengan baik. Yah walaupun, Raven selalu menjadi orang yang senang sekali membuat beberapa gangguan pada mereka.
Dan bahkan hingga kini pun, sifat Raven nyatanya tak pernah berubah. Raven terlihat duduk bersimpuh di lantai. Sementara Carine, berada di sebelahnya. Wanita tersebut tampak berkacak pinggang.
“Kau bilang apa pada Marc? Reine tidak nyata? Raven!!! Aku bingung, harus ku hukum yang bagaimana. Agar kau bisa berpikir lebih dulu, sebelum memutuskan untuk berbicara” seru Carine kesal. Dia tak habis pikir, Raven tetap jahil meski dengan persoalan yang serius sekalipun. “Habisnya, dia terus saja meragukan kebaikanmu, Nona. Dia terus menerus protes, mengapa Reine dikirim... hanya untuk mengingatkannya akan dosa di masa lalu. Kenapa Reine harus mati, karena kecerobohannya? Dia pikir, akhir dari nasib Reine sama dengan nasib Maximilien” terang Raven.
Carine terdiam. “Reine... bukanlah sosok jiwa yang masuk ke dalam tubuhku, Raven. Akulah, jiwa yang masuk ke dalam tubuh Reine” ungkapnya kemudian. Raven tampak syok, saat mendengar ucapan Carine barusan. “A, apa... maksud anda, Nona?” tanya Raven terbata-bata.
“Reine adalah sosok manusia asli. Dia bukan sosok jiwa yang masuk ke dalam tubuh orang lain. Dia adalah Reine, Reine Dallaire. Anak itu, berbeda denganku. Dia adalah reinkarnasi dari diriku, yang berada di dunia saat ini. Harusnya, anak itu tetap hidup di dunia ini. Jika Langit, tidak menjadikannya sebagai kunci dari dunia iblis. Itu mungkin karena, kesalahanku. Kalau saja aku, tidak memotong ikatan benang merah antara diriku dengan yang mulia, anak itu mungkin... masih berada di dunia ini. Tanpa harus mengemban tugas yang mustahil” lanjut Carine. “Jadi, dia adalah reinkarnasi dari anda di dunia ini?” ulang Raven. Carine mengangguk pelan.
“Akulah, yang merebut tubuh ini dari jiwanya” ungkap Carine yang lagi-lagi membuat Raven harus tertegun. “Tapi, ini semua anda lakukan demi kelangsungan hidup manusia yang lain!” tolak Raven membela keputusan yang diambil Carine. Namun, wanita tersebut hanya menghela nafas panjang.
“Nona, jika anda tidak muncul waktu itu... aku mungkin... tidak! Tidak hanya aku saja, tapi juga... Marc dan yang lain. Kita semua... pasti akan terjebak di dunia yang mati itu, selamanya. Bersama dengan orang-orang lainnya yang tinggal di dunia itu, tanpa melakukan kesalahan apapun” ucap Raven. “Karena itulah, jangan sekali-kali kau mengatakan sesuatu yang berat dulu pada anak itu. Marc... masih butuh masa pemulihan yang panjang. Begitu pula dengan yang lain. Jika semuanya telah normal, aku akan mulai menjelaskan padanya pelan-pelan” tanggap Carine menasihati Raven. “Maafkan aku, Nona. Aku... membuat kesalahan yang fatal, karena kecerobohanku” sesal Raven sembari menunduk.
__ADS_1
“Yang jelas, kita harus lebih fokus pada sihir yang ditinggalkan oleh Penyihir hitam. Sihir itu, hanya bisa diluluhkan, jika ketujuh permata telah berkumpul. Karena tiga permata sudah berada di dalam tubuh Marc, Robin dan juga Luc. Maka, tugas kita hanya satu...” kata Carine berhenti sejenak. Dia melangkah pelan ke arah jendela ruangan tersebut. Dia menatap ke arah langit di luar jendela, yang mulai terlihat menghitam.