
“Langit selalu... melakukan yang terbaik untuk kita semua, Carine” ujar Gray. Namun, Carine tak menjawab. Dia tahu, Langit memang selalu begitu. Akan tetapi kali ini, permasalahannya berbeda. Dia tak banyak berharap, dengan keputusan yang di ambil oleh Langit. Sebab nyatanya, Langit sedang tidak berpihak kepadanya.
“Kau ingat, kan? Bahwa Langit, akan selalu berlaku adil bagi semua mahluk di dunia? Ku ulangi lagi, bagi semuanya. Jika itu tidak terwujud, maka harus segera diwujudkan” lanjut Gray. Ucapannya barusan, terdengar penuh penekanan. Dia seperti, hendak menunjukkan sesuatu yang besar pada Carine.
Carine mengerutkan keningnya, tanda tak mengerti akan maksud dari Gray. Tak lama setelah berlomba dengan kebingungan parah di dalam otaknya, Carine kembali dikejutkan oleh tindakan tiba-tiba dari Gray. Pria tersebut, mendadak mengeluarkan sebuah bolpoin dari saku bajunya.
Bolpoin hitam berhias garis emas, kesayangan Gray. Dengan langkah perlahan menuju ke arah Arthur, Gray menjatuhkan bolpoin dengan jemari lentiknya. Seketika, bolpoin berubah menjadi sebuah pedang yang tampak keluar dari sekumpulan bulu hitam. Pedang yang dipenuhi oleh aura yang gelap.
Pedang Terkutuk, yang telah lama dimiliki oleh Gray. Beberapa Pemburu hanya mengetahui satu senjata legendaris milik Gray, yakni sebuah tongkat. Namun, tongkat tersebut mendadak berpindah tangan pada orang lain. Jika kau masih ingat, tongkat tersebut kini telah diserahkan kepada salah satu pria yang ada di Underwall. Direktur Underwall. Ya, kau pasti tahu.
Ini adalah hal yang langka, bagi Carine. Gray tak pernah sekalipun menggunakan bantuan senjata, ketika sedang menjalankan tugasnya sebagai Pemburu Kematian. Meski, berhadapan dengan iblis ataupun siluman terberat sekalipun. Tapi yang ini... iblis sekelas Arthur. Carine pun, tak perlu menggunakan tenaga besarnya hanya untuk memusnahkan Arthur.
Tapi, Gray berbeda.
Dia menggunakan senjata rahasianya. Senjata yang tak banyak diketahui oleh para Pemburu lain. Aku pun, hanya sedikit mengetahuinya. Itu pun, usai mendengarnya dari Raven. Kenapa... kau harus repot-repot mengeluarkan senjata yang sekuat itu hanya untuk menghukum Arthur, yang mulia? Kenapa? Apa yang ingin kau tunjukkan, pikir Carine kembali ke dalam labirin kebingungannya. Meski dilanda kebingungan, Carine tetap diam. Seakan, dia sedang menunggu tindakan yang akan dilakukan oleh Gray selanjutnya.
Dengan gerakan yang super cepat dan bahkan terasa sangat kilat, Gray mengayunkan pedangnya ke arah Arthur. Seketika, tubuh Arthur terbelah menjadi dua. Dan hanya membutuhkan dua detik, tubuh Arthur kembali normal seperti semula. Namun, Gray lagi-lagi menebaskan pedangnya ke arah yang sama. Begitu terus, hingga berulang-ulang. Tanpa jeda.
Kedua mata Carine membelalak lebar. Jadi, inilah yang dimaksud ucapan Gray tadi. Hal inilah yang ditunjukkan Gray pada Carine. Langit selalu bertindak adil pada semuanya. Jika tidak, maka hal tersebut harus diwujudkan.
__ADS_1
Artinya, Gray menilai bahwa Langit telah berlaku tak adil untuk Carine. Sekalipun, dia seorang Pemburu Kematian. Sekalipun, dia harusnya tidak lagi mengingat tentang kehidupan di masa lalunya. Akan tetapi, Langit mungkin tak sengaja melupakan satu hal.
Ingatan yang berasal dari masa lalu Carine, tidak akan pernah bisa terhapuskan. Walaupun, bertentangan dengan syarat menjadi seorang Pemburu. Sebab, Carine tak pernah berharap ataupun meminta untuk menjadi seorang Pemburu. Dia, hanyalah manusia biasa yang selalu bersikap baik di eranya. Karena perjanjian antara Carine dengan Gray itulah, hingga membuat Carine harus terjebak dalam kehidupan yang tiada akhir bagi seorang Pemburu Kematian.
Sebenarnya, menjadi seorang Pemburu memang ada batasnya. Ketika seorang Pemburu berhasil menebus dosa-dosa di masa lalunya, selama menjadi Pemburu, secara otomatis masa bekerja menjadi Pemburu juga berakhir. Semuanya, dihitung setara dengan apa yang mereka kerjakan. Apabila tugas telah dikerjakan dengan baik, maka si Pemburu juga telah berhasil menebus dosa-dosanya.
Namun, hal ini tak berlaku untuk Carine. Karena istimewa, dia tidak perlu menebus dosa. Dia pun, bisa saja memutuskan tugasnya untuk tak lagi menjadi Pemburu. Seperti yang saat ini dia lakukan. Dan hal tersebut, tentu di dasari oleh sebuah insiden luar biasa yang telah terjadi. Hingga akhirnya, membuat petaka bagi hubungannya dengan Gray.
“Yang mulia!” teriak Carine refleks. Sejak awal, dia sudah tahu cara kerja pedang itu. Pedang spesial yang hanya dimiliki oleh Gray. Lebih tepatnya, pedang yang harusnya, hanya digunakan untuk iblis yang benar-benar berat. Yang jelas, Arthur tak masuk ke dalam klasifikasi tersebut.
Carine berusaha menghentikan tindakan Gray. Mengetahui cara kerja pedang, tentu Carine juga mengetahui resiko dari digunakannya pedang itu. Apalagi, jika tak sesuai dengan aturannya.
“Yang mulia!” “Menyingkirlah!!” sela Gray malah marah. Dia sampai mendorong bahu Carine, agar menjauh darinya. Dorongan yang begitu kuat, membuat Carine terhuyung mundur dan bahkan, terjatuh ke tanah.
“Gray, tolong berhentilah...” ucap Carine dengan nada terpelannya. Rupanya, Gray benar-benar lemah dengan nada suara itu. Tanpa harus menunggu lama, Gray pun langsung menjatuhkan pedang tersebut ke tanah. Seakan, pedangnya sangat berat dan dia tak sanggup lagi untuk menopangnya.
Pria tersebut, terlihat bersimpuh di sebelah Carine berada. Dia terdengar menghela nafas berat. “Bodoh, apa yang sudah kau lakukan?” tanya Carine, usai menyadari tubuh Arthur tak kembali lagi seperti semula. Iblis itu, telah terbelah menjadi berkeping-keping. “Bukankah, ini akan menjadi semakin sulit?!” lanjutnya mendadak kesal.
Bukannya mendebat atau berusaha membela diri, Gray malah menjatuhkan kepalanya ke dalam bahu Carine. “Kadang, Langit memang perlu mendapat peringatan” tanggapnya pelan. “Kau gila?!” teriak Carine, bak kekesalannya makin memuncak.
__ADS_1
“Maafkan aku. Tapi, hanya ini yang bisa ku lakukan” sesal Gray terdengar sangat tulus. “Kau akan terkena masalah, setelah ini. Tidak seharusnya, kau membelaku hingga membahayakan dirimu” kata Carine mulai berubah cemas. “Aku tidak peduli” jawab Gray seenaknya.
“Kau akan dihukum keras”
“Aku tidak peduli”
“Ditambah hukuman. Yang awalnya, 1000 dosa menjadi 2000 dosa”
“Tidak masuk akal. Tapi walau begitu, aku tidak peduli...”
“Kau akan dimutasi ke tempat yang terpencil"
“Silahkan saja. Aku tetaplah seorang The Great”
“Kalau begitu, jabatan The Great yang kau banggakan itu, mungkin akan dicabut”
Mendengar perkataan Carine tentang ancaman yang akan di dapatnya, Gray mendadak bangkit dari bahu Carine. “Brengsek, kalau begitu aku akan protes. Mereka tidak bisa seenaknya mencabut hal begituan!” ucapnya marah. “Semua sudah terjadi. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Hah?! Dasar, bodoh! Makanya, pikir dulu sebelum bertindak!” olok Carine kembali kesal.
“Aku akan mengusulkan, agar menambah dosa” cetus Gray mendadak. “Sungguh, bijak sekali...” balas Carine. “Dibagi dua denganmu, tentunya. Akan ku usulkan secepatnya. Kan, ini semua terjadi karena aku membela dirimu. Kau... adalah Bride of The Great. Dengan alasan itu, aku tidak mungkin bisa meninggalkanmu begitu saja dalam kesedihan yang begitu mendalam” lanjut Gray, yang sebenarnya tak sempat dia katakan tadi. Sebab, Carine buru-buru berkomentar memberinya pujian.
__ADS_1
“Plakkk!!”