produk gagal

produk gagal
Carine, Rencana dan Pria Bertudung


__ADS_3

“Kau tidak lupa, menghapus ingatan Luc soal insiden itu, kan?” tanya Gray. Dia masih memonitor Carine, meski wanita itu tengah bekerja. “Segitu tidak percayanya kau, padaku? Bukankah, kau juga ikut melihatnya? Kau mengetahuinya, Gray. Aku sudah menghapus ingatan itu” tegas Carine sembari menata ulang beberapa senjata dalam rak.


Gray masih berpikir. Dia menunduk ke arah lantai sambil mengulang beberapa memori dalam otaknya. “Aku tahu, tapi kenapa anak itu masih mengingat insiden di gudang Losenyx? Dia bahkan masih ingat, ketika Reine terjatuh dan tak sadarkan diri, akibat serangan dari 3799” ujarnya masih tak menyerah. Carine terlihat memutar bola matanya. “Tentu saja, dia ingat. Kenapa juga aku harus menghapus bagian yang itu? Bukankah, malah semakin membuat rancu? Aku hanya menghapus, di mana kau datang, bak super hero, berusaha menangani semuanya” balasnya.


Gray tersenyum simpul, dia hendak bertingkah. “Tentu saja, aku menghandle semuanya” ujarnya bangga. Tak lupa, dia terlihat bersedekap penuh rasa percaya diri. Sudah ku bilang, dia hendak bertingkah. Dan benar, bukan?


Carine hanya geleng-geleng kepala. Dia tak habis pikir, dengan kelakuan khas dari seorang Gray. Yang katanya, seorang pimpinan dari para Pemburu Kematian yang tegas dan bijaksana. Tak lupa, Powerfull dan peragainya sebagai ikon para Pemburu lain.


Prett. Dia cuman, seorang pria yang haus pujian. Terlalu mencintai diri sendiri. Dan kadang, sangat kekanakan.


“Aku suka hasil dari pekerjaanmu, Carine. Tapi aku tidak suka, sikapmu pagi ini. Kau hampir membuat identitas kita terungkap begitu saja” ucap Gray setengah berbisik. Saat membahas hal itu, dia bahkan sempat celinguk kanan dan kiri. Untuk memastikan, tak ada yang mendengar.


Carine mengerutkan keningnya. Diikuti, kedua tangannya yang tampak berkacak pinggang. Tanda, dia mulai serius. Dan bisa saja, melakukan perlawanan yang agak liar.


“Memangnya, apa yang kulakukan dengan pagi ini hingga membuatmu berpikir, aku akan membongkar identitas kita?”


“Kau terlalu kentara”


“Iya, tapi apa? Semuanya berjalan lancar, kok!”


“Kau menggoda mereka, Carine. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh Reine, bahkan sedetikpun!”


“Siapa? Aku? Menggoda mereka? Permisi lagi, bisa jelaskan, di mana bagian diriku menggoda mereka?”


“Sudah kubilang, kau terlalu kentara. Siapa juga yang bakal menyapa Robin dan Luc semesra itu di pagi hari? Jangan bilang, kau serius ingin mengencani mereka?”


“Anda mulai melantur, Pak Bouthillier. Aku hanya menyapa dengan baik, tidak bernada mesra!”

__ADS_1


“Kau melakukannya! Hanya saja, siapa yang menyadari, kalau bukan orang lain? Kau, tidak bisa menilai sikapmu sendiri. Hanya orang lain yang berhak menilainya. Kenapa? Karena kalau kau sendiri yang menilai, pasti, kau bakal bilang, persis dengan perkataanmu barusan. Aku hanya menyapa dengan baik, tidak bernada mesra!”


“Oh, ya, aku hanya tahu tentang satu hal, mengapa kau membahas hal ini di tengah-tengah sibuknya hari senin! Jujur saja, kau cemburu kan? Merasa tersaing dengan mereka?”


Tebakan Carine sepertinya, menusuk tepat dalam perasaan Gray. Dia menatap penuh ketegasan ke arah Carine. Gray juga mendorong tubuh Carine agar bergerak ke salah satu dinding Underwall. Kedua tangannya, tampak bersandar di dinding itu, bak menutup seluruh akses kabur bagi Carine.


“Katakan, kenapa aku tidak boleh merasa cemburu?” ucapnya dingin, bikin merinding. Tatapan Gray makin menajam, meski terlihat santai. Kini, Carine yang tak dapat membalas perkataan itu. Dia merasa, terimpit, terpojok dan terdesak.


Dengan sorot mata yang sama, bahkan tak pernah berubah meski di makan oleh zaman, Carine selalu terjebak berkali-kali. Gray mendekatkan bibirnya ke samping telinga Carine. “Sekarang, apa yang bisa kau lakukan?” tanyanya pelan. Benar, tak ada yang bisa Carine lakukan, selain bertahan.


Seolah telah memenangkan pertandingan, Gray tak mau membuang kesempatan. Dengan gerakan inisiatif yang terbilang cepat, dia berhasil mendapatkan bibir Carine. Menciumnya, tanpa ragu atau merasa bersalah.


Dalam hati, Gray agak hancur. Wajar saja, sebab sudah bertahun-tahun dan bahkan, melewati era demi era, bibir tersebut menghilang. Dan akhirnya kini, bibir itu telah kembali padanya lagi. “Kau adalah milikku. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikanku. Bahkan tahun demi tahun pun, tak akan ada yang bisa menghentikannya” bisiknya kemudian.


Carine tak membalas. Dia menatap tajam Gray yang persis, berada di hadapannya. “Aku membencimu, yang mulia. Bahkan, tahun demi tahun. Aku tidak membutuhkan ungkapan kasih sayang darimu. Yang ku butuhkan adalah penyesalan dan permohonan maafmu untukku” tegasnya.


Rupanya, Gray bukanlah pemenang dari semuanya. Dia melangkah mundur. “Kau tahu persis tentang segala kesalahanmu. Meski begitu, kau tetap menghilang. Atau... Menghindar? Harusnya, kau menyesalinya, bukan menghindarinya. Ku pikir, hal itu yang selalu kau ajarkan padaku. Dan ternyata, alasanmu mengajarkan itu, karena kau sendiri tidak bisa merealisasikannya” ujar Carine. Entah apa yang menjadi detailnya, yang jelas, hubungan mereka sudah rusak sebelum pertemuan ini. Dan rupanya, mereka masih tidak bisa meluruskan hal tersebut. Hingga saat ini.


“Aku melakukan hal yang normal, yang mulia. Apa yang kau takutkan?”


“Kau menggoda mereka”


“Sudah ku bilang berapa kali? Aku tidak menggoda! Berhentilah mencemburui sesuatu yang tidak ada kaitannya”


“Tapi Reine, tak pernah melakukan hal seperti itu”


“Kalau memang itu yang kau gelisahkan, tenang saja, aku akan mengurus semuanya. Kalau kau terus berada di sini, bukankah itu juga hal yang aneh? Tugasmu, berada di lapangan” tutup Carine. Gray menghela nafas panjang. Kali ini, ucapan Carine cukup masuk akal.

__ADS_1


Tanpa mendebat lagi, Gray segera pergi dari sana. Carine masih memikirkan persoalan yang tadi sedang di debatkannya bersama Gray. Apabila di putar kembali, menurutnya, hal yang dia lakukan bukanlah pembicaraan yang menggoda.


Bagi mereka, Reine bukanlah orang asing. Dia juga habis mengalami insiden menakutkan di gudang Losenyx. Ketika dia berakting ceria, bukan masalah besar kan? Dia mencoba kembali seperti semula, agar yang lainnya tak khawatir.


“Dan alasan yang terakhir mengapa mereka tak akan curiga pada Reine, ketika mendadak berubah sikap adalah karena... mereka menyukai Reine. Intinya seberapa banyak kau berubah, tak akan ada masalah selama itu tetaplah dia. Cinta itu buta” ujar Carine menduga. “Bahkan tadi saja...” lanjutnya. Kini, alur pikirannya mendadak kembali dalam memori tadi pagi.


~~


“Aku hanya tidak ingin, kau berada dalam bahaya sekali lagi. Aku berusaha untuk tidak meremehkan kekuatanmu, tapi insiden dua hari yang lalu... membuatku tak bisa bernafas dengan baik, apalagi saat melihatmu tersiksa. Maaf, aku tak bisa melindungimu, Rei...” sesal Luc panjang. Carine berusaha tersenyum setulus mungkin. “Aku baik-baik saja, Luc. Aku bisa berada di sini, pada pagi ini... itu semua berkat dirimu. Terima kasih banyak, kau sudah melindungiku dengan baik” balasnya sembari menepuk lembut bahu Luc.


“Tapi, trauma akan hal itu...” “Biar aku yang menanganinya sendiri. Lagi pula, aku sudah berkali-kali berada di situasi yang tidak memungkinkan. Jadi, aku... baik-baik saja” ungkap Carine diikuti senyum khasnya. Robin terdengar menghela nafasnya. “Kamu selalu saja begitu, berusaha membuat orang lain berhenti mencemaskanmu” ucapnya agak kesal.


Namun, Carine hanya menjawabnya dengan senyum. “Terima kasih banyak. Kalian benar-benar... jagoan kesayanganku. Aku menyayangi kalian” celetuknya. Langsung saja, Gray melotot ke arahnya. Dia berusaha mengingatkan Carine bahwa Reine, tidak pernah mengatakan hal demikian di depan mereka. Tentu, dengan cara menyikut siku milik Carine.


Sayangnya, Carine tetaplah Carine. Dia tidak bisa di hentikan, hanya karena sebuah hal kecil. Ya, kecil baginya.


Seketika, pipi lembut Robin kembali memerah. Luc buru-buru menoleh ke arah lain sembari menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal. Sementara Gray, yaa dia sedang meluap-luap.


Dan karena itulah hari ini, menjadi hari perdebatan yang panjang bagi Carine dan Gray. Meski begitu, sepertinya Carine bodoh amat. Sebab sebenarnya, dari segala hal yang dia lakukan itu merupakan rangkaian dari rencana jangka panjangnya.


“Yang mulia Vaillancourt, saya telah tiba untuk menghadap anda” ucap seorang pria bertudung gelap. Pria itu tiba-tiba muncul, usai terlihat bersama bayangan, melewati sebuah celah ventilasi dalam ruangan senjata milik Underwall. Dia terlihat menunduk penuh hormat ke arah Carine.


“Halo, Raven. Sudah lama, ya? Kau... tetap merahasiakan hal ini pada The Great Savior, bukan?” balas Carine, sambil masih membersihkan debu-debu halus di setiap senjata milik Underwall. “Sesuai dengan perintah anda, yang mulia” ucap pria bertudung tersebut. Mendengarnya, Carine tampak tersenyum senang.


Tak lama, Carine terlihat menatap ke arah salah satu pedang yang ada di dalam lemari besi itu. Dia mengelus mata pendangnya dari ujung hingga ujung yang lain. “Kau pasti tahu, bukan? Sebuah alasan, kenapa aku membangkitkanmu kembali” tanyanya. “Jika anda berkenan, saya akan menjawabnya. Kekacauan... akan segera tiba, bukan?” tebak pria itu.


Carine tersenyum khas. “Aturannya hanya satu” ujarnya terhenti. Sang pria bertudung, tampak mendengar Carine dengan seksama. Tak lama setelah itu, Carine tiba-tiba menghunuskan pedang milik Underwall ke arah si pria tudung.

__ADS_1


“Jangan biarkan anak ini... memegang Pedang Kematian. Ketika kekacauan itu tak dapat dihentikan, tetap bertahanlah bersama tuanmu. Jangan pernah membuatnya membangkitkannya kembali. Karena aku... tidak akan datang untukmu. Kali ini, biarkan aku beristirahat dengan tenang” lanjut Carine. “Tapi, yang mulia, anda harus...” “Raven, kau mendengar perintahku?” potong Carine tegas. Raven, nama pria bertudung itu, tampak mengangguk dengan serius.


“Percayakan semuanya pada The Great Savior. Karena era di dunia ini adalah hukuman untuknya...”


__ADS_2