
“Maaf, aku jadi terus menatapmu begitu. Bukan maksudku. Sepertinya, aku terbawa suasana” sesal Robin, dia buru-buru memalingkan wajah. “Hm, ya. Terus, apa idemu tadi? Kau belum mengatakannya” kata Reine mengalihkan. “Oh, ya. Ayahmu sering kabur, saat itu. Jadi, kami simpulkan kalau dia... malu bertemu denganmu” ungkap Robin.
Reine tampak mengerutkan keningnya seraya berkata,
“Kenapa dia malu? Dia sudah meninggalkanku bertahun-tahun, kenapa baru sekarang dia merasa malu? Bahkan, dia tidak pernah tahu bagaimana rupaku saat ini”
“Karena merasa bersalah sudah meninggalkanmu bertahun-tahun dan sekarang, kamu malah menjenguknya, bukankah hal itu cukup melukai harga dirinya? Sebagai seorang pria yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, tentu dia akan merasa rendah, bukan?”
“Kau bilang, dia berada di bukit ini, karena selalu teringat pada keluarganya? Makanya, dia berusaha datang kemari, meski harus naik kursi roda. Kalau dia merasa jahat, karena meninggalkan keluarganya begitu saja, kenapa dia harus selalu teringat akan masa lalu? Dia itu malu atau sedang tidak tahu diri, sih?”
Mendengar perkataan Reine yang terdengar kesal, Robin malah tertawa. Dia merasa rindu, akan celotehan itu. Sudah berapa lama, dia berusaha untuk menjaga jarak dari Reine, agar membuat wanita tersebut lebih aman.
Kala melakukan hal buruk pada Reine, entah apa yang dia pikirkan. Kenapa dia begitu tega, mencelakai wanita seperti Reine, yang selalu membuatnya nyaman saat berbicara. Dia telah melakukan kesalah besar. Dan mungkin setelah ini, Reine tidak akan berbicara lagi padanya.
“Hidup di dunia hanya ada dua pilihan, Rein. Bahagia atau sengsara. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Akan tetapi mungkin, waktu itu dia memilih untuk meninggalkanmu, agar dirinya merasa bahagia. Dan setelah melakukan pilihan itu, rupanya... semua tak sesuai dengan rencananya. Kejahatan yang dia perbuat, menghilangkan kepercayaan keluarganya. Dan ternyata, hal itu lebih menyakitkan, dari pada hidup sendirian. Sebab itu, dia datang ke bukit ini untuk sekedar menenangkan diri. Mencari kebahagiannya” jawab Robin selalu menenangkan. Reine berubah menunduk. Berada di balik pepohonan dan semak-semak, membuat wajah sedihnya agak tertutupi.
Aku selalu merasa, Robin mirip dengan seseorang. Dari caranya berbicara, memandang dan menghela nafas. Dia... mirip dengan ibu. Di manapun itu, dia selalu membuatku nyaman, tanpa harus menutup-nutupi sesuatu. Aku tidak mengerti, kenapa dia mendadak menyerangku waktu itu. Ku simpulkan, itu bukanlah perbuatan yang baik. Akan tetapi, hatinya yang lembut membuatku tak bisa untuk tidak memaafkannya. Aku terbimbang lagi, meski Marc sudah berada di sisiku, batin Reine.
__ADS_1
“Maaf, aku tidak bermaksud untuk...” “Tidak, kau tidak menyinggungku. Mungkin, perkataanmu barusan ada benarnya. Jadi, aku harus tetap menemuinya, ya? Agar harga dirinya semakin terinjak. Dan urat malunya, mendadak putus. Benar, kah?” sela Reine agak sadis. “Aku memang memberimu ide yang seperti itu. Tapi... agar membuatnya merasa terinjak dan urat malunya putus... ku pikir, bukankah kamu agak... menakutkan?” tanggap Robin bernada takut.
Melihat balasan Robin yang begitu tepatnya, Reine akhirnya tertawa. Dia juga merasa, perkataannya terlalu menakutkan. Meski tidak bermaksud begitu, namun perkataannya sudah terlalu buruk untuk di dengar.
Robin terkejut, mendengar tawa yang keluar dari mulut Reine. Di satu sisi, dia merasa lega. Dan di sisi lainnya, ada secercah harapan dan keberanian untuk meminta maaf pada Reine dan mengungkapkan segala kesalahannya. Dia merasa, akan dimaafkan. Pada akhirnya, dia ikut tertawa.
“Akan ku beritahu pada yang lain, kalau dia berada di sini. Kamu tetap di sini atau ikur?” tanya Robin kemudian. “Aku akan mengawasinya di sini. Kau bisa pergi” jawab Reine menolak. Robin mengangguk paham. “Aku pergi dulu. Berhati-hatilah. Ayahmu... agak kesit” pesannya. Reine mengacungkan jempol kanannya ke arah Robin. Dan dengan begitu, Robin tampak senang dan pergi menemui para tabib. Agar Adrien, bisa langsung di bawa kembali.
Tiba-tiba, langkah Reine maju perlahan. Dia sedang mengarah ke pepohonan yang bergerombol di seberang sana. Pria paruh baya yang sempat bersembunyi di balik pepohonan tersebut, perlahan mundur. Dia berusaha memutar roda di kursinya, usai melihat Reine semakin dekat ke arahnya.
~~
Marc menatap ke arah Reine dengan sangat berhati-hati. Dia berkata demikian, tidak bermaksud untuk menyinggung atau memaksa Reine. Dia hanya ingin, Reine tidak menyesal di kemudian hari, karena telah memutuskan untuk tidak menemui ayahnya.
“Aku sudah menemuinya” ujar Reine mengejutkan. Marc agak tercengang, usai mendengarnya. “Kamu... sudah bertemu? Kapan?” tanya Marc makin penasaran. “Tadi, saat mencari udara segar. Aku sempat membuatmu cemas di awal, ketika kita dalam perjalanan menuju kemari. Aku menolak untuk bertemu dengannya dan bahkan, sepanjang jalan aku menyuruhmu untuk menceritakan masa lalu. Maafkan aku, sudah membuat masalah...” sesal Reine tiba-tiba, setelah teringat perbuatannya di kereta kuda tadi.
“Aku tidak mengerti, apa yang kamu maksudkan, Rein. Tapi, jika memang kamu sudah menemui Tuan Berger... maka, tugasku sudah selesai. Aku mengajakmu kemari secara spontan, bukan untuk menyelesaikan masalahku. Tapi, aku hanya ingin kamu menemuinya”
__ADS_1
“Aku tahu, terima kasih banyak. Anda sudah repot-repot demi saya, Direktur Deval. Entah, bagaimana saya akan membalas kebaikan anda”
“Cukup bekerja saja bersama kami. Ku pastikan, semua hal baik yang kamu dapatkan, akan sebanding dengan apa yang kamu kerjakan di Underwall. Impas”
“Mungkin, kau ingin menemuinya. Aku akan menunggu di luar”
“Kenapa menunggu di luar? Ikut saja denganku. Kita akan bicara sama-sama”
“Sudah cukup untukku. Dan tadi dia juga bilang, aku tidak perlu menemuinya lagi”
“Apa masalah di antara kalian, masih belum selesai?”
Reine buru-buru menggeleng. “Oh, bukan. Bukan itu. Semua sudah selesai. Nanti, akan ku ceritakan semuanya padamu” ujarnya. Marc tampak mengangguk. Dia berusaha mengertikan Reine, atas masalah ini. Jadi, dia segera masuk ke Balai Pengobatan untuk menemui ayah Reine.
Di luar, Reine menunggu. Robin baru saja keluar dari Balai Pengobatan. Tadi, dia sempat membantu mengembalikan ayah Reine ke dalam tempat perawatan.
“Apa dengan menyuruhnya seperti itu, dendamku telah terbalas?” celetuk Reine, sesaat setelah keheningan di antara dirinya dan Robin. “Seratus persen telah terbalas. Tidak ada keraguan. Dia sampai tak bisa berkata-kata” tanggap Robin. “Terima kasih, kau sudah membantuku” ucap Reine. Robin tampak mengangguk, terlihat sama sekali tidak keberatan.
__ADS_1
Di sela-sela keheningan itu lagi, Reine menatap ke arah langit. Suara pria paruh baya tersebut, masih terngiang-ngiang di telinganya. “Semoga kau... selalu diliputi kebahagiaan. Karena ketika ku berikan nama untukmu, aku... merasa sangat bahagia. Masa lalu yang sudah terjadi ku harap, kau tidak akan pernah melupakannya” ujar suara tersebut.
Tentu, tidak akan pernah... ku lupakan. Tidak akan pernah...