
“Aku mengizinkanmu untuk hadir di Blood Party” ucap Marc diikuti ekspresinya yang tegas, seperti biasa. “Kenapa? Kenapa kau mendadak berubah pikiran?” tanya Reine, masih tak mau menerima keputusan Marc begitu saja. Dia tiba-tiba di panggil ke ruangan Marc, ketika masih bersama Max untuk menyelesaikan hal lain.
Marc terdengar menghela nafas. “Tadinya, aku khawatir. Mungkin, akan ada iblis yang berusaha mencelakaimu. Aku tidak yakin, bisa menjamin keselamatanmu. Tapi setelah ku pikir-pikir, terlalu menyembunyikanmu akan menjadi kecurigaan yang mendalam. Mereka pasti, akan menyusun siasat yang lebih gila hingga bisa saja, menyerangmu dari belakang” jelasnya detail. “Jadi intinya?” balas Reine tak sabaran. “Kami akan menjamin keselamatanmu, selama kamu berada di dekat kami. Kalau kamu seandainya tidak ikut, akan repot karena terpisah jarak. Jadi, kami putuskan untuk membuatmu hadir” lanjut Marc.
“Dan berdansa denganmu?” ujar Reine mengejutkan. Marc sampai tak dapat berkata-kata, akibat dari ucapan Reine. “Aku... tidak akan berdansa. Itu keputusan yang bulat” tolak Marc sembari berlalu meninggalkan Reine. “Dasar, pria sok!” gerutu Reine pelan.
~~
Reine memegang bahu pria itu. Dengan gaun anggun yang berwarna lembut, Reine terlihat mempesona. Dia hadir di acara Blood Party, usai ada sedikit gesekan antara Marc dengan yang lain.
Dan wajah dari tangan pria yang di tantingnya tersebut, kini terlihat jelas. Satu-satunya orang yang bersikeras tak mau tampil itu, rupanya kini telah berubah. Dia terlihat mahir berdansa, meski tidak pernah sungguhan menampilkannya di depan umum.
Sepertinya, Direktur Deval benar-benar serius berlatih, ya?
Ini pertama kalinya, dia berdansa dengan seseorang!
Tentu saja, kalau tidak, hotelnya akan terancam mendapatkan denda. Maximilien adalah satu-satunya penyelamat dulu.
Rupanya, inilah alasan mengapa Maximilien absen. Karena Direktur Deval, mengikuti acara dansa, toh!
Siapa wanita yang bersama Direktur Deval itu? Aku jadi iri!
Wahh, biarkan aku berdansa dengan Direktur Deval setelah ini...
Celoteh beberapa orang tamu yang terdengar di telinga Reine. Meski hanya berbisik, mereka seolah ingin suaranya di dengar. Mereka terus berbicara hingga orang yang sedang berdansa dengan Reine, harus terus menerus mengomel tak jelas.
Marc, pria itu.
__ADS_1
Direktur Underwall tersebut, tampaknya tak bisa mangkir dari acara ini. Dia pun harus menerima desakan para staf Underwall, agar mampu mengembalikan citra yang baik. Karena itulah, dia merelakan segalanya. Termasuk, prinsip atas alasannya menolak mengikuti Blood Party.
“Jangan menatap ke arah mereka. Tetap fokus!” perintah Marc setengah berbisik. “Aku tidak melakukannya. Dari tadi, aku hanya fokus padamu!” balas Reine kesal. Marc tampak salah tingkah di buatnya.
“Oh, Tuan Deval, kenapa anda menunduk? Anda tidak boleh menunduk, saat sedang berdansa dengan seseorang...” omel Reine yang giliran memerintah. “Aku tahu...” tanggap Marc pelan. Entah mengapa, dia tak sanggup meski hanya menatap mata Reine.
Sementara itu, Reine tampak hanyut ke dalam musiknya. Saat berdansa dengan Marc di tengah Ballroom hotel Underwall yang telah disulap dengan indahnya, Reine menemukan Robin. Pria itu, juga sedang menatapnya dengan wajah bersalah.
Namun, Reine segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dia tidak ingin melihat wajah melas Robin, yang masih berusaha menjelaskan kejadian itu. Entah mengapa, di sisi lain, Reine merasa kesal. Dan di sisi lain, Reine juga ingin memaafkan.
Reine sempat mendapati Luc yang tengah berjaga di dekat pintu masuk Ballroom. Dia terlihat sibuk, dengan walkie-talkie di tangannya. Sepertinya, pria bertubuh tinggi dan besar mirip beruang itu, lebih mementingkan tentang keamanan. Daripada, larut dalam pesta.
Kemudian, Reine menemukan Max. Akhirnya. Pria itu, sedang berdiri di lantai atas ballroom. Seakan, dia adalah sang Direktur dari Underwall saat ini. Dia terlihat mengamati jalannya pesta menggunakan sebuah teleskop kecil.
Ketika tak sengaja bertatapan, Max melemparkan senyum khas ke arah Reine. Melihat senyum itu, bunyi alunan musik dan memegang bahu Marc, Reine merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Pikiran Reine, mendadak berkilas balik dengan sendirinya.
Ruang tengah yang dihiasi lampu hias berwarna emas, sempat mengalihkan pandangan Reine. Alunan musik yang sama, terputar di sebuah mesin pemutar tempo dulu. Namun, Reine harus dibuat kaget usai seseorang mencubit pelan lengan tangannya.
“Jangan menatap ke arah lain. Fokus!” perintah suara yang tak asing, bagi Reine. Walau sedikit mengerutkan kening, pria itu tetap berusaha menikmati alunan musik. Rupanya, Reine sedang berdansa. Bukan dengan Marc, malah dengan pria lain.
Pria yang selalu membuat Reine kesal dengan tingkah manja dan selalu berusaha menggodanya. Pria yang mendadak memintanya untuk bekerja sama, menyelidiki Lady Dia. Pria yang pertama kali membuat Reine harus terjebak di dalam Underwall.
Maximilien.
“Apa lihat-lihat?” ucapnya ketus. Dia memegang erat pinggang Reine. Meski mulutnya kasar, tatapannya tajam, hatinya terasa hangat. Reine bisa merasakannya, bak mengalir ke peredaran darah.
Apa ini? Kenapa Max ada di sini? Kemana perginya Marc? Dan... tempat apa ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba, aku di bawa kemari?
__ADS_1
Bangunlah, Rein! Tidak ada waktu, untuk bernostalgia!
Siapa? Siapa kau?! Dan kenapa kau menyuruhku bangun? Lagi pula, ini bukanlah memori milikku. Pasti, kau yang membawaku kemari.
Sepertinya, orang itu sudah tidak waras! Kau telah diperdaya olehnya. Jadi, cepatlah bangun!
Siapa yang memperdayaku? Tunggu! Suara ini, aku mengenalnya. Suaramu... mirip dengan suara yang selalu membantuku. Siapa kau sebenarnya? Dan... ada hubungan apa antara dirimu dan juga Max?
Bangunlah, Reine! Marc menunggumu!!
“Rein, kamu baik-baik saja?” tanya Marc tampak cemas. Reine buru-buru mengangguk diikuti senyumnya. “Kalau kamu lelah, kita bisa berhenti dulu” ujar Marc. “Tidak perlu! Aku... baik- baik saja. Lagi pula, kita harus bisa mencapai target. Kurang lima menit lagi, kita akan mendapatkan penghargaan itu” kata Reine bersikeras.
“Maaf. Harusnya, aku tidak menyusahkanmu”
“Aku baik-baik saja, sungguh! Lagian, aku juga ingin membantu...”
“Kamu itu... selalu saja memaksakan diri”
Reine tersenyum, mendengar omelan Marc yang lucu. Namun, keberadaan Max lebih penting. Setelah sempat melemparkan senyum ke arah Reine, Max mendadak hilang dari pandangan. Bahkan, Reine tak bisa mencarinya di mana pun.
Kala waktu dansa telah berakhir, Reine buru-buru meninggalkan Ballroom. Entah mengapa, Reine harus menanyakan sesuatu yang penting pada Max. Reine sampai berlarian tanpa alas, untuk mempermudahnya bergerak.
Hingga akhirnya Reine menyadari, ada seseorang yang mengintainya dari tadi. Orang itu bahkan, terus mengikuti Reine berlari. Dan ketika Reine sampai di dekat lift, langkah orang itu, juga turut berhenti.
Bayangan di belakang Reine, membuat suasana menjadi tak nyaman. Perasaan was-was semakin menguat, ketika bayangan itu terus mendekat. Akan tetapi, pintu lift tak kunjung terbuka meski Reine terus menekan tombolnya.
Sosok tersebut makin mendekat. Reine hanya menutup kedua matanya rapat-rapat, ketika merasa, sebuah jemari hendak mendarat di bahunya. Dalam hati, Reine mengucap berbagai kata untuk memohonkan keselamatannya.
__ADS_1
“Sedang apa kau berada di sini, Arthur?”