
Sudah beberapa jam yang lalu, Gray menghabiskan botol anggur keduanya pagi ini. Dia masih menunggu Carine siuman. Usai beberapa hari yang lalu, wanita itu dengan sembrono melakukan hal yang di luar dugaan Gray.
Gray meneguk gelas terakhir anggur miliknya. Dia bak, sangat menikmati momen tersebut. Bahkan, dia meneguknya di dekat ranjang, tempat Carine sedang dibaringkan.
Tak sengaja, Gray melirik ke arah Carine yang sudah mulai bergerak pelan. Dalam hati, Gray sedang menghitung. Detik demi detik, Carine akan segera membuka mata.
“Selamat pagi, yang mulia. Bagaimana? Tidurmu nyenyak?” sapa Gray diikuti senyum khasnya. “Maximilien? Kenapa aku... bisa berada di sini?” balas suara itu. Refleks, Gray tampak tersentak. Dia hampir saja menjatuhkan gelas anggurnya.
“Rei?” tanya Gray memastikan. “Ya? Kenapa?” jawab Reine tegas. Ya, sayangnya, Carine sudah tak lagi menguasai tubuh Reine.
Gray buru-buru menaruh gelas anggurnya ke atas meja. “Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian. Dia terlihat agak mendekat ke arah wajah Reine.
“Kalau aku mengatakannya, kau pasti berpikir aku sudah gila. Max, aku merasa, sudah berada dalam posisi seperti ini selama berhari-hari” ungkap Reine agak bingung. “Kau memang tidak sadarkan diri selama itu. Tapi tenang, beberapa hari yang lalu, kau baik-baik saja kok” jelas Gray tampak santai. Reine mengerutkan keningnya. “Beberapa hari yang lalu maksudmu... setelah terkena serangan dari 3799?!” serunya.
“Ya. Dan aku berusaha untuk me-recovery dirimu lagi”
“Di mana yang lain? Kenapa aku malah berakhir di ruanganmu?”
“Marc sedang pergi untuk merencanakan hukuman bagi Arthur. Tapi sepertinya, sebentar lagi dia akan kembali. Sebab itu, sementara ini kau berada dalam pengawasanku. Kenapa? Kau keberatan?”
“Yang terpenting, kau tidak macam-macam denganku saja, aku tidak keberatan”
“Ngapain juga aku harus macam-macam pada seseorang yang sudah menambatkan hatinya ke orang lain?”
__ADS_1
Deg!
Jantung Reine bak berdegup dengan kencang. Kedua matanya terlihat melebar. Dia kaget, akan perkataan Gray yang langsung menusuk.
Gray menghela nafas, mimiknya kecewa. “Ku kira, kau tidak bisa dimiliki oleh siapapun dari kami berempat. Ternyata, kau dari awal telah memilih” ucapnya. Reine menunduk. “Aku tidak bermaksud untuk...” “Kami bersahabat dekat, lho. Kalau kau mengerti, harusnya tak usah memilih salah satu di antara kami” sela Gray mendesak.
“Maaf...” sesal Reine dengan wajah murung. “Tapi, kalau kau mendadak tak enak padaku sampai hubungan baik kita menjadi renggang, aku malah tidak akan memaafkanmu” tanggap Gray. Reine segera menggeleng. “Aku akan berusaha untuk menempatkan perasaanku. Aku tidak akan membuat hubungan pertemanan kalian berubah kacau. Aku janji. Aku tidak bermaksud untuk begitu. Aku tahu, saat mengambil langkah ini, resikonya pasti besar. Tapi...” terang Reine tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Tapi, perasaanmu pada Marc terlalu kuat. Dan kau, memang sangat mudah untuk ditipu”
“Hah? Apa... maksudmu?”
“Aku tahu, Rei. Tadi, aku hanya bercanda. Begitu saja, kau dengan mudahnya bisa tertipu”
“Tapi...”
“Kau sampai menyadarinya. Artinya, aku benar-benar sangat bodoh membiarkan diriku jatuh ke dalam lubang yang salah”
“Tidak. Kau tidak bodoh, karena Marc rupanya, juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Karena itu, tugasku hanyalah mendukung hubungan kalian. Begitu pula dengan yang lain. Berbahagialah, Reine”
Mendengar perkataan itu terucap dari mulut Gray, air mata Reine tiba-tiba menetes dengan deras. Dia tampak memeluk Gray erat. “Makasih...” ucapnya pelan. Gray tampak membalas dengan senyum, serta membalas pelukan Reine.
Kau mungkin benar. Karma akan selalu terbalaskan. Dan era ini, nyatanya adalah karma untukku. Setelah membiarkanmu menderita, akibat tindakan bodohku di masa lalu. Terlebih, aku tidak pernah mengakui bahwa, kau... adalah hal yang paling berharga untukku. Kau sudah menyerahkan hidupmu pada anak ini, ya? Dan rupanya, kau juga tak lupa untuk menepati janjimu. Kau bilang, aku akan menjadi orang pertama yang mengetahui Reine telah kembali. Sayangnya, hal itu hanyalah karanganku saja. Sebenarnya, aku cuma tidak ingin kau meninggalkanku untuk yang kesekian kali. Kalau kekuatanku masih ada padamu, artinya, kau mungkin bisa mendengar batinku. Carine, maafkan aku. Baru di era ini aku menyadari bahwa aku, tak bisa hidup tanpa dirimu. Maaf, ucap Gray panjang. Dia bak, mengungkap seluruh isi hatinya. Perasaan yang tak sempat dia selipkan pada Carine, bahkan hingga wanita tersebut, akhirnya menghilang lagi.
__ADS_1
~~
“Luc, gawat!” teriak Robin tergopoh-gopoh. Dia tampak berlari kencang menuju ke arah tempat Luc sedang berjaga. “Kenapa kau berlarian seperti bocah nakal begitu? Apa yang terjadi?” tanya Luc dengan santainya. “Tutup seluruh akses Underwall!” jawab Robin serius.
Luc segera bangkit, usai tadi sempat bersandar ke salah satu dinding Lobby. Dia menatap tajam ke arah Robin. “Arthur... tewas” bisik Robin pelan. Refleks, Luc melotot ke arah Robin dengan ekspresi heran.
“Apa yang kau... bicarakan? Marc masih dalam perjalanan membawa kabar selanjutnya, tentang proses hukum iblis brengsek itu!” teriak Luc syok. “Pelankan suaramu! Kalau kau tidak menyiarkannya dengan suara beruangmu itu, semua orang juga tidak akan pernah tahu” perintah Robin, yang mulanya dengan nada kencang, kemudian langsung berbisik pelan. “Di mana dia sekarang?” tanya Luc mulai memelankan suaranya.
“Aku belum selesai memberitahumu, Marchand. Kau pasti tidak akan percaya, kalau ku beri tahu... Arthur, tewas di sebelah jasad Lady Dia” lapor Robin dengan berita lain. Kali ini, kedua mata Luc terbuka lebih lebar lagi. Wajahnya bak sedang berkata, “kau serius?”.
“Ini bukan lagi hal buruk, Rob. Ini bencana. Bagaimana bisa kita mengatakan yang sedang terjadi, kalau kita langsung kehilangan dua orang sekaligus. Apalagi, tanpa adanya Marc di sini” kata Luc kebingungan. “Maximilien yang sedang mengurusnya. Dia adalah orang yang pertama kali mengetahui keadaan ini. Dan sekarang, dia meminta kita untuk menutup akses masuk Underwall, sebelum Marc tiba kemari” perintah Robin. “Benar. Dan dengan begitu, pelakunya juga ikut terkurung di dalam ruangan ini” tanggap Luc menyetujui.
Robin tampak mengangguk. Usai mendapat lampu hijau dari Robin, Luc segera menutup akses masuk Underwall. Beberapa kamar yang telah di booking pun, turut segera dibatalkan.
Luc dan Robin bergegas melangkah ke arah sel Underwall. “Ini adalah pertama kalinya. Insiden ini, bisa mencoreng nama baik Underwall” ucap Luc tak habis pikir. “Kau benar. Ini akan menjadi hari yang terburuk. Selama kita punya rekaman kamera pengawasnya, kemungkinan pelaku bisa segera tertangkap. Dan tak ada yang boleh mengetahui hal ini, sebelum Marc memberikan pernyataannya” ujar Robin. Luc membalas dengan anggukan setuju.
Setibanya di sel Underwall, Luc buru-buru menghampiri Gray yang masih berdiam diri di ruang kontrol. Begitu pula dengan Robin, yang berlari mengikutinya. Ruangan kontrol tersebut, tak jauh dari lift pintu masuk sel Underwall.
“Maximilien, apa yang kamera pengawas rekam? Apakah kejadian itu, berhasil terekam? Jasadnya... Di mana jasadnya?” tanya Luc bertubi-tubi, akibat rasa penasarannya yang tinggi. “Jasadnya, masih di tempat yang sama, Marchand. Pesanku, jangan ada orang lain selain kita, yang masuk ke dalam sini. Dan yang seperti kau pikirkan. Kamera pengawas, berhasil merekam detik demi detik kejadian itu” jelas Gray agak enggan.
“Kenapa kau seperti sedang murung, begitu? Apakah pelakunya... orang yang tak terduga?” tanya Luc lagi. “Tentu, semua pelaku memang tak pernah berasal dari seseorang yang sudah kita duga. Masalahnya, orang itu... tidak bisa kita katakan sebagai pelakunya” jawab Gray. Robin mengerutkan keningnya. “Apakah karena dia berasal dari sel di sini? Dari keturunan iblis yang sama?” desak Robin kemudian.
Gray menggeleng pelan. “Apakah ini... bisa dikatakan sebagai pelakunya?” balasnya balik bertanya. Gray terlihat mendekatkan monitor yang sedang memutarkan rekaman dari kamera pengawas, ke arah Luc dan Robin. Mereka berdua, terlihat langsung menyipitkan mata ke arah monitor.
__ADS_1
“Bukankah dia... Kupu-kupu pelindung?!” seru Luc dan Robin yang hampir bersamaan. Rekaman tersebut terlihat jelas. Arthur, sedang dililit oleh sekumpulan kupu-kupu putih. Sekawanan kupu-kupu tersebut, bak membentuk sebuah tornado yang di dalamnya, ada tubuh Arthur yang sedang terkunci.
“Perintah dari langit. Hukum di pasal satu ayat empat kitab kuno para Pemburu Kematian. Karma, memang lebih kejam dari pada segala hal yang ada di dunia ini”