produk gagal

produk gagal
Empat Balita


__ADS_3

Tidakkah kau penasaran, mengapa kau diberikan pengecualian oleh Langit?


Benarkah, kau akan selalu mengingatnya?


Mengapa kau seakan-akan tak peduli, saat Maximilien tiba-tiba muncul? Ketika dia muncul kembali kala itu, harusnya kau mulai berpikir. Langit memberi kesempatan. Harusnya, kau memperlakukannya dengan baik, sebagai penebusan dosa di masa lalu. Kenapa kau membiarkan dia, seperti dia akan hidup lagi nantinya?


Langit menugaskanku, agar aku menjadi Maximilien. Kau tahu apa alasannya? Selain, memberimu kesempatan untuk bertobat? Langit... masih menyayangimu, Marc. Langit ingin, kau menebusnya dengan menunjukkan bahwa, perilakumu telah berubah. Langit memberimu waktu yang panjang dan terus berulang, berharap, kau bisa mengubah cara hidupmu.


Sayangnya, kau berada di pihak para pendosa.


Aku kecewa. Dan mulai merasa, sampai kapanpun, kau tidak akan pernah berubah.


Sampai kapanpun, kematian Maximilien tidak akan membuatmu introspeksi diri.


Berterima kasihlah pada The Bride, yang telah memberimu kesempatan sekali lagi dengan memberikan satu permata di dalam tubuhmu. Jika dia tidak peduli padamu, aku pasti sudah memanggilmu dalam pertempuran itu.


Kata-kata Gray terus terngiang di telinga Marc. Di sela-sela perjalanan menuju kamarnya, Marc tak berhenti berpikir. Lalu, ketika menatap Raven yang ada di hadapannya, Marc mulai penasaran akan satu hal.


“Kenapa... The Bride memberiku permata legendaris itu?” celetuk Marc. “Hm? Apa?” tanggap Raven. “Kenapa mereka tidak membiarkanku mati saja, kalau mereka tahu aku tidak akan bisa mengubah sifatku di dunia” ulang Marc agak kesal.


“Karena mereka menyayangimu” ucap Raven singkat. Mendengarnya, Marc agak tersentak. Dia terdiam dalam keterkejutannya.


“Apakah itu... bisa dikatakan sebagai jawaban yang pas?” tanya Marc tak habis pikir. Pertanyaan tersebut, baru bisa keluar dari mulutnya setelah menenangkan pikiran sejenak. “Kenapa? Jawabanku sangat jelas, bukan? Karena mereka menyayangimu” ulang Raven lagi.


“Aku tahu, tapi jawaban seperti itu sangatlah tidak cocok”

__ADS_1


“Bagimu, kan?”


“Hah? Maksudnya?”


“Bagimu, jawaban itu tidak cocok. Tapi bagi mereka, itu adalah sebuah jawaban yang sangat pas untuk pertanyaanmu”


“Pasti, ada alasan lain yang mereka sembunyikan, bukan?”


“Tidak ada, Deval. Kau terlalu jauh memperkirakan”


“Lalu, kenapa mereka mengulang kejadian Maximilien dengan Reine?”


Raven berhenti melangkah. Kali ini, dia benar-benar harus memikirkan ucapan Marc barusan dengan serius. Dua kali serius, bahkan.


“Apakah karena, aku tidak mampu menyadari dosaku? Apakah karena, aku tidak berubah, meski mereka mengirimkan Maximilien lagi ke dalam dunia ini? Kalau iya, aku tidak masalah. Aku memang bodoh, karena menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Tapi, kenapa mereka melibatkan Reine sebagai peringatan, akan penebusan dosaku?” kata Marc tak terima. Rupanya, dia masih menyimpan perasaan sakit itu di dalam hatinya. Dia tidak bisa menerima kematian Reine.


“Aku melihatnya! Dia...” “Jujur saja, Deval. Sebenarnya, Reine itu... tidak pernah ada. Reine hanyalah sosok jiwa yang masuk ke dalam tubuh Nona. Baiklah, akan ku ungkap semuanya. Asal kau tahu saja, tugas Reine sebenarnya... bukanlah menjaga permata perak. Dia dikirim, untuk mengembalikanmu ke jalan yang benar. Kuulangi perkataanku yang tadi, kenapa itu terjadi? Ya, karena mereka menyayangimu. Baik itu yang mulia, maupun Nona” potong Raven. “Mereka begitu menyayangiku hingga... menempatkanku pada situasi yang sangat memprihatinkan. Aku benar-benar berada di titik yang terendah, saat ini...” ucap Marc jujur. Bukannya turut sedih, Raven justru tersenyum.


“Siapa bilang? Setelah kau tinggal di sini, lama kelamaan kau akan menyadari sesuatu. Mereka berdua tahu, kapan kau harus ditarik keluar dari circle yang penuh dengan polusi itu, Deval. Mereka selalu mengawasimu. Mereka bahkan, berada di dekatmu. Mereka tidak ingin, kau jatuh ke dalam lubang yang sama. Saat ini, kau merasa begitu karena kau... masih belum mengingat semuanya” ujar Raven kemudian. “Hah? Maksudnya?” tanya Marc sama sekali tak paham. “Hmm, kau sudah lupa rupanya. Tenang saja, lambat laun kau juga pasti akan mengingatnya, kok!” jawab Raven penuh dengan teka-teki.


Brakkk!


“Kau tidak tahu, hampir saja Marc terpengaruh pada para tetua sialan itu! Bahkan mereka, menyayangkan sikap Marc yang tidak peduli terhadap kematian Arthur. Kau juga tidak tahu, kan... kalau Marc lemah terhadap tekanan dari mereka?” amuk Gray. Dia marah besar, karena Carine menyuruhnya untuk tenang. Namun, dia bukan sama sekali tipe yang suka ketenangan.


“Aku mengerti, maksudmu selalu baik. Meski, caramu agak terlalu jahat. Tapi, dia tidak jadi bersekongkol dengan para tetua, kan? Walaupun dia ditekan, agar membunuh Reine yang katanya, pembawa kesialan dalam tatanan klan iblis pengisap darah... dia tetap tidak menggubrisnya, bukan?” balas Carine mencoba bertutur lembut. Gray tampak terdiam. “Dia tetaplah... anak yang kita temui dan kita rawat beratus-ratus tahun yang lalu, yang mulia. Bahkan, kaulah yang memberinya nama. Aku menyukai, setiap detik ketika kau... menimangnya” lanjut Carine.

__ADS_1


Sontak, ucapan tersebut membuat Gray tersentak. Refleks, dia menatap ke arah Carine yang sedang berdiri di hadapannya. Tak lama kemudian, dia mendadak terlihat sedih.


“Kalau begitu, memang benar, akulah yang pantas disalahkan. Karena aku tidak bisa mendidiknya menjadi anak yang baik... dia harus menjadi seorang anak yang keji”


“Jangan lupa, kau tetap selalu ada ketika dia hendak kembali ke sifat lamanya, bukan?”


“Aku tidak bisa mengubahnya”


“Kau sendiri yang bilang, kita tidak bisa mengubah watak seseorang. Namun, kita masih bisa mengontrolnya dari hal yang lebih negatif lagi”


“Dan aku, tidak berhasil mengeluarkannya dari lingkungan yang buruk itu”


“Tapi kau, berhasil membuatnya menyadari setiap langkah yang diambilnya. Salah dan benar, dia sudah mahir membedakannya. Kau sendiri yang lihat. Bagaimana dia memperlakukanmu, saat menjadi Maximilien? Dia benar-benar mengandalkanmu dan selalu menanyakan petunjuk darimu. Tidak seperti dulu, yang selalu tak ingin kalah dari Max”


Gray mulai bernostalgia dengan bayangan yang diberikan Carine. Dia tidak tahu, kapan tepatnya. Namun, dia menerima empat orang anak laki-laki dari klan iblis pengisap darah, ketika dirinya sedang dalam perjalanan menuju sebuah wilayah. Kala itu, beberapa wilayah sedang dilanda kekeringan dahsyat.


Kesimpulan utama yang ada di dalam pikiran Gray adalah kekeringan tersebut bukan disebabkan oleh cuacanya. Dan benar saja, serangan iblis Pvalka lagi-lagi membuat dunia kalang kabut. Kekeringan itu, menelan banyak sekali korban jiwa.


Namun, ada satu wilayah yang paling besar terkena dampaknya. Dan di sanalah, dia bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang sedang berhenti. Tepatnya, di sebuah gubuk di tengah sawah yang kering kerontang.


Wanita itu mengaku, dia merupakan seorang pemilik sebuah panti asuhan. Dia sedang mengungsi, usai wilayahnya sedang di jajah oleh para iblis. Padahal, dia masih memiliki tanggungan untuk memberi makan dan minum seseorang.


Ketika wanita tersebut mengantarkan Gray, betapa terkejutnya pria tersebut usai melihat empat balita sedang tertidur pulas di dalam gubuk. Keempat anak tersebut, merupakan penghuni panti asuhannya yang selamat, setelah panti terkena serangan para iblis hingga hancur.


Karena tak tega, detik itu juga Gray mendadak memutuskan sesuatu yang besar. Mengesampingkan dirinya yang harus kerepotan. Dan mencoba untuk tidak peduli dengan keacuhannya pada anak-anak. Gray, membuat sebuah pilihan.

__ADS_1


“Aku... akan merawat anak-anak ini”


__ADS_2