produk gagal

produk gagal
Makan Malam


__ADS_3

“Lihatlah aku sebagai, Marc Wilfrid Deval. Seorang pria yang kamu kenal... di tempat kerja” bisikku melanjutkan. Aku bisa melihat, kedua matamu tampak melebar. Kenapa hanya karena begini, kamu buru-buru menelan ludah?


Kuputuskan untuk tersenyum, menyentil dahimu pelan dan kembali berdiri tegak. Kamu terlihat mengernyit sembari mengusap dahimu dengan kedua tangan. “Jadi, kamu tetap akan bersikeras pergi sendirian, setelah kutunjukkan tempat makan yang enak?” tanyaku meyakinkan keputusan yang telah kamu ambil.


Namun, kamu terlihat bingung. Di satu sisi, kamu merasa tak enak padaku. Di sisi lain... kamu pasti, tidak ingin menolak bukan? Aku bisa tahu semuanya, hanya dengan menatap wajahmu saja.


Mungkin karena, terlalu sering mengawasimu. Jadi, aku mulai hafal dengan ekspresi yang berasal dari perasaanmu itu. Kalau begini terus, bisa bahaya untuk diriku sendiri bukan?


“Baiklah, kalau memang kau tidak keberatan...” ucapmu pelan. Kenapa malah terdengar, kamu yang mengalah? Bukan begitu, maksudku.


“Kalau kamu keberatan, kamu boleh pergi sendiri kok. Aku akan mengantarmu ke tempatnya” kataku. “Tidak! Tidak. Aku... sama sekali tidak keberatan. Malah, merasa terhormat” ujarmu buru-buru. Aku mengerutkan keningku. Merasa terhormat, katamu? Hhh...


Daripada terus berdebat dan tak jadi makan, aku pun melangkah mendahuluimu. “Ikuti aku. Akan kutunjukkan tempatnya” susulku memberitahu. Kamu hanya mengangguk sembari mengikutiku dari belakang.


Perjalanan ini, terasa canggung. Aku tidak tahu, apa ada yang salah. Kalau di depan yang lain, cepat sekali kamu akrabnya. Bahkan rasanya, kamu yang banyak bicara. Sepertinya, memang aku yang tidak pandai.


Oh, atau memang...


Karena dia masih menganggapku Direkturnya, ya? Tidak adil. Padahal, aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk bisa akrab denganmu seperti yang lain. Sialnya, aku memang bukan tipe pria yang modus seperti, Max. Atau pria yang lembut seperti, Robin.


Tapi, aku masih lebih baik dari pada Luc yang kasar dan kadang serampangan. Oh, apa jangan-jangan kamu malah menyukai pria yang seperti itu?!


Refleks, ku tengok dirimu yang masih berjalan di belakangku. Dengan wajah yang terkejut, kamu menatapku dengan kedua mata lebar. Lucu sekali. Seperti, anak kucing yang baru lahir.


“Ada... yang salah?” tanyamu kemudian. Bodohnya, aku yang tak sadar malah terus menatapmu lekat-lekat. Tentu, kamu langsung merasa ada yang tidak beres, bukan dengan penampilanmu?


Kamu buru-buru meraba wajah, kalau-kalau ada yang tak beres. Atau, merapikan pakaianmu yang agak kusut. Aku memang ceroboh. Tapi saat melihatmu panik begitu, aku jadi senang. Jahat, bukan?


Tak mau membiarkanmu berpikir negatif terus, akhirnya segera kuhentikan dirimu. Sembari tersenyum aku berkata,


“Tidak ada. Aku hanya memastikan sesuatu”


“Apa... karena penampilanku tidak sesuai dengan tempat makan yang bakal di datangi nanti?”

__ADS_1


“Tidak. Tidak ada kedai yang seperti itu”


“Atau... penampilanku terlihat kusut?”


“Tidak. Tidak sama sekali. Semuanya normal”


“Apa dengan penampilan begini, aku akan mengundang iblis?”


“Tidak, Rei... Tidak begitu”


“Maaf, wajahku memang menyebalkan dan sama sekali tidak menyenangkan. Sepertinya, aku harus membeli apa gitu untuk menutupinya...”


“Kamu cantik, dengan pakaian apapun yang kamu kenakan” ungkapku mendadak. Kalimat itu, bak menjebakku di tengah gurun dengan petir menyambar-nyambar. Wajahmu, seketika kembali terkejut. Tersipu? Begitulah yang bisa kugambarkan.


Keceplosan.


“Ehm maksudku, kamu cocok menggunakan pakaian apapun. Lagi pula, tidak ada restoran yang menerapkan syarat bagi pelanggannya. Jadi... tenanglah” jelasku agak kacau. Kamu terlihat mengangguk. Kupastikan, kamu baik-baik saja.


Ada sedikit rasa terpercik di dalam hati. Bisakah momen ini, terus dipertahankan? Kuharap, bukan hanya aku yang menginginkannya.


Kami mengambil tempat duduk di dekat jendela. Untungnya, tak banyak pengunjung yang datang di restoran itu. Mungkin, karena memang sudah agak larut.


Ketika buku menu disodorkan oleh pelayan, bukannya segera memilih kamu malah sibuk menatap ke sekeliling. Sebegitu takjubnya dirimu, sampai tak menghiraukanku? Apa mungkin, kamu tidak pernah datang ke restoran seperti ini?


“Sekedar informasi saja. Restoran ini dibangun lebih dari ratusan tahun yang lalu. Pemilik dari restoran ini, masih memiliki ikatan keluarga dengan keluargaku. Desain restoran ini, tetap dipertahankan seperti dahulu. Jadi, kelihatan agak kuno. Kalau kamu tidak suka, kita bisa...” “Tidak. Aku menyukai desain yang kuno” selamu cepat. Kamu menatapku, ketika menyadari sesuatu. “Maaf, bukan maksudku... menjelekkan restoran ini. Aku sangat menyukai bangunan lama. Maksudku...” lanjutmu agak terbata-bata.


Aku tersenyum, melihat tingkahmu yang panik. Rasanya, aku jadi kelihatan bodoh, karena terlalu menyeganimu. Tolong, berhenti bertindak begitu. Aku memiliki sebuah prinsip.


Akhirnya, kamu memilih menu. Setelah selesai memilih, kita pun menunggu makanan dihidangkan. Kamu tak bisa berhenti takjub.


Hanya karena hiasan lampu dari zaman lampau, kamu tak henti-hentinya menatap ke langit-langit. Dengan bibir tak berhenti mengatakan, ‘wah’ kamu terus menatap hingga melupakanku yang ada di depanmu. Tidak masalah, terpenting kamu aman.


Sejenak, aku melupakan jadwal minum anggur sambil berpikir. Rasanya, sudah lama sekali tidak makan satu meja dengan seseorang. Tanganku jadi gemetar, karena terlalu gugup.

__ADS_1


Makanan akhirnya tiba. Dari pada kuulur waktu yang membuatku akan mengalahkan prinsip, ku percepat makanku. Namun, aku menyerah setelah melihatmu kesulitan memotong daging.


Salahku. Padahal, tadi kamu tidak memesan itu. Tapi, karena aku ingin membuat makan malam ini berkesan, jadi aku memesannya untukmu. Sayang, kamu malah kesulitan memakannya.


Buru-buru ku ambil alih, piringmu yang berisi daging itu. Dengan gerakan yang normal, ku potong daging tersebut seperti biasanya. “Wah, anda keren sekali...” pujimu mendadak.


Hhhh...


“Kamu tidak pernah melihat seseorang memotong daging?” tanggapku merendah. “Pernah, tapi yang ini... cara yang anda lakukan benar-benar keren” ujarmu kembali memuji. “Kamu juga pandai jadi penjilat, ya?” godaku bercanda.


Kamu mendadak berhenti tersenyum. Aih, kecanggungan ini lagi. Salah ngomong. Selalu saja salah ngomong hingga membuatmu tidak nyaman.


“Maksudku...” ujarmu mencoba menjelaskan. Ku jentik dahimu dengan lembut. “Kamu selalu serius. Aku hanya bercanda. Dasar...” gerutuku agak sebal. “Maaf...” sesalmu sambil menunduk.


Ketika suasana kembali mencair, sesuatu yang lain tiba-tiba terjadi. Kamu tampak langsung menoleh ke arahku sembari memamerkan wajah panik. Sebelum kamu mengatakan sesuatu, aku sudah mengangguk lebih dulu.


Sebenarnya, sudah dari tadi ku rasakan. Restoran ini mendadak bergetar. Ku pikir, bisa abai sejenak. Sayangnya, getaran semakin terasa.


Beberapa pelanggan yang masih berada di restoran, buru-buru keluar. Mereka tampak panik bukan main. Sebagian dari mereka mengatakan,


“Mereka datang! Siluman dari hutan Barat! Cepat, aku tidak mau berurusan dengan mereka!”


Kamu tetap duduk di tempat, sembari menatap serius ke arahku. “Ayo, kita pergi” pintaku tenang. Kamu mengangguk. Kami bangkit dari kursi dan hendak melangkah keluar. Aku juga malas, kalau berhadapan dengan mereka.


Getaran itu makin terasa kuat. Artinya, mereka sudah dekat. Segera kutarik tanganmu ke jalan yang aman. Namun, langkahmu malah berhenti di suatu tempat.


Kulihat, kamu sedang menatap ke arah seorang anak kecil yang sedang berjongkok ketakutan. Ketika kamu melangkahkan kaki ke sana, mereka sudah datang. Mereka melihatmu, yang masih berusaha menyelamatkan anak itu.


Jadi, apa boleh buat. Sepertinya, aku harus mengamuk habis-habisan malam ini. Berarti, aku tak boleh melewatkan seorang pun.


Mereka harus mati ditanganku...


~~ Marc POV End ~~

__ADS_1


__ADS_2