
“Plakkk!!”
Tamparan keras yang berhasil mendarat dengan sempurna di pipi kanan Gray. “Tadi, kau bak superhero yang kesiangan, dengan kerennya membelaku di depan ketidak-adilan! Sekarang, kau berlagak tak bersalah dan melimpahkannya padaku, seakan-akan akulah yang menyebabkan semuanya! Selain bodoh, kau juga tak pernah punya perasaan!” teriak Carine semakin marah. “Apa kau bilang?! Wah, lihatlah! Lihatlah kelakuan burukmu itu! Padahal selama ini, aku selalu memberimu contoh yang baik. Langit bilang, kau adalah manusia alim yang pantas mendapatkan balasan dari kebaikanmu. Ini orangnya? Ini?!” balas Gray tak kalah nyaring.
“Kau! Kau salah mengatai Langit itu brengsek. Sebab, kaulah yang lebih brengsek dari mereka!!!” jerit Carine sekeras mungkin. Bahkan suaranya, terdengar mirip dengan petir yang sedang menyambar-nyambar di luar sana. Bak terkena serangan petir, Gray terkejut bukan main. Mulutnya hingga tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.
Carine akhirnya kembali bangkit. Dia melangkah, seperti hendak meninggalkan sel Underwall. “Aku tahu, kau dengan tulus melakukan hal ini. Sampai menggunakan Pedang Terkutukmu, artinya, kau berusaha menempatkan dirimu dalam bahaya. Kenapa? Karena kau ingin menebus kesalahanmu di masa lalu? Aku baik-baik saja, yang mulia. Kau tak perlu merasa bersalah sampai mengorbankan dirimu, seperti ini. Nah, sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah berusaha untuk menebus kesalahan masa lalumu, aku akan menurut” ujarnya, usai hening sejenak.
Kedua mata Gray mendadak melebar. “Apa... maksudmu?” tanyanya bingung. “Seperti katamu, harusnya aku tidak ikut campur dengan segala urusan di dunia ini lagi. Jadi, aku akan menurutimu. Aku tidak akan lagi ikut campur” jawab Carine mendadak serius.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Tentu, aku akan kembali ke tubuh anak itu lagi. Dan akan ku pastikan, tidak akan kembali lagi”
“Kau tahu betul, kau ada di sini... untuk selalu berada di sisiku”
“Itu sebabnya, aku tidak bisa menggunakan alasan itu lagi. Karena, aku bukan seorang Pemburu, seperti dulu. Bukankah, kau yang membuatnya begitu? Agar aku terlindung dan terbebas dari penebusan dosa yang harusnya... menjadi tugasmu? Padahal, dengan adannya aku... kau bisa terbebas dengan cepat. Sayangnya, kau memilih untuk menyingkirkanku. Kau benar-benar... pria yang tidak bisa ditebak”
“Aku melakukan hal yang benar. Semua telah sesuai dengan apa yang seharusnya”
“Meski, aku tak mau melakukannya? Bagaimana jika ku bilang, aku sama sekali tidak keberatan, walau harus ikut menanggung penebusan dosa-dosamu?”
__ADS_1
“Carine...”
“Kau tidak setuju, rupanya. Jawabanmu sudah jelas, tentu saja. Hari ini, berita tentang kematian Arthur akan tersebar. Baik itu dari rekaman kamera di dalam sel ini, maupun dari beberapa saksi yang melihat langsung. Bahwa, kematiannya adalah murni akibat dari perbuatanku. Karena kau melindungiku, maka hukumanmu mungkin tak akan pernah terjadi. Aku kan, bukan Pemburu Kematian? Jadi, kejadian ini akan dianggap sebagai perbuatanku, sepenuhnya”
“Carine...” panggil Gray. “Aku pergi, yang mulia. Ku harap, kau akan baik-baik saja” lanjut Carine. Dia terus melangkah ke arah pintu masuk sel Underwall. “Carine!” panggil Gray penuh penekanan.
Carine tampak kembali menengok ke arah pria tersebut. “Oh, ya. Aku mendapatkan sebuah kabar. Dua dari tujuh permata telah dikuasai oleh seorang penyihir hitam. Aku tidak yakin detailnya, tapi Arthur adalah bagian dari mereka. Dan saat ini, mereka sedang mengincar Permata Perak, alih-alih permata tujuh yang selanjutnya. Kau tahu kan, apa yang akan terjadi bila mereka menghancurkan Permata Perak?” ujarnya mengalihkan. “Aku tidak perlu informasi itu!” tanggap Gray terdengar dongkol.
Meski begitu, Carine tetap tersenyum. “Kau marah. Sepertinya, aku lupa sesuatu lagi ya?” tanyanya kemudian. “Kau... bisakah...” ucap Gray tak sampai, karena melihat langkah Carine semakin mendekat ke arahnya. “Maaf, aku sering lupa” sesal Carine dengan ekspresi tenangnya.
“Semoga... kau tidak memanggilku lagi, yang mulia. Karena hanya dengan kekuatanmu saja, semuanya sudah cukup...” bisik Carine, yang kemudian berakhir mendaratkan bibirnya, tepat ke arah bibir milik Gray. Masih dengan bersimpuh di tanah, Gray berusaha membalas ciuman itu. Namun, Carine buru-buru melepasnya. Dia menyadari sesuatu yang salah.
“Bye, yang mulia. Ku harap, kau bisa menjaga anak ini dengan baik” pesan Carine. Dengan langkah cepat, dia meninggalkan sel Underwall. Waktu yang tadinya bagai terhenti mendadak, kini telah kembali berjalan seperti semula. Bahkan jejaknya, aroma tubuhnya dan kehangatan dari bibirnya, terasa turut sirna dari tubuh Gray.
Dia... kembali menghilang,
Hanya detak waktu dan alarm bunyi peringatan dalam sel Underwall, yang terus terngiang keras di telinga Gray. Semuanya, seperti yang sudah Carine katakan. Kejadian yang menewaskan Arthur tersebut, telah terekam sebagai tindakan hukuman bagi Arthur dari sekumpulan Kupu-kupu Penjaga. Kupu-kupu yang tak lain adalah...
Carine.
__ADS_1
~~
“Apa yang akan kau lakukan, Marc? Bagaimana kau akan menghadapi para tetuamu yang menyebalkan itu?” tanya Gray. Mereka sedang berada di ruang rokok, di balkon lantai paling atas milik hotel. Marc seakan, sedang mendapatkan pertanyaan dalam sebuah tes yang paling menegangkan di seluruh dunia.
Marc tampak menghembuskan asap rokoknya ke udara. Asap itu, bak dengan bebasnya menari-nari bersama dengan angin yang membawanya terbang. “Apapun itu, aku akan menanganinya dengan baik. Jadi, kau tidak perlu khawatir” jawab Marc tampak tenang. “Siapa yang khawatir? Aku hanya bertanya, kok” balas Gray, seperti tingkah yang selalu dilakukan Maximlien seperti biasa.
Marc tampak tersenyum kecut. “Kau jarang sekali merokok” ujarnya mengalihkan. “Kau juga, kan? Kalau tidak masalah dengan para tetua, artinya, masalah ada pada wanita. Sekarang, kau takut akan keselamatan Reine, bukan?” tebak Gray, bak cenayang yang menakjubkan.
“Reine... melindunginya dari bahaya, seperti makanan sehari-hari bagiku. Aku tidak takut, hanya saja... sedikit gugup? Kemarin, aku tidak sanggup melindunginya. Dan kejadian ini, selalu berulang. Pada akhirnya, kaulah yang menjadi pelindung tetapnya. Aku, bak tertelan oleh kertas-kertas sialan yang membuat konsentrasiku teralihkan”
“Asal kau tahu saja, dia juga menjadi tanggung jawabku, Marc. Bukankah, aku yang membuatnya berada di posisi seperti ini? Jika aku tidak mengisap darahnya, mungkin dia akan hidup normal di rumahnya”
“Tanpa adanya perlindungan sama sekali?”
“Bukankah, Lady Dia lebih dari cukup?”
“Dia hanya manusia biasa, Maximilien”
“Lagi pula, Reine adalah orang yang kuat. Kau kan, yang bilang begitu?”
Tak lama, Marc terdengar menghela nafas panjang. “Permata itu... semakin ke sini, semakin banyak yang mengincar. Dan bukankah kau merasa, kekuatan Reine seperti sudah tidak sanggup lagi untuk menghalau, bukan?” tanyanya. “Apa karena, dia terlalu sering menggunakan kekuatan itu? Bukankah harusnya, memang begitu cara kerja kekuatan spesial milik si Permata?” jawab Gray sembari mengisap putung rokoknya kembali.
__ADS_1
“Haah, lucu sekali... Permata Perak itu bahkan, selalu menempatkan Reine dalam bahaya, tapi tak bisa melindungi Reine dari serangan” kata Marc mulai frustrasi. “Karena itulah, kekuatan kita dibutuhkan. Jangan-jangan... kau sudah putus asa, ya?” tebak Gray lagi. Kemampuan cenanyangnya, selalu membuat Marc terkaget-kaget. Bahkan, bisa dibilang syok berat.
“Aku... hanya takut”