
Carine menatap ke arah jam tangannya. “Benar-benar waktu yang sangat sempit. Kalau begitu... apa boleh buat? Saat ini, kita harus cepat mengejar orang aneh itu. Jadi, tetap berada di dekatku” perintahnya. Marc buru-buru patuh dan berdiri tepat di samping Carine. “Kita akan menggunakan perjalanan singkat. Jangan sampai kau terpisah. Jika hal itu terjadi, kau mungkin tidak akan bisa kembali ke duniamu” pesan Carine.
Marc menjawab dengan satu anggukan serius. Tak lama setelahnya, Carine tampak menghentakkan tongkatnya ke tanah. Seketika, mereka telah melewati lorong waktu. Melaju melalui dengan kecepatan bagai cahaya.
Perjalanan itu, terasa sangat singkat. Marc merasa dirinya terbang lebih cepat, dari pada kemampuan terbang yang dimilikinya. Di tambah dengan rasa menakutkan yang merasuk dalam jiwa, akibat dari gelapnya lorong waktu yang dilewati.
Ketika mereka hampir tiba di lorong tujuan, tiba-tiba ada sebuah halangan yang muncul. Berbagai serangan mulai mengarah pada Marc dan Carine. Serangan tersebut, seperti tembakan laser yang bertubi-tubi.
Carine sedikit tergoncang, akibat serangan tersebut. Hampir saja, Marc terpisah dari dirinya. Untung, secepat kilat Carine menarik lengan Marc.
“Jangan pernah lepaskan tanganmu dariku” ucap Carine serius. Dia juga tampak menggenggam erat lengan Marc. “Maaf, aku sedikit lengah” sesal Marc. “Fokus. Apapun yang terjadi, tetaplah berada di dekatku. Kalau kau menjauh, bagaimana aku bisa melindungimu?” ujar Carine diikuti senyum khasnya.
Menatap senyuman itu, Marc mendadak merasa nyaman. Tiba-tiba saja dia kembali kuat menghadapi semuanya. Marc memegang erat tangan Carine, sesuai arahan dari wanita itu. Dia tak lagi lengah dan tetap berada di samping Carine.
“Sepertinya, penyihir itu berada tak jauh. Persis, seperti perkiraan. Lagi pula, semua makhluk yang memiliki niat buruk, tidak akan secepat kilat mendapatkan lorong yang dituju. Jadi, apa kau sudah siap?” kata Carine sembari menatap ke arah Marc. “Aku selalu siap” jawab Marc penuh keyakinan. “Kau benar-benar favoritku!” seru Carine senang.
Kecepatan mereka bertambah. Marc agak kaget, saat menyadari betapa semangatnya Carine. Mereka menembus berbagai penghalang yang dibuat oleh penyihir hitam.
Sebelum berhasil menyentuh portal tujuannya, Carine berhasil menghentikan penyihir hitam. Dia menutup pintu portal dari jauh, menggunakan kekuatan tongkatnya. Marc juga langsung menyerang si penyihir dengan pedang bertabur Abu Kematian miliknya.
Penyihir hitam kehilangan salah satu lengannya. “Kau sudah terkepung” ucap Marc. “Siapa bilang? Kau itu... hanyalah Pemburu lemah yang tak akan bisa me... Aarrggghhhh!” tanggap Penyihir hitam yang mendadak berteriak. Dia tak sempat meneruskan perkataannya, usai Carine lebih dulu meluncurkan pedangnya.
Pedang Carine terlontar, bak anak panah yang berkecepatan tinggi. Seketika, pedang Carine tertembus hingga perut si penyihir. Marc buru-buru menoleh ke arah Carine.
Marc benar-benar kaget dengan tindakan wanita tersebut. Sangat cepat dan akurat. Berbeda dengan dirinya yang kadang, masih lengah.
__ADS_1
Tak lama setelah berhasil mengenai perut Penyihir hitam, pedang itu langsung kembali ke tangan Carine. Bak, telah diberi magnet sebelumnya. Dan untuk yang kedua kalinya, Marc lagi-lagi hanya bisa tertegun.
Dengan kekuatan yang makin menipis, Penyihir hitam tampak mempercepat diri. Dia kembali berusaha membuka pintu portal. Ketika upayanya berhasil, dia segera masuk ke dalam portal.
Carine dan Marc pun, segera mengejar di belakang. Penyihir hitam terlihat langsung terjatuh ke tanah. Dia berlari sekuat tenaga.
Bukannya mempercepat langkah seperti yang dilakukan Marc, Carine malah melangkah dengan santai. “Dia... akan pergi jauh” kata Marc saat menoleh ke arah Carine dengan ekspresi tegang. Namun, Carine tak menjawab.
Wanita tersebut, malah menatap ke arah langit. Dengan agak sedikit menghela nafas, Carine tetap melangkah pelan. Saat turut menatap ke arah langit, Marc dibuat kaget dua kali lipat.
Langit yang ada di atas mereka, perlahan tertutup awan hitam. “Apakah ini...” “Tempat Reine berasa” jawab Carine menyela pertanyaan Marc. Portal yang mereka lewati, tak lain adalah menuju ke arah dunia manusia normal. Tempat di mana, Reine pernah tinggal.
“Lihatlah, Pemburu Kematian! Kalian telah gagal! Kalian gagal! Kami... akan membunuh mereka semua!!” seru Penyihir hitam dengan bangganya. “Kembalikan dia, Pemburu” tegas Carine. “Bolehkah aku... memusnahkannya?” tanya Marc meyakinkan.
Dengan penuh perhitungan, Marc meluncurkan tongkatnya ke arah si penyihir. Dibarengi dengan keyakinan penuh, Marc seolah mengumpulkan seluruh amarah yang ada dalam dirinya ke tongkat. Berbaur dengan Abu Kematian, tongkat itu mengenai tepat ke arah luka yang dibuat Carine tadi.
Tanpa sempat mengatakan apapun, Penyihir hitam pun lenyap. Abunya tersebar ke mana-mana. Mahluk itu memang telah sirna, namun... masalah yang dia timbulkan telah menambah persoalan baru.
Kabut itu, makin menutupi langit. Tak lama, beberapa siluman muncul. Mereka mulai menyerang manusia satu per satu. Persis, dengan ucapan Penyihir hitam sebelum Marc menghabisinya.
“Apa... yang bisa kita lakukan?” tanya Marc kebingungan. Carine tak menanggapi. Dia tampak melangkah maju sembari menatap ke arah langit, bak sedang berbicara langsung dengan langit.
Carine menutup kedua matanya. Menyatu dengan angin, membaur bagai awan yang melekat. Namun, serangan dari para siluman juga semakin mendekat ke arahnya.
Tak punya petunjuk lain, Marc segera berlari melindungi Carine. Sayangnya, sebelum para siluman tersebut menyentuh sehelai rambut Carine, sebuah cahaya biru telah melenyapkan seluruh siluman yang ada.
__ADS_1
Cahaya yang berasal dari tongkat milik Carine. Marc bahkan, sampai tak dapat mengendalikan arah pandangnya. Semua terlalu silau, baginya.
Ketika berhasil membuka mata, Marc mendadak takjub. Warna langit yang tadinya murung, kini berubah kembali ceria. Biru muda yang amat cantik, dihiasi awan-awan menyegarkan.
“Kau benar-benar... hebat” ucap Marc masih kagum. Carine tersenyum ke arah Marc, sebagai balasan. “Kau pasti sangat lemah sekarang. Bagaimana kalau kita... pergi ke tempat teman-temanmu berada?” jawabnya ramah.
Akan tetapi, Marc tak dapat menjawab perkataan yang hangat tersebut. Dia lebih dulu tumbang ke tanah. Untung saja, Carine masih sempat menangkapnya.
“Benar, kan? Kau itu... Sudah benar-benar kehabisan energi” kata Carine. Dia berusaha menopang Marc dengan cara, merangkul bahunya. “Rav, tolong siapkan satu tempat lagi untuk anak ini. Keadaannya membuatku cemas” pinta Carine melalui sebuah alat komunikasi. Ya, dari jam tangan. Sama seperti milik Gray.
Bak kilat, Carine menggunakan kekuatannya untuk berteleportasi. Kini, dia telah berada di sebuah halaman dengan padang bunga dan rerumputan yang menyejukkan. Terlihat pula, sebuah jalan setapak berhias berbatuan, tempat Carine menapakkan kaki.
Tak seberapa jauh di sana, terlihat sebuah bangunan kuno mirip kastil, berdiri dengan kokoh. Sekonyong-konyong, Raven berlari keluar dari kastil tersebut. Carine, menyapanya dengan senyum khas.
“Aku pulang” ucap Carine, ketika Raven telah berada di hadapannya. “Nona... Selamat datang, kembali...” balas Raven penuh hormat dan juga, perasaan rindu. “Jadi, apa kau sudah menyiapkan tempat untuk anak ini?” tanya Carine memastikan.
Raven buru-buru mengambil alih Marc dari tangan Carine. “Kukira, kau tidak akan kembali” sapa seseorang. Suaranya yang khas, membuat bulu kuduk Raven mendadak berdiri.
“Saya akan membawanya ke dalam” ujar Raven meminta izin pada Carine. Suasana di tempat tersebut, sungguh terasa dingin. Tatapan mata antara Carine dan Gray, terlihat penuh ketegangan.
Maka dari itu, Raven buru-buru melangkah pergi. Dia lebih memilih untuk menghindari situasi penuh dendam tersebut. Raven segera membawa Marc ke tempat pemulihan. Keadaannya saat ini, benar-benar melemah.
Dan sistem kekebalan tubuh Marc yang bisa otomatis membuatnya pulih, tak lagi berfungsi dengan baik. Mengingat, luka yang dia dapatkan. Pertarungan yang di lewatinya, sungguh menguras tenaga.
“Bukankah kau masih membutuhkanku, yang mulia? Sebab itu, jangan pernah meminta Langit untuk membuatku menghilang... dari dunia ini”
__ADS_1