
Carine terpojok. Namun, Langit mungkin telah mendengar keluhannya setiap detik. Dia memang, meminta untuk berhenti berada di sisi Gray.
Dia paham betul, kehadirannya membuat Gray kesulitan. Meski dia bisa melindungi dirinya sendiri, dia tetaplah seorang wanita. Hal yang sewajarnya dilakukan oleh para pria yakni, melindungi wanitanya.
Akan tetapi dalam kasus Gray, dia berbeda. Langit memberi Gray pasangan hidup, agar dapat memecahkan masalah bersama-sama. Dengan harapan tersebut, Carine ditugaskan.
Namun, Gray malah menganggap Carine sebagai halangan baginya. Dan Carine pun, juga sudah menyadari hal tersebut. Dia tahu, menjadi pengantin Gray hanyalah formalitas.
Menikah dengan Gray merupakan suatu keharusan. Bukan sebuah takdir yang indah untuk dilakukan. Bukan pula sesuatu yang membahagiakan.
Tanpa perasaan cinta.
Awalnya, Carine memang tidak mencintai Gray. Tapi, yang namanya waktu, pasti akan mengubah segalanya. Perasaan Carine pada Gray pun, akhirnya juga sedikit demi sedikit mulai berubah.
Hingga akhirnya, Carine selalu memberi Gray perhatian lebih. Meski dia tahu, Gray tak pernah memiliki perasaan apapun padanya. Puncaknya, adalah hari itu.
Mungkin, jika Raven tak mengizinkan Gray untuk masuk ke kedai dan meneguk beberapa botol anggur, kalimat itu tidak akan pernah terucap. Sesuatu yang paling menyakitkan di seluruh dunia. Hanya diucapkan dalam beberapa detik saja.
“Aku ingin dia menghilang”
Jantung Carine berdetak dengan cepat. Kedua matanya melebar. Dan hampir saja, kantong yang dibawanya berisikan beberapa potong roti, jatuh ke tanah.
Namun, Carine memaksakan dirinya. Dia tersenyum, seakan tak pernah mendengar ucapan tersebut. Carine menganggap, kalimat itu tak pernah keluar dari mulut Gray.
Dia memaafkannya.
Tapi, hanya malam itu saja. Di malam selanjutnya, Carine tak berhenti berharap agar mengirimnya jauh dari Gray. Dengan bersungguh-sungguh.
Akhirnya, hari itu datang.
“Bersiaplah, para iblis sudah datang menyerang perbatasan ini. Raven melapor, ibu kota sudah hancur” ucap Gray sembari bersiap dengan beberapa senjatanya. Dia menyempatkan diri, menoleh ke arah Carine. “Tetaplah di sini. Aku akan menghadapi mereka. Kau, selamatkan para penduduk. Bawa mereka ke tempat yang aman” perintahnya kemudian.
Carine hanya menjawabnya dengan satu anggukan. “Ada apa dengan wajahmu? Kau tidak mau menyelamatkan penduduk?” tebak Gray acak. “Anda bercanda? Anda kira, saya masih terobsesi untuk bertarung bersama dengan anda?” balas Carine tegas.
Gray mengangguk paham. “Bagus. Kau memang harus menghentikan pikiran-pikiran seperti itu” tanggapnya. Gray buru-buru mengambil anak panahnya, yang berada di sebuah almari. Carine tampak menunduk. Dia tak melakukan apapun, selain hanya menatap Gray yang sedang buru-buru.
“Harusnya, aku tidak menerima uluran tanganmu. Harusnya, aku menolaknya dari awal” celetuk Carine. Kalimat itu, langsung membuat Gray berhenti melakukan sesuatu. Pria itu refleks menatap ke arah Carine dengan ekspresi kaget.
__ADS_1
“Kau menyesal? Kenapa? Karena kau tidak bisa berada di sampingku? Kau kira, aku akan setuju dengan apa yang direncanakan oleh Langit?”
“Aku memang tidak berharap, anda akan mencintaiku. Tapi setidaknya, lihatlah aku. Hargai aku, meski sedikit”
“Boleh saja, kalau hanya menghargai. Katakanlah, aku telah menghargaimu dengan cara, tak pernah menolak makanan yang kau buat. Atau, menjawab setiap obrolan yang kau mulai. Bagaimana? Sudah, kan?”
“Tapi ada satu hal yang kau lupakan”
Gray mengerutkan keningnya. “Kita tidak punya banyak waktu untuk main tebak-tebakan, Carine...” pintanya agak kesal. “Ini yang terakhir, aku berbicara tentang sesuatu yang penting padamu” tegas Carine.
“Kau... jangan-jangan... mulai tidak percaya pada kemampuanku, ya? Sekarang, kau meragukanku?” tanya Gray dengan nada mulai meninggi. “Kau salah jalur, bukan itu bahasannya” tolak Carine. “Aku akan selamat, Carine. Ini hanya insiden biasa. Jangan membesar-besarkan kekhawatiranmu!” seru Gray jadi kesal.
“Aku tidak mengkhawatirkanmu!”
Gray menatap Carine, usai wanita tersebut berteriak padanya. “Beraninya kau berteriak padaku!” balas Gray tak kalah keras. “Kenapa? Apa aku tidak boleh mengutarakan kemarahanku? Apa hanya kau... yang boleh marah dan bersikap kesal padaku?! Kenapa aku tidak boleh?! Anggap saja... ini yang terakhir” kata Carine tak mau kalah.
Gray hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya tak habis pikir. “Berhentilah berucap, ini yang terakhir!” tegasnya keras. “Pernahkah kau... bahkan sekali saja, menginginkanku untuk terus berada di sisimu?” tanya Carine agak menekan.
Speechless.
Gray tak dapat menjawab. Kini, Carine yang mengendalikan situasi. “Kau tidak bisa menjawabnya. Kalau begitu, semuanya sudah jelas” kata Carine, usai menunggu beberapa detik. Berharap, Gray berteriak untuk mengatakan,
Tapi, tidak. Gray hanya terdiam dengan ekspresinya yang tetap kesal, bak terkena sebuah jebakan menyakitkan. “Tidak, Carine. Aku tidak menginginkanmu untuk menjadi yang seperti itu. Aku ingin, kau hidup dengan bebas dan tak ikut mengemban tugas seperti ini” tanggap Gray kemudian.
“Saya akan menghandle penduduk. Silakan anda pergi ke perbatasan. Semoga, saya tak perlu turun tangan untuk memukul mundur para iblis itu” ujar Carine menyudahi dengan kalimat formal. Artinya, dia sudah tak ingin berdebat lagi. “Kuserahkan padamu. Aku pergi” pamit Gray. Carine hanya diam dan kembali mempersiapkan senjatanya.
Belum sempat keluar dari pintu rumah mereka, Gray kembali menoleh. “Tetap fokus, Carine. Hanya satu hal itu, yang kupinta padamu” pesan Gray. “Aku mengerti” jawab Carine tenang.
Biasanya, Carine akan menjadi orang yang selalu mengantar Gray saat pergi. Dengan wajah ceria, dia akan melambaikan tangan dan berharap, Gray selalu diliputi keselamatan.
Sayangnya hari ini, Carine lebih pendiam. Dia hanya fokus pada beberapa senjata yang akan dia gunakan. Meski Gray menunggu senyuman itu, Carine tetap tak beranjak dari tempatnya.
Tapi, Gray tak boleh merasa kecewa. Dari awal, hubungannya dengan Carine hanyalah sebatas ‘teman berjuang’. Selebihnya, tidak ada kata yang mengarah ke hal lain.
Para iblis mengarah ke tempat para penduduk bernaung. Tempat Carine melindungi mereka. Para iblis menghancurkan segalanya, lewat jalan belakang. Sungguh, sebuah rencana yang berada di luar perkiraan Gray.
Sebab itu, dia segera pergi ke tempat Carine berada. Dia terburu-buru, mencemaskan keadaan Carine yang sedang melindungi penduduk seorang diri.
__ADS_1
Dan benar, bayangan Gray. Carine telah membuat sebuah perisai pelindung untuk para penduduk. Carine mengarahkan para iblis ke sebuah ruang hampa. Dan di sana, dia telah bertarung menghabisi para iblis yang hendak mengancam penduduk.
Melihat luka di sekujur tubuh Carine, membuat Gray miris. Dia segera mengambil tindakan. Jika tidak, tubuh Carine mungkin tidak akan bisa menahannya lagi.
Wanita itu memang memiliki energi untuk memulihkan diri. Sama seperti dirinya. Karena, kekuatan mereka saling bertaut.
Akan tetapi, keadaan Gray juga tidak memungkinkan. Musuh makin banyak berdatangan. Dia juga tak bisa melepaskan situasi ini pada Raven.
Namun, energi untuk pemulihan dirinya semakin menipis. Jika Carine ikut bertarung, energi Gray akan semakin berkurang. Dari awal, energi milik Carine dan Gray memang tak dapat dipisahkan.
Kekuatan Carine adalah separuh dari kekuatan Gray.
Artinya, memang benar mereka berada di tubuh yang berbeda. Tapi, energi dan kekuatan yang dimiliki Carine, tetaplah berpusat di dalam tubuh milik Gray. Sebab itulah Carine di sebut sebagai, ‘belahan jiwa’ Gray.
Itulah yang membuat Gray selalu bilang, jika Carine adalah penghalang baginya. Karena Carine, tak memiliki kekuatan yang tetap di dalam tubuhnya. Ketika Carine sedang bertarung, itu sama saja, seperti sedang menguras tenaga Gray.
Sebab itu pula, Carine tak akan bisa bertarung bersama Gray. Sebab itulah, Gray selalu memisahkan tugasnya dengan Carine. Meskipun, mereka adalah ‘belahan jiwa’.
“Jadi, untuk mempersingkat semuanya, aku yang harus tetap berada di sini” ucap Gray tiba-tiba. Carine refleks menatap ke arah Gray. “Apa yang sedang anda rencanakan?” tanya Carine sembari tak berhenti mengalahkan musuh.
“Maaf, tapi hal ini harus kulakukan. Ini juga demi kebaikanmu” lanjut Gray. Carine berhenti membalas serangan musuh. Dia berdiri tegak dengan ekspresi tak mengerti.
Tak butuh waktu untuk berlama-lama, Gray segera melangkah ke arah Carine. Wanita itu, masih mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tak mengerti maksud dari Gray.
Hingga saat sebuah pedang keramat milik Gray dihunuskan ke arahnya, Carine baru menyadari. “Yang mulia! Apa yang... anda lakukan?” tanya Carine syok.
Tanpa mengatakan apapun, Gray menghunuskan pedang tersebut, tepat ke arah lengan Carine. Seketika, sebuah benang berwarna merah, terlihat dengan jelas. Tak ada keraguan di hati Gray. Dia segera menebas benang itu dengan kekuatan penuh.
“Gray!” teriak Carine benar-benar kaget, karena tak sempat menghindar. “Aku harus menyelesaikan ini. Jika tidak, kekuatanku akan terus berkurang. Dan penduduk, akan sangat terancam. Karena itu...” ucap Gray terhenti sejenak. Perlahan, tubuh Carine agak menghilang.
“Karena itu, aku harus memutus ikatan benang merahnya. Kau sekarang... telah ku bebaskan. Kontrak di antara kita, telah berakhir. Selamat tinggal, Carine” ucap Gray. Dalam keadaan yang semakin menghilang, Carine terus menggelengkan kepalanya. Hingga terakhir hidupnya menemani Gray, dia tak mengerti dengan apa yang telah dilakukan pria itu padanya.
Aku membencimu, yang mulia. Akan ku bawa perasaan ini, hingga Langit memberiku kesempatan untuk bereinkarnasi. Ketika kita bertemu kembali, ku harap, aku bisa membuatmu menyesali semua ini...
~~
“Kenapa anda meminta maaf, yang mulia?” balas Carine memberanikan diri. “Harusnya, aku tak berbuat begitu padamu selama ini” kata Gray menyesali. Carine tersenyum tipis.
__ADS_1
Sembari menatap ke arah Gray dengan percaya diri, Carine menjawab,
“Saya... baik-baik saja”