
“Reine, harus ikut serta dalam Blood Party. Aku yang akan bertanggung jawab atas segala hal yang akan terjadi” ucap Max mengejutkan. Tampak, kedua mata Marc menatap Max dengan tajam. “Aku tetap tidak akan memberikan izin” tanggapnya kemudian.
Max bersedekap. Dia menatap ke arah Marc dengan tatapan meyakinkan.
“Ku bilang, aku yang akan bertanggung jawab”
“Tidak akan mengubah apapun. Dia tetap tidak boleh turut serta”
“Acaranya hanya di ballroom hotel ini. Apa yang harus kau cemaskan?”
“Tidak akan”
“Memangnya, kau siapa?”
“Aku Direktur hotel ini, Maximilien. Aku atasanmu!”
Usai membentak Max dengan nada yang agak kencang, Marc terlihat membuang muka. Sementara Max, dia cukup kaget dan hanya mengangga hingga mulutnya membentuk “o”.
Namun, Max mengangguk. Dia berusaha mengertikan Direkturnya. “Baiklah, kalau itu maumu. Lagi pula, kita akan tetap kalah, meski Reine ikut ataupun tidak” ujar Max memutuskan untuk menyerah berdebat dengan Marc. “Kenapa begitu?” balas Marc bingung.
__ADS_1
Max menghela nafas panjang. “Yah... Karena yang pertama, Reine itu... tidak bisa berdansa. Dan yang kedua... Aku memutuskan untuk tidak mengikuti acara ini” ungkapnya mengejutkan. Marc membelalak terkejut. “Apa yang kau pikirkan? Kau adalah andalan di hotel ini. Apa yang akan terjadi, jika kau tidak ada? Tak masalah, hotel ini tak akan mendapatkan penghargaan lagi. Tapi, kau harus tetap turut serta. Apapun yang terjadi” bujuk Marc berusaha membuat Max mengurungkan niatnya.
Sayangnya, keputusan Max sudah bulat. Dia tidak akan mengikuti pesta, apapun yang terjadi. “Maximilien, tolonglah...” pinta Marc makin merendah. “Ada sebuah alasan, mengapa aku tidak akan mengikuti acara itu. Alasan yang pertama, Reine harus ikut. Alasan yang kedua, Reine harus berada di pesta itu. Alasan yang ketiga, karena dia akan berdansa bersamamu. Dan yang terakhir, aku akan bertanggung jawab atas segalanya” jelas Max mendesak. “Kau... sudah ku bilang, Reine tidak akan...” “Kenapa kau harus cemas? Ada kau di sana. Lagi pula, kau bukanlah orang yang lemah. Jadi, kalau kau ingin dia ikut, kau juga harus melindunginya. Apa terlalu merepotkan untuk melakukan itu?” sela Max tak sabar lagi. Sembari menatap ke arah Max, Marc tampak menghela nafas panjang.
~~
“Apa?! Marc yang bilang begitu? Tapi barusan, dia mengatakannya pada kami saat rapat. Dia akan mengikutsertakan dirimu ke dalam pesta itu” kata Robin. “Tidak. Dia bilang, aku tidak diizinkan untuk ikut. Tak masalah, Rob. Aku bisa mengerjakan hal lain” tanggap Reine berusaha baik-baik saja. Yah, walaupun dia sedikit penasaran.
Robin menatap ke arah Luc. Rupanya, Luc juga turut berpikir keras agar Reine bisa hadir di pesta, tanpa adanya masalah. Dan dengan begitu, Marc bisa memperbaiki reputasinya sebagai Direktur yang tidak pernah bersosialisasi. Juga, mempertahankan nama hotel Underwall.
“Apapun yang terjadi, kau harus berlatih dulu bersama dengan Robin. Aku yang akan mencari solusi tentang itu. Rob, tolong, kau latih dia” ujar Luc. Robin tampak mengangguk dan mempersilakan Reine masuk ke dalam ruangannya. Luc mempercayakan Reine pada Robin, untuk masalah berdansa. Sementara dia, terlihat bergegas menuju ruangan Marc.
“Rein?” panggil Robin kembali menyadarkan lamun Reine. “Hm? Ya?” jawab Reine agak kelabakan. “Kamu... tidak fokus. Kamu lelah, ya? Bagaimana kalau kita istirahat dulu?” tawar Robin. Pria tersebut tampak melangkah ke arah lemari pendingin pribadinya. “Oh, aku... baik-baik saja” ucap Reine meyakinkan.
Robin menggeleng sambil menyodorkan botol air mineral. “Agak dingin, mungkin bisa sedikit meringankan lelahmu” ujarnya perhatian. “Makasih” ucap Reine sembari menerima botol berisi air mineral dari tangan Robin.
Reine meneguk air tersebut sedikit demi sedikit. “Ku rasa, latihannya cukup sampai di sini dulu. Kamu juga sudah agak mahir” kata Robin. “Ah, aku... masih merasa belum bisa melakukannya” tolak Reine. “Oh, benarkah? Hmmm... kamu memang tidak pernah menyerah, ya? Hebat sekali” puji Robin.
Reine buru-buru menggeleng. “Kalau kau tidak menerangkannya dengan baik, aku tidak akan mungkin langsung bisa menguasai. Kau guru yang hebat, Rob” balasnya. Robin tersenyum khas. Sungguh senyuman yang memukau hati. Menatap Robin yang sedang tersenyum seperti itu, sejenak Reine merasa pikirannya telah sejuk kembali.
__ADS_1
Tak hanya merasa sejuk, Reine juga merasa sedikit berputar-putar. Ketika tubuh Reine tak sengaja terhuyung ke belakang, Robin dengan sigap telah menangkapnya. Tanpa mengatakan apapun, Robin kembali menarik tubuh Reine hingga terjatuh ke pelukannya.
Robin mendekat ke arah bahu Reine. “Kira-kira... di mana ya tepatnya, hal itu berada?” bisik Robin lembut. “A..apa?” tanya Reine tak mengerti maksud Robin. “Di sini kah?” tebak Robin sambil meraba tengkuk leher Reine.
Lagi-lagi, Reine seperti dibuat tak berdaya. Dia tak bisa melakukan apapun, selain mengerang. Ya, dia sedang mengerang kesakitan. Seperti, sudah ada cedera sebelum terjatuh. “A...apa... yang... kau lakukan?” ujar Reine berusaha melepaskan diri. “Apa yang kulakukan? Aku hanya... menyentuhmu? Apa itu begitu sakit? Berarti benar, di sini ya?” balas Robin. Dia kembali mengelus tengkuk leher Reine.
“Hentikan!” seru Reine. “Se-sakit itukah? Bagaimana kalau aku mengambilnya? Kau pasti, tidak akan merasakan sakit” tawar Robin. Dia seperti sedang membicarakan sesuatu, tapi Reine tidak mengerti apa yang sedang Robin lakukan padanya. Dia hanya merasa, sakitnya tak dapat berhenti hingga harus mengarahkan kepalan telapak tangannya ke wajah Robin.
Seketika itu, Robin terpental jauh dari tempatnya berdiri. “Reine? Kamu memukulku? Kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba melakukan itu?” tanya Robin kebingungan. Reine juga tak tahu, kenapa dia melakukan hal itu. Sebab, setelah memukul Robin, Reine merasa jiwanya telah hilang. Dia bahkan merasa, deruan angin menyibakkan rambut panjangnya. Kini, Reine terlelap dalam keheningan sementara yang penuh kenyamanan.
Akan tetapi, Robin melihat Reine berdiri dengan tegak usai memukulnya mundur. “Reine?” panggil Robin pelan. “Kau masih saja berulah, setengah iblis. Enaknya, apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu jera? Sudah lama, aku tidak memberi pelajaran pada setengah iblis sepertimu” kata Reine dengan gaya lain. “Kau... Reine? Siapa kau? Kau bukan Reine!” seru Robin. Dia tampak ketakutan.
Robin langsung memberikan serangan ke arah Reine. Meski Reine bisa mengelak, dengan terbang ke sana dan ke mari, namun Robin tetap terus menyerang ke arahnya. “Enyahlah dari tubuh Reine! Enyahlah, siapapun kau!” teriak Robin sambil memberikan serangan terakhir.
Robin mengeluarkan sebuah bola api dari tangannya. Kekuatan khas dari seorang darah campuran iblis seperti dirinya. Ketika bola api hendak mengenai wajah Reine, sebuah cahaya putih yang berasal dari tempat lain, tampak lebih dulu mengambil alih. Cahaya putih tersebut, bagai kilat mendorong bola api milik Robin hingga mengenai meja kerja di ruangan Robin.
“Sepertinya, kau sudah kelewatan, Robin Dimont. Bukankah perlakuan seperti itu, harusnya mendapatkan hukuman?” tanya Max yang tiba-tiba muncul. Max juga melangkah ke arah Reine dan membopong tubuh wanita yang langsung tak sadarkan diri tersebut. Menyadari kedatangan Max, Robin buru-buru berlutut ke tanah.
“Aku bersumpah, aku tidak melakukan hal yang kau kira. Kau salah paham. Aku... tidak berusaha untuk membuat Reine berada dalam bahaya. Aku... hanya mengajarinya berlatih. Dan kemudian, dia mendadak berubah menjadi sesuatu yang... aneh. Aku bersumpah, Max. Tidak ada maksudku sama sekali untuk menyakiti Reine” terang Robin. “Oh, benarkah? Apakah dia kelelahan, karena terlalu fokus belajar dansa? Kalau begitu, aku akan membawanya ke ruang kesehatan” tanggap Max sembari melangkah keluar dari ruangan Robin. “Max!” panggil Robin lagi.
__ADS_1
Terlihat enggan, Max menoleh ke arah Robin. “Sumpah, aku tidak bermaksud untuk menyakiti Reine” ucap Robin dengan ekspresi memelas. Max membalas dengan anggukan. “Hm, tidak masalah. Tapi kau tahu, mulai saat ini, kau harus... lebih berhati-hati” pesan Max yang kemudian melangkah pergi. Entah, apa yang diketahui oleh Max tentang kejadian ini. Namun, Robin merasa, Max tidak tahu apa-apa. Seperti Maximilien, pada normalnya.