produk gagal

produk gagal
Underwall


__ADS_3

Max membawaku kembali ke lobby. Di sana, sudah tampak Luc dan Robin menyambutku. Dengan senyum yang lebar, ku balas tatapan mereka yang ramah.


“Rei, kamu sudah kembali? Kamu baik-baik saja?” tanya Robin, seperti biasa. “Belum masuk kerja, kau sudah bikin masalah. Kau terluka? Jika kau menggunakan alasan sakit di hari pertamamu masuk, akan ku kurung kau di sel bawah tanah!” timpal Luc, yang terdengar sudah banyak mengancam. Mereka bersemangat sekali.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih dan maaf, sudah membuat kalian cemas” sesalku sembari menunduk. Max menepuk bahuku lembut. Setelah itu, dia terlihat masuk ke dalam lift. Max sempat melambaikan tangan dengan manis, sebelum pintu lift tertutup.


Sembari menatapku dengan tatapan kesal, Luc mengacak-acak rambutku. Kemudian, dia juga tampak berbalik meninggalkanku dan masuk ke dalam lift yang satunya. Menyebalkan, sih. Tapi aku ngerti, sebenarnya dia juga khawatir.


Tinggal Robin. Aku agak kaget, saat dia ikut menyapaku. Padahal, niatku ingin membawa makanan ini ke ruangan dirinya di rawat. Tapi sepertinya, batal.


“Kamu baik-baik saja? Tusukan trisulanya waktu itu, benar-benar cepat dan menusuk begitu dalam” tanyaku memulai percakapan. Seperti biasa dan selalu begitu, dia tampak membalas dengan senyuman hangat terlebih dahulu. “Tentu, karena aku iblis yang kuat, luka sebesar apapun, pasti bisa sembuh dengan cepat” jawabnya lembut.


Aku mengangguk dengan perasaan lega. “Kamu masih tidak percaya? Mau kuperlihatkan di sini?” goda Robin sambil membuka baju hingga bagian perutnya sedikit terlihat. Astaga, perut kotak-kotak itu... Bagai roti sobek yang sempurna.


Buru-buru, ku sadarkan diriku dan membuatnya kembali menutup perut. “Aku percaya. Aku percaya! Siapa bilang, aku tidak percaya?” tanggapku terdengar panik. Meski begitu, dia hanya menatapku dengan diikuti tawanya yang lebar. Tolong, kendalikan pesonamu Robin...


“Ah, ya, hampir lupa! Besok kamu harus sudah ada di ruangan Marc pagi-pagi sekali. Jadi sekarang sebaiknya, kamu kembali ke kamarmu dan beristirahatlah” kata Robin. Aku mengangguk paham. Sembari menunduk memberi hormat, aku berpamitan,


“Kalau begitu, aku kembali ke kamar. Bye, Rob...”


Robin terlihat mengangguk. “Perlu kutemani?” tanyanya, usai aku sampai di depan pintu lift. “Tidak perlu, makasih. Kamu juga harus istirahat. Meski sudah pulih, kamu harus tidur dengan cukup” pintaku agak cemas.


Kalau mengingat kembali kejadian itu, Robin terlihat sangat kesakitan. Dia menahan sakit sambil masih menghalangi keberadaanku dengan punggungnya. Dia sangat peduli sekali padaku. Bahkan, ketika tubuhku masih sering pingsan hingga harus dirawat sekitar tiga hari tanpa henti.


Terlalu larut membicarakan Robin, tak terasa aku sudah tiba di depan pintu kamarku. Hari ini, benar-benar hari yang penuh dengan kejutan. Tak beberapa lama setelah membaringkan kepalaku di atas bantal, kedua mataku mulai terasa berat.

__ADS_1


Sempat ku berkata dalam hati, aku sedang tidur di kasur yang sangat empuk dan nyaman. Enak sekali. Kehidupanku yang biasa berjalan normal, mendadak berubah drastis.


Benar kata ibu. Kalau hariku terasa ringan, maka akan ada hal yang terasa berat sedang menunggu. Sekarang posisiku terbalik. Semua terasa berat. Dan balasannya, ada pada kenyamanan yang kurasakan saat ini.


Ibu...


Wajahnya yang tersenyum, membuatku rindu. Kantuk mulai membuat wajahnya agak menghilang. Tak terasa, perlahan ku terlelap dalam tidur.


~~


Esoknya, agak setengah terburu-buru aku berlari menuju ke ruangan Marc. Ya, benar. Lagi-lagi, aku terlambat bangun. Padahal, ini hari pertamaku bekerja.


Mendadak, kepalaku langsung muncul bayangan Luc dengan wajah mengerikan dan sedang menatapku tajam. Matanya, berubah merah membara. Kedua tangannya, telah siap mencincangku. No!!


Ini realita. Yang kuceritakan di atas itu, sungguhan ekspresi Luc ketika aku sampai di ruangan Marc. Kalau saja Marc tidak menghentikan Luc, dia mungkin bakal benar-benar mencincangku.


Stop, aku tidak boleh membalas. Kali ini, aku yang salah. Karena itu, aku harus menahan mulutku agar tidak bicara yang tidak-tidak hingga membuat Luc makin marah. Jawab dengan sopan, Rei...


“Maaf...” sesalku pelan. Hanya itu, yang sanggup kukeluarkan dari mulutku. “Tidak masalah. Aku menyuruhmu datang pagi-pagi, bukan untuk memarahimu. Luc, bagaimana dengan pelatihan hari ini?” kata Marc, yang kemudian beralih ke arah Luc.


“Sudah siap. Biar saya yang mengantar Miss Dallaire ke sana” jawab Luc. “Hm, tolong antar dia. Tapi sebelum itu, aku akan berbicara dengannya sebentar. Jadi, tunggu saja diluar” pinta Marc. Luc mengangguk mengerti. Usai menunduk memberi hormat, dia segera pergi meninggalkan kami berdua.


Belum sempat kubuka pembicaraan, Marc terlihat melangkah menghampiriku. Tangannya, memegang lembut beberapa rambutku yang panjangnya, hampir sepinggang tersebut. Wajahnya sangat dekat. Apa yang sebenarnya, sedang dia lakukan sih?


Tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulutnya, Marc hanya menempelkan dahinya ke atas dahi milikku. Getaran tubuh yang terasa, akibat detak jantungku yang tak karuan, mulai membuat nafasku makin sempit. Apa... yang sedang kau lakukan?

__ADS_1


Pertanyaan yang sama, terus keluar dari benakku. Kalimat itu seakan, hendak meluncur keluar dari bibirku. Namun, bibirku sendiri pun, tak dapat menghandle.


Lidahku kelu. Bibirku beku. Telingaku mendengar, suara nafasnya yang mulai menyatu dengan nafasku. Saat kulirik ke atas sejenak, aku telah melihat bibirnya yang sedang membisikkan sesuatu tanpa bersuara. Jaraknya... dekat sekali.


“Direktur?” panggilku pelan. Tak ada jawaban. Dia tetap berada di posisi yang sama. “Tuan... Deval?” panggilku lagi. Sayangnya, semua tetap tak ada yang berubah.


“Marc?” “Husssh...” selanya pelan. Aku pun hanya bisa diam di tempat. Tak lama setelah itu, akhirnya dahinya telah terlepas dari dahiku.


“Aku mencoba menghilangkan jejak iblis yang semalam, mengganggumu di pertokoan” jelasnya kemudian. “Kau tahu, kalau aku diserang? Kupikir, hanya Robin dan Luc yang tahu!” tanggapku kaget. Marc menyunggingkan senyumnya yang khas.


Dia bersedekap sambil kembali menyentuh dahiku, dengan menggunakan dahi miliknya. “Apa yang tidak ku ketahui tentangmu? Apapun dan kapanpun kejadiannya, selama kamu ada di sana, aku tak akan pernah luput.” balasnya bernada menggoda. Mendengarnya berbicara begitu, aku hanya sanggup mengangguk pelan.


Marc tersenyum senang, usai berhasil membuatku jantungan. Dia segera melangkah menjauh dariku. Sedetik saja jika hal itu tadi tak cepat berakhir, jiwaku mungkin tidak akan sanggup lagi menahan. Iblis sialan!


“Luc akan mengantarmu ke tempat latihan. Tolong, belajarlah dengan baik ya?” pesan Marc. “Kau tidak tanya, mengapa aku bisa berada di sana? Meninggalkan hotel?” tanyaku membahas semalam. “Bukankah itu... privasimu? Kukira, kamu pasti butuh waktu untuk menghabiskan waktu sendiri. Jadi, kenapa aku harus penasaran, kalau aku sudah tahu ke mana kamu akan pergi?” jawabnya balik bertanya.


Hatiku seperti tersentak. Jadi, dia sudah tahu? Apakah karena tidak ingin menggangguku sendiri, diam-diam dia mengirim Max untuk melindungiku? Begitukah? Serius??


Usai menutup pelan pintu ruangan Marc, aku segera beralih ke Luc yang telah menunggu. Tanpa berkata-kata lagi, dia mengarahkan jalanku menuju ke lift. Luc tampak menekan tombol ke arah ruangan yang kami tuju.


Lift yang membawa kami, terus melaju turun dan turun. Tiba-tiba, hawa yang cerah dan nyaman, mendadak berubah menjadi suram dan terasa aneh. Ketika pintu lift terbuka lebar, hawa suram menjadi terasa makin menusuk tubuhku.


Ketika kakiku mulai turun dari lift, aku melihat dinding-dinding besi yang kokoh di hadapanku. Lantai yang terbuat dari besi. Da suara rantai yang berisik, mengawali pelatihan pertamaku sebagai pegawai di hotel tersebut.


“Selamat datang di, Underwall, Miss Dallaire. Ini adalah tempat yang pernah dibahas dengan Robin. Sebuah tempat yang secara khusus, hanya di tempati oleh para iblis berlevel tinggi. Sel Bawah Tanah yang sangat kami banggakan” jelas Luc. Aku bergeming, tak tahu harus menanggapi apa. Luc beralih menatap ke arahku.

__ADS_1


“Oh, ya, kau belum diberi tahu ya? Tempatmu bekerja ini, bukanlah Golden Luxury Hotel. Melainkan, bangunan untuk para iblis bercatatan kriminal, Underwall Dungeon. Jadi, jangan salah paham. Karena kau, tidak akan bekerja layaknya, di hotel sebelah. Dari sini kukira kau sudah tahu, apa yang harus kau lakukan...”


__ADS_2