
“Aku yakin, dia bukanlah iblis biasa. Kekuatannya malam itu, sungguh bukan seperti kekuatan iblis pada umumnya. Apa ya? Aura yang dia keluarkan, juga terasa berbeda” ucap Reine diikuti pikiran-pikirannya yang mulai menebak-nebak. Sembari menopang dagunya, Reine melahap roti isi untuk makan siang. Jam istirahat siangnya, hanya dihabiskan untuk memikirkan kejadian beberapa waktu lalu.
Reine tak bisa move on dari kejadian yang menimpanya bersama Marc, waktu itu. Meski berusaha mengalihkan, Reine tetap merasa penasaran. Apalagi setelah kejadian itu, Marc hanya mengantar Reine kembali ke kamar dan tak terlihat lagi.
Mungkinkah, dia sengaja tidak berkeliaran karena takut, aku akan bertanya-tanya? Tidak. Kalau dia takut, tidak mungkin dengan mudahnya menunjukkan kekuatan itu, pikir Reine serius.
“Yo, honey!” sapa Max bernada manja, seperti biasa. Tak lupa, dia tampak melambai-lambaikan tangannya, walau masih terlihat dari kejauhan. Max berlari kecil ke arah meja, tempat Reine makan di kantin hotel.
Reine tersenyum ke arahnya yang tak lama lagi tiba. “Sudah makan?” tanya Reine kemudian. Max mendadak memegangi dadanya. “Kau... baik-baik saja?” tanya Reine lagi, usai melihat Max yang memegangi dada.
“Aku tersentuh. Honey, kau benar-benar perhatian sekali!” puji Max diikuti senyum manisnya. Beberapa tamu hotel yang singgah di kantin, langsung meleleh setelah tak sengaja melihat tingkah Max barusan. Sayangnya, Reine sudah mampu beradaptasi dengan baik di hotel tersebut. Dan tentunya, Reine juga terbiasa dengan sifat Max yang memang senang tebar pesona.
Max duduk di hadapan Reine. Melihat Reine kembali menopang dagu, dia pun turut menopang dagu di atas meja kantin. “Kau gelisah. Ada sesuatu yang mengganggumu ya?” tebak Max tepat sasaran. “Sedikit... Mungkin karena, Robin tidak bisa menjawab kegelisahanku, makanya masih terpikir hingga sekarang” tanggap Reine, yang berakhir dengan menghela nafas.
“Jadi, masih soal yang waktu itu ya? Aku ingin sekali membantu, tapi pengetahuanku juga tak bisa sampai di sana” kata Max lesu. Dia tampak membaringkan kepalanya ke atas meja. Wajahnya, agak berkerut.
Reine mengangguk pelan. Dia terlihat menyuguhkan roti isinya pada Max. Tak lama, Reine pun menanggapi perkataan Max. Reine berujar,
“Aku mengerti, kalian memiliki rahasia pribadi yang tidak boleh diceritakan. Tapi untuk yang ini, aku merasa tidak bisa melupakannya. Otakku tidak mau menghapus rasa penasaranku”
“So sorry, Honey...”
“Tidak. Tidak masalah”
__ADS_1
“Aku tetap merasa tak enak. Bagaimana, ya?”
“Lupakan saja. Aku tidak bermaksud untuk membebanimu, kok. Perlahan, aku pasti bisa melupakannya”
“Oh, ya!!!” teriak Max tiba-tiba. Teriakan Max membuat Reine tersentak. Bukan hanya Reine, bahkan tamu hotel yang berada di kantin. Karena itu, Max harus repot-repot meminta maaf.
“Apa yang kau lakukan, sih? Untung saja, mereka tidak marah” dengus Reine sebal. “Mana mungkin, mereka marah pada pria setampan diriku?” balas Max penuh percaya diri. Reine hanya bisa geleng-geleng kepala, dengan sikap Max yang terlalu percaya diri.
“Jadi, apa?” tanya Reine, kembali ke topik. “Oh, ya. Kenapa kau tidak mencari petunjuk dari Perpustakaan Kuno?” jelas Max. “Perpustakaan... apa?” tanya Reine lagi.
Max tampak memutar kedua bola matanya. “Perpustakaan Kuno!” ulangnya agak marah. “Iya, tahu. Tapi, aku kan enggak tahu di mana letak Perpustakaan yang kau maksud” kata Reine menyempurnakan pertanyaannya. Max menghela nafas. Sebelum Max berubah kesal lagi, dia segera menarik tangan Reine dan membuatnya menuju ke suatu tempat.
“Max!” seru Reine dongkol. Dari tadi, pertanyaannya tak kunjung dijawab. Meski diteriaki begitu, Max tetap saja terus diam dan membawanya ke arah lorong. Lorong itu, berakhir di gudang hotel. Tapi ketika kau berbelok, ada sebuah pintu berukuran besar berwarna emas.
Dan lucunya, meski sudah bekerja di hotel ini agak lama, Reine malah baru tahu kalau ada sebuah ruangan berukuran besar. Di dalamnya, banyak sekali buku-buku yang telah tertata rapi. Ajaibnya, buku-buku tersebut akan mengorganisir dirinya sendiri.
“Perpustakaan yang tenang... adalah kelemahan utamaku. Karena aku sangat mudah bosan dan tidak menyukai suasana sepi, jadi... Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Maafkan aku, Honey” sesal Max. “Tidak masalah. Terima kasih, sudah membawaku kemari. Meski dengan... paksaan yang tak wajar” ujar Reine masih kesal. Max terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tanda bahwa, tindakannya agak ekstrem.
Sepeninggal Max, Reine menuju ke arah mesin sensor yang lebih mirip dengan, mesin ATM tersebut. Dia menyebutkan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan kejadian tempo hari. “Tombak, buku usang, kekuatan yang dapat menghancurkan para siluman dan iblis seketika” ucapnya.
Kemudian, Reine memilih tempat duduknya. Perpustakaan itu, lebih sepi dari dugaan Reine. Dia sempat berpikir, tamu pasti memadati Perpustakaan. Sayangnya, malah tak ada satu pun tamu yang berada di sana.
Mungkinkah, ini milik pribadi? Jadi, tak ada tamu yang berada di sini, batin Reine.
__ADS_1
Beberapa saat menunggu, buku-buku itu datang menghampirinya. Reine pikir, akan ada banyak buku yang dia pelajari. Namun ternyata, hanya satu buku yang datang. Buku bersampul hitam tersebut, tampak sudah usang. Bahkan warna kertasnya, telah menguning.
Untungnya, tulisan masih dapat dibaca. “Sejarah yang Tak Dapat Terungkap: Pemburu Kematian. Jilid satu” baca Reine. Tanpa pikir panjang, Reine segera membuka buku tersebut. Dia juga dengan cepat membaca halaman demi halaman.
“Pedang Kiamat, Busur Keramat dan Revolver Terkutuk. Semua itu adalah senjata milik Pemburu Kematian yang dapat diidentifikasi secara pasti. Untuk Tombak dan Lima Bilah Mata Pisau, tidak dapat dipastikan adalah milik Pemburu Kematian” lanjut Reine membaca pada halaman 56. Tak lama, dia terlihat mengerutkan kening. “Jadi, apa maksud semua ini? Kenapa buku ini, yang hanya bisa memberiku petunjuk? Malah jadi tambah bingung” keluh Reine.
Walau begitu, dia tetap tak menyerah untuk membaca halaman selanjutnya. “Sebuah buku usang yang mendadak muncul disebut dengan, Catatan Kematian” kata Reine agak keras. “Catatan Kematian? Oh, jadi, yang dibawa Marc waktu itu adalah... Catatan Kematian?” ujarnya menyimpulkan.
~~
“Kau bawa ke mana, Reine?!” seru Luc keras. “Duh, kalau ngomong yang tenang dikit dong. Berisik tahu! Lagian, aku sudah dengar” respon Max dengan nada keluhan. “Ke mana?!” desak Luc lagi. Max menghela nafas panjang. “Perpustakaan Kuno. Kenapa? Kalau kau ingin dia tidak terus penasaran, minimal katakan sesuatu!” jawab Max balik ngotot.
Padahal, keduanya sedang berada di ruang kerja Marc. Dan si pemilik ruangan pun, juga berada di sana. Dia duduk di kursinya sembari menatap Luc dan Max berdebat.
“Tuan, sudah ku bilang kan? Tolong, lakukan sesuatu” pinta Luc memohon. “Kau yang telah memberitahunya soal rahasiamu. Jadi, bukankah lebih baik kau sendiri yang menyelesaikannya? Sebelum semuanya, menjadi lebih gawat? Rei itu... bukan wanita yang mudah percaya begitu saja” timpal Max ikut mendesak Marc. Namun, si Direktur Underwall tersebut masih terlihat mengelus dagu. Dia mencoba untuk berpikir lebih jauh.
“Aku mengerti maksud kalian. Tapi, bagaimana pun Rei harus tahu. Meski, ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak ingin, masa lalunya yang penuh dengan trauma itu kembali merenggut hatinya. Namun, aku akan tetap menyelesaikan apa yang telah ku perbuat” tanggap Marc, pada akhirnya. Baik Luc maupun Max, terlihat mengangguk mengerti. “Apapun perintah dari anda, akan saya laksanakan...” ucap Luc.
~~
“Semua orang yang memiliki sebuah Catatan Kematian, selepas itu manusia biasa ataupun bahkan iblis, mereka di sebut dengan... Pemburu Kematian?” kata Reine menyimpulkan. Setelah membaca hal tersebut, Reine mendadak terdiam. “Jadi maksudnya, Marc adalah Pemburu Kematian?” tanyanya bernada ragu.
Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka lebar. Luc tampak masuk ke dalam dengan wajah panik. Nafasnya juga terdengar, terengah-engah.
__ADS_1
“Reine, gawat...” ucapnya kembali tenang. “Ada... sesuatu yang terjadi?” tanya Reine tak kalah panik dengan ekspresi Luc yang tadi. Tanpa mengatakan apapun, Luc hanya menatap ke arah Reine dengan ekspresi misterius.
“Apa yang sedang terjadi, Luc?”