produk gagal

produk gagal
Mimpi atau Nyata?


__ADS_3

Marc menemukan beberapa gua, tempat persembunyian para iblis yang tidak menginginkan peperangan. Saat ini, telah terkumpul sepuluh gua yang tersebar di seluruh titik di sekitar Underwall. Dari sepuluh tempat tersebut, di dalamnya ada kurang lebih dua puluh orang yang bersembunyi.


Marc, Robin dan Reine mencoba untuk mempersatukan mereka. Hingga hari mulai gelap, mereka berkumpul di hutan kota yang dalam. Meski di tengah pusat kota, panjang hutan itu dapat menyatukan ke hutan kota lain hingga, bermuara di daerah perhutanan nan jauh dalam pedesaan.


Reine tampak membaur dengan kelompok para wanita. Dia sedang memasak makan malam bersama yang lain. Meski dalam keadaan darurat, energi harus tetap di stabilkan. Jika tidak, mereka tak akan bisa melawan bala tentara penyihir hitam.


Sementara Marc, Robin dan Raven, mereka sedang bertukar pikiran dengan para pria. Di setiap gua, rupanya telah terbentuk beberapa orang yang menjadi pemimpin rombongan itu. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas mengenai rencana menahlukkan penyihir hitam.


Di sela-sela memasak, seorang wanita 50-an mendadak tak bersemangat. Dia termenung, kala menyiapkan makanan untuk malam ini. Sambil mengaduk-aduk sup dalam sebuah tungku besar, wanita tersebut sesekali mengusap peluhnya yang bercucuran.


“Biar saya gantikan. Istirahat dulu. Sepertinya, ibu kelelahan” ucap Reine ketika menghampiri wanita tadi. Buru-buru, wanita tersebut menggeleng kuat. “Saya baik-baik saja, Nona. Saya akan melakukannya hingga selesai. Anda saja yang beristirahat. Dari tadi, anda sangat bersemangat hingga hampir mengerjakan semuanya” tanggap wanita itu. Reine tampak tersenyum. Dia juga terlihat duduk di samping wanita tersebut.


“Saya mengerti. Anda... pasti tidak pernah membayangkan hari yang menakutkan ini... kembali datang” ujar Reine sembari menatap ke arah langit. “Saya baik-baik saja...” balas wanita itu. Kali ini, dia tampak menatap sedih ke arah Reine. “Tapi, tidak dengan anak-anak saya. Dulu, mereka benar-benar takut, ketika peperangan semakin bergejolak. Hingga saya menjamin bahwa, perang tidak akan pernah terjadi lagi. Semenjak itu, kami juga sudah berusaha beradaptasi, meski masih merasakan trauma. Semua orang pun, kami pikir juga memiliki pikiran yang sama. Sayangnya, mungkin hanya kami yang merasa... bahwa orang-orang mulai berhasil sembuh dari trauma mereka. Namun, tidak dengan kami. Kami selalu terbayang-bayang akan perang lagi. Dan ternyata...” lanjut wanita tersebut kembali menunduk.


“Siapa nama anda?” tanya Reine mencoba untuk mengalihkan. “Susan” jawab wanita itu. “Susan... Bu Susan... nama yang bagus. Jadi, apakah anak anda berada di sini?” tanya Reine lagi. Bu Susan tampak mengangguk. Dia pun langsung menunjuk ke arah dua anaknya yang berada tak jauh. Kalau dilihat, sepertinya seumuran dengan Reine. Mungkin, lebih muda?


“Anda dari klan mana?”


“Klan penyihir”

__ADS_1


“Wah! Sama seperti ibu saya. Ibu juga berasal dari klan penyihir”


“Benarkah? Apa ibu anda juga berada di sini?”


“Sayangya, ibu saya sudah lama meninggal. Dulu... dia juga menjadi salah satu penyihir yang melindungi dunia manusia. Sayangnya, aku... tidak memiliki kekuatan apapun sepertinya. Walau sulit bertahan dari serangan para iblis, aku tetap berusaha bertahan hidup”


Bu Susan tercekat, usai mendengar jawaban dari Reine. Dia buru-buru memeluk hangat tubuh Reine. “Ibumu... pasti bangga, karena dia memiliki putri sepertimu. Kamu mampu bertahan hingga saat ini. Dia pasti, sangat bangga” ucapnya pelan. Reine tampak mengangguk.


“Sebab itu, Bu Susan juga harus kuat menghadapi ini. Kita bersama-sama, melawan semuanya demi kedamaian dunia kembali. Aku yakin, dunia ini... pasti akan dapat kembali seperti semula” kata Reine bertekad kuat. Bu Susan terlihat mengangguk setuju dengan perkataan Reine.


“Tuan Deval, Tuan Dimont, suatu kehormatan bisa berada di sini bersama dengan anda. Sayangnya, saya harus bertemu dengan anda sekalian, dalam keadaan seperti ini” sapa seorang pria, pemimpin dari salah satu gua yang berkumpul. “Pempimpin dari klan iblis elang, suatu kehormatan. Sayang sekali memang, kita semua harus bertemu di situasi yang gawat. Namun, hari ini membuat kita kembali diingatkan oleh masa lalu. Masa di mana kita semua sama-sama mendambakan tahun penuh kedamaian. Untuk itu, kita sekali lagi... akan menghadapi semuanya, bersama-sama untuk melindungi dunia ini demi terciptanya kedamaian itu lagi” ujar Marc. Dengan situasi yang tak memungkinkan, Marc berusaha untuk menyambungkan persatuan.


Usai menikmati makan malam, para pria bergegas mempersiapkan persenjataan yang ada. Robin tampak membantu mereka melumurkan Abu Keamtian di setiap senjata yang digunakan. Marc juga tampak sibuk menyampaikan pemikirannya, tentang langkah-langkah yang harus di lakukan saat dalam keadaan terhimpit.


Semilir angin hutan yang tercium menghangatkan, bak membawanya pergi ke suatu tempat. Perlahan, Reine menutup kedua matanya. Pikirannya, seolah terombang-ambing dalam angin.


Sosok yang tengah berdiri tak jauh di hadapannya itu... adalah Marc. Namun, bayang-bayang pepohonan seakan mengubah segalanya. Bagai kilat menyambar, rupa Marc kini menjadi sosok seseorang yang sangat dikenal Reine.


Maximilien?

__ADS_1


Wajah tersebut tiba-tiba mencuat di dalam pikiran Reine. Gayanya yang biasa menggoda, tampak berubah cuek dan menyebalkan. Maximilien, seakan menatapnya dengan agak kesal.


“Kenapa? Kau merindukanku? Tenang saja, aku baik-baik saja. Di sana, kau pasti sedang menebak-nebak. Apakah aku sungguh berada di dunia manusia? Kenapa aku harus melewati portal sendirian? Dan kenapa aku... meninggalkan kalian bertempur di sana, seperti seseorang yang tak bertanggung jawab?”


Max tersenyum khas, seolah mengejek. “Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak merindukan orang yang pengecut sepertimu. Bisa-bisanya... dalam keadaan genting seperti ini, kau menyuruh kami untuk bertarung sendiri. Kau kira, kau siapa bisa menyuruh kami dengan begitu beraninya? Tanpamu, kami bisa kok bertarung sendirian!” balas Reine dongkol. Amarahnya, seakan telah berada di ubun-ubun.


Bukannya membalas lagi, Max malah tertawa. “Sebelum kau lebih kaget lagi nantinya, akan ku beri tahu satu hal. Reine, aku... bukanlah Maximilien. Kau pun... juga bukan Reine Dallaire. Kau adalah... Carine, kupu-kupu penjaga. Sekarang, tetaplah ingat siapa dirimu. Lalu, kembalilah ke tempat dirimu berada. Di mana Langit, telah memberimu takdir untuk melindungi segalanya. Kita akan segera bertemu lagi... walau kau, tak menginginkannya” ujarnya kemudian. Reine mengerutkan kening. Dia penasaran dan ingin sekali menanyakan satu hal lagi. Akan tetapi, bayangan Max menjadi kacau. Pria tersebut, perlahan luntur dan menghilang dari balik kanvas.


Rei...


“Rei!”


“Reine!”


Sebuah suara menyadarkan Reine. Dengan terburu-buru, dia membuka kedua matanya lebar-lebar. “Kamu baik-baik saja?” tanya Marc yang kini, wajahnya memenuhi hampir di seluruh pandangan mata Reine.


Reine segera membalas dengan sekali anggukan. “Seperti rencana. Kamu harus tetap berada di belakangku, apapun yang terjadi. Kamu mengerti? Tidak ada perdebatan” perintah Marc tegas, seakan Reine pernah ngotot untuk berjuang di garda depan. Meski dia ingat akan perdebatan sengit dengan Marc malam itu, Reine tetap kebingungan.


Mana yang harusnya Reine sebut sebagai, sebuah mimpi? Berdebat dengan Marc? Ataukah... bertengkar dengan Max? Dia tak mengerti.

__ADS_1


Namun, ada satu hal lagi yang membuatnya makin tak mengerti. Selain, langit yang telah berubah terang. Dan...


Bala tentara penyihir hitam, beserta Luc yang sudah siap menghadang di depan. Ketika menengok ke kanan dan ke kiri, Reine baru saja menyadari. Hari ini adalah harinya. Hari di mana dia dan setengah penduduk di dunia baru, sedang bersiap untuk menyerang tentara penyihir hitam. Termasuk, si penyihir hitam yang tampak duduk di atas kuda liarnya.


__ADS_2