
Robin mendadak memerintahkan pada Reine untuk datang ke ruangannya. Namun, ketika Reine tiba di ruangan Robin, dia malah tak menemukan si pemilik ruangan itu di manapun. Berkali-kali Reine memanggil, tetap tak ada jawaban.
Tak lama setelah itu, Max tiba-tiba datang sambil menarik lengan Reine dari belakang. “Dia sudah menunggumu” ucapnya. “Hah? Siapa?” tanggap Reine kebingungan. Max tak menjawab dan langsung membawa Reine ke arah ruangan lain. “Kemana kau akan membawaku? Max?!” tanya Reine mendesak.
Setelah sempat cek-cok sedikit, akhirnya mereka berdua sampai. Melihat pintu yang berada di hadapannya, Reine tampak menghela nafas panjang. “Kenapa... kau membawaku kemari? Bukankah, Robin yang memanggilku?” tanya Reine lagi. Dia menatap ke arah Max yang ada di sebelahnya.
Akan tetapi, Max malah angkat bahu cuek. Ekspresinya sangat menyebalkan, kalau semakin dilihat. “Masuklah” perintahnya kemudian. “Tunggu, akan kuatur dulu nafasku” pinta Reine. Sayangnya, bukan Maximilien namanya, kalau tidak menggoda Reine seharian.
Max langsung mengetuk keras pintu ruangan Marc. “Hei!” seru Reine kesal. Dia juga berusaha menghentikan tangan Max. Reine menahan kepalan tangan Max yang masih mengetuk pintu. “Kubilang, tunggu!” dengus Reine marah.
Sesuai dugaan, Max hanya menanggapi dengan menjulurkan lidah dihiasi ekspresi wajah jelek. Hampir saja, Reine mencubit pipinya, kalau Marc tidak mendadak membuka pintu. “Rein, kamu sudah datang rupanya. Silakan masuk” perintah Marc. Pria tersebut tampak masuk kembali ke dalam ruangannya.
Sebelum masuk, Reine lebih dulu menoleh ke arah Max. “Tenang saja, kau enggak bakal dimakan kok. Sudah sana, masuk!” ucap Max menenangkan. Mendengar Max berkata demikian, Reine merasa aneh. Sepertinya, Max yang terkenal selalu menggodanya itu, tiba-tiba saja berubah.
Reine tidak tahu apa hal yang mengubahnya, namun dia merasa lebih nyaman ketika bercerita dengan Max. Meski pria tersebut, pernah membuatnya merasa trauma dengan serangan tiba-tiba yang dia lakukan di lorong Luxury Hotel, kala itu. “Aku tahu. Setelah ini, kita harus bertemu. Kau bilang, akan menyelidiki sesuatu? Aku ingin membahasnya lagi” ujar Reine.
Max mengangguk diikuti senyum khasnya. “Sampai nanti” balasnya sembari menutup kembali pintu ruangan Marc. Reine mengangguk.
Saat ini, Reine sedang berada di dalam ruangan Marc lagi. Setelah beberapa minggu, dia memilih untuk selalu menghindarinya. Tak tanggung-tanggung. Bahkan, ruangannya pun, juga turut Reine hindari.
Namun saat ini, dia malah sudah berada di sana. Berdiri, tepat di hadapan Marc. Pria itu, masih seperti biasa. Tak pernah teralihkan dari kertas-kertasnya.
Dan seperti biasa juga bagi Reine. Dia menunggu, melihat-lihat sekeliling hanya untuk sekedar mengalihkan rasa bosan. “Sudah makan?” tanya Marc tiba-tiba. “Sudah” jawab Reine membalas basa-basi Marc. “Duduklah” perintah Marc. “Tidak, terima kasih. Saya... cukup di sini saja” tanggap Reine menolak dengan halus.
__ADS_1
Jujur saja, dia masih merasa kesal. Perkataan dari Direktur Underwall tersebut, masih tertanam di otak dan pikirannya. Semuanya masih membekas. Bahkan, perasaan kecewa itu.
Marc akhirnya menghentikan pekerjaannya. Dia terlihat melepas kaca mata. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu” ungkapnya kemudian. Reine mengangguk, bak telah siap mendengarkan.
Entah, apa yang akan Marc katakan lagi. Setelah kejadian demi kejadian, Reine tak tahu dia akan dimarahi seperti apa. Dengan nada biasa saja ataukah... lebih keras lagi? Reine hanya menunggu.
“Maafkan aku...” kata Marc, usai sempat hening. Mendengar penyesalan yang mengejutkan, Reine malah terlihat membatu di tempatnya. Seorang Marc Deval yang awalnya mencurigainya, kemudian menyesal? Kenapa? Apakah kecurigaannya, baru terbukti sekarang?
Reine kembali fokus. Ini adalah kesempatan bagus untuknya, untuk meluruskan segalanya. Termasuk, niat Marc mengatakan hal sekasar itu beberapa hari yang lalu. Tentu, Reine mengerti apa yang ada di balik perkataan Marc kala itu.
“Kau... hanya ingin aku terhindar dari ancaman Lady Dia, bukan? Kau berusaha melindungiku, agar aku tidak terjebak dalam rencana Lady Dia. Sebenarnya, kau tidak sedang mengabaikan perkataan Luc soal Lady Dia. Namun, kau hanya tidak ingin membagikan rencanamu pada yang lain. Kau berusaha mengatasinya sendiri. Dan sayangnya, semua selalu gagal” tebak Reine, seolah tepat sasaran. Dia juga tak lagi formal, karena saking tak sabar mengeluarkan segala isi hatinya. “Maximilien memberitahumu?” tanggap Marc mengalihkan keterkejutannya sejenak.
“Semuanya terlalu mudah ditebak, meski Max tidak memberitahunya padaku. Aku tahu, dari awal semenjak kau berubah”
“Meski aku tidak mengenal kalian lebih dalam, namun pertama kali saat tiba di sini... aku tahu. Robin yang kalem dan kadang, terlihat misterius. Luc, pengawal setia yang selalu mendengar keluh kesah yang lain. Max yang terkadang selalu menggoda dan menyembunyikan sesuatu. Dan kau... Kau yang menerima tanggung jawab dengan sepenuh hati dan berkomitmen untuk menyelesaikan segalanya, tanpa merepotkan orang lain”
“Itukah, diriku?”
“Yah, singkatnya, orang yang paling merepotkan”
Mendengarnya, Marc agak terkejut. “Paling... merepotkan?” ulangnya, seperti tak habis pikir. “Kenapa? Aku salah? Di duniaku, orang yang bertindak seperti itu dinamakan, egois” jawab Reine blak-blakan. “Aku tidak egois! Jangan samakan aku dengan manusia di duniamu” tegas Marc. Rupanya, dia tersinggung dengan perumpamaan yang digunakan Reine.
Reine tampak angkat bahu. “Yah, maaf saja. Tapi, apa yang kukatakan adalah hal yang kurasakan selama ini” ujarnya. “Sejak muda, aku sudah dilatih untuk menjadi seorang pemimpin klan. Dan sifat egois adalah... salah satu sifat yang tak pernah ada di dalam kepribadianku selama belajar menjadi pemimpin” debat Marc tak mau kalah. “Kau tahu... bahkan iblis pun, bisa saja berubah. Siapa tahu, tahun demi tahun yang kau habiskan, bisa mengubahmu menjadi orang lain. Meski kau, tak pernah merasakannya. Kadang, aku juga merasa begitu kok pada diriku sendiri. Itu hal yang normal” tanggap Reine.
__ADS_1
Marc mendadak terdiam. Reine buru-buru menutup mulut. Dia tidak ingin, bicaranya jadi kebablasan karena terlalu mengikuti amarah. Marc memang menyebalkan, ketika menuduhnya sebagai biang masalah. Akan tetapi, tanpa Marc, Reine mungkin tidak akan bisa memunculkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam dirinya.
Reine sudah ketar-ketir, menunggu ucapan yang hendak keluar dari mulut Marc. Direkturnya tersebut, terlihat bersedekap dengan satu tangannya, mengelus-elus dagu. Dia serius. Apalagi, tatapannya yang berubah semakin tajam begitu.
Mungkin, dia benar-benar akan melahapku hidup-hidup, batin Reine telah membayangkan. Skenario terburuk dari apa yang telah diutarakan oleh mulut tak berfilternya.
“Begitukah? Kurasa perkataanmu... ada benarnya” celetuk Marc kemudian. Akhirnya, Reine bernafas lega. Rasanya, batu yang mengganjal di dalam hati, langsung luruh begitu saja.
“Kamu mungkin ada benarnya, tapi... aku tetap tidak akan membenarkan semuannya. Aku, bukanlah orang yang egois”
“Kau egois! Kalau tidak, kau akan mengumpulkan orang-orang untuk memikirkan sebuah rencana. Kau juga tidak akan membentakku dengan kasar, menuduh sembarangan dan bahkan, mencurigaiku sebagai pengacau Underwall, walau kau sebenarnya tahu dalang dibaliknya!”
“Ku bilang, aku tidak egois!”
“Kau egois!”
Marc mendadak diam. Dia terlihat menunduk sejenak. Kalau sedang berpikir begitu, ekspresinya membuat orang takut.
Tak lama, dia kembali menatap ke arah Reine. Kali ini, tatapannya agak terasa lembut, meski masih menyimpan sedikit amarah. “Aku tidak bisa melakukannya” ungkapnya tak lama.
“Hah? Apa?” tanya Reine tak paham ucapan Marc. “Aku tidak bisa! Aku tidak bisa membuat orang-orang berkumpul dalam satu meja dan membicarakan tentang kekacauan yang terjadi. Dan mendengar pendapat masing-masing untuk menghasilkan sebuah rencana. Aku tidak bisa” jelas Marc mengejutkan.
“Tapi, kau kan seorang... Direktur?”
__ADS_1