
Bagai kilat menyambar, kekalahan telak para penduduk dunia baru membuat Reine syok. Dia tetap berdiri tegak, meski dengan tubuh penuh luka. Menghadapi penyihir hitam dan beberapa tentaranya, yang masih kokoh berdiri.
Menatap Marc yang masih terjebab di tanah dan tak sadarkan diri, membuat Reine miris. Bahkan Raven pun, seakan tak kuat untuk bertahan. Lalu, jangan pernah tanyakan keadaan Robin.
Sebab pria itu, kini benar-benar bak orang mati. Dia tak bergerak se-inci pun. Luka baru yang di dapatkannya, terlalu parah hingga melampaui yang kemarin.
“Berikan permata itu, maka akan ku biarkan kalian menikmati hidup” pinta penyihir hitam bernada ramah. Reine tertawa geli. “Menyerahkannya? Padamu? Dan kau akan membiarkan kami hidup? Lelucon konyol macam apa yang sedang kau mainkan? Kau kira, kami terlalu bodoh?” tanggapnya.
Penyihir hitam tampak membalas dengan senyum tipis. “Dari dulu, selain sok, manusia seperti dirimu memang selalu terlahir bodoh. Nyatanya, tidak seorang pun dari kalian yang dianugerahi dengan kekuatan. Tidak seperti kami. Kedudukan kami, harusnya lebih baik dari kalian. Langit pun, pasti mendukung langkah kami. Langit bahkan, memberikan kekuatan yang dahsyat hingga kalian... jatuh dengan mudahnya” kata penyihir hitam menyombong. “Sudahi saja ceramahmu itu. Biasanya, orang yang banyak bicara... punya otak sekecil udang” balas Reine tak kalah sakit.
Tentu, siapapun yang mendengarnya pasti akan murka. Tak terkecuali, penyihir hitam. Dia tampak mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menerkam Reine.
Dalam hitungan detik, penyihir hitam tampak terbang ke arah Reine. Dengan menggunakan mantra khasnya, dia membuat sebuah senjata. Beberapa anak panah, mendadak menghujani Reine.
Tanpa kehilangan akal, Reine membuat sebuah perisai lebih besar dari normalnya. Dia benar-benar mengerahkan seluruh kekuatan yang bisa. Usai pisaunya, sempat terpecah saat melakukan perlawanan tadi.
“Enyahlah, manusia lemah!” teriak penyihir hitam. Reine tak kuat lagi menahan semua serangan penyihir hitam yang makin kuat. Perisai pelindungnya pecah. Dan dia pun, terjatuh kembali.
Penyihir hitam semakin dekat. Dengan membawa sebilah pedang di tangan, dia siap menusukkan pedang itu ke arah Reine. Dan sayangnya, wanita tersebut tak menyadari.
Bukan.
Bukannya tak menyadari. Tubuhnya, lagi-lagi terasa tercekat di tempat. Reine tak bisa bergerak.
Pedang penyihir hitam semakin mendekat. Sorakan penuh semangat, membakar semangat si penyihir. Seakan membunuh orang berdosa atas nama Langit, penyihir hitam seolah merasa bangga.
Ketika pedang mulai bersiap menikam, sebuah anak panah tiba-tiba meluncur dari belakang si penyihir. Anak panah tersebut berhasil mengenai tangan penyihir hitam.
Pedangnya pun, gagal mendarat di tubuh Reine. Syukurlah. Tepat pada waktunya.
__ADS_1
Ketika semua orang menoleh ke arah sang pelaku, semua mendadak syok. “Marchand? Kenapa kau melakukan hal bodoh?” tanya penyihir hitam, masih menahan amarahnya. “Meski aku menginginkan duniaku kembali... Tapi aku tidak pernah lupa, siapa diriku sebenarnya. Aku tetaplah pelindung Underwall. Meski mampu mengalahkan penjaga lainnya, aku tetap tidak bisa mengingkari sumpahku. Dalam keadaan apapun, aku akan selalu...” jawabnya terhenti.
“Melindunginya”
Ucapan Luc membuat hidup Reine seakan kembali. Dia berusaha untuk bangkit. Dia tahu, Luc pasti tidak akan pernah meninggalkannya begitu saja.
“Kau dengar? Sepertinya, kau salah merekrut orang” sahut Marc. Rupanya, dia juga berusaha untuk bangkit lagi. “Kau memang bisa mengalahkanku, tapi... aku tidak akan menyerah begitu saja!” teriak Marc.
Disaat bersamaan, Luc dan Marc tampak menyerang ke arah penyihir hitam. Mereka berdua, mengerahkan cakarnya ke arah penyihir hitam. Dari arah yang berlawanan. Satu dari arah belakang dan lainnya dari arah depan.
Namun, bukannya tak membuahkan hasil, penyihir hitam masih tak mau menyerah. Meski dia terkena cakaran Marc, dia dengan cepat beralih tempat. Berteleport ke arah belakang Luc.
“Matilah...” bisik penyihir hitam. Seketika, dia menusukkan pedang tepat mengenai Luc. “Arrghh!” rintih Luc keras.
Pedang semakin menusuk tubuhnya. Ketika puas, penyihir hitam menarik kembali pedangnya. Beberapa detik setelahnya, Luc tampak terjatuh ke tanah dengan darah mengalir deras.
Penyihir hitam menikam tubuh Marc dengan penuh semangat. “Matilah, Pemburu Kematian...” bisiknya mencemooh. Dia pun, mencabut pedangnya dengan kasar. Penyihir hitam telah menang.
“Dasar... bodoh...” ucap suara yang tak asing. Saat mengetahui orang yang ditikamnya, penyihir hitam sangat syok. Dia tampak melotot hingga urat matanya terlihat jelas.
Akan tetapi, dia juga merasa lega. Akhirnya, si pelindung dari permata berhasil dia bunuh. Alih-alih harus memberi Pemburu Kematian pelajaran, penyihir hitam malah mendapatkan keberuntungan dua kali lipat. Dengan begitu, mengambil permata perak akan sangat begitu mudah.
“Reine!” teriak Marc turut kaget. Dia tak menyangka, Reine akan berlari ke arahnya. Serta, melindunginya dari tikaman penyihir hitam.
Reine terjatuh ke tanah, tepat di samping Luc yang masih setengah sadar. Luc tampak kesal, kecewa pada dirinya. Dia menyesal, karena tak bisa melindungi wanita itu.
Sementara Marc, meratapi Reine yang sedang sekarat. Dia segera membaringkan kepala Reine di paha kakinya. Tanpa berucap apapun, Marc berulang kali mengucap beberapa kalimat.
Sebuah kalimat yang tak asing di telinga Reine. Suara yang selalu membuatnya tenang. Seakan jauh berada di dimensi yang lain.
__ADS_1
“Magie de toutes les magies... Le pouvoir de tous les pouvoirs. Cieux, entends nos voix! S'il vous plaît, protégez-le de tous les pouvoirs maudits...” bisik Marc sembari menahan darah yang mengucur di luka Reine. Dia bersusah payah menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan Reine. Wanita itu, harus pulih apapun yang terjadi.
Begitu dramatis, sebagai pelindung dari Underwall dan Reine. Kini, Underwall telah hancur. Dan Reine, satu-satunya harapan mereka pun, sedang terkapar. Berjuang untuk tetap bertahan.
Luc yang mencoba untuk memulihkan diri dengan kekuatan iblisnya. Dan Robin, yang masih tak sadarkan diri tak jauh di sana. Hanya tinggal Marc dengan luka dan energi terakhir, mencoba untuk melindungi Reine.
Melihat kacaunya kota yang semakin hancur dan para hero yang berangsur lumpuh, Raven memberanikan diri untuk bangkit kembali dan bertransformasi. Naga raksasa tersebut masih memiliki misi serius, agar tak dihukum oleh si yang mulia. Dia akan tersegel dalam kehidupan yang membeku begitu lama, bila terus berdiam diri.
Diikuti para penduduk yang tersisa, Raven memimpin sebuah serangan lurus dengan menggunakan api birunya. Satu-satunya kekuatan yang tiada tandingan itu, akhirnya muncul. Dengan sekali embusan, bala tentara penyihir hitam pun lenyap.
Kemudian, di susul pergerakan dari para penduduk yang berlari kencang ke arah penyihir hitam. Meski satu persatu mereka berhasil di taklukkan, mereka tak menyerah. Dengan kekuatan seadanya, mereka terus menyerang, membabi buta ke arah penyihir hitam.
Sayang, pertahanan mereka tak dapat berlangsung lama. Sebab, penyihir hitam memilih untuk menyudahinya dengan serangan besar. Dia melemparkan benda kecil berbentuk bola ke arah para penduduk.
Tanpa menunggu lama, bola pun terbuka dan meledak ke arah para penduduk. Raven, lebih dulu menyadari dan melindungi para penduduk dengan sayapnya. Kemudian, dia segera meluncur ke arah penyihir hitam yang sedang beralih ke arah Reine.
Tentu, dia ingat dengan permata peraknya. Raven menyembur ke arah sang penyihir. Sebuah perisai melindungi penyihir hitam sepanjang api disemburkan.
Dengan gerakan cepat, penyihir hitam membalas serangan. Dia menebas leher naga Raven hingga terpotong menjadi dua. Marc yang murka, akhirnya turut melemparkan tongkatnya.
Namun, penyihir hitam lebih dulu tahu tentang pergerakan itu. Dia pun, membuat sihir pemindai. Dia berhasil menghindar dari tongkat milik Marc. Dan sebagai gantinya, dia melontarkan sebilah pisau ke arah Marc.
Meski berhasil mengelaknya pula, tapi bukan itu tempat pemberhentian si pisau. Rupanya, pisau telah menargetkan tubuh Reine. Dengan jitu, pisau pun masuk ke dalam tubuh Reine, tepat di mana permata perak berada.
Bak telah di duga, permata perak pun berhasil di keluarkan dari tubuh Reine. Marc yang tadi sempat jatuh hingga lengah dalam mengawasi Reine, pun dibuat buru-buru bangkit. Dia berusaha menarik kembali permata.
Perebutan, tak terelakkan. Dan sayangnya, permata tetap jatuh pada si penyihir hitam. Dengan bangga, dia mendongak ke atas langit diikuti tawanya yang menggelegar.
Dia telah menang.
__ADS_1