produk gagal

produk gagal
Menyalahi Aturan


__ADS_3

“Aku bukan Pemburu, Rein” tolak Marc berusaha menutupi. “Katakanlah, kau bukan mereka. Jadi, apakah kau sudah siap menerima konsekuensi yang akan terjadi?” tanya Carine. “Apapun itu, aku akan selalu melindungimu. Jadi, kamu tidak perlu takut” jawab Marc, untuk yang kesekian kali dia menjanjikannya.


“Aku tidak khawatir, ku bilang, seandainya. Bagaimana jika kau, tidak bisa melindungiku?” kata Carine mencoba untuk lebih serius lagi. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Hal itu, tidak akan pernah terjadi” balas Marc tak setuju. “Bagaimana jika tidak bisa?” ulang Carine. Marc hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.


Dia, tak sanggup.


Dalam perjalanan setelah keluar dari ruangan Marc, Carine berpapasan dengan Gray. Pria itu, mungkin masih mengawasinya. Apa lagi alasan yang bisa membuat keberadaannya menjadi masuk akal?


“Dia... menolakmu, bukan?” tebak Gray sembari meneguk segelas anggurnya. “Keras kepala, perisis sepertimu. Makanya, dia cocok kalau sedang berbincang denganmu. Dia adalah reinkarnasi dari dirimu, meski dalam bentuk yang berbeda. Benar-benar membuat kesal!” dengus Carine blak-blakan. “Jangan lupa, aku The Great Savior...” ucap Gray mendadak membanggakan jabatannya. Dia menegaskan, dirinya berbeda dari Marc.


“Yah, karena Marc hanyalah Pemburu Kematian biasa?”


“Kau akhirnya menyadari hal itu”


“Yah, walau anak itu berusaha menutupinya”


“Tentu saja hal yang bagus. Dia harus menyembunyikan privasinya”


“Anggur putih, ya?”


“Kenapa? Kau mau?”


“Artinya, kematian akan segera tiba, bukan? Kematian dari seseorang yang dekat” tebak Carine, dia tahu ciri khas Gray. “Kau penasaran?” tanggapnya tanpa berusaha menutupi. “Sudah beberapa tahun ini, langit tidak memberiku buku kuno. Mereka bilang, aku tidak perlu bekerja dan hanya membuatku terus menyelamatkan beberapa orang. Jadi kupikir, aku sudah terbiasa dan tidak penasaran akan isinya” tolak Carine. “Bahkan, walaupun seseorang yang kau sayangi akan pergi?” tanya Gray berusaha menggoyahkan keputusan Carine.


Namun, wanita tersebut kembali mengangguk. “Aku sudah hidup di dunia ini, melewati era demi era. Karena dirimu, aku terbiasa tentang perasaan, ‘kehilangan’. Awalnya, aku selalu mengeluh padamu. Semua yang terjadi, tidak pernah adil. Tapi, aku tahu. Langit memang sengaja melakukan itu, untuk membuat segala sesuatu menjadi tampak berubah. Kehilangan, akan memunculkan sesuatu yang baru. Kematian, akan diisi oleh kehidupan baru. Dunia akan selalu seperti itu” tegasnya tak berubah pikiran. Gray mengangguk, seolah memahami apa yang dirasakan Carine. Tentu, karena mereka memiliki tujuan yang sama di dunia ini. Bahkan, garis takdir dan waktu kehidupan yang sama.


“Marc, tidak bisa menghandle segalanya” celetuk Gray kemudian. “Aku tahu, dia memang masih terlalu muda untuk memegang Underwall” tanggap Carine menyadari. “Kau benar-benar tidak mau minum?” tawar Gray sembari menyodorkan segelas anggur putih ke arah Carine. Keduanya, lagi-lagi berada di ruangan rahasia milik Gray.


Sayangnya, Carine tak berubah pikiran. Dia tetap menolak tawaran tersebut. “Sisakan saja untuk dirimu nanti” pintanya. “Kenapa?” tanya Gray sembari mengerutkan keningnya. “Kau tidak pernah berubah. Kau selalu menghabiskan berbotol-botol, usai mengantar seorang jiwa ke langit” jawab Carine dengan ekspresi datar.

__ADS_1


Gray tersenyum malu. Kepribadiannya, selalu bisa Carine tebak semudah itu. Dia tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Dua dari tujuh permata, kau bilang?” tanyanya mengalihkan. Carine masih terlalu fokus menatap ke arah pemandangan kota, yang terlihat jelas dari balkon ruang rahasia milik Gray. “Bukankah, menurutmu, mereka terlalu lamban?” tanya Carine sebagai tanggapan.


Gray mengangguk setuju. “Dari pada beratus-ratus tahun yang lalu. Yang ini, mereka lamban. Atau karena mungkin, kita sedang deja vu? Tidak, kita merasa mereka lamban, karena kita telah mengalami hal ini berkali-kali. Sudah yang ke...?” “Tiga ini?” sela Carine memberi jawaban. Gray kembali mengangguk. Tak lupa, dia tampak menyeruput anggurnya lagi.


“Yang selalu membuatku penasaran adalah... wajah mereka yang tereinkarnasi. Apakah mereka tetaplah musuh yang sama? Seolah, kita hanya berputar-putar di dalam waktu yang panjang dan tak berujung. Musuh kita selalu sama dan semuanya, pasti bisa kita atasi dengan cara yang sama”


“Ada hal yang berbeda, Rin. Dan rupanya, kau belum benar-benar mempelajarinya”


“Apa itu?”


“Situasi dan... perasaan setiap orang yang kau bilang, sama itu. Dulu, tidak ada Underwall. Tidak ada Marc, Robin atau pun Luc. Mereka semua, entah dulunya reinkarnasi dari apa. Tapi yang jelas, itulah yang berbeda. Di setiap momen, selalu ada tantangan. Dan setiap tantangan itu, selalu terasa berbeda”


“Kau benar. Aku setuju saja, karena kau sudah mengalami kehidupanmu berkali-kali. Seperti, tak pernah ada habisnya. Kau berusaha untuk menerima”


“Aku harus, ini adalah hukumanku. Kau ingat?”


“Lindungi saja dia, yang mulia. Ini bukan permintaan, tapi perintah” kata Carine bersungguh-sungguh. “Kau sedang memerintah The Great Savior?” tanya Gray yang lagi-lagi sedang pamer kekuasaan. Carine tampak menghela nafas panjang sembari menjawab dengan nada kesal,


“Aku pengantinmu, bukan? Perintah yang ku berikan, juga bukanlah hal yang besar. Jadi, kenapa kau terus protes?”


“Artinya, kau hendak melepaskan tanggung jawab. Kau ingin, aku tetap menjaga anak itu? Singkatnya, kau tidak akan berada di sampingku untuk melindungi dua dunia, Rin? Wah, otakku cepat sekali menyadarinya. Benar, kan?”


“Kau harus melindunginya sendirian, yang mulia”


“Kau sedang membalaskan dendam?! Kau sengaja membiarkanku berjuang sendirian? Kalau anak itu tidak terbunuh, artinya kau tetap akan terus bersembunyi di dalam sana!”


“Aku bahkan, tak memiliki akses lagi ke dalam buku kuno, jadi apa yang kau harapkan dariku?”


“Seperti yang kau bilang, kau tetaplah pengantinku, Carine Anne-Marie Vaillancourt...” debat Gray dengan suara paraunya. Carine tampak menunduk, kemudian menatap ke arah lain. “Aku tidak bisa melakukannya tanpa dirimu...” lanjut Gray.

__ADS_1


“Kau bisa melakukannya. Yang sedang terjadi sekarang, tepat seperti saat kau memilih untuk memutuskan ikatan dari gelang ini!” kata Carine mempertegas dengan menunjukkan, gelang yang selalu menjadi pengikat antara mereka berdua. Gray menggelengkan kepalanya, dia tak mau mendengar hal itu lagi. “Dan kau bahkan, tak menyesalinya. Kau tidak menginginkanku, yang mulia. Sejak awal, kau hanya ingin berkontrak untuk memanfaatkanku sebagai, Ratu yang baik. Dengan begitu, kau akan lolos dari hukuman berantaimu!” amuk Carine tak dapat terbendung.


Pertikaian itu, tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja. Bak, tidak ada lagi solusi yang bisa menyelesaikannya. Tak ada penyesalan yang keluar dari mulut Gray. Dan tak ada yang bisa memadamkan api, di dalam hati Carine.


Semuanya berlanjut, seperti yang telah berlalu sebelum-sebelumnya. Marc yang pergi ke tempat pertemuan para tetua, Luc yang ditempatkan di Lobby untuk berjaga serta Robin, yang diperintahkan oleh Marc untuk mengawasi Underwall. Itu semua Marc lakukan, demi menenangkan kekhawatiran Carine.


Dan tibalah ketika hari itu berlangsung. Di mana, Arthur dengan cerdiknya, keluar dari dalam sel Underwall. Dia pun, melangkah bebas dan menghampiri sel Lady Dia secara langsung. Di mana lagi, kalau bukan sel yang tepat berada di samping selnya.


Sesuai dengan apa yang telah di khawatirkan oleh Carine sebelumnya, Arthur memanfaatkan Lady Dia sebagai umpan. Agar Carine atau yang dikira Arthur, Reine akan datang menyelamatkannya. Sebab, para penjaga pasti meributkan hal tersebut dan meminta Arthur untuk segera menghentikan tindakan di luar kendali.


Untuk itu, jika para penjaga ingin keributan berhenti, mereka harus membuat Reine berada di sana. Dan dengan mudahnya, para penjaga terperdaya. Wajar, karena mereka harus menyelamatkan Lady Dia, alih-alih Carine yang diyakini, memiliki kekuatan yang lebih hebat. Para penjaga hanya yakin, Carine bisa melindungi dirinya sendiri.


Akan tetapi, mereka tidak pernah berpikir, kekacauan justru akan lebih besar ketika memanggil Carine untuk pergi ke sana. Sebab, mereka tak tahu jika, seorang The Bride of Great Savior yang sedang berada di tubuh Carine. Tugasnya selain mendampingi Great Savior untuk menjemput para iblis yang telah habis waktunya di dunia, dia juga bertugas untuk menghukum mereka yang kelewat batas.


Tanpa buku kuno, tanpa perintah dan tanpa ada yang tahu, Carine tiba di sisi gelap sel yang tak diterangi oleh cahaya. Dia bersembunyi dari Arthur yang sedang merajuk. Permata perak, pasti akan dia gunakan untuk menghancurkan dunia ini. Persis seperti keinginan para anggota klannya, menghadirkan Perang Vosre jilid dua.


Lady Dia terkapar, tak jauh dari tempat Carine berdiri. Ketika jari Arthur bersiap untuk menebas leher Lady Dia dengan sekali serangan, langkah Carine mulai bergerak. Dia benar-benar marah besar.


Namun, sang ibu menghentikan langkahnya. Lady Dia menatapnya dengan tatapan lembut sembari agak menggelengkan kepala. Dia menghentikan Carine, agar tidak menggunakan kekuatannya untuk hal pribadi.


Lady Dia tahu betul, Carine adalah salah satu Pemburu Kematian. Jabatannya pun, tak main-main. Dia seorang partner penting bagi The Great Savior, sang pimpinan para Pemburu.


Sebab itu, kekuatan yang Carine miliki harusnya, dipergunakan untuk melindungi atau menghukum orang yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan pribadinya. Termasuk, melindungi sang ibu. Hal tersebut dilarang, kecuali dia memiliki perintah. Jika tidak, dia akan mendapatkan hukuman yang menyakitkan.


Akan tetapi, Carine ingin merelakan itu semua. Khusus malam ini, dia ingin melindungi sang ibu. Meski Lady Dia, berulang kali menghentikannya. Padahal dulu, mudah bagi Carine untuk melindungi ibunya. Karena dia seorang Ratu, tentunya.


Carine melangkahkah satu kakinya, namun seseorang mendadak menepuk bahunya. Mau tak mau, dia harus menoleh. “Ibumu adalah seorang manusia biasa. Jika kau pergi dan memberi Arthur pelajaran, kau tidak hanya menyalahi aturan sebagai Pemburu. Namun juga, aturan dari... Malaikat Maut” bisik sosok tersebut. Mendengar hal itu, Carine bak kehilangan setengah jiwanya.


“Bagaimana bisa, semuanya menjadi semakin rumit?”

__ADS_1


__ADS_2