produk gagal

produk gagal
Pasca Kejadian


__ADS_3

“Apa kau bilang?! Kenapa kau baru mengatakannya padaku?” pekik Marc terkejut. Pria itu sampai setengah berdiri dari kursinya. Barusan, Robin menceritakan seluruh kejadian yang terjadi. Baik yang terjadi padanya, Luc maupun Reine.


Saat ini, Robin dan Reine sedang berada di ruangan Marc. Mereka melaporkan segala kejadian yang terjadi selama berada di gua. Bahkan, Robin juga menceritakan tindakan para iblis yang hendak mencelakai Reine.


Tak terkecuali, penyerangan yang di lakukan oleh Luc.


“Apa katamu? Luc?” ulang Marc seakan tak percaya. Robin mengangguk pelan, meski dia juga masih merasa bingung dengan perubahan sikap Luc kali ini. “Aku sudah mengawasinya selama beberapa kali. Dia selalu menuju ke tempat yang sama. Awalnya, aku juga tak menduga. Tapi, apa yang ku lihat bukan lagi sebuah keraguan. Luc, telah melangkah di jalan yang salah” ucapnya.


Dengan menundukkan kepala, Robin berkata,


“Dan hal yang terbodohnya lagi, aku... tidak bisa membawanya pulang kembali”


Marc mengerti perasaan Robin. Namun, penyesalan tidak boleh terus menerus larut. Sebisa mungkin, mereka harus mengembalikan Luc.


“Rei, kamu... baik-baik saja?” tanya Marc beralih ke Reine, usai wanita tersebut tak banyak bicara. “Aku hanya syok. Saat melihat Luc seperti itu, terasa bagaikan mimpi” jawab Reine pelan. “Aku mengerti. Untuk saat ini, kamu tidak boleh keluar dari Underwall sendirian” pinta Marc. Reine hanya dapat mengangguk lesu.


Robin dan Reine tampak keluar dari ruangan Marc. Direktur Underwall tersebut, memerintahkan mereka berdua untuk beristirahat. Dan juga, memulihkan luka bekas dari serangan para iblis dan siluman gua.


Ketika masih berada di depan pintu ruangan Marc, Robin terlihat menepuk lembut punggung Reine. “Kau tahu, aku juga pernah melakukan hal yang sama denganmu... waktu itu, bukan? Aku berusaha merebut Permata” ujarnya membuka luka lama. Reine menatap ke arah Robin, dia seakan memberi peringatan agar Robin tak lagi membahas masalah itu.


Namun...


“Kau juga harus tahu yang terjadi. Setelah berusaha mencelakaimu waktu itu, Max terus mengawasiku. Dia merasa, ada yang tak beres dengan segala tindakanku. Di waktu tertentu, aku juga tak mengingat hal yang telah ku lakukan sebelumnya” jelas Robin mengulang kisahnya. Reine agak terkejut, usai mendengarnya. Rupanya, ada hal-hal yang tidak Reine ketahui sama sekali.


“Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?” tanya Reine agak kesal. “Protokol, Rein. Aku... telah terkena racun para iblis. Arthur... menggunakan sebuah sihir hitam untuk membuatku berkhianat” tanggapnya sembari mengingat-ingat. “Bagaimana bisa?” tanya Reine lagi. “Arthur menerobos masuk ke dalam Underwall, saat aku lengah...” jawab Robin agak lemas, ketika mengingat kebodohannya.


Kejadian yang tak enak kala itu, juga sempat membuat Reine cemas. Dia takut, jika Robin akan berubah dan pergi ke sisi yang salah. Berada di Underwall, membuat Reine merasa sangat menyayangi mereka semua. Baik itu Marc, Robin, Max dan juga, Luc.

__ADS_1


“Aku berharap, Luc juga cepat kembali pada kita lagi. Seperti dirimu, yang juga cepat kembali” kata Reine. Robin mengangguk setuju. “Istirahatlah. Kau mungkin masih syok. Aku harus pergi ke klinik untuk merawat ini” ujar Robin sambil menunjukkan beberapa luka yang ada di lengannya. Saat Reine menawarkan diri untuk merawat, Robin bersikeras menolaknya.


“Aku akan membawa Luc kembali. Selama aku pergi, ku serahkan Underwall padamu” cetus Marc penuh keyakinan. Di sofa miliknya, Gray tampak menggeliat sembari menguap dengan malasnya. “Seisinya?” tanya Gray.


“Ya”


“Para penjaga?”


“Mereka juga. Mereka akan mematuhimu”


“Daging sapi yang kau simpan di penyimpanan dapur?”


“Milikmu”


“Bagaimana dengan anggur yang ada di ruang bawah tanah?”


“Reine?”


“Itu juga”


“Itu juga apa? Kau berikan padaku juga?” tanya Gray terang-terangan. “Dia milikku, Max” jawab Marc segera memperbaiki perkataannya. “Makanya, jangan membuatku bingung. Katakan dengan jelas! Mana yang boleh, mana yang tidak” dengus Max sebal.


Marc tampak mengeluh dengan menggumamkan beberapa umpatan sopan. “Kau mau menjemput pengkhianat itu? Sekarang juga?” tanya Gray tampak tak yakin. “Aku mengenalnya, Max. Dia tak akan bertindak sejauh itu” balas Marc masih mempercayai Luc.


Gray tampak menyilangkan kedua kakinya sembari menopang dagu. “Hmm, kau yakin?” goda Gray. “Dia bagian dari kita. Tentu saja, aku yakin!” seru Marc tak sedikit pun berubah pikiran.


“Kalau begitu, jangan berharap kau akan kembali dengan keadaan yang sama”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Saat kau menginjakkan kakimu ke sana, kau tidak akan pernah bisa kembali”


“Minimal, aku sudah melakukan yang terbaik”


“Bukan keadaanmu. Kalau kau terluka, pasti akan cepat pulih. Tapi, bagaimana dengan hatimu?”


“Kenapa?”


Gray menghela nafas panjang. “Kau kira, mereka akan membiarkanmu pergi begitu saja? Tanpa membuat hatimu berubah?” tanyanya mendesak. “Ap... apa maksudmu?” jawab Marc masih tak mengerti. “Kau tidak tahu atau berpura-pura bodoh? Apa Langit tak pernah memberitahumu? Sebagai salah satu dari Pemburu Kematian, tentunya kau harus tahu aturannya ketika melangkahkan kaki ke dalam markas mereka” ujar Gray makin membuat Marc tak mengerti.


Marc mengerutkan keningnya. “Ku rasa, aku tidak pernah melewatkan apapun ketika bertugas menjadi Pemburu” tanggapnya. “Berarti, kau memang bodoh. Ku beri tahu nih! Kalau kau sudah menginjakkan kaki ke sana, hatimu akan diracun oleh mereka. Kau tidak akan bisa merasakan perasaan apapun, selain keinginan untuk balas dendam! Sama seperti yang terjadi pada Luc saat ini” jelas Gray bernada kesal.


Kedua mata Marc melebar. Dia baru mendengar soal ini. Tentu saja, Gray kan memang mengetahui seluk beluk segala hal yang terjadi. Gua itu pun, dihuni dengan emosi yang sama.


Persis seperti insiden yang pernah terjadi di masa lalu. Masalahnya, Gray adalah seseorang yang melewati era demi era. Hal yang berhubungan dengan pengkhianatan para iblis, dia sudah lihai menghadapinya.


“Kau mau berubah menjadi iblis keji, seperti mereka? Kau mau menyakiti Reine?” tegas Gray serius. Ini pertama kalinya, Marc melihat sosok Gray yang begitu tegas dan tegang. Marc merasa, ada getaran lain dari diri Max yang sama sekali tidak di kenalinya.


“Lalu, apa yang harus ku lakukan pada Luc?” tanya Marc lesu.


Reine tampak melangkah kembali ke kamarnya. Tak hanya terbayang oleh kepergian Luc yang tiba-tiba. Dia juga merasa ada yang janggal dari sikap Luc.


“Pria itu, menyerang Robin tanpa ampun. Tapi... kenapa dia menyelamatkanku, saat aku hendak terjatuh menyentuh tanah?” pikir Reine. Dia terlihat menopang dagu sembari menatap ke arah luar jendela kamarnya. “Artinya, dia masih sadar, bukan?” lanjutnya masih menebak-nebak.


Sebenarnya, kau sedang menginginkan apa? Permata... atau hal yang lain, Luc? Kalau kau ingin dunia ini hancur, kenapa kau tidak mencelakaiku dan merusak Permata Perak? Apakah kau... masih memiliki belas kasih padaku?

__ADS_1


__ADS_2