
Baru kali ini, Robin mengetahui ada salah satu tempat seperti yang di datanginya sekarang. Sebuah gua di pedalaman desa kecil. Setelah menghabiskan hampir satu jam perjalanan, rupanya ada tempat yang sangat terorganisir.
Padahal selama ini, Robin tak pernah mengetahui ada tempat semacam itu. Apalagi, tempat yang dikhususkan untuk merencanakan muslihat jahat. Sekeji-kejinya klan miliknya, tak akan sampai juga di titik yang benar-benar jauh begini.
Di sepanjang perjalanan menuju ke dalam gua, pandangan Robin tak teralihkan dari dinding gua. Di sana, banyak sekali gambar-gambar yang dibuat dari masa lalu. Lebih tepatnya, menceritakan setiap detail masa lalu yang bahkan, bisa dikatakan telah melenceng dari sejarah.
Robin adalah penduduk asli Abcaestter. Hanya saja, dia berdarah campuran. Darah iblis Pvalka dan juga, darah dari manusia biasa. Tapi, hal itu tetap tidak akan mempengaruhi kedudukannya di dunia baru ini.
Sebab, semenjak berada di sekolah dasar, dia mengenal sejarah dunia baru dengan amat baik. Tak pernah ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa, manusia biasa adalah penyebab dari kehancuran para penduduk Abcaestter.
Di sekolah-sekolah mengajarkan, era Abcaestter memang telah punah di dunia manusia biasa. Karena tak ingin menyakiti manusia biasa yang lemah, mereka diharuskan untuk berpindah tempat. Di mana, sebuah tempat berbeda yang lebih nyaman bagi mereka untuk menunjukkan kekuatan sendiri. Tanpa harus mencelakai siapapun.
Bukannya kisah yang seperti digambarkan di dinding gua ini. Penggambaran mereka, bak manusia biasa lah yang memiliki kekuatan dahsyat hingga membuat mereka terusir. Manusia biasa juga, yang membuat generasi mereka perlahan punah.
Padahal, beberapa dari iblis ataupun siluman juga memiliki keturunan dengan menikahi manusia biasa. Tak ada yang dapat memprediksi takdir dari Langit. Banyak keturunan dari mereka yang malah, menjadi manusia biasa seutuhnya. Namun kadang, ada juga yang seperti kasus Robin, darah campuran.
Mereka ini... Bukankah ada juga yang memiliki keluarga di dunia manusia? Bagaimana bisa, mereka menghabisi keluarga mereka sendiri? Melihat dari cara mereka berpikir, sepertinya mereka benar-benar ingin menghancurkan manusia biasa. Ini gawat, batin Robin tak habis pikir. Meski ingin sekali menarik keluar Luc dari gua tersebut secepat mungkin, Robin lebih dulu menenangkan dirinya. Sebelum dia keluar dari sana, dia harus mendapatkan informasi yang jelas agar dapat membaginya di Underwall.
Tak lama, sampailah Robin dan Luc di dalam gua. Di sana, ada tujuh buah kursi berukiran emas. Tak ada empu dari si kursi.
__ADS_1
Banyak sekali mata yang menatap tajam ke arah Robin, setibanya dia di sana. Rupanya, para iblis dan siluman telah berkumpul menjadi satu di dalam gua ini. Dan Robin, sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.
Robin hanya fokus pada cahaya di sana. Diterangi oleh kobaran api, seolah menjadi ciri khas tersendiri dari para iblis. Gua yang penuh dengan hiasan api. Bahkan, banyak sekali obor di sana.
Seperti telah menjadi kebiasaan, Luc mengambil sebuah obor berisi api yang menyala. Kemudian, dia lemparkan obor itu ke dalam sebuah kendi. Ketika kendi menyala, para iblis yang tadinya terdiam, berubah menjadi ramai.
Bak sebuah umpan balik yang meriah. Mereka sedang menyapa kawanan barunya. Mungkin, Luc telah lama berada di dalam sana. Dari wajah mereka mengunggulkan Luc, sepertinya memang sudah lama dia dikenal.
“Ini adalah hari di mana kita akan segera mendapatkan permata ketiga! Saat ini, tujuh pemimpin sedang mencari permata ketiga di dunia manusia. Untuk mencapainya, aku akan berkorban demi kalian! Aku akan memberikan akses Underwall, untuk pembalasan dendam kita! Hidup tujuh pemimpin kita!” teriak Luc dengan lantangnya. Di titik itu, Robin seperti tak pernah mengenal Luc. Sahabat yang selama ini terasa bak saudara. Rupanya, dia telah mengkhianati hubungan baik itu.
Robin tak menyangka. Dia syok, usai mendengar Luc disoraki oleh banyak orang yang menganggungkannya. “Jadi, penghormatan inikah yang kau inginkan?” ucapnya tak terbendung.
“Kau sadar atas ucapan yang kau katakan?” tanya Robin meyakinkan kembali. “Kau kira, aku sedang dalam pengaruh sihir? Aku adalah Luc Marchand, yang kau kenal, Robin... Sayangnya, kau tidak mengenal diriku. Hanya cangkang, yang selama ini kau kenal. Sungguh sangat amat disayangkan...” balas Luc serius. “Kau bahkan menjual Underwall untuk tujuan balas dendam menjijikkan ini?” tanya Robin tak habis pikir.
Meski tanpa jawaban dari Luc pun, Robin mengerti apa yang sedang dicapai oleh temannya itu.
Kehormatan.
Luc hanya ingin klannya di hormati. Padahal, keadaan klan milik Robin lebih buruk dari klan Luc. Dia selalu dihina dan di sepelekan. Namun, klannya tak pernah berbuat buruk hingga citra mereka tercoreng, hanya karena gila hormat.
__ADS_1
Sebab itu, Robin terus memegang erat kebaikan, meski banyak sekali rencana jahat yang menawarinya. Penjahat, tak selalu berasal dari orang-orang baik yang dulunya, mendapatkan ketidak-adilan. Namun orang baik yang sebenarnya, berasal dari keteguhan hati untuk menolak menjadi orang yang seakan-akan, hidupnya paling menyedihkan.
“Jangan pernah kembali ke Underwall. Kau tak akan pernah menemukan jalan untuk kembali. Sebab aku, tidak akan pernah membuatmu menghancurkan segalanya. Luc Marchand yang ku kenal, telah lama mati” tegas Robin penuh penekanan. “Baguslah, dengan begitu akan semakin baik bukan? Akan lebih mudah mengakses Underwall dan membunuh kalian semua” balas Luc tak takut. Robin mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi penuh kemarahan.
“Tapi, kami memiliki sebuah aturan. Saat seseorang telah masuk ke dalam gua ini, hanya ada dua pilihan setelahnya. Bergabung dengan kami atau... mati di tangan kami” ucap Luc melanjutkan. Robin tampak tersenyum tenang. “Oh, kau mau tutup mulut dengan cara membunuhku? Agar kau bisa kembali senormal mungkin ke Underwall? Tentu, baiklah. Cepat lakukan. Ayo, bunuh aku Luc Marchand!” teriak Robin tak gentar.
Di luar, Reine tampak tak sabar menunggu. Dia merasa, Luc dan Robin sedang dalam bahaya. Reine mondar-mandir tak jelas dengan perasaan tak karuan.
“Bagaimana jika mereka ditugaskan oleh Marc untuk memeriksa tempat itu?” celetuk Reine mulai berprasangka. “Ku bilang, yang mengerti tentang keberadaan gua ini hanyalah Max” jawab Raven yakin. “Kalau ternyata, Marc sudah tahu dan tidak mengatakan soal ini pada Max, bagaimana?” tanya Reine bersikeras.
Celotehan Reine, sukses membuat Raven sakit kepala. “Duh, Nona dulunya sangat cerdas dan tenang. Kenapa sekarang, malah membuatku kerepotan? Apa waktu bisa membuat seseorang berubah, ya?” tanyanya pelan. Ketika Raven menatap kembali ke arah Reine, dia buru-buru menggelengkan kepala.
Dia bukan Nona. Dia... reinkarnasinya, pikir Raven. Dia memang sangat dekat dengan Carine, walau sebenarnya dia bertugas untuk membantu pekerjaan Gray. Ada kisah kelam yang membuatnya rela untuk terus hidup di setiap zaman.
Ketika tengah asyik sedikit bernostalgia, Raven mendadak terkejut. Reine pun tampak langsung berjingkat, saking kagetnya. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, kala kejadian tersebut tiba-tiba terjadi.
Sebab, tak jauh di hadapan mereka, Robin sedang mempertaruhkan keselamatan dirinya beserta Underwall. Dia tampak terjatuh ke tanah dengan keadaan tak berdaya.
Robin sampai tertendang keluar dari gua, akibat serangan yang bertubi-tubi. Baik itu dari sekumpulan iblis, maupun siluman. Mereka bersatu, bagai geng kriminal yang sedang memberi Robin pelajaran. Juga, tak kalah ketinggalan, serangan dari seorang sahabat akrab.
__ADS_1
Luc.