
Mobil yang dikemudikan Gray berhenti mendadak. Carine masih syok, atas apa yang diucapkan oleh Gray dengan penuh penekanan. Dia memilih untuk menatap ke arah kaca pintu yang ada di sebelahnya.
Canggung dan memalukan.
“Ba, baru sekarang kau bilang begitu, hah?! Kenapa harus menunggu berabad-abad dulu, sebelum semuanya terungkap?” protes Carine, agak terbata-bata. Wanita tersebut masih menatap ke arah kaca pintunya. Dia masih berpikir, ucapan Gray barusan masih terasa tidak serius.
“Berapa kali, aku mengatakan itu? Kenapa kau masih tidak percaya juga? Saat ini pun, kau juga masih seperti tidak percaya padaku” keluh Gray menanggapi. “Te, terus? Kenapa kau berhenti?! Bukankah kau bilang, kau akan menunjukkan sesuatu? Sampai jauh-jauh kemari pula” balas Carine mengalihkan. “Aku berhenti, karena kau membuatku kesal!” dengus Gray sebal.
Carine kembali menatap ke arah depan. Kali ini, dia terlihat menunduk. Sementara Gray, tampak juga kembali melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan itu, mereka tak banyak berbicara. Bahkan bisa dikatakan, mereka sengaja diam. Situasinya benar-benar membingungkan.
Carine yang masih merasa aneh dan tidak percaya, akan ungkapan dari Gray. Dan Gray, yang merasa kesal karena balasan yang didapat dari Carine tersebut. Namun, Gray sedikit maklum. Sebab, apa yang dia lakukan memang benar-benar terlambat.
“Agak sulit memang, untuk membuatmu yakin. Tapi, aku berjanji. Di era ini, aku akan berusaha untuk memperbaiki hubungan kita. Karena, hanya ini satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki seluruhnya” celetuk Gray, usai keheningan yang amat sangat panjang. Carine hanya menjawab dengan satu anggukan. “Ku harap, kau mengizinkanku untuk mendampingimu bertarung” balas Carine kemudian.
“Tidak, untuk yang itu, aku masih tidak akan mengizinkanmu”
“Kau khawatir, karena energiku berasal dari tubuhmu, bukan? Sudah kubilang, semuanya telah berubah”
“Itu adalah alasan yang keseratus. Kau menginginkan alasan lain yang sangat penting dan bahkan, menjadi yang utama?”
“Aku tidak ingin mendengarnya”
“Aku mencemaskanmu, seperti layaknya... aku mencemaskan diriku sendiri”
“Kau tidak perlu melakukan itu”
“Carine, tidak. Tolong, jangan memulai perdebatan lagi”
__ADS_1
“Aku tidak setuju, karena itu aku memulai berdebatan”
“Tidak, Carine”
“Gray, aku tahu kau khawatir. Mungkin, karena aku tidak bisa menunjukkannya padamu dengan maksimal. Suatu saat, ketika kau benar-benar tidak bisa menyelesaikan sesuatu, aku... pasti akan menunjukkan padamu. Bahwa aku... layak untuk bertarung bersamamu”
Mendengar ketegasan dan keseriusan Carine, Gray tak mampu lagi untuk menjawabnya. Dia kehilangan kata-kata, usai melihat sorot mata yang penuh dengan tekad. Ketika berjanji untuk menunjukkan kekuatannya pada Gray, Carine menatap pria tersebut dengan kedua mata penuh kesungguhan.
“Meski begitu, aku tetap tidak akan mengizinkanmu” ucap Gray masih bersikeras. “Aku tidak butuh izin” serang Carine. “Aku akan pastikan, kau tidak akan bertindak diluar perintahku” kata Gray. “Aku hanya butuh pengakuan. Hanya pengakuan” tegas Carine lantang.
Gray tampak menghela nafas panjang. “Baiklah, kutunggu hari di mana kau menunjukkan kemampuanmu. Ku harap, kau tidak mengecewakan” ujarnya benar-benar menyerah. Usai itu, Carine terlihat menoleh ke arahnya. Wanita tersebut tersenyum dengan lebar.
“Dasar...”
Gumaman Gray, yang hanya bisa menggerutu. Di perdebatan kali ini, entah mengapa dia tidak merasa kalah. Dia justru merasa, Carine mendengarkannya dan tidak akan membuatnya kecewa.
Gray juga merasa, Carine tak akan sempat membuatnya khawatir dengan segala bahaya di luar sana. Mungkin, selama ini Gray terlalu terbawa akan suasana. Dari gadis bernama Reine, yang merupakan jelmaan dari Carine.
Cukup dengan percaya.
“Oh, kita sudah sampai” kata Gray, buru-buru membuyarkan pikirannya setelah merasa tiba di tujuan. Carine yang lebih dulu turun dari mobil. Dia terlihat mengamati lingkungan di sekitarnya dengan seksama. “Ini?!” tanyanya sedikit kaget.
Gray berdiri dengan tenang, di tempatnya. Dia tampak keluar dari mobil belakangan. Sembari memasukkan satu tangan ke dalam saku, Gray melangkah dengan tenang. Tak lama, Carine mengikuti langkah Gray dari belakang.
Mereka tiba di depan sebuah rumah dengan gaya kuno. Lagi-lagi... harus bertemu dengan bangunan yang mengingatkan akan masa lalu. Yah, walaupun Carine memang sedang berada di masa lalu.
Namun, ada yang membedakan rumah bertingkat tersebut dengan yang lain. Rumah itu, dikelilingi oleh rumput liar yang tak terawat. Pagar rumah berwarna hitam yang hampir menutupi seluruh rumah, jika dilihat dari depan. Benar-benar menambah nuansa seram dan suram.
Dengan santai, Gray membuka pagar rumah tersebut. Saat hendak masuk, mata Carine mendadak tertarik dengan sebuah papan nama yang terpaku di tembok dalam pagar. Carine terlihat membacanya perlahan di dalam hati.
__ADS_1
Deval
“Rumah klan Deval? Keluarga Marc, kah?” tanya Carine berusaha menebak. “Kau akan tahu secepatnya” tanggap Gray dingin. Dia semakin menambah kesan menjengkelkan.
Seperti layaknya hanya sebuah bayangan, Gray dan Carine masuk ke dalam rumah milik salah satu keluarga dari klan Deval tersebut dengan tenangnya. Rumah itu benar-benar sepi. Tak ada orang lain yang terlihat berada di sana.
Tak ada suara. Ataupun, langkah kaki. Hening, seperti tak pernah ada kehidupan sebelumnya. Carine terus mengikuti langkah Gray dari belakang.
Sampai akhirnya, suasana berubah. Usai Gray, membuka sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu. Carine dibuat syok, oleh sebuah pemandangan yang amat sangat berantakan.
Rupanya, di sinilah orang-orang sedang berkumpul. Di dalam sebuah ruangan besar mirip ballroom tersebut, para klan Deval berkumpul menjadi satu. Ballroom itu, telah diisi oleh lebih dari puluhan kursi. Kursi-kursi bertingkat, khas dari moot court di era lawas. Mereka sedang mengadakan sebuah pertemuan penting.
Terdengar, dari suara mereka yang seperti tak mau ketinggalan memberikan pendapat. Mungkin beberapa menit yang lalu, ada sebuah pembahasan yang sangat penting hingga mereka semua saling bersitegang. Carine terlihat agak menutupi kedua telinganya.
“Yang mulia, inikah yang ingin kau tunjukkan padaku?!” protes Carine kesal, karena suara bising yang saling bersahutan di ruangan itu. Semuanya kacau. Setiap pribadi, ingin pendapatnya diterima.
Tak banyak bicara, Gray langsung menggenggam tangan Carine. Dia menarik tangan wanita itu untuk menuju ke sebuah tempat duduk yang kosong. Di sebuah kursi yang berada di tingkat paling atas.
Carine hanya menurut. Meski bingung dalam diam, dia melangkah mengikuti Gray. Menaiki beberapa tangga kayu, dia dan Gray akhirnya sampai.
Mereka duduk di kursi yang telah dipilih. Gray tak melepas sedetikpun, tangan Carine dari genggamannya. Gray menggenggam tangan itu dan mendekapnya dalam pangkuannya.
“Kau lihat mereka, Carine?” tanya Gray mendadak. “Y, ya?” tanggap Carine tergagap. Dia lebih penasaran dengan salah satu tangannya yang tak kunjung dilepaskan. Dan malah, dipegang dengan eratnya oleh sebuah sentuhan lembut yang hangat.
“Keluarga yang di sana. Kau lihat?” balas Gray sembari menunjuk ke sebuah kursi yang berada di seberang mereka. Carine berusaha mencocokkan arah pandangannya dengan telunjuk Gray. Dia sampai agak menyipitkan kedua mata.
“Ya, aku melihatnya” kata Carine, setelah menemukan apa yang Gray tunjukkan. Ayah, ibu dan seorang anak laki-laki. Mereka duduk saling berjajar, di kursi yang ada di tingkat yang sama dengan yang sedang ditempati Carine. Namun bedanya, mereka ada di seberang depan kursi tempat Carine duduk.
“Oh, tunggu...” lanjut Carine memiringkan kepalanya. “Bukankah dia...” sambungnya kemudian. Gray hanya mengangguk pelan. Kali ini, dia benar-benar membuat Carine mendengar dan mencerna seluruh kejadian yang ada di depan kedua matanya...
__ADS_1
Sendirian.