
Kala pintu ruangan pertemuan terbuka lebar, baik itu Luc, Robin maupun Max, mereka tampak tegang. Menatap ke arah pintu, di mana Marc sedang melangkah masuk, membuat mereka semakin serius. “Bagaimana?” celetuk Max pertama kali.
Marc duduk di kursinya, diikuti menghela nafas panjang. “Aku mengatakan hal yang sangat konyol. Sebenarnya, apa yang kukatakan tak masuk akal. Tapi, aku tak punya pilihan...” jelasnya cemas. “Apapun yang kau katakan, aku percaya. Lagi pula, kita tidak punya pilihan lain. Rein, harus berada dalam perlindungan kita. Bukannya malah, menghadapi para iblis secara langsung seperti tempo hari. Kita kecolongan” tanggap Max.
“Kalau Marc yang mengatakannya, dia tidak akan curiga. Berbeda dengan saat kita yang mengatakannya” timpal Robin. “Bagaimana ekspresinya?” tanya Luc masih penasaran. Marc menatap Luc dengan wajah agak tertekan. “Syok?” jawab Marc enggan. Dengan cepat, Luc mengiyakan. Dia menyadari, ada yang berbeda dengan ekspresi Marc kali ini.
Mau tidak mau, rapat harus segera dijalankan. Mereka membahas tentang segala sesuatu yang terjadi pada sel Underwall tempo hari. Mulai dari membahas masalah keamanan, keterkaitan beberapa orang dalam dan juga, cara melindungi Reine lebih intens.
Sebab, wanita itu berubah menjadi semakin pemberani, ketika melawan para iblis. Mereka memang merasa bersyukur, karena memilih seseorang yang tepat untuk menjadi rekan seperjuangan. Namun, Reine tetaplah seorang manusia. Dengan keadaan itu, mungkin saja kekuatan yang keluar akan ada batasnya.
Berbeda dengan para mereka, iblis yang memang tak terpisahkan dengan kekuatan masing-masing. Daya tahan mereka juga, bisa dibilang lebih baik dari pada dengan Reine. Di tambah lagi, Reine seorang wanita. Namun yang terpenting, melindungi Reine menjadi hal yang wajib bagi mereka. Terlepas, bukan hanya itu alasan yang sesungguhnya.
Sepeninggal Max dan Robin dari ruang pertemuan, Marc masih duduk di tempatnya. Tak beranjak sedikitpun. Dan tetap bersedekap, layaknya memiliki beban yang sangat berat. Luc yang masih tinggal, memutuskan untuk mendengar masalah Marc.
“Jadi, apa yang telah terjadi?” tanya Luc mendadak. Dia tampak duduk di kursi dekat Marc. Marc masih melamun. Kali ini, tangannya tampak mengelus-elus dagu. “Tuan Deval?!” panggil Luc mulai kesal.
Akhirnya, Marc tersadar. “Kau tadi tanya apa?” jawabnya terlambat. Luc menghela nafas kesal. “Apa yang telah terjadi?” tanya Luc mengulang. “Oh, itu yang kau tanyakan? Tidak, tidak ada...” balas Marc mencoba menyembunyikan.
“Tuan, saya telah bekerja menjadi asisten anda selama bertahun-tahun. Tentu saya tahu betul. Kapan anda ada masalah dan kapan anda tidak ada masalah. Apalagi, kapan anda berbohong dan kapan anda sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Pasti, tentang Miss Dallaire, bukan? Percakapan anda tadi pagi... tidak berjalan sesuai dengan kemauan anda?” tebak Luc tepat. Luc, bak cenayang yang selalu benar membaca pemikiran Marc. Dan benar saja, Marc tiba-tiba mencengkeram rambutnya dengan kedua telapak tangan.
“Dia... kecewa padaku, Luc. Mungkin, dia tidak akan berbicara lagi denganku...”
__ADS_1
“Memangnya, apa yang anda katakan?”
“Konyol. Pokoknya, konyol dan tak masuk akal!”
“Baiklah, saya tidak akan menanyakannya lagi. Saya akan mencari tahu sendiri. Dengan begitu, saya bisa mencarikan solusinya untuk anda. Sebagai gantinya, tolong, pikirkan saja perkataan anda adalah untuk kebaikan Miss Dallaire”
“Apakah itu untuk kebaikannya?”
“Tentu, Tuan. Agar kita bisa melindunginya, kita harus membuatnya menghindar dari medan perang sementara waktu. Jika perkataan anda sampai membuatnya kecewa, itu artinya, dia akan kehilangan minat untuk bertempur”
“Bagaimana jika, dia menjadi lebih dalam bahaya?”
“Tentu, kita akan melindunginya, bukan? Tugas kita, memanglah untuk membuatnya sadar akan kekuatannya. Namun, kita juga harus memastikan bahwa dia, tidak boleh menghadapi musuh seorang diri. Karena sejatinya, kekuatan itu bukanlah untuk melindungi kita. Tapi juga, melindungi Miss Dallaire sendiri” jelas Luc panjang. Marc mengangguk setuju. “Aku tahu, ini akan terjadi. Aku mengenalnya, lebih dari apapun. Karena itu, aku menolak gagasan Robin untuk melatihnya. Dan benar, bukan? Akhirnya, dia malah menghadapi segalanya sendirian. Pokoknya, kita harus mengawasi Reine. Kali ini, jangan sampai kecolongan lagi” pinta Marc tegas. “Baik, Tuan!” jawab Luc melaksanakan.
“Rein? Sendirian saja?” sapa Robin. Dia tampak menghampiri Reine yang tengah duduk di bangku taman, di samping hotel. “Rob...” balas Reine lesu. “Aku menunggumu di ruang pertemuan. Sepertinya, pertemuanmu dengan Marc tidak berjalan baik. Karena itu, kamu tidak muncul. Setelah ku cari-cari, di sini kamu rupanya” kata Robin sembari duduk, menjajari Reine.
“Sangat buruk. Bahkan, dia marah padaku. Marah besar”
“Benarkah? Kenapa bisa terjadi?”
“Mungkin, karena aku menghadapi para iblis di sel Underwall tempo hari. Kau pasti, sudah tahulah...”
__ADS_1
“Hm, kalau itu... bisa jadi sih. Kamu tidak perlu khawatir, kalau soal itu”
“Kalian pasti membicarakannya, bukan?”
“Kami memang membicarakannya, tapi Marc tak memberikan detailnya secara jelas. Jadi kupikir, Marc hanya... terlalu khawatir?”
Reine menghela nafas panjang lagi. “Padahal, dia adalah orang yang selalu memberiku kekuatan selama ini” ucapnya. “Aku? Bagaimana denganku?” tanya Robin mengalihkan. “Tentu saja, kau yang terbaik!” seru Reine memuji. Robin tersenyum sembari mengelus kepala Reine dengan lembut. “Kamu memang pintar, memuji orang. Dasar...” ujarnya kemudian.
Meski sama-sama mengelus kepalaku, perasaan yang timbul benar-benar berbeda. Tangan Robin memang lembut, tapi rasanya beda dengan tangan milik Marc. Dan lagi, bukan dia. Tangan seseorang yang mengelus keningku malam itu, batin Reine.
“Rein, makan malam nanti... mau makan bersamaku? Aku akan mengajakmu ke tempat makan favoritku. Mau?” tawar Robin tiba-tiba. “Hm? Boleh” jawab Reine asal. “Sungguh? Aku senang sekali. Baiklah kalau begitu, sampai nanti ya? Aku baru ingat, ada sesuatu yang harus kuurus lebih dulu” pamit Robin. Reine mengangguk mengerti.
Sebelum Robin melangkah meninggalkannya, pria itu kembali menengok ke arah Reine. “Oh, ya, untuk Marc. Sebaiknya, kamu tidak perlu memikirkannya begitu jauh. Kalau suasana hatinya sudah membaik, dia pasti akan kembali seperti semula. Jadi, pikirkan hal yang lain saja. Oh, bukankah kamu juga harus berlatih? Fokus saja pada latihanmu, oke?” pesannya. Reine mengangguk dengan pelan. Dia juga tampak tersenyum, agar Robin merasa lega. “Makasih...” ucapnya tak lupa.
Usai itu, Robin tampak melambaikan tangan. Dia segera berlalu, meninggalkan Reine yang masih duduk di bangku taman. Tapi sepertinya, perkataan Robin benar. Dia harus berlatih, agar Marc tak terlalu mencemaskannya. Karena dia, sudah menjadi seseorang yang lebih kuat.
Ketika sedang melangkah ke arah tempat latihan, kakinya mendadak melemas. Mungkin, pengobatan lukanya masih belum bisa membuat kakinya pulih. Kaki Reine, memang terluka akibat terkena serangan oleh iblis yang mengacaukan sel Underwall tempo hari yang lalu.
Reine pikir, dengan istirahat di klinik akan membuatnya semakin membaik. Belum lagi, dia meminum obat sesuai arahan dari dokter klinik. Tapi sayangnya, kaki Reine masih belum bisa normal seketika.
Akibatnya, dia harus agak terhuyung ke belakang. Dan untungnya, takdir selalu berkata lain. Seseorang berhasil menangkap tubuhnya, tepat sebelum Reine terjatuh ke tanah,
__ADS_1
“Selain sembrono, kau juga terlalu ceroboh. Entah, apa yang harus kulakukan dengan sifatmu itu”