
“Kau bisa melihatnya?” tanya Luc dari alat komunikasinya. “Arah jam 2, kan? Sedang berjalan menuju kamar apartemen nomor 135. Rambut blonde dengan setelan kemeja?” balas Reine yang terdengar dari alat komunikasi Luc. Saat ini, mereka sedang melakukan pengintaian jarak jauh. Posisi Luc dan Reine, sedang tidak dalam satu tempat.
Luc ada di balkon lantai dua, di depan sebuah pintu apartemen sederhana. Sedangkan Reine, ada di balkon juga, namun di lantai tiga. Apartemen tersebut memiliki empat lantai. Dan target mereka, tahanan 3799 sedang berada di lantai satu apartemen. Sepertinya, target sedang menjemput seseorang dari kamar 135.
Sebab, seperti yang telah diketahui sebelumnya, target adalah pemilik dari kamar bernomor 352 di apartemen tersebut. Reine mencoba untuk fokus pada gerakan target dengan bantuan sebuah teleskop. Luc, terlihat sedang menggunakan ponselnya, bak sedang bertelpon dengan seseorang.
“Ya, aku di depan pintumu. Apa? Oh, astaga... padahal, aku sudah berikan surprise. Kenapa kau pergi tanpa pamit? Tidak, apa maksudmu? Aku sudah mengatakannya, aku akan pergi ke tempatmu 20 menit yang lalu! Oh, ayolah! Berhenti mengatakan, aku yang salah!” ujar Luc, di akhiri dengan nada penuh penekanan. Kode untuk Reine. Dia harus mendekat ke arah target.
Reine berpindah dengan alami. Layaknya salah satu penghuni di sana, dia melangkah dengan santai. Persis seperti, ketika dirinya sedang mengikuti Luc di hari insiden penculikan oleh klan Elang.
“Target bergerak. Seorang wanita keluar dari 135. Bersiaplah” lapor Reine. Dia melangkah pelan, mengikuti buron 3799. Buron tersebut tampak menyeret tangan si wanita dari apartemen nomor 135. Mereka seperti sedang, bergegas menuju ke sebuah tempat. Perasaan Reine menebak, ada yang sedang tidak beres. Tepat ketika, buron 3799 terlihat celingukan untuk memastikan sesuatu.
“Aku berani bertaruh, dia akan membahayakan wanita itu” kata Reine sambil berlari pelan menuju ke arah mobil milik Luc. “Aku ambil jalan lewat belakang. Tetap awasi mereka. Jika aku terang-terangan turun dari jalan yang kau ambil, dia akan curiga. Tunggu, kita pasti akan mendapatkannya” jawab Luc. “Aku selalu menunggu” tutup Reine.
Tak lama kemudian, kunci pintu mobil Luc mendadak terbuka. Reine masuk ke kursi kemudi. Beberapa detik, Luc sudah berada di kursi penumpang. Tepat, di samping Reine. “Ouch, apa yang sedang dia pikirkan, sih?” keluh Reine tiba-tiba.
Luc segera memeriksa apa yang sedang dilihat Reine. Target mereka, berada di mobil yang sedang terparkir di depan. Luc dapat melihat, buron 3799 tengah berciuman intim dengan pemilik kamar apartemen nomor 135. “Begitukah hubungan mereka yang sebenarnya? Kau bilang, kau berani bertaruh jika wanita itu sedang dalam bahaya?” tanya Luc mencoba mematahkan kecurigaan Reine.
“Oh, ayolah. Semua pria sama. Jika ingin mendapatkan apa yang mereka mau, mereka akan melakukan apapun untuk membuatnya menjadi nyata”
“Maksudmu?”
__ADS_1
“Dia mencoba untuk merayu wanita itu, agar dia mendapatkan apa yang dia mau”
“Aku mengerti, tapi apa yang dia mau?”
“Tentu saja, darahnya, Tuan Marchand. Bukankah kau bilang, dia selalu menginginkan darah para wanita? Aku sempat bilang juga waktu itu, kenapa dia harus membunuh para wanita dan meminum darah mereka, padahal dia bukanlah iblis pengisap darah? Dan kau menjawab, itu adalah sebuah obsesi. Dan sampai saat ini, kau masih menganggap, itu hanyalah obsesi belaka?”
Luc mengangguk tanpa berpikir. “Tentu, apalagi?” ucapnya kemudian. “Karena itu, kau tidak akan pernah mendapatkan kencanmu, Tuan Marchand” olok Reine. “Serius, sejak pertama kali kita bertemu, kau selalu saja membuatku kesal. Berhentilah membuat suasana memburuk, Miss Dallaire. Aku tahu, satu-satunya hal terbodoh yang ku lakukan adalah... bekerja sama denganmu dalam satu tim. Sialan!” amuk Luc, khas.
Reine menghela nafas sembari memutar bola matanya. “Luc, dengar, ini bukan masalah siapa yang membuat kesal di kesan pertama kita bertemu. Kau mengerti arah pikiranku, tidak? Dia melakukan hal itu, bukan untuk sebuah obsesi. Katakanlah perkataanmu benar, dia melakukan rayuan maut pada seribu wanita hanya untuk obsesi, maka dia tidak akan pernah membunuhnya. Dia pasti akan meninggalkannya dengan penuh drama. Ini? Tidak. Kau, mengerti arah pembicaraan ini, bukan? Luc, dia... merayu hingga melakukan hal yang lebih intim. Kemudian, apa? Membunuh mereka dalam semalam. Lalu, dia menggunakan tubuh dari semua wanita yang dia bunuh sebagai... alat untuk memeras orang-orang elit” jelasnya panjang. Luc mengerutkan keningnya. Dia masih bingung dengan perkataan Reine.
“Luc, dia... pernahkah kau telusuri latar belakang para wanita yang menjadi korbannya?”
“Wanita itu dalam bahaya, Luc. Kita masih punya kesempatan untuk menyudahi daftar korban pembunuhan oleh 3799. Kenapa kita harus melindunginya? Dengar, kau tahu latar belakang para korban 3799? Mereka semua berlatar belakang dari keluarga elit yang kaya raya. Rata-rata berasal dari keluarga klan teratas dalam jajaran klan silmuan serigala. Dan wanita itu... dia adalah putri tertua dari klan nomor dua siluman serigala. Artinya, dia masuk ke dalam kategori, apa yang diincar oleh 3799. Bahkan dalam dokumen ini, waktu yang tertulis di mana 3799 membunuh seorang wanita C, hampir tak berjarak lama ketika dia melakukan perampokan di salah satu rumah klan siluman serigala dengan kedudukan nomor empat” lanjut Reine sembari menunjuk sebuah dokumen yang dikeluarkannya dari dalam map. Map tersebut berisi, seluruh dokumen kasus yang telah dilakukan oleh 3799. Luc tampak memeriksa dokumen tersebut dengan seksama.
“Kenapa Marc memberi tanda bahwa, ini bukan perampokan? Walau 3799 bersikeras bahwa, yang dia lakukan adalah perampokan?”
“Kenapa?”
“Karena, ini adalah tindakan penjarahan. Seperti katamu di awal, dia telah melakukan penjarahan dan perusakan bangunan. Kok bisa? Karena dia menggunakan tubuh para korbannya, untuk mengancam keluarga korban. Dia mengancam akan membunuh, jika dia tidak di beri akses masuk untuk menguasai aset mereka. Sayangnya, meski telah diberikan akses, 3799 tetap membunuh orang yang dia gunakan sebagai alat itu!”
“Dan sebab itu kau berani bertaruh, wanita yang sedang bercumbu dengan 3799 di dalam mobil di depan kita itu saat ini... dia akan menjadi korban selanjutnya? Termasuk, keluarganya?”
__ADS_1
“Aku sempat searching di browser tadi. Dia adalah Caroline Walters, putri konglomerat sekaligus pimpinan dari klan siluman serigala nomor satu di sini. Asetnya, diketahui bernilai fantastis. Dan 3799, memiliki dendam tersendiri dengan ayah Caroline. Dan kau bisa menebak, Caroline tidak hanya akan dicelakai, namun dia benar-benar akan dimanfaatkan”
“Brengsek...” umpat Luc pada dirinya sendiri. Reine bersendekap kesal sembari membenturkan punggungnya ke kursi mobil. “Lama sekali mikirnya...” gerutu Reine. “Jadi, apa yang menjadi akar dari permasalahan antara 3799 dengan pimpinan klan nomor satu siluman serigala?” tanya Luc mulai serius.
Reine membuka kembali tautan yang dikirim oleh Robin beberapa menit yang lalu. Tautan yang berisi tentang, pertikaian antara klan 3799 dengan pimpinan klan nomor satu siluman serigala. “Selama pelariannya dari hukuman Underwall, 3799 melakukan satu perubahan yang di anggap tidak relevan dengan tindakan kriminalnya. Dia, membela seorang wanita yang di curigai, telah dilecehkan oleh pimpinan klan nomor satu siluman serigala. Dan saat ini, wanita yang dilecehkan tersebut telah tewas, akibat depresi” baca Reine. Mendadak, raut wajah Luc menjadi dingin.
“Jadi, bagaimana?” ujar Reine. Luc tak menjawab, dia hanya menatap ke arah lain. “Apa yang kita lakukan...” “Aku tidak mau” potong Luc, ketika Reine mencoba berbicara. “Maksudmu?” tanya Reine tak paham. “Aku tidak mau menyelamatkan wanita itu. Biarkan dia mati... di tangan 3799” jawab Luc dengan tegas.
Reine menggeleng tak percaya. “Kau... membelanya?” balasnya kaget. “Satu kebaikan, membuat semua kesalahan menjadi luruh, Miss Dallaire. Itu yang harus kau pelajari juga” ucap Luc sudah bulat. Reine terkejut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Oke” kata Reine, tak lama setelah hening merasuki mereka. Tak banyak bicara, Reine mendadak keluar dari mobil. “Apa yang kau lakukan?” tanya Luc agak panik. Reine melangkah menuju ke arah mobil yang ditumpangi 3799. Bahkan dia melihat, 3799 dan Caroline, masih bercumbu dengan intim.
Tak menunggu lama, Reine segera mengetuk kaca pintu mobil tersebut. “Sialan, Reine! Apa yang kau lakukan?!” seru Luc pelan. Dia berusaha menghentikan Reine dengan memunculkan kepalanya melalui, kaca pintu mobil. “Kau gila?” sambungnya panik.
3799 membuka kaca pintu mobilnya. “Ada yang bisa ku bantu, Nona?” tanyanya ramah. “Oh, hai, bisakah aku meminta waktumu sebentar?” jawab Reine tenang. “Ya, silakan. Apa yang ingin kau katakan?” ujar 3799. “Yah, aku berasal dari Underwall. Kau pasti... mengenal Marc Deval, bukan? Direktur Underwall itu... telah mengusirku beberapa jam yang lalu. Aku pergi dan tiba-tiba saja berada di tempat yang, umm... tidak ku ketahui. Bisakah kau mengantarku... ke stasiun terdekat? Ku mohon...” pinta Reine.
Pria bernomor tahanan 3799 tersebut, tak berbicara lagi. Dia hanya membuka pintu penumpang bagian belakang dan membiarkan Reine masuk begitu saja. Luc masih ingat betul, bagaimana 3799 tersenyum lebar, bak mendapatkan seekor ikan langka di dalam mobilnya.
Luc hanya bisa memukul kemudi mobilnya sekeras mungkin. Dia lupa akan sebuah kemungkinan tentang, keberanian Reine yang terlalu sembrono, ketika perkataannya tidak di dengar. Luc tahu, Reine hanya ingin menunjukkan padanya tentang sebuah kemungkinan.
Bagaimana jika, korban berikutnya dari 3799 adalah... Reine sendiri.
__ADS_1