produk gagal

produk gagal
Dipilih oleh Langit


__ADS_3

“Gadis itu... Jangan terlalu memaksakannya, Rob. Aku tahu, kau ingin dia segera menyadari kekuatannya. Tapi, kalau kau terus menekan pikirannya, bukanlah kekuatan yang muncul. Semua upaya yang telah kau lakukan, akan menjadi sia-sia” terang Marc. “Jangan memanjakannya. Kalau kau terus memanjakan dia, tentu upayaku akan sia-sia. Dia harus tahu, asal usulnya. Dan dia juga harus tahu, kenapa ada beban sebesar itu di pundaknya. Dia bukan... gadis kecil lagi, Marc. Dia sekarang, seorang wanita. Jadi, tolong bersikaplah seperti biasa” tanggap Robin tak mau kalah. Sepertinya, mereka sedang membahas sesuatu yang amat penting. Hingga mereka, harus berdebat sengit di pagi yang cerah.


“Aku mengerti perasaanmu, Rob. Tapi ku rasa, tindakan Marc pasti, ada benarnya. Dan menurutku, dia bukan sedang memanjakannya Honey-ku. Dia hanya... sedang bersabar” timpal Max, yang rupanya juga ada di sana. “Mau sampai kapan? Dia terus saja tidak menyadari potensinya. Sementara waktu, akan terus berjalan. Hari yang di ramalkan, akan semakin dekat” balas Robin. “Aku mengerti. Tapi, kita harus peduli pada perasaan Reine juga. Bukankah begitu, Marc?” kata Max membalikkan pembicaraan pada Marc.


“Rob, aku mengerti kau juga mengkhawatirkan gadis itu. Jika dia tidak mampu memunculkan kekuatannya, tepat di hari yang telah di ramalkan... dunia ini akan hancur. Para iblis itu, akan meracuni segalanya. Tapi, aku percaya. Dia... pasti bisa mengatasinya. Dia terus berlatih, bukan? Jadi, dia tidak akan mati dengan mudah. Kita harus percaya padanya dan terus mendukungnya. Dengan begitu, kita bisa menepati janji kita pada pak tua” jelas Marc menenangkan. “Kalau begitu, serahkan soal latihan padaku. Aku akan memberikan mentor yang tepat untuknya” celetuk Luc. Ternyata, orang itu juga ada di sana.


“Hari ini, Honey-ku akan berlatih menembak. Aku akan datang untuk menemaninya, deh!” seru Max bersemangat. “Dia harus fokus. Jangan menggodanya! Kalau kejadian itu terulang lagi, aku tidak akan segan mengirimmu ke Underwall tingkat 4!” ancam Robin. “Baik, Kapten. Dih, bilang saja kau cemburu!” tanggap Max asal.


“Kau!” seru Robin kesal. “Astaga, biasanya kau bakal bertahan Rob! Ini cuma Max, lho! Maximilien!” lerai Luc agak kesal. Namun sayangnya, Robin tetap berusaha memberi Max pelajaran. Walau Max, terus berlari menghindarinya sembari mengejek.


“Astaga... Tolong tenang, ini kantorku...” keluh Marc pelan. “Saya akan menenangkan mereka. Maaf, Tuan Deval” sesal Luc. “Hm. Tidak masalah. Senang sekali rasanya, melihat Robin yang begitu ceria dari bisanya...” jawab Marc mengejutkan. “Begitukah, Tuan Deval?” tanya Luc masih kaget. Marc tampak kembali fokus pada kertas-kertasnya, meski dua orang itu masih saja ribut dan saling mengejek.


~~


“Posisimu salah. Tenangkan bahumu. Bidik targetmu, seperti ini. Jangan tegang dan tetap fokus” bisik Robin, tepat di telinga Reine. “Kenapa... kau ada di sini? Aku bisa melakukannya. Oh? Di mana mentornya?” tanggap Reine terkejut. Dia terlihat celingukan mencari-cari sang mentor yang mendadak hilang.


Bukannya menjawab, Robin malah tersenyum. “Fokus!” seru Robin kemudian. Reine refleks menatap kembali ke arah targetnya. “Kalau masalah tembak-menembak, serahkan saja padaku” ucap Robin kembali berbisik. Tangannya, tampak memegang pistol yang juga, masih dipegang oleh Reine.

__ADS_1


“Fokuslah ke target” pinta Robin. Speechless, Reine hanya bisa menuruti perkataan Robin. Tangan yang panjang dan berotot. Juga, jemari yang kapalan serta, telapak tangan yang besar membuat jantung Reine berdegup kencang. Belum lagi, dada Robin yang keras telah mendesak ke punggungnya.


Panas.


Rasanya, jantungku terbakar. Dia bilang, aku harus tenang dan fokus. Bagaimana aku melakukannya sekarang, kalau dia bertindak seperti ini? Duh, tolong berhenti, batin Reine mengeluh.


“Aih, dasar Robin! Dia mengambil kesempatanku! Marc, tidak bisakah kau menghukumnya? Menyebalkan sekali!” gerutu Max kesal. Saat ini, dia, Marc dan juga Luc, sedang mengamati latihan Reine dari ruangan pengawas. Segala aktivitas orang-orang di hotel maupun Underwall, akan terlihat melalui CCTV. Kamera pengawas tersebut, terhubung di beberapa monitor dalam ruangan itu.


Tentu tak terkecuali, tempat latihan Reine. Dari awal Reine memulai latihan, hingga kedatangan Robin yang mengambil alih segalanya. Max rupanya, benar-benar tak bisa tenang. Dari tadi, Luc berusaha untuk menenangkannya sambil tipis-tipis memarahi pria itu.


Marc tampak terdiam di hadapan monitor yang merekam aktivitas Reine. Sembari menopang dagu, dia terus menatap ke arah monitor. Meski hatinya terasa beruap, dia tetap tak bisa mengungkapkannya seperti Max.


Ketika ucapan itu keluar dari mulut Max, wajah Luc mendadak panik. Luc buru-buru menutup mulut Max dan kembali menyeretnya keluar dengan kasar. Luc tak ingin, Marc tersinggung oleh ucapan Max yang ngawur.


Marc menghela nafas panjang. “Meski di ambil, hal itu sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tugasku, hanya memastikan Miss Dallaire berada dalam tempat yang aman” tanggapnya tenang, seperti biasa. Mendengar perkataan Marc, baik Max maupun Luc tampak syok.


“Ehh??! Anda yakin? Duh, Tuan Deval... Anda terlalu lemah. Anda boleh, lho ikut berkompetisi” kata Max. “Dia bukanlah sebuah objek untuk diperebutkan, Maximilien. Dia bukanlah manusia biasa yang dapat diperlakukan seperti itu” terang Marc menasihati. “Huaaahh... Kau selalu saja tenang, seperti biasanya. Membuatku kesal, saja. Bukankah begitu, Luc?” ujar Max sembari menyikut lengan Luc pelan.

__ADS_1


Luc tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Rei itu... wanita yang baik. Dia... berbeda dari yang lain. Jadi...” ungkapnya kemudian. Marc menatap ke arahnya dengan ekspresi kaget. “Nah, kau juga merasakan itu ya? Sekelas Luc, si keras kepala yang cuek” kata Max sembari geleng-geleng kepala.


“Tapi! Aku tidak bermaksud untuk bilang kalau, Rei adalah sebuah objek yang bisa digunakan untuk kompetisi! Bukan, itu!” seru Luc melanjutkan. Dia takut, Marc akan menghukumnya. Setelah tadi, sempat menatapnya dengan tatapan tajam. Sebab itu, dia buru-buru mengoreksi jawabannya.


“Apapun itu, jangan sampai lupa pada tujuan awal kalian. Kalian semua berada di sini, bukan untuk hal semacam itu. Kalian, Robin Évrard Dimont, Maximilien Jacob Geiger dan Luc Clovis Marchand, kalian dipilih oleh langit dan telah bersumpah untuk selalu berada di sampingnya. Jangan sampai, kalian dibutakan oleh hal yang negatif hingga membuat ikatan persaudaraan kalian terputus” pesan Marc. Saat mengatakan hal itu, Marc benar-benar seperti pimpinan yang sesungguhnya. Karisma dan wajahnya yang tegas, bak mampu membuat semua orang menatapnya dengan hormat. Dan tentu, menjalankan perintahnya dengan sebaik mungkin.


Baik Max ataupun Luc, terlihat mengangguk. Setelah berkata demikian, Marc tampak melangkah keluar dari ruangan pengawas. Tak lupa, dia berpesan pada Luc untuk melakukan tugasnya sebagai asisten. Sebab Marc sepertinya, berniat pergi ke suatu tempat.


Marc melangkah melewati ruang demi ruang. Dengan langkah yang penuh percaya diri, setiap orang tampak menyapanya dengan hormat. Itu semua dilakukannya, karena dia terlahir sebagai Marc Wilfrid Deval. Seorang iblis penghisap darah yang berasal dari klan bangsawan legendaris, Deval.


Dia tak akan gentar ataupun berhenti menjalankan misinya. Tak hanya melindungi manusia dan iblis dari ancaman jahat, dia juga mengemban tugas melindungi seseorang yang telah di titipkan padanya sejak kecil. Seseorang yang penting dari masa lalunya yang sempat kelam.


“Oh, Marc?!”


Langkahnya terhenti, oleh suara yang selalu membuat hatinya berdebar. Marc menatap ke arah suara berasal. Gadis yang dulunya kecil, sekarang telah tumbuh menjadi seorang wanita muda yang penuh dengan keceriaan.


Karena itu, aku tidak akan membiarkan siapa pun yang berani merenggut senyum indah itu. Aku janji, tekad Marc dalam hati.

__ADS_1


“Hai, Reine. Sepertinya, latihan berjalan dengan baik. Kamu... baik-baik saja, bukan?” balas Marc ramah. Meski berusaha tersenyum, hanya senyum tipis yang sanggup menghiasi bibirnya. “Oh, ya... Tentu...” jawab Reine buru-buru menunduk.


Pria ini... Selalu saja membuatku kewalahan


__ADS_2