produk gagal

produk gagal
Kota yang Terlihat Sama


__ADS_3

Luc mengantarku ke sebuah kamar mansion. Seperti yang Marc bilang, dia bakal memberiku tempat tinggal di salah satu kamar mansion di hotel ini. Karena aku setuju bekerja dengannya, dia memberiku tempat ini.


“Sebentar lagi, barang-barangmu akan dikirim kemari. Jadi, tunggulah di sini. Kau juga perlu menata semuanya, bukan? Tuan Deval bi...” kata Luc mendadak berhenti. Dia tampak menatap ke arahku, untuk memastikan sesuatu. “Maksudku... Marc. Marc bilang, dia akan memberimu waktu bebas hari ini. Besok, kau baru mulai masuk kerja. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin hari ini. Besok, akan melelahkan” lanjutnya.


Oh, jadi, dia berhenti ngomong karena berusaha memanggil Marc dengan lebih santai? Bagus, lah. Kalau begitu, Marc bakal tak kesepian.


“Hm. Terima kasih” ucapku sopan. Aku menunduk memberi hormat. Tak lama kemudian, dia berbalik. “Oh, kalau ada apa-apa, kau tinggal menghubungiku lewat ponselmu” ujar Luc berbalik kembali.


Ponselku? Kau mengotak-atik ponselku?! Itu pelanggaran namanya.


“Kau mengotak-atik ponselku?” tanyaku agak kesal. “Tentu saja tidak! Kenapa kami harus melakukan itu? Ponselmu, kami temukan dalam keadaan rusak parah. Mungkin, ponselmu terjatuh saat tak sadarkan diri di insiden malam itu” jelas Luc. Aku mengangguk, bisa jadi memang begitu adanya.


“Jadi, di mana ponselku?” tanyaku lagi. “Kami menggantinya dengan yang baru. Tapi sayangnya, kami tidak bisa me-recover kontak yang ada di ponselmu” jawabnya. Baik, aku mengerti. Dari pada berpikiran negatif, lebih baik langsung mengiyakan saja.


Setelah Luc pergi, pikiran yang penuh dengan rasa curigaku ini, tidak bisa langsung diredam. Sembari menunggu barang-barangku dipindahkan dari rumah lama, aku mulai memikirkan beberapa kemungkinan.


Ngomong-ngomong sebelum itu, Marc memang berjanji akan mengurus segala kendalaku dengan rumah lama. Dia baik sekali, bukan? Sampai barang-barangku saja, dia membayar jasa kirim.


Kembali ke pemikiranku yang penuh dengan kecurigaan. Aku menduga, mereka memang sengaja membatasiku untuk berkomunikasi dengan orang luar. Pekerjaanku, memang agak berisiko untuk manusia biasa.


Menangkap para iblis penghisap darah yang berniat mencelakai manusia. Mendengarnya saja, mungkin Miss Cara ataupun siapapun itu, sudah pasti ketakutan. Tapi, ya begitulah adanya.


Padahal, aku ingin sekali hidup normal seperti manusia kebanyakan. Tapi, darah dalam tubuh ini, tidak bisa kutolak lagi. Bagaimanapun juga, aku tetaplah seorang anak keturunan penyihir.

__ADS_1


Dan hal itu, yang selama ini kutakutkan. Bekerja di sini, hidup dengan berbagai batasan serta, tak bisa bebas pergi ke manapun. Kok bisa ya, aku mendaftar di hotel ini? Meski sudah ku cek.


Ternyata, tetap saja terkena ranjau. Hotel ini, malah dimiliki oleh seorang iblis penghisap darah. Dari klan bangsawan, pula. Sepertinya, aku harus bersiap-siap memperkuat tubuhku. Latihan yang mereka siapkan, harus ku pelajari dengan baik. Kalau-kalau, mereka sendiri yang bakal mengkhianatiku.


Tak lama, aku dikabari oleh Marc, kalau barangku akan segera datang. Dan benar saja. Saat barangku datang, rasanya benar-benar capek. Aku menata segalanya hingga tak terasa, langit telah berubah petang.


Aku lupa, dari tadi siang belum sempat makan. Luc bilang, kita bisa makan di kantin hotel. Tapi seperti yang kutahu dari kantin hotel tempatku dulu bekerja, menu makanannya tidak cocok dengan selera lidahku yang sederhana.


Jadi, kuputuskan untuk pergi keluar. Marc bilang, aku tidak perlu melewati perisai yang menghubungkan antara hotel iblis dengan hotel manusia. Itu artinya, saat ini aku sedang berada di kota para iblis. Kira-kira, bagaimana ya suasananya? Apakah sama dengan kota yang kutinggali ya?


Aku mengambil langkah dengan penuh semangat. Perisai yang menghubungkan hotel manusia itu, berada di pintu belakang. Kalau aku tidak melewati pintu itu, aku akan tetap berada di sini. Jadi, kupilih saja pintu depan.


Aku keluar diam-diam. Berharap, tidak ada orang yang mengganggu waktu sendiriku. Rasanya deg-degan sekali!


Tinggal beberapa langkah lagi dan... Yak! Sampailah aku. “Waaah, sama persis!” seruku agak pelan. Semuanya benar-benar persis. Bahkan lampu jala sekalipun. Meski di kota milik para iblis, serasa masih berada di kotaku sendiri.


Kupikir, tidak ada bedanya pun tetap tak masalah. Yang membuat nyaman tinggal di sini, bukanlah tata letak bangunannya. Tapi, orang-orang yang berada di sini.


Untuk para manusia berdarah penyihir sepertiku namanya, half blood. Kau pasti tahu, kan? Ya. Darah yang mengalir di tubuhku ini, merupakan setengah dari darah penyihir ibuku. Meski belum yakin, aku bisa sehebat ibu, tapi aku akan berusaha agar bisa menyamainya.


Kembali ke bahasan awal. Untuk kami para half blood, berada di sini bukanlah sebuah hal yang buruk. Berbeda dengan saat kami, berada di dunia manusia. Kalau terang-terangan menunjukkan kekuatan, kita pasti sudah dikurung dalam sel milik anggota pasukan khusus pemerintah.


Kalau di sini, kekuatan macam apapun bisa diterima dengan baik. Tidak dirudung ataupun di tangkap. Di sini, kita benar-benar bebas melakukan apapun.

__ADS_1


Awalnya, aku juga tidak tahu tentang adanya kota ini. Setelah kubaca buku milik ibuku, aku tahu segalanya. Para penyihir, menciptakan sebuah perisai yang dapat menghubungkan dua kota. Biasanya, perisai akan di sematkan di beberapa titik.


Kota ini, berdiri juga karena adanya campur tangan para penyihir. Mereka membuat sebuah lahan yang bisa ditinggali para iblis dan darah campuran lainnya, dengan memanfaatkan sihir ruang hampa. Mereka menggunakan ruang hampa, yang tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi dalam kota manusia biasa.


Karena itulah, dari tata kota hingga seluruh bangunannya, sama persis dengan bangunan yang berada di kota manusia biasa. Jadi, kurasa itu juga memudahkan bagi para half blood atau iblis dari klan lain, yang memiliki pekerjaan di kota milik manusia biasa.


Ah, ketemu!


Maaf, sedari tadi, aku memang berjalan-jalan mencari tempat makan favoritku di kota manusia. Kalau memang sama persis, artinya, kedai favoritku juga ada.


Sip! Beneran ada! Meski agak berbeda tata letak pintu dan tempat duduknya, ku rasa ini masih kedai ayam. Langsung saja, aku masuk dan memesan. Perutku benar-benar, tidak bisa diajak kompromi.


“Ah, di situ kamu rupanya! Rei!!!” seru seseorang terdengar memanggilku. Aih, aku ketahuan. Padahal, aku baru saja tiba di kedai ini. Jadi, segera kutolehkan kepalaku ke arah asal suara.


Maximilien?


Max tampak setengah berlari menghampiriku. Wajahnya, terlihat ceria sekali. Ketika aku melihat ke arahnya yang sibuk tersenyum senang, firasatku mulai menyadari sesuatu.


Rupanya, semenjak aku keluar dari hotel hingga berada di kedai ini, banyak sekali iblis yang menatap tajam ke arahku. Mereka seakan, diam-diam telah merencanakan sebuah pergerakan.


Max berada tak jauh dariku. Mungkin, aku bisa melangkah ke arahnya. Namun, ketika aku berdiri hendak melangkah menghampiri Max, beberapa iblis yang tadi telah menunggu segera menyerang ke arahku.


Kali ini, entah apa yang akan kulakukan. Karena Max, tetap berdiam di tempatnya, meski melihatku telah dikepung oleh para iblis di dalam kedai. Ketika para iblis semakin dekat, aku melihat, Max mulai berbalik dan melangkah meninggalkanku.

__ADS_1


Sialan.


__ADS_2