
“Antisipasi? Luc?” tanya Marc yang masih memikirkan ucapan Gray. Marc tampak melangkah di lorong Underwall, tempat di mana dia melihat Gray menghilang di sana. Dia sempat berpikir, Gray mungkin pergi ke dunia manusia.
Tapi... Untuk apa dia pergi ke sana? Kupikir, akhir-akhir ini dia selalu menyembunyikan sesuatu, pikir Marc berlanjut. Namun, sebelum lebih jauh Marc berpikir, langit Underwall mendadak dihiasi kegelapan. Jendela-jendela Underwall yang tadinya diterangi oleh cahaya, telah digantikan dengan suara petir yang mencekam.
Duar!!
Marc buru-buru menatap ke arah asal suara. Seketika, orang-orang di bawah sana mendadak kacau. Mereka berlarian ke sana dan ke mari. Mereka, bak sedang diancam oleh sebuah kejadian besar.
Dari arah kanan lorong, Reine berlari berusaha menghampiri Marc. Saat melihat seseorang yang dicintainya sedang panik, Marc secepat kilat berlari ke arah Reine. Begitu dramatisnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Marc cemas. Dia memegang kedua bahu Reine untuk memastikan keadaan. Reine hanya menjawab dengan sekali anggukan cepat. “Kamu juga baik-baik saja, kan? Apa yang terjadi? Tadi saat berada di Lobby resepsionis, aku mendengar suara dentuman keras” ujarnya kemudian.
Setelah banyak insiden, Marc menempatkan Reine di Front Desk hotel. Awalnya, Reine hanya diperbolehkan berada di rumah Marc. Namun karena dia ingin kembali bekerja, akhirnya Marc memperbolehkan dia bekerja sebagai resepsionis Underwall.
“Aku juga mendengarnya. Sepertinya... Akan ada bahaya besar lagi pada Underwall” kata Marc. Reine menatap ke arahnya. Seakan-akan, Reine sudah mengerti apa yang akan menimpa Underwall.
Tiba-tiba suara dentuman kembali terdengar. Kali ini, berulang kali. Seperti, dua buah bom dijatuhkan dalam sekali tembak.
Marc dan Reine langsung berlari ke arah jendela. Mereka melihat, beberapa orang di bawah sana sudah banyak yang berjatuhan. “Ini gawat. Mereka bahkan berani membunuh para iblis lain yang tak berkaitan” ujar Reine.
Marc mengangguk mengerti. “Mereka memang akan melakukan itu. Pasti. Sebab, mereka adalah bagian dari para iblis yang tersisa dari peperangan Vosre. Mereka ingin melanjutkan perang” balasnya kemudian. “Mereka benar-benar...” kata Reine sampai kehabisan kata-kata.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, sebuah cakar raksasa di lontarkan dari bawah. Cakar tersebut tepat mengenai dinding di sebelah jendela, tempat Reine dan Marc tengah berdiri. Cakar itu, rupanya milik seorang siluman bertipe naga.
Marc tetap berdiam diri, meski melihat hal tersebut terjadi di depan mata kepalanya. Dia hanya terlihat merangkul bahu Reine dan sedikit bergeser menghindar. Dia tampak tak takut, seolah hal itu pernah terjadi sebelumnya.
Ketika cakar tersebut berhasil menembus Underwall, seperti sudah ada remote pengendali, dinding Underwall kembali menutup diikuti dengan kobaran api biru yang panas. Sehingga, cakar yang tadinya berhasil menembus, pun jatuh ke bawah kembali. Kini, dinding Underwall telah kembali seperti semula.
Reine langsung menatap ke arah Marc dengan takjub. “Ini...?” tanyanya masih merasa tak masuk akal. Marc mengangguk pelan. “Underwall sedang melakukan tugasnya” jawab Marc tampak tenang.
Tak lama, Robin menemukan mereka. “Luc telah berhasil masuk dari area bawah tanah” lapornya. Dia juga tampak tenang. “Biarkan dia masuk. Kita tidak tahu apa yang dia inginkan dari tempat ini. Karena sejatinya, Underwall bukan tempat bagi orang-orang yang berhati kotor” balas Marc tegas. Raut wajahnya berubah menjadi serius. Otot wajahnya terlihat kaku.
“Apa perintahmu?” tanya Robin. “Aktifkan seluruh pelindung” jawab Marc. “Semua telah diaktifkan” kata Robin.
Marc tampak melangkah ke depan. Dia kembali mengamati keadaan di luar sana, dari jendela di lantai lima tersebut. “Jika staf kita menjadi korban, jangan segan untuk membunuh mereka. Meski, Luc harus dilibatkan. Katakan pada seluruh penjaga. Ini... adalah perintah dariku” tegasnya. Robin mengangguk penuh hormat.
Robin menghandle lantai dua Underwall. Sebab, Luc dan tentaranya mungkin akan mengarah ke tempat itu, setelah berhasil membobol jalan dari bawah tanah. Robin juga terlihat mengerahkan beberapa penjaga ke beberapa titik penting.
Ketika semuanya menjadi genting, hanya satu orang yang tak Reine lihat. Dia bahkan, tak dapat menemukan orang itu meski mencarinya di seluruh tempat. Kau pasti bisa menebak, siapa orang itu, bukan?
“Maximilien, di mana dia? Kamu melihatnya?” tanya Reine, seolah kehilangan sisi sepatunya. “Max? Aku tidak melihatnya lagi, setelah kami semua bertemu di ruanganku. Kurasa, dia juga tidak berada di sini. Jika dia tidak ada di sini, bukankah seharusnya... dia akan baik-baik saja?” jawab Marc. “Mungkin?” tanggap Reine, seolah meragukan.
Memang, Marc adalah orang yang dicintai oleh Reine. Akan tetapi, setelah kejadian demi kejadian, Gray selalu menghantui mimpi Reine. Semuanya, berjalan seolah nyata.
__ADS_1
Di mimpi itu, Reine bak tak dapat membedakan. Mana yang hanya sekedar bunga tidur ataukah memang dirinya pernah mengalami situasi yang sama. Mimpi aneh tentang memburu para iblis, bagai menekan memorinya. Belum lagi setiap kejadian yang Reine impikan, selalu ada kehadiran Gray di sana.
Ketika Gray tak terlihat atau kadang... menghilang, Reine seperti sedang melupakan sesuatu. Atau merasa seperti, kehilangan sesuatu. Setelah itu, mimpi yang isinya berasa seolah kisah nostalgia pun, mulai berputar di otaknya sepanjang malam.
Luc menumbangkan seluruh penjaga Underwall dalam satu serangannya saja. Dugaan Marc, selalu terjadi. Dan sebab itu, Robin benar-benar akan melumpuhkan Luc seketika.
Namun sebelum itu, Robin harus lebih dulu melumpuhkan para tentara penyihir hitam. Tidak seperti saat di gua, kekuatan Robin mendadak bertambah berlipat-lipat ketika berada di Underwall. Bahkan, 100 tentara pun, bisa dia tangani sendirian. Walau kekuatan dari seorang iblis darah campuran, biasanya terlalu lemah dari pada kekuatan dari iblis murni.
Marc melangkah ke arah portal dunia iblis dan manusia biasa. Di belakangnya, Reine turut siaga dengan segala situasi yang akan terjadi. Ketika tentara penyihir hitam menyerang, Marc langsung teringat sesuatu.
Pesan dari Gray.
“Apa yang akan kamu lakukan di lorong portal?” tanya Reine penasaran. “Maximilien menyuruhku, untuk mengirimkan sinyal” jelas Marc. Reine tampak mengerutkan keningnya. “Sinyal?” tanyanya lagi.
Portal telah berada di depan mata. Tempat yang juga, menjadi posisi terakhir kali Gray menghilang. Marc menatap portal dengan raut wajah serius.
Usai menghitung beberapa detik, Marc segera melemparkan sebuah batu dari tangannya. Entah, sejak kapan batu tersebut berada di tangan Marc. Bahkan, Reine pun tak tahu menahu tentang asal usul dari batu itu.
Namun, Reine memang melihat Marc selalu menggenggam tangannya dengan erat, sebelum tentara penyihir hitam menyerang. Ketika batu tersebut dilemparkan ke dalam portal, tak ada yang terjadi. Portal tetap terlihat transparan, seperti biasa.
“Apa... yang akan terjadi setelah ini?” tanya Reine memecah keheningan. “Aku tidak menanyakannya. Max hanya menyuruhku untuk melakukannya. Aku memang sudah gila, karena percaya pada orang sinting macam dia!” tanggap Marc yang mendadak kesal, akibat kekonyolan yang dia lakukan. Reine pun juga tak mengerti maksud dari Gray. Akan tetapi, dia malah menyadari sesuatu yang lain.
__ADS_1
“Kenapa dia menyuruhmu untuk memberi sinyal melewati portal? Memangnya, manusia akan mengetahui sinyal itu? Mereka tidak akan mungkin bisa membantu kita, bukan? Mereka... hanyalah manusia biasa. Tapi, ada sebuah hal yang mendadak mengusikku. Max menyuruhmu memberi sinyal, seakan-akan dia berada di tempat lain. Seakan-akan... dia berada di tempat itu. Tempat di mana manusia biasa berada. Bukankah itu telah cukup menjawab, ke mana dia pergi?”