
Aih, dia bahkan sengaja meninggalkanku. Apakah Marc, masih berusaha mengetes kemampuanku? Padahal, sekembalinya dari sini, aku ingin menjenguk Robin dan membawakannya sesuatu.
Akan tetapi, firasatku tidak yakin kalau Marc masih ingin mengetesku. Bahkan dia, akan memberiku pelatihan besok. Tapi, kenapa Max begitu tega meninggalkanku, meski dia mengetahui situasiku sedang sulit?
Reine, bangun! Ini jebakan! Mereka berusaha untuk membuatmu berkhianat dengan klan Marc! Bangunlah, sayang!
Teriak seseorang. Suaranya sama, seperti saat aku dirawat di klinik hotel beberapa waktu lalu. Kupikir, itu suara ibu. Tapi, bukan. Kupikir juga, suara dari Lady Dia. Rupanya, bukan.
Lalu, siapa?
Tidak ada waktu untuk menanyakan itu, Reine! Saat ini, ada sebuah ruang hampa lain, yang tak sengaja kau masuki! Kalau kau tidak segera sadar dan keluar dari sini, mereka tidak akan bisa menolongmu! Kau akan terdampar dalam kegelapan!
Oke, oke aku mengerti. Tenang. Jadi, buru-buru kubuka mataku. Para iblis ini, masih terus mengelilingi. Ayo, berpikir Rei! Apa yang harus kau lakukan agar bisa keluar dari ruang hampa ini. Berpikirlah. Apa ya?
Biasanya, ada sesuatu yang luput saat manusia sedang panik. Pasti ada sebuah titik kelemahan tertentu. Seperti, saat aku melempar pisau pada iblis yang menyerang Robin. Di mana, ya? Titik kelemahannya? Titik. Sebuah titik.
Ketika kepalaku celingukan mencari titik yang di maksud, pandanganku seketika di selimuti oleh samar-samar bayangan hitam. Mungkin, inilah bentuk dari ruang hampa yang kumasuki.
Bersamaan dengan munculnya bayangan hitam, aku melihat sebuah celah. Pikiranku, terpusat hanya pada celah dengan seberkas cahaya kuning tersebut. Dengan menggunakan keyakinan dan keberanian saja, ku keluarkan pisau ayah. Lalu, dengan cepat ku lemparkan ke arah celah itu.
Sraash!
Suara seperti, sebuah kulit yang tertembus benda tajam. Kini, kegelapan yang menyelimutiku berangsur menghilang. “Rei! Reine!” panggil seseorang dari balik bayangan yang masih tersisa.
Mendadak, tanganku ditarik oleh tangan seseorang. Tubuhku terbebas dari segala bayangan kegelapan yang tadi menutup, seperti kabut. Ketika ku cari tahu tangan milik siapa itu. Di depanku sudah muncul seorang pria. Yang tadi sempat kusangka, dia telah meninggalkanku.
Maximilien.
__ADS_1
Dia lagi. Orang ini rupanya, yang menarik tanganku dan melindungiku di balik punggungnya. Dalam hati, perasaanku agak lega. Rupanya, kata suara itu benar. Para iblis ini, mencoba untuk membuatku mengkhianati Marc dan yang lain.
“Kamu baik-baik saja, sayangku?” tanya Max seperti biasa. Kalau bertindak begini, dia jadi terasa lebih keren. Dia bak, hero dalam dongeng yang rupawan.
“Dia milik klan kami, Geiger! Kami yang lebih dulu menemukannya. Jadi, cepat serahkan!” seru kasir kedai ayam. Padahal kukira, dia bukan iblis yang jahat. Rupanya, aku sudah tertipu.
“Milik siapa? Milik kalian? Sejak kapan? Enak saja, kalian ngaku-ngaku yang menemukannya duluan! Dia ini...” balas Max sembari merangkul bahuku. “Milikku” bisiknya melanjutkan. Memang kalau berbisiknya di telingaku gini, mereka semua bakal dengar? Cuma aku yang dengar, tahu!
Para iblis tersebut, malah tertawa. Yang buat kupingku panas, suara tawa mereka itu seperti sedang meremehkan Max. Jadi makin kesal, tahu!
Dan lagi, mereka ini apa ya? Kok meski tahu temannya yang tadi tertusuk pisauku sedang sekarat, malah di diamkan. Mereka masih bersikeras menangkapku. Parah...
“Kalau begitu, rasakan akibatnya karena telah membuat klan kami marah!” teriak kasir kedai ayam. Duh, makin kesal saja aku nih! Sudah lapar, batal makan lagi!
“Dasar, klan rendahan...” olok Max pelan. “Apa kau bilang?! Kurang ajar! Jangan sombong! Klanmu itu yang rendahan!” teriak si kasir kedai ayam. Mendengarnya, Max hanya membalas dengan senyum kecut. “Kalau klan Tuan Deval tidak memungut klanmu yang terdesak Pemburu Kematian, klanmu akan setara dengan... Sampah?” timpal iblis lainnya. Kemudian, mereka tertawa lagi.
“Siala...” “Brengs*k” umpat Max memotong ucapanku. “Sampah, memang selalu bermulut besar. Rei, tetap di belakangku. Aku akan menghancurkan sampah-sampah ini hanya dengan, lima menit saja” lanjutnya, yang berakhir berbicara padaku. Dia mengatakannya, tanpa menatap ke arahku. “Hati-hati” balasku pelan.
Hah?
Apaan orang ini? Bukannya bersiap bertarung, Max malah berbalik menatapku. Padahal, beberapa dari iblis itu telah bersiap dengan senjata mereka.
“Ada apa denganmu? Musuhnya di sana, woy!” kataku heran. Max tersenyum, meski mendengarku bicara. Enggak nyambung kan, ya? Di tanya apa, malah menanggapi apa.
“Kenapa sih? Cacingan, ya?” tanyaku kesal. Dia malah tertawa. “Kalau kau bersikap manis begitu, aku jadi... makin sayang padamu” ungkapnya enggak jelas.
Situasi makin mendesak, Max malah masih menatapku dengan tatapannya yang lembut. “Max, mereka sudah dekat lho!” ujarku mengingatkan. Tapi dia ini, tetap saja masih senyum-senyum menatapku. Gila!
__ADS_1
“Max!” teriakku kencang. Baru kali ini, teriakanku membuat telingaku sakit. Tentu, aku bakal langsung panik dan berteriak gitu. Masalahnya, para iblis tersebut telah melepaskan senjata mereka ke arah kami berdua.
Dengan sigapnya, Max berbalik dan menangkis seluruh trisula dengan sebilah pisaunya seketika. Senjata milik Max, bukanlah pisau biasa. Pisau itu, bisa berubah menjadi enam buah sekaligus, ketika dilemparkan. Dan seluruh serangan dari keenam pisaunya, semuanya tepat sasaran. Dia memang hebat.
Ngomong-ngomong, benar dugaan kalian. Para iblis yang menyerangku ini, berasal dari klan yang sama dengan iblis yang menyerang hotel tadi. Mereka benar-benar tidak menyerah.
Tanpa membuang waktu lagi, Max segera menyerang mereka semua dengan kecepatan bagai angin. Tiba-tiba saja, para iblis tadi telah berubah menjadi abu. Sepertinya, senjata milik Max telah dilumuri Abu Kematian. Pantas saja, semua iblis yang terkena pisaunya, akan langsung sirna.
“Aku berhasil membunuh semuanya” lapor Max. Aku hanya menangguk. “Eh? Cuman itu? Mana pujiannya?” tanya Max bernada manja dan sok imut. Hhh...
“Terima kasih, sudah membantuku” ucapku biasa. Max tampak tersenyum senang. Dia juga terlihat bertingkah imut dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Bak bocah lima tahun, yang bahagianya sampai ubun-ubun setelah dipuji Ibu Guru.
Mendadak, aku melihat iblis yang tadi terkena pisauku, kembali bergerak. Dengan langkah yang cepat sekali, iblis tersebut hendak menikam Max dari belakang. Refleks, mulutku berteriak.
“Awas!!” seruku sembari mengacungkan tanganku ke depan. Bak mesin otomatis, pedang milik ayah yang belum sempat ku ambil, tampak langsung terbang dan menyerang si iblis. Max, selamat dari ancaman iblis tersebut.
Sesegera mungkin, Max kembali mengeluarkan senjatanya. Dia tampak menusuk iblis itu hingga berubah menjadi abu pula. Hari yang panjang ini, ditutup dengan Max yang menemaniku makan malam.
Dia menunjukkan padaku sebuah kedai ayam yang enak. Walau di sepanjang perjalanan, aku merasa para iblis sedang mengintai, firasatku tetap merasa aman. Karena Max berada di dekatku, rasa khawatir telah menghilang.
Max tiba-tiba menggandeng tanganku. Saat dia melakukannya, para iblis yang menatapku dengan tatapan tajam, berubah sedikit demi sedikit menjauh dari jalan kami. Mungkin, aura kekuatan yang Max miliki terlalu bersinar hingga mereka takut.
Lagi-lagi, aku harus berhadapan dengan nasib burukku. Akibat dari permata perak, hidupku selalu terancam. Akan kuberi tahu mengapa permata yang melegenda ini, mendadak tercampur dengan darahku.
Sebab para peramal bilang, aku adalah penyihir terakhir yang memiliki potensi untuk menghancurkan para iblis. Sayangnya, banyak dari para iblis itu yang salah sangka. Siapa yang berhasil mendapatkan permata perak, merekalah yang bakal mendapatkan kekuatan besar dan dapat mengambil alih dunia. Mereka melupakan sebuah ramalan di bawahnya.
“Kecuali, bagi mereka yang menggunakan kekuatan permata perak untuk membahayakan sesama dan dunia”
__ADS_1
Seolah ingin menenangkanku dari segala pikiran dan beban buruk, Max menggenggam tanganku dengan erat. Saat aku menatap ke arahnya, dia tampak tersenyum cerah. Seperti, sedang berusaha menghapus kekalutanku. Sekali lagi...
Tolong, jangan membuatku jatuh cinta...