
Tidak.
Ini bukan berbaikan. Ini hanyalah sekedar... peringatan. Agar aku, tidak ikut campur lagi di setiap pertarungan yang tidak berdasarkan atas izin darinya, pikir Carine. Dia tetap tidak bisa berprasangka baik, meski Gray sudah berulang kali meminta maaf. Trauma... Mungkin adalah sebuah jawaban yang tepat atas semuanya.
Gray kembali berbalik, menyusuri jalanan kota yang tengah ramah. Dia, bak pria yang sudah tinggal di dunia manusia selama bertahun-tahun. Gray bahkan, tak canggung ataupun merasa kikuk dengan perubahan di sekitarnya.
Sebagai makhluk yang diberikan kesempatan oleh Langit untuk terus bereinkarnasi, Gray bisa dengan mudah beradaptasi. Di dunia manapun, Gray tak hanya mampu beradaptasi dengan dirinya sendiri. Terkadang, pekerjaan mengharuskannya untuk bertransformasi menjadi makhluk yang lain.
Terkadang, menjadi seorang penyihir hebat. Kadang juga, menjadi seorang Anima (manusia yang dapat bertransformasi menjadi hewan buas. Namun, bukan dikategorikan sebagai siluman, meski penduduk Anima juga mampu berubah menjadi hewan. Bedanya, siluman adalah iblis yang bisa berubah menjadi binatang besar. Kalau Anima, hanya bisa berubah sebatas hewan buas saja).
Atau yang terbaru, sekarang Gray bisa berubah menjadi seorang iblis pengisap darah. Karena kemampuan luar biasanya tersebut, para iblis lain sampai tak dapat merasakan aura Pemburu Kematiannya. Bahkan, sekelas Marc yang juga seorang Pemburu pun, sepertinya juga masih tidak bisa mengendus.
“Oh, ya, kau sudah cerita soal kenapa Marc tiba-tiba dikirim kemari?” celetuk Gray mendadak. “Belum bisa kuceritakan. Saat pertama kali melihatku berubah saja, dia terlihat belum bisa mencerna dengan baik” tanggap Carine sejujurnya. “Memang, pasti membutuhkan waktu yang lama untuk itu. Sebab, mereka mengenal Reine selama periode waktu yang juga cukup lama” kata Gray.
Belum ada sedetik usai bicara, Gray tiba-tiba berbalik ke arah Carine. Sontak, tindakan tersebut membuat Carine kaget setengah mati. Sayangnya, Gray malah tertawa senang melihat Carine yang terlihat berjingkat, saking syoknya.
“Sekarang... kenapa sih, kau sering sekali kagetan kalau bersama denganku?” protes Gray, setelah puas tertawa. “Habisnya, kau selalu saja mendadak berbalik! Wajar dong, kalau aku kaget?” balas Carine agak kesal. Namun, Gray malah kembali tertawa.
Sembari berbalik melangkah ke arah depan lagi, Gray berujar,
“Santai saja. Lagipula, aku tidak akan memakanmu, kok”
“Memangnya, anda siluman? Memakan orang lain?”
“Hahah... Mana ada yang begitu? Tapi, bisa jadi sih. Tidak ada yang tahu. Tiba-tiba seperti yang kemarin, Langit menyuruhku untuk berubah menjadi iblis. Kan lucu, jadinya...”
__ADS_1
“Mau berubah jadi apapun... anda tetaplah orang yang hebat”
Mendengar pujian mendadak dari Carine, kedua pipi Gray mendadak merah. Pria itu, tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tangan kanannya, terlihat menggosok-gosokkan hidung. Sialan aku jadi deg-degan nih, umpatnya dalam hati.
Aku enggak salah bicara, kan? Kok dia mendadak diam, ya? Salahku apa? Aku harus segera minta maaf, sebelum dia murka. Kalau dia diam saja begitu, biasanya dia bakal marah besar nanti pas sampai rumah, batin Carine was-was. “Yang... mulia, maa... Aduh” ujar Carine terhenti. Dia yang awalnya ingin meminta maaf, mendadak batal usai tubuhnya tak sengaja menabrak tubuh Gray. Sepertinya, orang itu tiba-tiba berhenti tanpa sebab.
“Oh, maaf, kau terluka?” tanya Gray jadi cemas. “A, aku baik-baik saja. Ada yang mengganggu pikiran anda, yang mulia?” jawab Carine balik bertanya. “Eng, enggak, sih... Aku cuman khawatir, kok kau mendadak diam saja” kata Gray bingung.
Carine menggeleng. Gray kembali menghadap ke depan. Di ujung mata, tempat pemberhentian bus telah terlihat.
Situasi canggung macam apa ini? Kenapa jadi begini, sih? Maksudku, aku ingin memperbaiki hubungan masa lalu yang buruk itu. Apa jangan-jangan... dia masih tidak mau memaafkanku, ya? Gawat, kalau begitu adanya, pikir Gray menyimpulkan. Dia, tak berani lagi menatap ke arah Carine. Gray hanya takut, tatapannya hanya akan membuat Carine takut.
Usai tiba di kastil dengan bantuan bus, mereka tak lagi mengobrol. Gray yang sibuk dengan pekerjaannya di ruangan. Dan Carine, yang sibuk mengawasi keadaan Marc dan lainnya di ruang perawatan.
Serta Raven, yang membenci situasi dingin seperti ini. Seumur-umur, semenjak Carine masuk ke dalam kehidupan Gray, tak pernah ada suasana yang begitu dingin seperti ini. Sebab biasanya, Carine selalu menjadi orang pertama yang mencairkan suasana.
“Dan keadaan ini... Sudah berlangsung selama berhari-hari! Aku sebal! Aku tidak tahan lagi! Semenjak Nona datang, yang mulia makin terasa cuek saja. Aku harus segera memperingatkannya. Jika tidak, kejadian itu akan terulang lagi!” gerutu Raven dongkol. Dia terlihat bergegas ke arah ruangan Gray. Raven sudah tak tahan lagi, dengan situasi yang canggung dan membeku.
“Norak, tahu!” seru Raven tiba-tiba. Bahkan, dia mengomel dengan suara yang keras, saat membuka pintu ruang kerja Gray. Tanpa ketukan ataupun sapaan yang sopan.
Raven, bak membuka jendela milik sendiri, ketika membuka lebar-lebar dua pintu ruang kerja Gray. Mungkin, karena dorongan dari hatinya yang terlanjur gundah.
“Kau bertingkah lagi... Sepertinya, tabib harus menaikkan dosis penenangmu” tanggap Gray santai. Dia bahkan, sama sekali tak kendur dan tetap fokus pada buku yang dibacanya. Situasi seperti itu, sudah sering sekali terjadi pada Raven. Naga raksasa itu... Memang, agak unik.
Raven melangkah dengan tegas menuju ke arah meja kerja Gray. Kedua tangannya, sengaja di rentangkan, bagai fondasi tubuhnya, di sisi meja kerja. “Anda harus menyudahi musim dingin ini” ucap Raven tegang.
__ADS_1
“Ini baru awal November, Rav. Musim gugur...” tanggap Gray dengan tenangnya. Beberapa detik kemudian, Raven malah menggebrak meja. Meski pelan, tindakan tersebut membuat Gray agak kaget.
“Rav!” tegas Gray memperingatkan. Tindakan Raven, sudah kelewatan. “Yang mulia!” balas Raven tak mau kalah. Gray refleks menatap tajam ke arah Raven.
Namun, Raven malah balik menatapnya dengan tatapan yang sama. Terasa tajam dan menusuk. Gray sampai tak habis pikir dengan sikap Raven hingga membuatnya mengerutkan kening.
“Apa maumu?” tanya Gray serius. “Mungkin waktu itu, andalah yang memutuskan benang merahnya” terang Raven. “Terus? Kenapa?” tanya Gray lagi. Dia semakin penasaran dengan maksud dari Raven.
“Bagaimana jika... kali ini, Nona yang akan memutuskan benang merahnya?” lanjut Raven mengena. Ucapannya, sukses membuat Gray merasa tak tenang. “Apa... maksudmu?” desak Gray sudah mulai marah.
“Anda tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil. Kalau anda terus menerus bersikap dingin padanya, tanpa ada kemajuan untuk mendekatinya... Seratus persen ku jamin, anda akan gagal. Yang mulia, Langit mereinkarnasinya kembali. Dan ini adalah kesempatan terakhir, untuk bisa memperbaiki hubungan anda dengannya lagi!”
“Aku tahu, jangan menggurui”
“Anda selalu menganggapnya enteng. Kenapa? Karena anda yakin, hanya andalah yang bisa memilikinya”
“Itu kenyataan, Rav. Dia memang diciptakan untuk menjadi pasanganku seumur hidup. Selama aku menjadi Pemburu Kematian”
“Kalau Nona yang memotong benang merahnya, apa yang akan terjadi? Apakah Nona... masih menjadi milik anda?”
“Dia akan menghilang, Raven. Setelah dia memotong ikatan itu, dia akan menghilang lagi. Sama seperti waktu itu”
“Bagaimana jika dia bereinkarnasi lagi? Anda melupakan... Marc, rupanya. Saat ini, dia adalah orang yang mencintai Reine dengan sepenuh hati. Begitu juga dengan Reine. Jika Nona memutuskan untuk memotong ikatannya dengan anda, bukannya tidak mungkin... Langit akan menyatukan mereka kembali. Di hadapan anda, lho! Apakah anda sudah siap dengan kemungkinan itu?”
Ucapan Raven kembali membuat Gray sadar. Tidak ada waktu baginya untuk terus berpegang pada prinsip, ‘hanya aku yang bisa menjadi pasangan hidupnya’. Jika, Gray benar-benar ingin memperbaiki hubungan yang pernah hancur itu dengan Carine, saat ini. Maka, dia harus mengubah jalan pikirannya.
__ADS_1
Gray harus berubah.