
“Marc Deval?!” pekik Carine syok. Meski seberisik apapun dia, orang-orang tak akan menyadari. Sebab, dia sedang berada di masa lampau dengan menggunakan portal penghubung milik Gray. Portal itu, tak akan membuat keberadaan mereka ketahuan. Mereka hanya akan datang dan kembali, layaknya penonton dalam sebuah acara siaran televisi.
Tak ada yang bisa mengembalikan kejadian di masa lalu. Kembali ataupun mengubahnya. Kecuali, ada izin dari Langit untuk memperbaiki sesuatu yang penting.
Bahkan, Gray pun pernah meminta hal itu. Sayangnya, Langit tak pernah mengabulkan keinginannya. Langit merasa, apa yang telah terjadi dengan Carine hingga direnggut darinya adalah sebuah karma untuk menghukum Gray.
“Ini adalah awal... dari hal yang kau bilang, ‘terlambat mengurusnya’. Kau akan tahu, mengapa hal tersebut terjadi” ucap Gray. Entah mengapa, saat mengatakannya suara Gray terdengar berat. Carine jadi tak tega, karena telah menganggapnya tak kompeten.
“Marc Deval!” seru sebuah suara yang tiba-tiba membuat hening moot court. Carine buru-buru menatap ke arah asal suara. Seorang pria tua berambut putih sepinggang, tampak menatap ke arah pendengarnya.
Ternyata, pria itu yang memimpin jalannya pertemuan di sini. Terlihat, dari duduknya yang lebih mencolok. “Kau adalah penerus bagi klan ini. Kelak, kau adalah satu-satunya klan suci yang bisa memimpin seluruh klan pengisap darah. Jadi, persiapkan dirimu untuk menghadapi segala situasi!” lanjut pria tersebut.
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Pemimpin klan” ucap Marc disertai tundukan penuh hormat yang menawan. Dari kecil, kepribadiannya tak pernah berubah. Selalu tenang, layaknya tak memiliki masalah kelam.
“Tapi, ada satu hal yang harus kau ingat baik-baik” balas pak tua, pemimpin klan Deval. Nada bicaranya jadi terdengar sedikit menyeramkan. “Jangan pernah berbaur dengan klan lain. Apalagi sampai... memiliki hubungan dekat. Baik itu teman ataupun kekasih. Kita adalah klan yang terpuji. Kita tak tertandingi. Oleh sebab itu, kau harus camkan! Jika gagal... dengan terpaksa... aku harus memusnahkanmu” tekan pimpinan klan Deval.
__ADS_1
Carine mendadak emosi ketika mendengarnya. “Apa?! Dia masih anak-anak?! Kenapa kau begitu angkuh dengan menurunkan sifatmu yang berengsek itu! Iblis, sialan!!!” umpatnya kesal. Dia sampai refleks berdiri dari tempat duduknya.
Dengan pelan, Gray menariknya kembali ke tempat duduk. “Yang mulia, dengan adanya kejadian seperti ini, kenapa kau diam saja?! Kenapa kau sama sekali tidak bereaksi? Menghentikan si tua busuk itu, kek! Atau kalau bisa langsung memusnahkannya sekarang juga! Dia itu adalah racun bagi dunia ini!” amuk Carine makin menjadi. Dia benar-benar marah dan merasa ingin sekali memakan pimpinan klan Deval tersebut secara langsung.
Namun, seperti yang sudah-sudah. Gray terbiasa dengan sikap Carine yang khas. Wanita itu akan marah-marah dengan hebohnya. Dan kemudian, akan tenang dengan sendirinya. Tanpa perlu Gray repot-repot untuk menenangkannya. Terkadang, membiarkannya marah bisa membuat Carine lebih tenang nantinya.
“Sudah?” tanya Gray. “Maaf, aku benar-benar tidak bisa duduk diam” jawab Carine pelan. Gray terlihat menyilangkan salah satu kakinya. “Jadi, sekarang kita beralih ke tahun yang selanjutnya” kata Gray.
Tanpa beranjak dari kursi, waktu seakan berjalan seperti sedang membalik halaman demi halaman dalam buku. Semuanya berganti, dengan waktu yang cepat dan kilat. Carine benar-benar takjub dengan kemampuan Gray yang seperti ini.
Hingga dari kehidupan itu, umurnya bertahan hingga beratus-ratus tahun. Kebanyakan, para iblis dibiarkan hidup oleh Langit. Untuk memberikan ujian pada mahluk lain yang bukan iblis. Mereka dicoba oleh sifat-sifat iblis dan siluman yang sangat berkebalikan. Mahluk lain di sini, sebut saja untuk para penyihir serta, manusia normal yang tidak memiliki kekuatan apapun.
Jika terjadi sebuah kehancuran yang disebabkan oleh mereka, Langit baru mengirimkan Pemburu untuk mengirim kembali. Mengirim pengacau kembali ke Langit. Tempat di mana, mereka berasal.
Namun untuk sekelas Marc, keberadaannya masih diperhitungkan. Tidak hanya Marc, berbicara tentang Robin dan Luc pun, mereka juga sama. Mereka dibiarkan mengalami kehidupan panjang, karena mereka masih memiliki tugas yang penting di dunia. Salah satunya, Underwall.
__ADS_1
“Marc Deval, ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa kau... telah menjalin hubungan pertemanan dengan iblis dari klan lain!” seru seorang orang tua dengan rambut cepak. Kini, Carine dan Gray kembali di hadapankan dalam moot court, meski dengan Marc yang lebih dewasa. Suasananya, masih tak berubah.
Carine lebih tertarik mencari pria tua berambut panjang tadi, ketimbang harus mendengar celotehan dari pria tua lainnya. “Yang mulia, aku penasaran ke mana perginya pimpinan klan yang tadi?” tanyanya setengah berbisik. Rupanya, Carine sudah menyerah, karena tak berhasil menemukan pria tua berambut panjang tadi.
“Maksudmu, 723? Dia sudah kembali ke Langit” jawab Gray santai. “Apa?!” seru Carine saking kaget dan tak percayanya. “Ba, bagaimana bisa dia dikirim begitu cepat? Biasanya, iblis laknat seperti dia... akan lebih panjang hidupnya” lanjut Carine berkomentar.
Gray menghela nafas panjang. “Sebenarnya, inilah yang sangat kubenci dari dirimu. Kau tahu? Saat aku hendak mengeksekusinya, aku sempat berpikir, kau mungkin akan puas jika iblis macam dia langsung di musnahkan. Lalu, usai aku mengeksekusinya, wajahmu kembali terbayang di pikiranku. Kau seakan sedang bertanya, mengapa orang sejahat itu tidak dibiarkan tetap hidup saja? Pasti, orang sejahat itu akan berguna untuk keseimbangan dunia ini” jelasnya mengungkapkan. Carine mengerutkan keningnya.
“Kau bilang, dulu sangat membenciku. Terus kenapa, kau masih sempat memikirkan aku... saat hendak mengeksekusi orang? Kenapa kau harus memikirkan pendapatku dulu? Memang, aku seberharga itu?” celetuk Carine, langsung menusuk ke dalam jiwa raga Gray. “Mau dulu ataupun sekarang, kau selalu berharga untukku. Hanya saja, aku sempat tidak bisa menyadari hal itu” ungkap Gray lagi.
“Aku hanya berteman, untuk tujuan yang baik. Tanpa adanya keeratan antar klan, kekuasaan klan Deval tidak akan mendapat kehormatan. Dan lagi pula, pertemanan yang ku lakukan bukanlah dengan seseorang yang berasal dari klan rendah. Jadi, tolong anggaplah ini sebuah tujuan yang baik” jelas Marc tegas. “Kita tidak membutuhkan relasi untuk membuat orang menghormati kita! Kita adalah klan Deval! Pahlawan yang menyelamatkan seluruh klan pengisap darah. Ketika perang tiba, kitalah yang pertama berjuang di garis depan” balas pak tua dengan rambut cepak. Marc terlihat tak setuju dengan pendapat barusan. Orang-orang pun, tampak saling berbisik mendiskusikan permasalahan ini lebih lanjut.
“Sungguh, keras kepala...” gerutu Marc kesal. Dia tidak bisa membalas, karena masih menghormati pria tua tersebut. Pria tua tersebut, tetaplah tetua yang berpengaruh dalam klan Deval. Jika dia bertindak terlalu jauh, keselamatan keluarganya akan kacau.
“Dari dulu, selalu saja ada yang busuk di antara klan Deval” kata Gray. “Kurasa, mereka terlalu menganggap diri mereka terhormat, hingga melupakan sopan santun” timpal Carine sembari bersedekap. “Di sini, kau sudah paham, kan? Kalau begitu, kita akan beralih ke hari lain” ucap Gray.
__ADS_1
Kali ini, Gray tampak bangkit dari tempat duduknya. “Ke mana tujuan kita selanjutnya?” tanya Carine penasaran. “Ke sebuah masa di mana Marc Deval... telah mengubah aturan klan” jawab Gray.