produk gagal

produk gagal
Lengah


__ADS_3

“Aku akan melepaskanmu, Ibu. Semoga, kita bertemu kembali di waktu yang lainnya...” kata Carine pada akhirnya. Lady Dia tampak membalasnya dengan senyuman. “Tolong jaga Reine, Carine. Dia anak yang baik, namun bernasib malang. Harusnya, Langit tak memilihnya untuk melindungi Permata...” pesan sang ibu. Carine segera memberi anggukan sempurna.


Kini, sorot mata Lady Dia terlihat mengarah ke tempat Gray berada. Lindungi dia, The Great Savior, batinnya kemudian. Seakan mendengar sebuah perintah, Gray tampak membalasnya dengan anggukan formal disertai tundukkan kepala penuh hormat.


Tak lama usai Lady Dia menutup kedua matanya, Malaikat Maut tiba tepat pada waktunya. Sosok pria tegas dengan setelan jas coklat, tengah melangkah mendekat ke arah tubuh Lady Dia. Ketika salah satu tangannya menyentuh dahi Lady Dia, tampak seberkas cahaya putih, naik ke atas langit-langit Underwall.


Tanda bahwa, Lady Dia telah kembali ke Langit. Usai tugas sang Malaikat Maut selesai, Gray tampak melangkah menghampirinya. Mereka bahkan, terlihat dekat.


“Hampir saja, Émeric. Kalau kau tidak menghentikannya, istrimu akan di usut” sapa sang Malaikat Maut, memanggil Gray dengan nama tengahnya. Sebuah hal yang jarang terjadi. Ya, kecuali, hubungan mereka benar-benar dekat.


“Apa style-mu selalu buruk? Bukankah hitam, lebih baik?” balas Gray dengan candaan kotor, bak memulai pertikaian. “Hari ini kau berutang padaku” ancam sang Malaikat mengingatkan. “Aku akan selalu mengingatnya. Terima kasih” ucap Gray, perlahan mulai berbicara formal.


Carine hanya tak mendengar percakapan mereka dari jauh. Dia masih tak tega dengan jasad ibunya di sana. Masih tergeletak di tempat yang sama.


Meski melepaskan sang ibu, Carine masih tak bisa melepaskan perbuatan Arthur. Iblis tersebut, lebih dulu di kurung dalam sebuah sangkar oleh Gray. Tepat satu menit sebelum, Malaikat Maut tiba di tempat.


Di dalam otak Carine, dia harus melakukan sesuatu untuk Arthur. Sebuah tindakan yang harus dilakukannya, sebelum pergi ke dalam hati Reine yang paling dalam. Sebagai seorang Pemburu, bukankah dia berhak untuk menghukum perbuatan Arthur?


Ya, Carine memang telah berniat untuk beristirahat untuk waktu yang lama. Sebab itu, dia telah lebih dulu memberikan pesan pada Raven, seorang asistennya untuk tidak membuatnya bangun sementara waktu. Dia juga perlu memberi Gray sebuah tamparan keras, atas kejadian di masa lalu yang hingga kini, belum usai juga.

__ADS_1


Melihat Arthur di dalam sangkar tersebut, api yang penuh dengan emosi makin naik perlahan. Carine tampak menghampiri Arthur. Iblis tersebut semakin bersemangat, melihat Carine yang masih dia kira Reine.


“Aku akan mendapatkanmu, Permata Perak!” seru Arthur penuh tenaga. Dia berusaha untuk melepaskan diri dari sangkar Gray. “Coba saja ambil” tanggap Carine dengan santainya.


Dengan segala upaya, Arthur mengumpulkan kekuatannya. Gray tampaknya agak lengah, karena terlalu asyik berbicara dengan sang Malaikat Maut. Sementara Carine, dia tetap berdiri di hadapan Arthur. Bak sekotak harta karun, yang selangkah lagi bisa Arthur miliki.


Dalam beberapa menit, Arthur dapat membebaskan dirinya dari sangkar. Tawanya meledak, usai berhasil meloloskan diri. Bukannya mundur, Carine malah tetap berdiri di sana.


Tak lupa, Carine terlihat bersedekap. Seolah ingin protes, Carine hanya sanggup mengomel. “Sangkar tidak berguna. Sepertinya, The Great Savior harus selalu meng-upgrade sangkarnya. Kalau tidak, kutu macam dia akan selalu mampu meloloskan diri” gerutunya kesal.


“Permata Perak...” gumam Arthur tak jelas. Sepertinya, pikirannya telah dikuasai oleh permata. Sebab itu, dia hanya fokus pada tempat Permata di dalam tubuh Carine berada.


Percobaan pertama Arthur, gagal. Carine dengan mudahnya menghindar dari serangan tersebut tanpa repot menyerang balik. Serangan kedua, Arthur luncurkan. Dia terbang ke atas, kemudian menukik ke arah Carine yang tadi sempat agak mundur.


“Archeneux!” teriak Gray saat menyadari sesuatu. Dia segera berlari ke arah Carine untuk menghentikan serangan Arthur. “Pergi dari sana!” perintahnya pada Carine.


Akan tetapi, kali ini Carine tak akan mematuhi Gray lagi. Tanpa mengatakan apapun, Carine buru-buru menggunakan mantranya. Dia tak mau, Gray harus ikut campur dalam pertarungannya melawan si pembunuh ibunya.


“Ellusian” ucap Carine. Seketika, muncul kabut abu-abu pekat yang mengelilingi Carine. Tak ada yang bisa menembusnya, bahkan, Gray sekalipun. Carine seakan, berada di ruang hampa lainnya, meski tetap berada di tempat yang sama, Underwall.

__ADS_1


Ketika kabut mulai menghilang, Carine dan Arthur juga turut menghilang. “Sial!” umpat Gray kesal. “Apa yang terjadi? Ke mana mereka pergi?” tanya Malaikat Maut yang masih berada di sana. “Sialan, Carine mengirim iblis itu ke tempat lain. Dia pasti telah merencanakannya” jawab Gray sembari memegangi keningnya dengan satu tangan. Dia terlihat pusing, usai Carine kembali membuat keributan.


“Apa yang akan terjadi dengan iblis itu?” tanya Malaikat Maut lagi. “Sepertinya, Carine akan menghabisi iblis itu...” balas Gray makin pening. “Bukankah dia adalah The Bride? Artinya, dia juga seorang Pemburu. Bukankah tak masalah, jika iblis keji itu akhirnya mendapatkan hukuman yang setimpal?” kata Malaikat Maut.


“Carine... tidak memiliki buku kuno. Eksistensinya di dunia ini, bukan lagi sebagai Pemburu. Meski dia, masih menjadi Pengantinku. Hanya saja, manusia yang dibunuh oleh iblis itu... adalah ibunya. Dalam aturan kami, Pemburu tidak bisa balas dendam seenaknya. Apalagi, ketika menggunakan kekuatan Pemburu untuk dendam pribadi”


“Apa kau yakin, dia akan membunuh iblis itu? Dia ada di ruang hampa yang tak bisa ditembus. Kau yakin, tidak ada cara untuk menebusnya?”


“Inilah kekuatan yang tidak kusukai dalam diriku. Ku pikir, kekuatan ini tak akan diterima oleh Carine. Ternyata, dugaanku salah. Aku selalu lemah, ketika berusaha menghentikannya lewat kabut. Sebab, suaraku tak akan pernah sampai meski berteriak sekalipun”


“Tunggu, Émeric. Dari tadi, aku masih memikirkan ucapanmu. Kau bilang, dia Pemburu yang tidak memiliki eksistensi, karena tidak memiliki buku kuno?”


“Ya, dia tak bisa disebut Pemburu, karena hal tersebut. Kenapa?”


“Bukankah itu sebabnya, The Bride-mu... tidak takut akan konsekuensi yang bakal dia terima?”


“Apa... Maksudmu?” tanya Gray tak paham. “Dia tidak akan menerima hukuman apapun, Émeric. Karena dia, kehilangan statusnya sebagai Pemburu Kematian. Dia bahkan, tak masuk dalam aturan Pemburu manapun! Lebih tepatnya, dia bukan lagi seorang Pemburu. Meski dia, masih Pengantinmu!” jelas Malaikat Maut penuh detail. Kedua mata Gray, mendadak melebar. Dia terkejut, akan pernyataan yang tak masuk akal tersebut.


“Dia... bukan Pemburu Kematian?” tanya Gray pada dirinya sendiri. Kemudian, dia kembali menatap ke arah Malaikat Maut. “Kau sangat lamban, Émeric. Aku harus mengurus kematian yang lain” tanggap Malaikat Maut bernada agak sebal.

__ADS_1


Sang Malaikat Maut tampak melangkah meninggalkan sel Underwall. “Aku yakin 100 persen, langit tidak akan menghukum Pengantinmu, Émeric. Selama, pemikiranku benar. Ah ya, jangan lupa untuk menempatkan jasad wanita itu di tempat yang baik. Dia... manusia kesayanganku” pesan Malaikat Maut. Pikiran Gray masih bersikeras mencerna ucapan si Malaikat. Sampai si Malaikat menjauh dari pintu sel, Gray hanya dapat menatapnya dengan pikiran kosong.


__ADS_2