produk gagal

produk gagal
Tanda dari Sang Kupu-Kupu


__ADS_3

Carine berjalan melewati lorong Underwall. Tujuannya, hanya untuk sekedar memeriksa sesuatu. Dia terus melangkah dengan tenangnya.


Tak lama setelah itu, tujuannya mulai terlihat. Portal antara dua dunia. Carine, sudah berada di hadapan portal tersebut.


“Tampak indah, dilihat dari sini. Sepertinya, para iblis pengisap darah itu, benar-benar menjaga portalnya. Anak yang baik...” ucap Carine sembari tersenyum lega. “Bagaimana kalau kita cek keadaannya?” tanya Carine tampak serius. Dia terlihat merentangkan salah satu tangannya ke depan.


Entah, apa yang sedang di pegang olehnya. Namun, sebuah cahaya mendadak muncul menyilaukan pandangan. Di mulai dari sisi atas, samping kanan, bawah hingga samping kiri. Cahaya tersebut terus menjalar dan membentuk sebuah persegi panjang.


Setelah itu sebuah bayangan akan kota lain, mulai terlihat dari dalam persegi panjang tersebut. Meski samar dan lebih ke transparan, semua bisa menebak gambaran dari kota lain itu.


“Hm? Dunia manusia. Mereka benar-benar berkembang dengan pesatnya. Aku jadi rindu suasana di sana... Hhhh...” keluh Carine, bak manusia pada umumnya. “Sepertinya, ini masih bekerja dengan baik” lanjutnya kemudian. Kini, Carine mengalihkan pandangannya ke arah jam tangan yang dia kenakan.


“Tidak lama lagi, ya? Aku menyesal, akan membangunkan anak ini di waktu yang tidak tepat. Tapi, karena mereka sudah dekat... untuk sementara, aku harus membuat beberapa perlindungan. Aku tidak mau, anak ini akan lebih kesulitan. Jadi, tidurlah dulu sejenak. Akan ku bangunkan, ketika semuanya sudah siap. Ketika semuanya, telah kuperbaiki satu persatu. Aku yakin kali ini, kau akan bertahan, Reine sayang...” pesan Carine pada jiwa Reine yang tengah tertidur. Kondisi Reine, benar-benar lemah semenjak di serang oleh Tobie. Kekuatan dari siluman, memang lebih besar dampaknya dari pada serangan dari iblis.


Carine mengacungkan kedua tangannya ke depan. Seolah-olah, dia sedang memegang cermin berukuran manusia. Nyatanya, itu adalah portal berbentuk persegi panjang. Carine terlihat serius, ketika memegang portal tersebut.


Sembari menutup kedua matanya, bibir Carine membacakan sebuah harapan kuat. Bersamaan dengan hal tersebut, kota mulai di selimuti kabut. Awan hitam, telah menghiasi langit dunia para iblis itu.


Ketika suasana mulai gelap, suasana hati turut berubah gundah. Luc yang tadinya sedang berjaga di Lobby Hotel, mendadak buru-buru menutup pintu utama Hotel. Dia seperti merasa, sebuah hal besar mengguncang hatinya.


Tak hanya Luc. Robin yang sedang melangkah hendak ke arah ruangan Marc, juga di hantui perasaan yang sama. Langkahnya, langsung terhenti. Jantungnya berdegup kencang. Robin tiba-tiba merasa ingin melihat ke arah luar.


Ada jendela yang tak jauh di sana. Robin tampak menyingkap kelambu yang menutupi jendela tersebut. Dia terkejut, saat melihat gumpalan awan hitam telah menyelimuti Underwall. Tak lupa, kabut dan aroma hujan yang mulai tercium.


Sekilas, Robin mendapati sekumpulan kupu-kupu putih yang tengah beterbangan kesana-kemari. Dia mengetahui sebuah cerita kuno dari kupu-kupu itu. “Apakah kau sedang marah, Kupu-kupu penjaga? Atau... langit yang sedang marah?” guman Robin penasaran. “Apapun itu, tolong, lindungilah kami...” lanjutnya memohon.


Marc tak muncul seharian ini. Dia sedang berada di kota lain. Ada pertemuan antara para petinggi iblis pengisap darah. Mereka berkumpul, untuk membahas hukuman Arthur.


Ya, iblis pengisap darah yang kelewatan dan hampir membunuh Reine tersebut, masih berada di sel terdalam milik Underwall. Ketika awan hitam mulai menggelapkan kota, perasaan Marc menjadi campur aduk. Gelisah dan berusaha menenangkan diri sendiri.


Dia terlihat menghadap ke arah jendela besar sembari menyeruput kopi hitamnya. Dia tampak mengerutkan kening. Marc menyadari, akan ada hal yang lebih serius bakal terjadi. “Kupu-kupu penjaga?” tanyanya kaget, usai tak sengaja melihat sekelompok kupu-kupu putih sedang beterbangan. “Bahaya apa yang sedang berusaha kau hindarkan dari kami, Kupu-kupu penjaga?” lanjutnya penuh penasaran.


Awan hitam, kabut dan bahkan Kupu-kupu, membuat Gray menghela nafas panjang. Dia melihat semua fenomena yang sedang terjadi tersebut, dari atas atap Hotel Underwall. Dia sedang... yah, hobinya. Sedikit bersantai.


Tapi, itu tadinya. Sebelum Carine memulai sesuatu yang tak sesuai dalam kalender. “Anak ini! Kenapa kau memberikan tanda bahaya sekarang? Masih terlalu dini, bukan? Dasar... Sampai segitunya, kau menyayangi para iblis” gerutu Gray marah.


Tak ingin berlama-lama berdiam diri, raga Gray mendadak membuatnya bangkit. Raganya, menginginkannya untuk turun dengan segera. Ada tujuan yang harus didatangi.

__ADS_1


Sepertinya, kaki dan hati Gray sepakat untuk melangkah bersama-sama. Mereka harus menemui Carine. Meski enggan menurut, akhirnya Gray melangkahkan kakinya juga.


Lorong Underwall, sudah seperti gua berhantu. Dan Gray, tampak melangkah di sana. Situasinya gelap, sampai-sampai di siang hari yang cerah, harus menghidupkan seluruh lampu yang ada. “Pemborosan. Dasar, anak nakal...” gerutu Gray lagi.


Beberapa menit melangkah, akhirnya Gray tiba di tempat tujuan. Carine masih memegang erat portal dengan kedua tangannya. Gray menghela nafasnya dengan keras.


“Baiklah, Kupu-kupu penjaga... Kau bisa berhenti sekarang. Kalau lama-lama, kau bisa membuat orang takut” pinta Gray perlahan. Namun, tak ada jawaban dari Carine. Dia tetap dengan posisinya yang sama.


“Kupu-kupu penjaga?” panggil Gray dengan nada malas. Dan sekali lagi, Carine tak menjawab. Gray mulai mengerutkan keningnya. “Kau mau melewati batas, Carine Anne-Marie Vaillancourt?” ucap Gray masih berusaha.


Tak lama, dia merasakan sesuatu yang aneh. “Oh, tidak lagi!” seru Gray sambil berlari ke arah Carine. Dia menyadari akan sesuatu.


“Rin!” teriaknya keras. Gray buru-buru memegang kedua bahu Carine yang terasa mengeras. “Tidak lagi...” keluh Gray. Dia menarik tubuh Carine dengan sekuat tenaga, ketika Gray mendapati warna kedua mata wanita tersebut telah berubah menjadi putih kebiru-biruan.


Seketika, tubuh Carine dan Gray terlempar mundur, menjauh dari portal. “Yang mulia?” panggil Carine, saat tersadar. “Kau tahu, kau melakukan hal bodoh. Lagi!” amuk Gray, seakan kemarahannya mencapai puncak. Yang ini, dia benar-benar marah besar.


“Maafkan aku. Tapi, hanya ini... yang bisa ku lakukan...” sesal Carine pelan. “Dasar, bodoh...” balas Gray. Carine tersenyum lembut, bak dirinya kembali ke masa itu lagi.


Gray mengelus lembut kening Carine. “Tidurlah” perintahnya kasar. “Aku akan menceritakan padamu, tentang apa yang ku lihat” tanggap Carine, mencoba menguatkan diri. “Tidurlah. Dan saat kau bangun, ceritakan semua yang terjadi hari ini. Kau paham ucapan manusia, kan?” jawab Gray.


“Kau manusia?”


“Ya, dia memang sengaja melakukannya. Ingat perkataan ini? Semakin kau membencinya, semakin kau dekat dengannya. Karena apa?”


“Karena kau selalu ingin tahu dan mencari tahu tentang hal-hal yang kau benci. Itu perkataanmu. Dasar!”


“Dan kau masih mengingatnya”


Gray terdiam sejenak. Carine, masih terbaring di pangkuannya. Dan sepertinya, Gray menyukai keadaan ini. Meski yang dilakukan Carine baginya adalah kesalahan.


Akan tetapi, umpan balik dari kesalahan itu, berubah menjadi sepercik kebahagiaan. “Tentu, aku masih mengingatnya. Bahkan, semuanya. Dengan jelas” ucap Gray dengan suara parau. “Bahkan, ketika kau berkhianat dan memohon pada langit kalau kau... ingin memutuskan kontrak dari gelang menjengkelkan ini? Kau masih ingat?” desak Carine.


“Kau melantur, karena energi akan kesadaranmu habis. Ku bilang, lebih baik kau tidur. Nanti kalau kau bangun, kau akan menyesali pembicaraan ini” perintah Gray. “Apakah kau... tidak merindukan hari-hari itu?” tanya Carine, berusaha mendesak lagi. Namun, Gray memilih untuk diam. Dia tak kuat menahan kesedihannya.


“Kau pasti masih merindukan hari-hari itu kan, yang mulia?”


Pikiran Gray membawanya ke tempat lain. Tempat yang lebih kuno dari Underwall. Sebuah tempat lama, di padang bunga yang menyegarkan.

__ADS_1


Lalu, terdengar suara wanita itu mulai memanggilnya.


“Yang mulia...”


Dua kali. Kalau belum dua kali, aku tidak akan menengok ke arahmu.


“Yang mulia?”


Benar, begitu. Kemudian, kau akan menunjukkan sebuah bunga yang tadinya mati, menjadi hidup kembali, ketika berada di kedua telapak tanganmu. Sebenarnya, itu kekuatan dariku. Dan kau, tahu segalanya.


“Si..apa... Kau?”


Apa? Aku, Gray. Oh, kau membawaku ke pertemuan itu lagi, Carine. Kenapa? Kau mau menghukumku?


“Aku adalah Pemburu Kematian. Kau, Carine Anne-Marie Vaillancourt, Ratu dari kerajaan Kaiion, waktumu telah habis. Namun, karena kebaikanmu menjaga dunia ini, langit memberimu sebuah pilihan”


Ya, aku Pemburu itu.


“Tolong, siapapun kau...”


“Ya, wah, kau cerdas sekali. Aku memang, akan menolongmu. Tapi...”


“Tidak, tolong... Tolong selamatkan... rakyatku, teman-temanku. Tolong...”


“Hmm? Rakyat? Teman? Wah, kau pemimpin yang cukup berkelas. Tapi, hanya ada satu pilihan yang diberikan. Mati di sini atau... hidup menjadi Pemburu Kematian?”


“Apakah dengan itu, kau bisa melindungi rakyat dan teman-temanku?”


“Tentu saja. Semuanya akan membaik, Carine”


“Kalau memang itu adalah pilihan yang terbaik untuk mereka, aku akan melakukannya”


“Pilihan yang tepat. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menyelamatkan teman-temanmu. Kecuali... kalau kau bersedia menjadi pendampingku”


“Banyak sekali persyaratan tak masuk akal darimu? Kau seperti, sedang mengelabuiku”


“Ya atau tidak?”

__ADS_1


“Ya, tolong!”


Dan bencana pun, di mulai dari sana.


__ADS_2