produk gagal

produk gagal
Tempat Tinggal Mereka


__ADS_3

“Raven, kenapa kau berbalik memutar arah? Aku harus mengejar mereka. Kau bilang, kau akan membantuku?” protes Reine, ketika dirinya menyadari arah terbang Raven. “A.. aku tahu kemana mereka pergi. Jadi, akan ku kejar sendiri mereka. Kalau diteruskan, kau mungkin akan dalam bahaya” tanggap Raven menolak. “Aku baik-baik saja, Rav. Selama kau berada di sini, aku pasti akan baik-baik saja. Bukankah kau sendiri yang bilang tadi? Kau bisa melindungiku, karena kekuatanmu berbeda dengan yang lain!” desak Reine.


Raven menghela nafas panjang. “Salahku, aku memang gila” umpatnya pada diri sendiri. “Rav... kita harus cepat!” perintah Reine tak mau mundur. “Dengar, kalau kau ngotot pergi ke sana sendirian, permata itu akan dalam bahaya. Kau sanggup, menangani hal itu?” tanya Raven memastikan. “Aku sanggup!” seru Reine bertekad.


“Bahkan, meski melawan iblis sekelas Arthur Archeneux?”


“Aku sudah siap, karena aku tahu kelemahannya”


“Bagaimana dengan Tobie?”


Kala mendengar nama itu disebutkan, Reine mendadak terdiam. “Di tempat yang mereka tuju... ada puluhan iblis yang kekuatannya setara dengan Tobie. Kau bisa melawannya dengan kekuatan yang diberikan oleh permata? Ini... bukannya aku sedang meremehkanmu. Bahkan, jika kedua iblis yang kita kejar itu turut membantu... aku yakin, kekuatan kita tidak akan mampu mengalahkan mereka semua. Hanya...” “Ya, ya, baiklah! Aku tahu! Aku mengerti. Karena itu, untuk sementara aku akan mengawasi dari jauh saja. Yang penting, aku ingin tahu apa yang mereka lakukan di sana” sela Reine mendadak sebal.


Ya, karena dia pun menyadari. Kekuatannya, tak akan bisa menandingi iblis sekelas Tobie. Mengingat, dia langsung tumbang berhari-hari hanya karena mendapatkan sedikit serangan dari Tobie. Mendengar ucapan Reine barusan, akhirnya arah Raven pun kembali seperti semula.


“Mengawasi saja, ya? Kalau itu, aku akan mengantarmu. Tapi, hanya sebatas mengawasi, ya?” tegas Raven berulang kali. “Aku sudah seperti bocah 12 tahun saja, kalau berbicara denganmu. Mana mungkin, aku akan berbuat sejauh itu, kalau kau saja tidak mampu melindungiku? Dasar...” gerutu Reine. “Aku bisa saja melawan mereka! Melindungimu adalah hal yang mudah. Tapi aku tidak yakin, aku bisa melindungi permata itu! Nanti saat kita berhasil lolos, kau baru saja menyadari kalau permatamu... telah diam-diam di ambil oleh mereka” jelas Raven berdasarkan fakta yang dia peroleh ketika menjalankan misinya.


“Kau mengatakannya, seperti sudah paham saja...”


“Aku memang ditugaskan untuk itu”

__ADS_1


“Apa?”


“Aku ditugaskan untuk mengawasi mereka selama ini”


“Kau? Sendirian? Oleh siapa?”


“Yang... eh, maksudku, Max!”


Reine mengerutkan keningnya. Tak lupa, dia tampak mengelus dagu dengan salah satu tangannya. “Maximilien menyuruhmu melakukannya? Ku kira, Marc yang bakal memerintahkanmu. Atau... saat ini giliran mereka berdua yang dikirim ke sana?” tanyanya kemudian. “Tidak mungkin. Tugas ini, hanya aku yang boleh menanganinya. Dan hanya Max yang menugaskannya. Selain itu, tidak ada yang boleh. Artinya, mereka memiliki sebuah tujuan lain” jelas Raven.


Meski masih agak bingung, rupanya Reine tak peduli dengan alasan. Saat ini, bukan waktu baginya untuk bingung soal penugasan. Dia hanya penasaran, dengan apa yang sedang dilakukan Luc dan Robin. Hingga dalam perjalanan menuju ke tempat yang asing bagi Reine ini, mereka harus cek-cok dengan sengit lebih dulu.


“Oh, mobil mereka berhenti!” seru Reine kaget. Raven pun segera menukik ke bawah untuk melakukan pendaratan. Bak penerbang profesional, Raven berhasil mendarat ke tanah dengan sempurna. Tanpa berisik ataupun suara yang mengejutkan.


Sementara itu, Luc tampak buru-buru keluar dari mobilnya. Dia melangkah dengan tegas menuju ke arah sebuah gua berukuran besar di hadapannya. Tak hanya Luc, Robin pun berusaha untuk mengejar langkah Luc.


“Berhenti, Marchand. Kini, kau sudah berada di luar batas!” tekan Robin mengingatkan. Mendengar ucapan itu, Luc akhirnya menghentikan langkah. “Keluargaku, klanku dan aku adalah bukti nyata dari keganasan perang Vosre. Penyebab peperangan itu, berasal dari keserakahan para manusia biasa. Jika mereka tak berusaha mendepak penduduk asli, mungkin para iblis tidak akan membabi buta. Dan klanku, pasti tidak akan hancur lebur seperti sekarang! Aku akan membalaskan dendam ini" seru Luc tak kalah menekan.


Reine baru saja menyadari, jika itulah yang dari tadi mereka selisihkan. “Rav, apa maksudnya... keserakahan manusia biasa?” ulang Reine terhadap ucapan Luc barusan. “Apa benar, itu adalah alasan dari perang Vosre?” tanya Reine lagi, padahal Raven masih berusaha menjawab.

__ADS_1


“Rav?!” panggil Reine tak sabar. “Diamlah, atau kau akan membuat semua iblis yang ada di dalam sana mendengarnya! Bodoh!” amuk Raven bernada pelan. Dia juga tak ingin, suaranya menimbulkan umpan yang buruk.


Reine pun, menyerah. Dia terdiam, sesuai dengan perintah dari Raven. Reine tampak kembali fokus dengan pertengkaran antara Luc dan Robin.


“Asal kau tahu saja... Sebenarnya, perang Vosre sama sekali enggak ada hubungannya dengan keserakahan manusia biasa” ungkap Raven mengejutkan. Selama beberapa menit terdiam, rupanya dia masih berusaha menata bahasanya. Tentu, agar Reine tak salah kaprah sebagai pendengar.


“Tapi, kalau dia bilang begitu... Artinya, benar kan? Para iblis enggak akan saling menyerang di perang Vosre, kalau tidak ada api yang menyalakan pertikaian”


“Gini Rein, perang Vosre itu cuman alasan untuk sebuah pengalihan, kalau bagi para iblis seperti, iblis pengisap darah itu. Mereka, klan Archeneux hanya berusaha memanfaatkan keganasan perang untuk menjajah klan yang lemah. Dan sebenarnya, perang Vosre itu ada... Ketika para petinggi di dunia iblis merasa tidak adil dengan apa yang mereka dapatkan di dunia yang baru. Intinya, mereka cuman berusaha untuk mencari alasan pembenaran kok”


“Alasan... pembenaran?”


“Dulu, memang. Jauuuh sekali sebelum Langit memberikan dunia baru untuk para iblis, memang semuanya tinggal di dunia manusia. Baik itu iblis, lalu ada penduduk semacam diriku ini. Ada lagi juga... para penyihir, seperti ibumu kan? Sayangnya, klan manusia yang memiliki kekuatan istimewa seperti kami, mereka perlahan punah”


“Jadi, karena itu Langit memberikan dunia baru untuk mereka?”


“Tidak secepat itu. Dulu, Para Pemburu Kematian ditugaskan untuk melindungi para iblis dan penduduk berkekuatan khusus dari ancaman manusia. Kenapa? Karena manusia biasa membatasi dan bahkan merasa... tabu. Dan sebab itu, para penduduk di tempatkan ke sebuah pulau terpencil yang jauh dari keramaian kota”


“Dan hasilnya?” desak Reine. “Yah, kau bisa menebak. Tentu, para penduduk gelisah dan berkecil hati. Akhirnya, Pemburu Kematian menggunakan kekuatannya untuk membuat sebuah dunia baru. Menggunakan permata yang tersimpan di tubuhmu itu. Kalau permatanya hancur, dunia baru ini juga akan ikut hancur” jelas Raven sampai pada halaman terakhir penjelasannya. Reine tampak mengerutkan kening. Dia terlalu berpikir keras hingga melupakan Luc dan Robin yang mulai masuk ke dalam gua.

__ADS_1


“Aku... adalah salah satu keturunan penduduk yang terusir dari dunia manusia sebelumnya. Kalau mereka berusaha menghancurkan dunia baru ini, hanya untuk merebut dunia milik manusia biasa... Ku rasa, itu tidak patut. Meski hanya dunia bayangan, ku kira berada di sini bersama dengan para penduduk yang berkekuatan khusus lain membuatku tenang. Dari pada kita harus berada di dunia manusia biasa yang enggak sebanding. Ibumu pun... pasti memiliki pemikiran yang sama. Sebab itu, dia mati-matian membela para manusia biasa di kotanya, dari serangan iblis saat perang Vosre” tambah Raven mengingatkan. “Ibuku... memang melakukannya. Dia bilang, itu semua demi ketenteraman manusia. Tapi kenapa? Padahal, tanahnya sudah di ambil alih oleh manusia biasa. Alasannya... manusia biasa lebih lemah dari kita. Dan dari kebanyakan manusia itu... Memiliki darah yang juga berasal dari para iblis dan penyihir. Jadi, kita tidak mungkin bisa membenci manusia” tanggap Reine.


“Kau benar. Lalu, apakah pemikiran mereka... yang ada di gua ini, benar?” tanya Raven. Reine menatap ke arahnya dengan tatapan menolak. Dia pun, menggeleng pelan.


__ADS_2